Mengapa Al-Qur’an Terus Mengulang Kisah Kaum Terdahulu?
JAKARTA.PPMIndonesia.com- Banyak pembaca Al-Qur’an bertanya mengapa kisah kaum ‘Ad, Tsamud, Fir’aun, dan umat-umat terdahulu berulang kali disebutkan dalam berbagai surah. Apakah sekadar untuk menceritakan sejarah?
Al-Qur’an sendiri menjawab pertanyaan tersebut.
لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ
“Sungguh, pada kisah-kisah mereka terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.”
(QS. Yusuf [12]: 111)
Kata ‘ibrah berarti pelajaran yang mampu membawa seseorang melihat hubungan antara masa lalu dan masa kini. Dengan kata lain, kisah-kisah umat terdahulu bukan sekadar catatan sejarah, melainkan cermin yang Allah hadirkan agar manusia dapat menilai dirinya sendiri.
Pertanyaan yang perlu diajukan bukanlah: Apa yang terjadi pada kaum ‘Ad dan Fir’aun?
Melainkan:
Apakah kita sedang mengulangi kesalahan yang sama?
Kaum ‘Ad: Ketika Kekuatan Melahirkan Kesombongan
Kaum ‘Ad merupakan salah satu peradaban terbesar pada zamannya. Mereka memiliki kemampuan teknologi, pembangunan, dan kekuatan fisik yang mengagumkan.
Allah berfirman:
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَادٍ إِرَمَ ذَاتِ الْعِمَادِ الَّتِي لَمْ يُخْلَقْ مِثْلُهَا فِي الْبِلَادِ
“Tidakkah engkau memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ‘Ad, yaitu penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan tinggi, yang belum pernah dibangun seperti itu di negeri-negeri lain?”
(QS. Al-Fajr [89]: 6–8)
Mereka bukan bangsa miskin dan terbelakang. Mereka adalah simbol kemajuan peradaban.
Namun Al-Qur’an menjelaskan akar masalah mereka:
فَأَمَّا عَادٌ فَاسْتَكْبَرُوا فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَقَالُوا مَنْ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةً
“Adapun kaum ‘Ad, mereka menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dan berkata: ‘Siapakah yang lebih kuat daripada kami?’”
(QS. Fussilat [41]: 15)
Kesalahan terbesar mereka bukan kekayaan atau kekuatan, melainkan keyakinan bahwa kekuasaan mereka membuat mereka tidak membutuhkan petunjuk Allah.
Kesombongan itulah yang menjadi awal kehancuran.
Fir’aun: Ketika Kekuasaan Menjadi Tuhan
Jika kaum ‘Ad mewakili kesombongan peradaban, maka Fir’aun mewakili kesombongan kekuasaan.
Fir’aun bukan hanya seorang penguasa. Ia menjadikan dirinya sumber kebenaran dan hukum tertinggi.
Al-Qur’an mengabadikan ucapannya:
فَقَالَ أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَى
“Lalu ia berkata: Akulah tuhanmu yang paling tinggi.”
(QS. An-Nazi’at [79]: 24)
Fir’aun menggunakan kekuasaan untuk menindas rakyat dan mempertahankan dominasi politiknya.
Allah berfirman:
إِنَّ فِرْعَوْنَ عَلَا فِي الْأَرْضِ وَجَعَلَ أَهْلَهَا شِيَعًا يَسْتَضْعِفُ طَائِفَةً مِّنْهُمْ
“Sesungguhnya Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di bumi dan menjadikan penduduknya berpecah-belah. Ia menindas segolongan dari mereka.”
(QS. Al-Qashash [28]: 4)
Dalam perspektif Al-Qur’an, kezaliman politik merupakan salah satu penyebab utama keruntuhan sebuah bangsa.
Persamaan Kaum ‘Ad dan Fir’aun
Jika ayat-ayat tentang kaum ‘Ad dan Fir’aun dihimpun, terdapat pola yang sama.
