Membangun Paradigma Pendidikan Partisipatif yang Memanusiakan Manusia
Oleh: Guntoro Soewarno
Petani Organik sejak 2014, Ketua Pengawas Perkumpulan Petani Organik Berbasis Energi “Pandawa Lima” Yogyakarta, Owner Ali OrganicFarm (ALO FARM) Semarang, Pendamping Petani Organik Indonesia, Komisaris Utama PT Rig Global Investindo dan PT Aurora Alpha Centauri, Ketua Dewan Direktur Institut Pengembangan Masyarakat (IPAMA)–PPM.
Pendahuluan
JAKARTA.PPMIndonesia.com– Di tengah sistem pendidikan yang masih didominasi pola hubungan “guru mengajar–murid mendengar”, ada satu gagasan yang telah diperkenalkan lebih dari tiga dekade lalu oleh almarhum Adi Sasono yang hingga kini tetap relevan bahkan terasa semakin visioner. Gagasan itu adalah PUSOAD (Pendidikan untuk Semua Orang adalah Dewasa).
Konsep ini bukan sekadar metode pembelajaran, melainkan sebuah paradigma yang mengubah cara kita memandang manusia. PUSOAD mengajarkan bahwa setiap orang, tanpa memandang usia, pendidikan, jabatan, maupun status sosial, adalah pribadi yang memiliki pengetahuan, pengalaman, dan kebijaksanaan yang layak dihargai. Karena itu, setiap orang berhak menjadi subjek pembelajaran, bukan sekadar objek yang harus diisi.
Saya pertama kali diperkenalkan dengan konsep ini oleh Mas Adi Sasono pada tahun 1990, ketika saya bergabung dalam berbagai aktivitas pemberdayaan masyarakat yang beliau kembangkan. Setahun kemudian, beliau juga mengenalkan saya pada pendekatan Riset Partisipatoris, sebuah metode penelitian yang saat itu masih sangat asing di lingkungan perguruan tinggi Indonesia.
Ketika Pengalaman Bertemu Dunia Akademik
Pengalaman itu membentuk cara berpikir saya hingga kini.
Suatu hari, ketika mengikuti mata kuliah Metode Riset di kampus, saya menyampaikan keberatan kepada dosen pengampu yang bergelar profesor. Saya mengatakan bahwa metode penelitian yang diajarkan sudah mulai tertinggal dan seharusnya mulai mengenalkan pendekatan Riset Partisipatoris yang lebih menempatkan masyarakat sebagai subjek penelitian.
Pernyataan tersebut tentu mengejutkan. Sang profesor merasa tersinggung, menghentikan perkuliahan, dan keluar dari kelas. Akibatnya saya dipanggil oleh dekan bersama dosen tersebut dan ketua angkatan untuk memberikan penjelasan. Saya akhirnya meminta maaf karena cara penyampaiannya, namun keyakinan saya terhadap gagasan itu tidak pernah berubah.
Bahkan istri saya—yang saat itu masih menjadi pacar—sempat menegur sambil bercanda, “Kamu jarang masuk kuliah, tetapi sekali masuk malah membuat keributan.”
Kini, bertahun-tahun kemudian, metode penelitian partisipatif justru menjadi salah satu pendekatan yang banyak digunakan dalam penelitian sosial dan pemberdayaan masyarakat.
Peristiwa itu bukan sekadar kenangan. Bagi saya, itulah implementasi nyata dari PUSOAD: bahwa kebenaran ilmiah tidak selalu datang dari gelar akademik, tetapi juga dapat lahir dari pengalaman hidup, praktik lapangan, dan proses belajar yang terus-menerus.
Setiap Manusia Adalah Pembelajar Sekaligus Guru
Paradigma pendidikan konvensional sering menempatkan hubungan belajar dalam posisi yang tidak seimbang. Guru dianggap sebagai pemilik ilmu, sementara peserta didik hanya penerima pengetahuan.
PUSOAD menawarkan pandangan yang berbeda.
Dalam perspektif ini, setiap manusia adalah pembelajar sekaligus guru. Setiap orang membawa pengalaman hidup yang unik. Pengalaman itu merupakan sumber pengetahuan yang sama berharganya dengan teori yang dipelajari di ruang kelas.
Oleh karena itu, proses belajar bukanlah proses “mengisi gelas yang kosong”, melainkan proses saling bertukar pengalaman, saling memperkaya wawasan, dan bersama-sama menemukan pengetahuan baru.
Seorang fasilitator bukanlah orang yang paling tahu. Ia hanya membantu peserta menemukan pengetahuan yang sebenarnya telah mereka miliki.
Mengapa Disebut “Semua Orang adalah Dewasa”?
Istilah “dewasa” dalam PUSOAD bukan menunjuk pada usia biologis ataupun status hukum.
Dewasa berarti diakui sebagai manusia yang memiliki martabat, pengalaman, dan kemampuan berpikir.
Dalam pandangan umum, seseorang dianggap dewasa ketika berusia 17 tahun atau telah memenuhi syarat tertentu menurut hukum maupun agama. Dalam Islam, kedewasaan dikaitkan dengan aqil baligh.
Namun PUSOAD melangkah lebih jauh.
Sejak seorang anak lahir, bahkan sejak hari pertama kehidupannya, ia telah mulai belajar. Ia mengenal suara, sentuhan, kasih sayang, lingkungan, dan berbagai pengalaman yang membentuk kesadarannya. Seiring bertambahnya usia, pengalaman itu terus berkembang menjadi pengetahuan.
