Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Apakah Kita Mengikuti Wahyu atau Warisan Konflik?

4
×

Apakah Kita Mengikuti Wahyu atau Warisan Konflik?

Share this article

Kajian Syahida - Quran bil Quran| Editor : asyary

Jakarta|PPMIndonesia.com- Dalam perjalanan panjang sejarah Islam, umat tidak hanya mewarisi ajaran, tetapi juga warisan konflik. Perbedaan yang awalnya lahir dari dinamika politik dan ijtihad generasi awal, perlahan berubah menjadi identitas yang diwariskan turun-temurun.

Akibatnya, tidak sedikit umat yang menjalankan agama bukan lagi sebagai hasil pencarian terhadap wahyu, melainkan sebagai kelanjutan dari posisi sejarah kelompoknya.

Pertanyaan mendasar pun muncul:
apakah kita benar-benar mengikuti wahyu, atau sekadar mewarisi konflik?

Pendekatan Qur’an bil Qur’an mengajak kita kembali kepada Al-Qur’an untuk menjawab pertanyaan ini secara jernih.

Wahyu sebagai Sumber Utama Petunjuk

Al-Qur’an menegaskan dirinya sebagai sumber petunjuk yang paling lurus:

إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ

“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk kepada (jalan) yang paling lurus.”
(QS. Al-Isra’: 9)

Petunjuk ini tidak bersifat sektarian. Ia ditujukan untuk seluruh manusia, melampaui batas kelompok, mazhab, dan identitas sejarah.

Lebih jauh, Al-Qur’an juga menegaskan fungsinya sebagai penjelas:

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً

“Dan Kami turunkan kepadamu Kitab untuk menjelaskan segala sesuatu, sebagai petunjuk dan rahmat.”
(QS. An-Nahl: 89)

Dengan demikian, wahyu memiliki posisi sentral yang tidak tergantikan.

Tradisi yang Diikuti Tanpa Uji

Salah satu kecenderungan manusia yang dikritik Al-Qur’an adalah mengikuti tradisi tanpa mengujinya dengan wahyu:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: Ikutilah apa yang diturunkan Allah, mereka menjawab: Tidak, kami mengikuti apa yang kami dapati dari nenek moyang kami.”
(QS. Al-Baqarah: 170)

Ayat ini menggambarkan bagaimana warisan masa lalu dapat menjadi penghalang dalam menerima kebenaran.

Dalam konteks kekinian, “apa yang kami dapati dari nenek moyang kami” bisa berupa mazhab, tradisi, bahkan narasi konflik yang diwariskan tanpa kritik.

Peringatan terhadap Perpecahan

Al-Qur’an secara tegas memperingatkan bahaya menjadikan agama sebagai identitas kelompok yang saling bertentangan:

إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَّسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi golongan-golongan, engkau (Muhammad) tidak termasuk bagian dari mereka sedikit pun.”
(QS. Al-An‘am: 159)

Dan ditegaskan kembali:

وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا

“Dan janganlah kamu termasuk orang-orang musyrik, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan menjadi golongan-golongan.”
(QS. Ar-Rum: 31–32)

Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa perpecahan bukan sekadar persoalan sosial, tetapi juga menyentuh dimensi spiritual.

Kembali kepada Allah dan Rasul

Ketika perbedaan terjadi, Al-Qur’an memberikan prinsip penyelesaiannya:

فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ

“Jika kamu berselisih dalam sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul.”
(QS. An-Nisa’: 59)

Dalam pendekatan Qur’an bil Qur’an, kembali kepada Allah berarti kembali kepada wahyu-Nya, sedangkan kembali kepada Rasul berarti kembali kepada risalah yang beliau bawa.

Artinya, solusi atas konflik bukanlah memperkuat identitas kelompok, tetapi menguatkan rujukan kepada wahyu.

Ukuran Kebenaran: Bukan Kelompok, tetapi Ketakwaan

Al-Qur’an menggeser ukuran kemuliaan dari identitas kelompok kepada kualitas spiritual:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurat: 13)

Ayat ini menjadi penegasan bahwa kebenaran tidak dimonopoli oleh satu kelompok tertentu.

Memilih Jalan Wahyu

Warisan sejarah adalah kenyataan yang tidak bisa dihapus. Konflik yang pernah terjadi akan tetap tercatat dalam perjalanan umat. Namun Al-Qur’an mengajarkan bahwa iman tidak boleh dikendalikan oleh konflik masa lalu.

Setiap generasi memiliki pilihan:
mengikuti wahyu, atau sekadar mewarisi konflik.

Kembali kepada Al-Qur’an bukan berarti menolak tradisi, tetapi menempatkannya dalam kerangka yang benar. Ia menjadi kompas yang menuntun umat keluar dari lingkaran konflik menuju persatuan.

Karena pada akhirnya, yang akan menyelamatkan umat bukanlah loyalitas kepada kelompok, melainkan kesetiaan kepada wahyu—Kitabullah. (syahida)

Example 120x600