Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Al-Qur’an dan Kritik terhadap Kesalehan Formalistik

5
×

Al-Qur’an dan Kritik terhadap Kesalehan Formalistik

Share this article

Kajian Syahida - Quran bil Quran| Penulis : A. Mohamed

JAKARTA|PPMIndonesia.com- Di tengah kehidupan beragama, sering muncul anggapan bahwa kesalehan dapat diukur semata-mata dari simbol, ritual, penampilan, atau aktivitas keagamaan yang tampak di hadapan manusia. Padahal Al-Qur’an berulang kali mengingatkan bahwa Allah tidak hanya melihat apa yang tampak di luar, tetapi juga memperhatikan keadaan hati, niat, dan kualitas pengabdian manusia.

Melalui pendekatan Qur’an bil Qur’an, terlihat jelas bahwa salah satu kritik paling tajam Al-Qur’an ditujukan kepada kesalehan formalistik, yaitu keberagamaan yang sibuk pada bentuk lahiriah tetapi kehilangan ruh tauhid, keikhlasan, keadilan, dan ketakwaan.

Kajian ini tidak dimaksudkan untuk meremehkan ritual, karena ritual adalah bagian penting dari syariat. Namun Al-Qur’an mengingatkan bahwa ritual tanpa kesadaran dan pengabdian sejati dapat kehilangan makna yang sesungguhnya.

Apa yang Dimaksud Kesalehan Formalistik?

Kesalehan formalistik adalah kondisi ketika agama lebih banyak diwujudkan dalam bentuk-bentuk lahiriah daripada transformasi batin.

Ciri-cirinya antara lain:

  • Mengutamakan simbol dibanding substansi.
  • Sibuk menilai penampilan orang lain.
  • Merasa saleh karena banyak ritual.
  • Mengabaikan keadilan, kasih sayang, dan kejujuran.
  • Menjadikan agama sebagai identitas sosial, bukan pengabdian kepada Allah.

Fenomena seperti ini bukan hanya terjadi pada umat tertentu, tetapi telah menjadi penyakit spiritual yang dikritik oleh Al-Qur’an sejak masa para nabi terdahulu.

Al-Qur’an Mengkritik Ritual yang Tidak Mengubah Akhlak

Salah satu ayat yang paling tegas dalam masalah ini terdapat dalam Surah Al-Ma’un.

Allah berfirman:

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ ۝ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ ۝ الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ

“Maka celakalah orang-orang yang salat, yaitu mereka yang lalai terhadap salatnya, dan mereka yang berbuat riya.”
(QS. Al-Ma’un: 4–6)

Menariknya, ayat ini tidak berbicara tentang orang yang meninggalkan salat, tetapi orang yang melaksanakan salat tanpa kesadaran dan ketulusan.

Salat yang seharusnya mendekatkan manusia kepada Allah justru berubah menjadi sarana pencitraan di hadapan manusia.

Kesalehan Sejati Tidak Berhenti pada Arah Kiblat

Al-Qur’an menjelaskan bahwa kebajikan bukan sekadar persoalan simbol ritual.

Allah berfirman:

لَّيْسَ الْبِرَّ أَن تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ…

“Bukanlah kebajikan itu menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, tetapi kebajikan itu adalah beriman kepada Allah, hari kemudian…”
(QS. Al-Baqarah: 177)

Ayat ini sangat penting dalam memahami konsep kesalehan menurut Al-Qur’an.

Allah tidak menafikan pentingnya arah kiblat, tetapi mengingatkan bahwa hakikat kebajikan jauh lebih luas daripada sekadar bentuk lahiriah ibadah.

Kesalehan harus melahirkan iman, kepedulian sosial, kejujuran, kesabaran, dan ketakwaan.

Allah Melihat Hati dan Ketakwaan

Dalam berbagai ayat, Al-Qur’an menegaskan bahwa yang dinilai Allah bukan bentuk luar semata.

