Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Inna ad-Dīna ‘Indallāhil Islām”: Apa Maknanya?

10
×

Inna ad-Dīna ‘Indallāhil Islām”: Apa Maknanya?

Share this article

Kajian Syahida Quran bil Quran| Editor: asyary

Jakarta|PPMIndonesia.com= Salah satu ayat Al-Qur’an yang paling sering dikutip dalam diskursus keislaman adalah firman Allah dalam Surah Ali ‘Imran ayat 19:

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.”
(QS. Ali ‘Imran: 19)

Ayat ini sering dipahami secara sederhana sebagai pernyataan identitas agama. Namun jika dibaca dengan pendekatan Qur’an bil Qur’an, yakni menafsirkan ayat dengan ayat lainnya, makna ayat ini ternyata jauh lebih dalam.

Ia tidak hanya berbicara tentang nama sebuah agama, tetapi tentang sebuah sistem penyerahan diri total kepada Allah yang menjadi hukum kehidupan bagi seluruh ciptaan.

Makna Kata Dīn dalam Al-Qur’an

Kata dīn dalam bahasa Arab sering diterjemahkan sebagai “agama”. Namun dalam Al-Qur’an, makna kata ini jauh lebih luas.

Ia mencakup sistem kehidupan, hukum, tata nilai, dan jalan hidup yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan serta dengan sesama manusia.

Dalam kisah Nabi Yusuf, Al-Qur’an menggunakan kata dīn untuk menggambarkan sistem hukum yang berlaku dalam pemerintahan.

مَا كَانَ لِيَأْخُذَ أَخَاهُ فِي دِينِ الْمَلِكِ إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ

“Tidaklah patut Yusuf menghukum saudaranya menurut undang-undang (dīn) raja, kecuali jika Allah menghendaki.”
(QS. Yusuf: 76)

Ayat ini menunjukkan bahwa dīn al-malik berarti sistem hukum raja. Dengan demikian, dīn dalam Al-Qur’an tidak hanya menunjuk pada ritual ibadah, tetapi juga pada sistem yang mengatur kehidupan masyarakat.

Islam: Penyerahan Diri kepada Sistem Allah

Jika kata dīn dipahami sebagai sistem kehidupan, maka ayat “Inna ad-dīna ‘indallāhil Islām” dapat dipahami sebagai pernyataan bahwa sistem kehidupan yang diridhai Allah adalah sistem penyerahan diri kepada-Nya.

Makna ini diperkuat oleh ayat lain yang menjelaskan bahwa seluruh alam semesta sebenarnya telah tunduk kepada sistem Allah.

أَفَغَيْرَ دِينِ اللَّهِ يَبْغُونَ وَلَهُ أَسْلَمَ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ

“Maka apakah mereka mencari agama selain agama Allah, padahal kepada-Nya berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa, dan hanya kepada-Nya mereka dikembalikan.”
(QS. Ali ‘Imran: 83)

Ayat ini menggambarkan bahwa seluruh ciptaan telah berada dalam keadaan “Islam”, yaitu tunduk pada hukum dan sistem yang ditetapkan oleh Allah.

Matahari beredar dalam orbitnya, bumi berputar pada porosnya, dan seluruh hukum alam berjalan dengan keteraturan yang menakjubkan.

Sistem Ilahi yang Sama bagi Para Nabi

Al-Qur’an juga menjelaskan bahwa sistem kehidupan ini bukan hanya diturunkan kepada Nabi Muhammad, tetapi telah diajarkan kepada para nabi sebelumnya.

شَرَعَ لَكُم مِّنَ الدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰ

“Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh, dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, serta apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa.”
(QS. Asy-Syura: 13)

Ayat ini menunjukkan bahwa Islam sebagai dīn adalah sistem tauhid yang sama yang diajarkan kepada seluruh nabi.

Perbedaan yang muncul dalam sejarah manusia lebih banyak disebabkan oleh perpecahan dan penafsiran manusia, bukan karena perbedaan dalam pesan ilahi itu sendiri.

Kesempurnaan Dīn dalam Islam

Al-Qur’an kemudian menegaskan bahwa sistem kehidupan ini telah mencapai kesempurnaannya.

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu, telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridai Islam sebagai agama bagimu.”
(QS. Al-Ma’idah: 3)

Ayat ini menegaskan bahwa Islam sebagai dīn bukan hanya kumpulan ritual, tetapi sebuah sistem kehidupan yang lengkap dan menyeluruh.

Ia mengatur dimensi spiritual manusia, tetapi juga memberikan panduan dalam kehidupan sosial, etika, ekonomi, dan keadilan.

Dari Identitas Menuju Sistem Kehidupan

Sayangnya, dalam praktik kehidupan sehari-hari, agama sering dipersempit menjadi sekadar simbol identitas atau ritual formal.

Padahal Al-Qur’an mengajarkan bahwa agama adalah jalan hidup yang menyeluruh yang membimbing manusia menuju keseimbangan antara spiritualitas dan kehidupan sosial.

Ketika Islam dipahami sebagai dīn dalam pengertian Qur’ani, ia tidak hanya menjadi identitas keagamaan, tetapi juga kerangka nilai yang mampu membangun peradaban yang adil dan beradab.

Di sinilah makna mendalam dari ayat “Inna ad-dīna ‘indallāhil Islām”: bahwa sistem kehidupan yang paling selaras dengan fitrah manusia adalah sistem penyerahan diri kepada Allah, Sang Pencipta alam semesta. (syahida)

Example 120x600