1. Merasa Paling Kuat
Kaum ‘Ad berkata:
مَنْ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةً
“Siapa yang lebih kuat daripada kami?”
(QS. Fussilat [41]: 15)
Fir’aun berkata:
أَلَيْسَ لِي مُلْكُ مِصْرَ
“Bukankah kerajaan Mesir ini milikku?”
(QS. Az-Zukhruf [43]: 51)
Keduanya meyakini bahwa kekuatan duniawi adalah jaminan keselamatan.
2. Menolak Kebenaran
Allah menjelaskan:
وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا
“Mereka mengingkarinya padahal hati mereka meyakininya, karena kezaliman dan kesombongan.”
(QS. An-Naml [27]: 14)
Masalah terbesar bukan ketidaktahuan, melainkan penolakan terhadap kebenaran yang telah diketahui.
3. Menjadikan Kekuasaan sebagai Alat Penindasan
Allah menggambarkan Fir’aun sebagai simbol penguasa zalim.
Namun Al-Qur’an memperingatkan bahwa pola ini dapat muncul pada siapa saja yang menjadikan kekuasaan sebagai sarana dominasi dan eksploitasi.
Apakah Gejala Itu Ada di Zaman Kita?
Al-Qur’an tidak meminta kita menunjuk bangsa tertentu sebagai “kaum yang akan dihancurkan”. Namun Al-Qur’an meminta manusia membaca tanda-tanda sejarah.
Allah berfirman:
قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِكُمْ سُنَنٌ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ
“Sungguh telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah (ketetapan Allah), maka berjalanlah di bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan.”
(QS. Ali ‘Imran [3]: 137)
Ketika manusia:
- Mengagungkan teknologi tetapi melupakan nilai-nilai ketuhanan;
- Mengukur keberhasilan hanya dengan kekayaan dan kekuasaan;
- Menormalisasi korupsi, ketidakadilan, dan eksploitasi;
- Menganggap hukum Allah tidak lagi relevan;
maka sesungguhnya mereka sedang berjalan di jalan yang pernah ditempuh kaum ‘Ad dan Fir’aun.
Sunnatullah yang Tidak Pernah Berubah
Al-Qur’an menegaskan:
فَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّتِ اللَّهِ تَبْدِيلًا وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّتِ اللَّهِ تَحْوِيلًا
“Engkau tidak akan menemukan perubahan pada sunnatullah Allah dan tidak akan menemukan penyimpangan padanya.”
(QS. Fathir [35]: 43)
Teknologi boleh berubah.
Sistem ekonomi boleh berubah.
Bentuk pemerintahan boleh berubah.
Namun hukum Allah tentang kezaliman dan kehancuran peradaban tidak berubah.
Bangsa yang membangun kekuatan tanpa keadilan akan menuai akibatnya. Bangsa yang membangun kemajuan tanpa moral akan menghadapi keruntuhan. Dan masyarakat yang menolak peringatan Allah akan mengulangi sejarah yang sama.
Al-Qur’an Mengajak Kita Bercermin
Kajian Al-Qur’an bil Al-Qur’an menunjukkan bahwa kisah kaum ‘Ad dan Fir’aun bukanlah cerita tentang masa lalu, melainkan peringatan untuk masa kini.
Allah tidak memerintahkan kita sekadar mengagumi kemajuan peradaban atau mengutuk bangsa-bangsa terdahulu. Yang diperintahkan adalah mengambil pelajaran.
إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَعِبْرَةً لِمَنْ يَخْشَى
“Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut kepada Allah.”
(QS. An-Nazi’at [79]: 26)
Maka pertanyaan terpenting bukanlah apakah kaum ‘Ad dan Fir’aun pernah ada.
Pertanyaan terpenting adalah:
Apakah kesombongan, kezaliman, dan penolakan terhadap kebenaran yang menghancurkan mereka, kini sedang tumbuh kembali dalam peradaban manusia modern? (syahida)





























