Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Dari Surah Yusuf ke Surah Asy-Syura: Agama sebagai Sistem Ilahi

7
×

Dari Surah Yusuf ke Surah Asy-Syura: Agama sebagai Sistem Ilahi

Share this article

Kajian Syahida - Quran bil Quran| Editor : asyary

Jakarta|PPMIndonesia.com– Dalam pemahaman umum, agama sering dipersempit hanya sebagai serangkaian ritual ibadah: shalat, puasa, doa, dan berbagai bentuk pengabdian spiritual lainnya. Padahal, jika kita menelusuri Al-Qur’an secara lebih mendalam melalui pendekatan Qur’an bil Qur’an, terlihat bahwa agama dalam perspektif wahyu memiliki makna yang jauh lebih luas.

Al-Qur’an menggunakan istilah dīn untuk menyebut agama. Kata ini tidak hanya menunjuk pada ritual keagamaan, tetapi juga merujuk pada sistem kehidupan, hukum, dan tata nilai yang mengatur kehidupan manusia.

Pemahaman ini dapat ditelusuri dengan menarik benang merah antara dua ayat penting dalam Al-Qur’an: satu dalam Surah Yusuf dan satu lagi dalam Surah Asy-Syura.

Dīn dalam Kisah Nabi Yusuf

Dalam kisah Nabi Yusuf, Al-Qur’an menceritakan bagaimana beliau menghadapi persoalan hukum ketika saudara-saudaranya datang ke Mesir. Dalam peristiwa tersebut, disebutkan bahwa Nabi Yusuf tidak menggunakan hukum kerajaan Mesir, melainkan hukum yang berbeda.

مَا كَانَ لِيَأْخُذَ أَخَاهُ فِي دِينِ الْمَلِكِ إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ

“Tidaklah patut Yusuf menghukum saudaranya menurut undang-undang (dīn) raja, kecuali jika Allah menghendaki.”
(QS. Yusuf: 76)

Ayat ini memberikan petunjuk penting tentang makna kata dīn. Dalam konteks ini, dīn al-malik berarti sistem hukum raja atau sistem pemerintahan yang berlaku dalam kerajaan Mesir.

Dengan demikian, Al-Qur’an menggunakan kata dīn untuk merujuk kepada sebuah sistem aturan yang mengatur kehidupan masyarakat.

Ini menunjukkan bahwa dalam perspektif Qur’ani, agama bukan sekadar ibadah personal, tetapi juga kerangka sistem nilai yang membimbing kehidupan sosial.

Sistem Ilahi yang Sama bagi Para Nabi

Konsep agama sebagai sistem kehidupan kemudian ditegaskan dalam Surah Asy-Syura.

شَرَعَ لَكُم مِّنَ الدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰ أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ

“Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh, dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, serta apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa, yaitu: tegakkanlah agama itu dan janganlah kamu berpecah belah di dalamnya.”
(QS. Asy-Syura: 13)

Ayat ini menegaskan bahwa dīn yang dibawa oleh Nabi Muhammad bukanlah sesuatu yang terpisah dari ajaran para nabi sebelumnya.

Pesan yang sama telah diajarkan kepada Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa: menegakkan agama dan menjaga persatuan manusia dalam nilai-nilai ilahi.

Dengan kata lain, agama dalam Al-Qur’an adalah sistem kehidupan universal yang diwariskan melalui para nabi.

Agama yang Diridhai Allah

Pemahaman ini semakin diperkuat oleh ayat lain yang menegaskan bahwa sistem kehidupan yang diridhai Allah adalah Islam.

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.”
(QS. Ali ‘Imran: 19)

Secara bahasa, kata Islam berarti berserah diri. Ini menunjukkan bahwa agama yang diridhai Allah adalah sistem kehidupan yang berlandaskan penyerahan diri manusia kepada kehendak-Nya.

Penyerahan diri ini tidak hanya dalam ibadah ritual, tetapi juga dalam cara manusia mengatur kehidupan sosial, ekonomi, dan moralnya.

Kesempurnaan Sistem Ilahi

Al-Qur’an kemudian menegaskan bahwa sistem kehidupan ini telah mencapai kesempurnaan dalam Islam.

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu, telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridai Islam sebagai agama bagimu.”
(QS. Al-Ma’idah: 3)

Ayat ini menunjukkan bahwa Islam sebagai dīn merupakan sistem kehidupan yang lengkap dan menyeluruh. Ia tidak hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga memberikan panduan bagi kehidupan sosial, ekonomi, dan etika.

Menghidupkan Kembali Makna Agama

Ketika kita membaca Al-Qur’an dengan menghubungkan ayat-ayatnya, terlihat jelas bahwa agama dalam perspektif wahyu bukan sekadar ritual.

Agama adalah sistem nilai ilahi yang menuntun manusia menuju kehidupan yang seimbang dan berkeadilan.

Kisah Nabi Yusuf menunjukkan bahwa dīn dapat berarti sistem hukum dalam masyarakat. Sementara Surah Asy-Syura menegaskan bahwa sistem ini adalah warisan para nabi yang harus ditegakkan tanpa perpecahan.

Dengan memahami agama sebagai sistem ilahi yang menyeluruh, manusia tidak hanya menjalankan ritual ibadah, tetapi juga membangun kehidupan yang selaras dengan nilai-nilai yang diturunkan oleh Sang Pencipta.Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb.(syahida)

Example 120x600