Mengapa Al-Qur’an Berulang Kali Memerintahkan untuk Berpegang Teguh?
JAKARTA.PPMIndonesia.com- Dalam kehidupan yang penuh dengan perbedaan pendapat, ideologi, mazhab, dan kepentingan, manusia selalu membutuhkan pegangan yang kokoh. Tanpa pegangan yang benar, seseorang mudah terombang-ambing oleh tradisi, fanatisme kelompok, maupun hawa nafsunya sendiri.
Karena itulah Al-Qur’an berkali-kali menggunakan istilah tamassuk (berpegang teguh), i’tisham (berpegang erat), dan berbagai ungkapan lain yang menunjukkan pentingnya keterikatan manusia kepada petunjuk Allah.
Pertanyaannya adalah: kepada apa sebenarnya Al-Qur’an memerintahkan manusia untuk berpegang teguh?
Kajian ini berupaya menjawab pertanyaan tersebut dengan metode Al-Qur’an Bil Al-Qur’an, yaitu memahami suatu tema berdasarkan keseluruhan ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengannya.
Berpegang Teguh kepada Kitab Allah
Ayat yang paling eksplisit mengenai konsep berpegang teguh terdapat dalam Surah Al-A’raf.
Firman Allah
وَالَّذِينَ يُمَسِّكُونَ بِالْكِتَابِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ إِنَّا لَا نُضِيعُ أَجْرَ الْمُصْلِحِينَ
“Dan orang-orang yang berpegang teguh kepada Kitab dan mendirikan salat, sungguh Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengadakan perbaikan.”
(QS. Al-A’raf [7]: 170)
Kata يُمَسِّكُونَ (yumassikūna) berasal dari akar kata yang berarti memegang dengan kuat, mempertahankan, dan tidak melepaskan.
Menariknya, objek yang diperintahkan untuk dipegang teguh dalam ayat ini adalah Al-Kitab, bukan tokoh, kelompok, tradisi, atau keturunan tertentu.
Ayat ini menjadi dasar utama bahwa petunjuk yang harus dijadikan pegangan adalah wahyu Allah yang tertulis dalam Kitab-Nya
Berpegang Teguh kepada Tali Allah
Konsep yang sama muncul dalam Surah Ali Imran.
Firman Allah
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali Allah dan janganlah kamu bercerai-berai.”
(QS. Ali Imran [3]: 103)
Kata اعْتَصِمُوا (i’tashimū) berarti berlindung, berpegang erat, dan menjadikan sesuatu sebagai penyangga keselamatan.
Pertanyaannya kemudian, apakah yang dimaksud dengan hablullah (tali Allah)?
Al-Qur’an menjelaskan dirinya sebagai wahyu yang diturunkan dari Allah, petunjuk bagi manusia, dan jalan yang lurus.
Karena itu, secara tematik, tali Allah yang menyatukan manusia tidak lain adalah petunjuk Allah yang diturunkan kepada mereka.
Ayat ini juga menunjukkan hubungan langsung antara berpegang kepada wahyu dan persatuan umat. Sebaliknya, perpecahan muncul ketika manusia menggantikan wahyu dengan identitas kelompok masing-masing.
Berpegang Teguh kepada Allah
Al-Qur’an tidak hanya memerintahkan manusia berpegang kepada Kitab-Nya, tetapi juga kepada Allah sendiri.
Firman Allah
وَمَن يَعْتَصِم بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ
“Barang siapa berpegang teguh kepada Allah, maka sungguh ia telah diberi petunjuk menuju jalan yang lurus.”
(QS. Ali Imran [3]: 101)
Ayat ini memberikan dimensi yang lebih dalam.
Berpegang kepada Allah berarti menjadikan-Nya sebagai satu-satunya sumber otoritas tertinggi dalam kehidupan.
Karena Allah berbicara kepada manusia melalui wahyu-Nya, maka berpegang kepada Allah dan berpegang kepada Kitab-Nya merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan.
Al-Qur’an Sebagai Pegangan yang Tidak Menyesatkan
Mengapa Allah memerintahkan manusia berpegang kepada wahyu?
Karena wahyu merupakan petunjuk yang terbebas dari kesesatan.
Firman Allah
إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ
“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk kepada jalan yang paling lurus.”
(QS. Al-Isra’ [17]: 9)
Ayat ini menegaskan bahwa fungsi utama Al-Qur’an adalah memberi petunjuk.