Tentang ibadah kurban, Allah berfirman:

لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ

“Daging dan darah hewan kurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.”
(QS. Al-Hajj: 37)

Ayat ini menjadi prinsip besar dalam seluruh ibadah.

Allah tidak membutuhkan bentuk fisik ibadah manusia. Yang bernilai di sisi-Nya adalah ketakwaan yang lahir dari hati yang tulus.

Bahaya Merasa Saleh

Salah satu akibat kesalehan formalistik adalah munculnya rasa puas terhadap diri sendiri.

Al-Qur’an mengingatkan:

فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ

“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia lebih mengetahui siapa yang bertakwa.”
(QS. An-Najm: 32)

Ayat ini mengajarkan kerendahan hati spiritual.

Semakin dekat seseorang kepada Allah, semakin ia menyadari kelemahan dirinya.

Sebaliknya, kesombongan religius sering menjadi tanda bahwa seseorang lebih sibuk dengan citra kesalehannya daripada dengan penyucian jiwanya.

Kritik Al-Qur’an terhadap Agama yang Menjadi Tradisi

Al-Qur’an juga mengingatkan bahaya ketika agama hanya diwariskan sebagai tradisi tanpa pemahaman.

Allah berfirman:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا

“Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Ikutilah apa yang diturunkan Allah,’ mereka menjawab, ‘Tidak! Kami hanya mengikuti apa yang kami dapati dari nenek moyang kami.’”
(QS. Al-Baqarah: 170)

Dalam perspektif Qur’an bil Qur’an, kesalehan formalistik sering muncul ketika tradisi lebih dominan daripada tadabbur terhadap wahyu.

Akibatnya, agama dijalankan sebagai kebiasaan sosial, bukan sebagai jalan menuju Allah.

Al-Qur’an Mengajak kepada Tadabbur, Bukan Sekadar Bacaan

Salah satu solusi yang ditawarkan Al-Qur’an adalah menghidupkan kembali budaya tadabbur.

Allah berfirman:

كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Ini adalah Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.”
(QS. Shad: 29)

Tadabbur membebaskan manusia dari keberagamaan yang hanya berpusat pada simbol dan formalitas.

Melalui tadabbur, manusia mulai memahami tujuan ibadah, makna tauhid, dan misi hidup yang diajarkan Al-Qur’an.

Ciri-Ciri Kesalehan Sejati Menurut Al-Qur’an

Berdasarkan ayat-ayat Al-Qur’an, kesalehan sejati memiliki beberapa karakter:

1. Berpusat pada Tauhid, Segala amal dilakukan karena Allah semata.

2. Melahirkan Akhlak Mulia, Ibadah membentuk kejujuran, kasih sayang, dan keadilan.

3. Peduli kepada Sesama, Tidak hanya rajin beribadah, tetapi juga membantu orang yang membutuhkan.

4. Rendah Hati. Tidak merasa paling benar atau paling suci.

5. Selalu Bertumbuh Melalui Tadabbur. Terus belajar dan memperdalam pemahaman terhadap wahyu Allah.

Penutup

Al-Qur’an tidak menolak ritual, tetapi menolak ritual yang kehilangan ruh pengabdian kepada Allah. Kritik Al-Qur’an terhadap kesalehan formalistik merupakan peringatan agar umat tidak terjebak pada simbol dan penampilan semata.

Dalam perspektif Qur’an bil Qur’an, kesalehan sejati bukanlah banyaknya ritual yang tampak di mata manusia, melainkan sejauh mana ritual tersebut melahirkan ketakwaan, keikhlasan, akhlak mulia, dan kedekatan kepada Allah.

Karena itu, tugas setiap Muslim bukan hanya memperbanyak aktivitas keagamaan, tetapi juga menghidupkan tadabbur, memperdalam pemahaman terhadap Al-Qur’an, dan menjadikan wahyu sebagai cahaya yang menerangi hati serta kehidupan.

Dengan demikian, agama tidak berhenti sebagai formalitas, tetapi menjadi jalan transformasi menuju insan yang bertakwa dan berakhlak mulia. (a mohmmed)

Example 120x600