Karena itulah, dalam PUSOAD tidak ada manusia yang dianggap “kosong”. Semua memiliki sesuatu yang dapat dipelajari oleh orang lain.
Belajar Adalah Dialog, Bukan Ceramah
Dalam berbagai pelatihan pemberdayaan yang dipimpin Mas Adi Sasono, saya menyaksikan sendiri bagaimana konsep ini diterapkan.
Beliau hampir tidak pernah memulai pelatihan dengan ceramah panjang.
Sebaliknya, peserta diajak berdiskusi mengenai persoalan yang mereka hadapi. Mereka diminta menceritakan pengalaman, mengidentifikasi masalah, mencari penyebab, lalu bersama-sama merumuskan solusi.
Materi pelatihan lahir dari kebutuhan peserta, bukan dari keinginan fasilitator.
Cara inilah yang membuat proses belajar menjadi hidup.
Peserta merasa dihargai karena pengalaman mereka dianggap penting.
Mereka tidak sedang diajari, tetapi sedang diajak berpikir bersama.
Universitas Kehidupan
Salah satu konsekuensi logis dari PUSOAD adalah berubahnya cara kita memandang pendidikan.
Sekolah tetap penting, tetapi sekolah bukan satu-satunya tempat belajar.
Universitas terbesar sesungguhnya adalah kehidupan itu sendiri.
Manusia belajar dari alam.
Belajar dari masyarakat.
Belajar dari pekerjaan.
Belajar dari kegagalan.
Belajar dari keberhasilan.
Belajar dari anak-anak.
Belajar dari orang tua.
Belajar dari siapa saja dan kapan saja.
Pendidikan tidak dibatasi ruang kelas, kalender akademik, ataupun ijazah.
Setiap perjumpaan adalah ruang belajar.
Setiap pengalaman adalah buku.
Setiap kehidupan adalah guru.
Mendidik Anak dengan Menghargai Martabatnya
Salah satu implikasi paling penting dari PUSOAD adalah cara kita memperlakukan anak.
Sering kali orang dewasa menganggap anak belum tahu apa-apa sehingga seluruh keputusan harus ditentukan oleh orang tua atau guru.
Padahal setiap anak memiliki cara berpikir, rasa ingin tahu, dan pengalaman yang berbeda.
Menghargai anak sebagai pribadi yang utuh bukan berarti membiarkan mereka tanpa bimbingan, tetapi memberi ruang agar mereka dapat bertanya, berpendapat, mencoba, bahkan melakukan kesalahan sebagai bagian dari proses belajar.
Ketika anak dihargai sejak dini, ia tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, kreatif, dan bertanggung jawab.
Sebaliknya, anak yang terus-menerus dianggap tidak mampu akan tumbuh menjadi pribadi yang bergantung kepada orang lain.
PUSOAD dalam Gerakan Pemberdayaan
Nilai-nilai PUSOAD memiliki hubungan yang sangat erat dengan filosofi pemberdayaan masyarakat yang menjadi ruh Pusat Peranserta Masyarakat (PPM).
PPM meyakini bahwa masyarakat bukan objek pembangunan.
Masyarakat adalah subjek perubahan.
Karena itu, pendamping masyarakat tidak datang membawa jawaban, melainkan membantu masyarakat menemukan jawaban mereka sendiri.
Pendekatan ini sejalan dengan semangat Dakwah Bil Hal, yaitu menghadirkan perubahan melalui partisipasi, dialog, dan kerja bersama.
Pemberdayaan bukan berarti memberi, tetapi membangkitkan potensi yang telah dimiliki masyarakat.
Membangun Budaya Belajar Sepanjang Hayat
Di era perubahan yang sangat cepat, tidak ada seorang pun yang dapat mengklaim dirinya telah selesai belajar.
Teknologi berkembang.
Ilmu pengetahuan terus berubah.
Tantangan masyarakat semakin kompleks.
Karena itu, sikap merasa paling tahu justru menjadi penghambat kemajuan.
PUSOAD mengajarkan kerendahan hati intelektual.
Semakin banyak ilmu yang dimiliki seseorang, semakin terbuka ia untuk belajar dari siapa pun.
Di sinilah lahir budaya belajar sepanjang hayat (lifelong learning), sebuah budaya yang sangat dibutuhkan dalam membangun masyarakat yang adaptif dan berdaya.
Penutup
Lebih dari tiga puluh tahun sejak pertama kali diperkenalkan oleh Adi Sasono, PUSOAD tetap menjadi gagasan yang relevan bagi dunia pendidikan, pemberdayaan masyarakat, dan pembangunan bangsa.
PUSOAD mengingatkan kita bahwa pendidikan bukan sekadar proses mentransfer pengetahuan, tetapi proses memanusiakan manusia.
Ketika setiap orang dihargai sebagai pribadi yang memiliki pengalaman, pengetahuan, dan martabat, maka proses belajar akan melahirkan dialog, bukan dominasi; kolaborasi, bukan instruksi; serta pemberdayaan, bukan ketergantungan.
Di tengah perubahan zaman yang semakin kompleks, mungkin sudah saatnya kita kembali menghidupkan semangat PUSOAD—membangun pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan pikiran, tetapi juga menghargai kemanusiaan.
Karena sesungguhnya, setiap manusia adalah pembelajar. Setiap manusia adalah guru. Dan setiap manusia layak dihormati sebagai pribadi yang terus bertumbuh sepanjang hidupnya. (Guntoro Soewarno)





