Petunjuk yang berasal dari Allah tidak bergantung pada ruang, waktu, budaya, maupun kepentingan manusia. Karena itu, Al-Qur’an menjadi pegangan yang selalu relevan bagi setiap generasi.
Mengapa Banyak Manusia Tidak Berpegang Teguh kepada Wahyu?
Al-Qur’an menjelaskan bahwa penyebab utama penyimpangan bukanlah kurangnya petunjuk, melainkan kecenderungan manusia mengikuti hawa nafsu.
Firman Allah
فَإِن لَّمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ
“Jika mereka tidak memenuhi seruanmu, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka.”
(QS. Al-Qashash [28]: 50)
Dalam banyak kasus, manusia lebih nyaman mengikuti tradisi yang diwarisi, tokoh yang dikagumi, atau kelompok yang membesarkannya daripada kembali kepada petunjuk Allah secara langsung.
Karena itu Al-Qur’an berkali-kali mengajak manusia untuk menggunakan akal dan berpikir secara kritis.
Berpegang Teguh dan Menolak Perpecahan
Salah satu tujuan utama berpegang kepada wahyu adalah mencegah perpecahan.
Firman Allah
وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا
“Dan janganlah kamu termasuk orang-orang musyrik, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi golongan-golongan.”
(QS. Ar-Rum [30]: 31-32)
Ayat ini menunjukkan bahwa kecenderungan membentuk kelompok-kelompok yang saling bertentangan merupakan gejala yang telah lama terjadi dalam sejarah manusia.
Solusi yang ditawarkan Al-Qur’an bukanlah memperbanyak identitas kelompok, melainkan kembali kepada sumber petunjuk yang sama.
Berpegang Teguh Membutuhkan Keteguhan Hati
Berpegang kepada kebenaran bukanlah perkara mudah.
Karena itu Allah memerintahkan Nabi Muhammad dan para pengikutnya untuk tetap istiqamah.
Firman Allah
فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ
“Maka tetaplah engkau pada jalan yang benar sebagaimana diperintahkan.”
(QS. Hud [11]: 112)
Keteguhan tidak lahir dari fanatisme, melainkan dari keyakinan terhadap kebenaran wahyu yang telah dipahami dan diyakini.
Refleksi: Apakah Kita Sudah Berpegang Teguh?
Banyak orang mengaku mencintai Al-Qur’an, tetapi lebih mengenal pendapat tokoh daripada ayat-ayat Allah.
Banyak yang menghormati wahyu, tetapi dalam praktiknya lebih mengikuti tradisi yang diwariskan turun-temurun tanpa pernah memeriksa kesesuaiannya dengan Kitab Allah.
Padahal Allah telah mengingatkan:
أَوَلَمْ يَكْفِهِمْ أَنَّا أَنزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ يُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ
“Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwa Kami telah menurunkan kepadamu Kitab yang dibacakan kepada mereka?”
(QS. Al-Ankabut [29]: 51)
Ayat ini mengandung pertanyaan yang sangat mendasar: jika Allah telah menurunkan Kitab-Nya sebagai petunjuk, mengapa manusia masih mencari pegangan lain yang justru sering menimbulkan perpecahan?
Penutup
Kajian tematik terhadap ayat-ayat Al-Qur’an menunjukkan bahwa makna berpegang teguh selalu terkait dengan keterikatan manusia kepada Allah dan wahyu-Nya.
Al-Qur’an memerintahkan manusia untuk:
- Berpegang teguh kepada Kitab Allah (QS. 7:170).
- Berpegang teguh kepada tali Allah (QS. 3:103).
- Berpegang teguh kepada Allah (QS. 3:101).
- Menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk menuju jalan yang lurus (QS. 17:9).
Dengan demikian, inti dari konsep berpegang teguh dalam Al-Qur’an bukanlah fanatisme terhadap kelompok, tokoh, atau tradisi tertentu, melainkan komitmen yang kokoh terhadap wahyu Allah sebagai sumber petunjuk yang tidak menyesatkan.
Karena itu, setiap muslim perlu terus bertanya kepada dirinya sendiri:
Apakah yang selama ini saya pegang teguh benar-benar berasal dari Kitab Allah, atau hanya warisan yang belum pernah saya uji dengan Al-Qur’an? Wallāhu a’lam bish-shawāb.(syahida)





























