Jakarta|PPMIndonesia.com– Dalam sejarah Islam, ada satu sahabat Nabi yang kisah hidupnya selalu dikenang sebagai simbol pencarian kebenaran lintas bangsa dan peradaban. Ia bukan berasal dari Jazirah Arab, bukan pula dari suku Quraisy. Ia datang dari jauh, dari tanah Persia. Namanya adalah Salman al-Farisi.
Kisah Salman bukan sekadar perjalanan spiritual seorang individu. Dalam banyak riwayat, ia juga menjadi simbol tentang masa depan umat Islam yang melampaui batas etnis dan geografi. Dari sosoknya, Nabi Muhammad ﷺ memberikan isyarat bahwa bangsa non-Arab—termasuk Persia—akan memainkan peran penting dalam sejarah Islam.
Hari ini, ketika dunia kembali memperhatikan Iran dalam dinamika geopolitik global, sebagian orang melihat bayang-bayang sejarah lama yang seakan kembali hadir dalam wajah baru.
Pencari Kebenaran dari Tanah Persia
Salman Al-Farisi lahir di wilayah Persia, yang kini berada di kawasan Iran. Nama aslinya adalah Ruzbah, putra seorang bangsawan dari Isfahan yang dibesarkan dalam tradisi agama Majusi, penyembah api. Namun sejak muda, ia merasa gelisah dengan keyakinan yang diwariskan kepadanya. Pencarian spiritual itu membawanya meninggalkan tanah kelahirannya dan mengembara jauh hingga akhirnya tiba di Madinah. (DARUL ASYRAF)
Di sanalah ia bertemu dengan Muhammad, yang kemudian mengubah seluruh jalan hidupnya. Setelah mengenali tanda-tanda kenabian yang pernah ia dengar dari para rahib sebelumnya, Salman memeluk Islam dengan penuh keyakinan.
Perjalanan panjangnya menjadi simbol penting dalam sejarah Islam: bahwa kebenaran dapat ditemukan oleh siapa saja yang mencarinya dengan sungguh-sungguh, bahkan jika harus menempuh perjalanan lintas peradaban.
Hadis tentang Bangsa Persia
Nama Salman Al-Farisi juga muncul dalam sebuah hadis yang sangat terkenal. Dalam riwayat Abu Hurairah, para sahabat pernah bertanya kepada Nabi tentang ayat Al-Qur’an yang berbunyi:
“Dan (Dia mengutus Nabi) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka.”
(QS Al-Jumu’ah: 3)
Saat itu Nabi meletakkan tangannya di pundak Salman dan bersabda:
“Seandainya iman berada di bintang Tsurayya, niscaya seseorang dari mereka akan mencapainya.” (Jabatan Mufti Wilayah Persekutuan)
Ungkapan “bintang Tsurayya” (Pleiades) merupakan metafora bagi sesuatu yang sangat tinggi dan sulit dicapai. Maknanya, bahkan jika iman atau ilmu berada pada tingkat tertinggi sekalipun, orang-orang dari bangsa Salman—yakni Persia—akan mampu meraihnya.
Hadis ini kemudian sering dipahami oleh para ulama sebagai isyarat bahwa bangsa non-Arab akan memiliki kontribusi besar dalam menjaga dan mengembangkan ilmu-ilmu Islam.
Sejarah kemudian menunjukkan hal itu. Banyak ulama besar dalam bidang hadis, tafsir, dan ilmu pengetahuan berasal dari wilayah Persia dan kawasan sekitarnya.
Persia dalam Peradaban Islam
Ketika Islam menyebar keluar dari Jazirah Arab, wilayah Persia menjadi salah satu pusat penting perkembangan ilmu pengetahuan Islam.
Di berbagai kota seperti Nishapur, Bukhara, dan Isfahan, lahir para ulama besar yang meletakkan fondasi keilmuan Islam. Dari kawasan budaya Persia pula muncul tokoh-tokoh besar dalam sejarah intelektual Islam.
Tradisi keilmuan tersebut menjadikan Persia bukan sekadar wilayah yang menerima Islam, tetapi juga salah satu pilar yang memperkaya peradaban Islam.
Dengan kata lain, jika wahyu turun di tanah Arab, maka sebagian besar pengembangan ilmu dan pemikiran Islam berkembang di wilayah yang lebih luas, termasuk Persia.
Dari Persia ke Iran
Dalam sejarah modern, Persia dikenal dengan nama Iran. Perubahan nama ini secara resmi terjadi pada tahun 1935 ketika pemerintah Iran meminta dunia internasional menggunakan nama Iran dalam hubungan diplomatik.
Namun di balik perubahan nama tersebut, identitas Persia tetap hidup dalam bahasa, budaya, dan sejarah panjang bangsa Iran.
Peradaban Persia yang berusia ribuan tahun menjadikan Iran sebagai salah satu negara dengan warisan sejarah paling tua di dunia.
Bayang-Bayang Sejarah di Dunia Modern
Dalam beberapa dekade terakhir, Iran sering berada di pusat berbagai dinamika geopolitik global. Ketegangan politik, konflik regional, hingga persaingan kekuatan besar menjadikan negara ini salah satu aktor penting dalam percaturan dunia.
Namun jika dilihat dari perspektif sejarah yang panjang, kemunculan Iran dalam panggung geopolitik dunia hari ini bukanlah sesuatu yang sepenuhnya baru.
Persia pernah menjadi salah satu peradaban besar dunia. Ia pernah menjadi kekaisaran yang membentang dari Asia Tengah hingga Mesir. Ia juga pernah menjadi pusat ilmu dan kebudayaan dalam dunia Islam.
Karena itu, sebagian pengamat melihat dinamika Iran hari ini sebagai bagian dari siklus sejarah yang lebih panjang: kembalinya sebuah peradaban lama ke panggung global.
Melampaui Batas Bangsa
Kisah Salman Al-Farisi memberikan pelajaran penting tentang universalitas Islam. Islam sejak awal tidak dibangun di atas identitas ras atau bangsa tertentu.
Salman sendiri pernah berkata dengan penuh kesadaran identitas:
“Islam adalah bangsaku.”
Kalimat sederhana itu menggambarkan pesan besar yang dibawa oleh Islam: bahwa kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh asal-usul etnis, tetapi oleh iman dan ketakwaannya.
Dari seorang pencari kebenaran di Persia hingga menjadi sahabat Nabi di Madinah, perjalanan Salman Al-Farisi menunjukkan bahwa Islam adalah peradaban yang terbuka bagi seluruh umat manusia.
Dan mungkin, dalam cara yang berbeda, kisah itu masih terus bergema hingga hari ini—dari masa lalu Persia hingga realitas Iran di dunia modern. (acank)



























