Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Formalitas vs Substansi: Membaca Ulang Praktik Keislaman Kontemporer

5
×

Formalitas vs Substansi: Membaca Ulang Praktik Keislaman Kontemporer

Share this article

Kajian Syahida - Quran bil Quran| Editor : asyary

Jakarta|PPMIndonesia.com- Di tengah meningkatnya semangat keberagamaan di ruang publik, muncul ironi yang tak bisa diabaikan: praktik keislaman kian tampak, namun pemahaman justru kerap dangkal. Agama hadir dalam simbol, tetapi belum tentu bersemayam dalam kesadaran. Di sinilah pentingnya membaca ulang Islam—bukan sebagai formalitas, melainkan sebagai jalan hidup yang berakar pada tauhid yang hidup.

Islam: Antara Praktik dan Pemahaman

Islam sejatinya bukan sekadar kumpulan ritual, bukan pula sekadar identitas sosial yang diwariskan. Ia adalah kesadaran tentang Allah yang melahirkan pengabdian total. Namun dalam realitas kontemporer, tidak sedikit praktik keislaman yang berhenti pada aspek lahiriah—tanpa diiringi pemahaman mendalam terhadap pesan Ilahi.

Al-Qur’an secara tegas mengingatkan pentingnya perenungan, bukan sekadar pembacaan:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا
“Maka tidakkah mereka mentadabburi Al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci?”
(QS. Muhammad: 24)

Ayat ini menunjukkan bahwa problem utama umat bukan pada kurangnya aktivitas ibadah, tetapi pada tertutupnya hati dari pemahaman. Ketika hati tidak terlibat, ibadah berisiko menjadi rutinitas tanpa ruh

Ritual Tanpa Kesadaran: Kritik Al-Qur’an

Fenomena keberagamaan simbolik terlihat ketika Islam direduksi menjadi sekadar penampilan: cara berpakaian, istilah Arab, atau rutinitas ibadah. Padahal Al-Qur’an menegaskan bahwa yang dinilai bukan bentuk lahiriah, melainkan kualitas batin:

لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ
“Daging dan darah (kurban) itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan dari kalian.”
(QS. Al-Hajj: 37)

Dalam perspektif Qur’an bil Qur’an, ayat ini selaras dengan banyak ayat lain yang menekankan bahwa tujuan ibadah adalah membentuk kesadaran dan ketakwaan, bukan sekadar memenuhi kewajiban formal.

Lebih jauh, Al-Qur’an juga mengkritik sikap mengikuti tradisi tanpa pemahaman:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا
“Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Ikutilah apa yang diturunkan Allah,’ mereka menjawab: ‘Tidak, kami mengikuti apa yang kami dapati dari nenek moyang kami.’”
(QS. Al-Baqarah: 170)

Ayat ini menjadi peringatan bahwa keberagamaan yang hanya bersandar pada warisan tanpa pemahaman dapat menjauhkan manusia dari kebenaran wahyu itu sendiri.

Misi Islam: Penyucian dan Kesadaran Tauhid

Dalam kerangka kajian Qur’an bil Qur’an, Al-Qur’an menjelaskan dirinya sendiri sebagai kitab yang tidak hanya memberi hukum, tetapi juga membangun kesadaran dan menyucikan jiwa:

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِّنْهُمْ… يُزَكِّيهِمْ
“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul dari kalangan mereka… yang menyucikan mereka.”
(QS. Al-Jumu’ah: 2)

Penyucian jiwa (tazkiyah) inilah inti dari praktik keislaman. Tanpa itu, agama mudah tergelincir menjadi sekadar formalitas yang kehilangan makna.

Al-Qur’an sebagai Sumber Substansi

Al-Qur’an menegaskan otoritasnya sebagai sumber kebenaran yang harus dipahami, bukan sekadar dilafalkan:

وَمَا كَانَ هَٰذَا الْقُرْآنُ أَن يُفْتَرَىٰ مِن دُونِ اللَّهِ…
“Al-Qur’an ini tidak mungkin dibuat oleh selain Allah. Ia membenarkan kitab-kitab sebelumnya dan menjelaskan (hukum-hukum Allah); tidak ada keraguan di dalamnya; (diturunkan) dari Tuhan semesta alam.”
(QS. Yunus: 37)

Ayat ini menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk yang harus dipahami secara utuh. Membacanya tanpa memahami sama halnya dengan kehilangan arah dalam perjalanan hidup.

Penutup: Mengembalikan Islam pada Substansinya

Membaca ulang praktik keislaman hari ini adalah sebuah keniscayaan. Bukan untuk menolak ritual, tetapi untuk mengembalikannya pada makna. Islam bukan sekadar apa yang tampak, tetapi apa yang hidup dalam kesadaran.

Pertanyaan mendasar yang perlu diajukan bukan lagi: apakah kita telah menjalankan agama?
Melainkan: apakah kita telah memahami dan menghayati hubungan kita dengan Allah?

Jika tidak, maka yang tersisa hanyalah formalitas—agama yang dijalankan, tetapi tidak menghidupkan. (syahida)

Catatan Redaksi
Tulisan ini merupakan bagian dari kajian tematik Qur’an bil Qur’an perspektif Syahida, yang menekankan pendekatan memahami Al-Qur’an dengan menjelaskan ayat melalui ayat lainnya, guna membangun kesadaran tauhid yang utuh dan membebaskan keberagamaan dari sekadar formalitas menuju substansi.

Example 120x600