Ketika Kesalehan Ritual Belum Sepenuhnya Berubah Menjadi Kekuatan Transformasi Sosial
JAKARTA, PPMIndonesia.com – Indonesia sering disebut sebagai salah satu bangsa paling religius di dunia. Rumah ibadah berdiri megah di berbagai pelosok negeri. Pengajian, majelis taklim, pesantren, dan berbagai kegiatan keagamaan tumbuh subur dalam kehidupan masyarakat. Secara statistik maupun kultural, agama memiliki posisi yang sangat kuat dalam kehidupan bangsa.
Namun di balik wajah religius tersebut, terdapat sebuah paradoks yang perlu direnungkan bersama.
Mengapa di tengah tingginya tingkat religiusitas masyarakat, kemiskinan, ketimpangan sosial, korupsi, kerusakan lingkungan, dan berbagai persoalan kemanusiaan masih terus berlangsung?
Mengapa kesalehan yang berkembang luas belum sepenuhnya mampu melahirkan keadilan sosial dan kesejahteraan yang merata?
Pertanyaan-pertanyaan inilah yang menjadi titik berangkat penting bagi konsep.Dakwah Pemberdayaan yang dikembangkan oleh Pusat Peranserta Masyarakat (PPM).
Paradoks Religiusitas dan Realitas Sosial
Dalam banyak kesempatan, agama sering dipahami sebagai urusan ritual dan moral individual.
Ukuran keberagamaan sering kali diidentikkan dengan: intensitas ibadah, simbol-simbol keagamaan,atau kepatuhan terhadap aturan formal agama.
Padahal Al-Qur’an berulang kali menegaskan bahwa keimanan harus melahirkan amal saleh yang berdampak pada kehidupan sosial.
Ironisnya, dalam banyak kasus, masyarakat yang sangat religius belum tentu memiliki tingkat kesejahteraan yang tinggi atau tata kelola sosial yang baik.
Fenomena ini menunjukkan adanya jarak antara kesalehan personal dan kesalehan sosial.
Agama hadir dalam ruang ibadah, tetapi belum sepenuhnya hadir dalam ruang ekonomi, pendidikan, lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat.
Dakwah yang Melampaui Mimbar
PPM memandang bahwa tantangan dakwah abad ke-21 tidak lagi cukup dijawab dengan ceramah dan penyampaian pesan moral semata.
Masyarakat membutuhkan dakwah yang mampu menjawab persoalan nyata: kemiskinan, pengangguran, ketimpangan ekonomi, krisis lingkungan,rendahnya kualitas pendidikan,serta melemahnya solidaritas sosial.
Karena itu, dakwah harus bergerak dari pendekatan verbal menuju pendekatan transformasional.
Dakwah harus hadir sebagai proses membangun kapasitas manusia agar mampu mengubah kehidupannya sendiri.
Inilah yang disebut Dakwah Pemberdayaan.
Spirit Kekhalifahan dalam Dakwah
Al-Qur’an menegaskan bahwa manusia diciptakan sebagai khalifah di bumi:
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi.” *(QS. Al-Baqarah: 30)
Khalifah bukan hanya bermakna pemimpin, tetapi juga pengelola kehidupan.
Sebagai khalifah, manusia memiliki tanggung jawab:
- Memakmurkan bumi,
- Menjaga keseimbangan lingkungan,
- Menegakkan keadilan,
- Dan membangun kesejahteraan bersama.
Dalam perspektif ini, pemberdayaan masyarakat bukan sekadar program sosial, melainkan bagian dari amanah kekhalifahan.
Pendapat Tokoh
Prof. M. Dawam Rahardjo
Ekonom dan cendekiawan Muslim ini pernah menegaskan:
“Islam tidak hanya mengajarkan ibadah ritual, tetapi juga membangun sistem sosial dan ekonomi yang berkeadilan.”
Menurut Dawam Rahardjo, dakwah harus mampu menjadi instrumen transformasi sosial yang membebaskan masyarakat dari kemiskinan dan ketergantungan.
Prof. Kuntowijoyo
Melalui konsep Ilmu Sosial Profetik, Kuntowijoyo menjelaskan bahwa agama harus menghadirkan tiga misi utama:
- Humanisasi (memanusiakan manusia)
- Liberasi (membebaskan manusia dari penindasan)
- Transendensi (menghubungkan manusia dengan nilai-nilai ketuhanan)
Pandangan ini sangat dekat dengan paradigma Dakwah Pemberdayaan PPM.
KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
“Tugas agama adalah memuliakan manusia.”
Bagi Gus Dur, ukuran keberhasilan agama bukan banyaknya simbol keagamaan, melainkan sejauh mana agama mampu menghadirkan keadilan dan kemanusiaan dalam kehidupan sosial.
Dari Objek Menjadi Subjek Perubahan
Salah satu kelemahan pembangunan selama ini adalah menempatkan masyarakat sebagai objek bantuan.
Akibatnya muncul budaya: ketergantungan, pasivitas, dan rendahnya partisipasi sosial.
Dakwah Pemberdayaan menawarkan paradigma berbeda.
Masyarakat harus diposisikan sebagai:
- Subjek pembangunan,
- Pelaku perubahan,
- Dan pemilik masa depannya sendiri.
Karena pemberdayaan sejati bukan memberi ikan, melainkan membangun kemampuan untuk mengelola kolam, mengembangkan usaha, dan menciptakan sistem yang berkelanjutan.
Qaryah Thayyibah: Laboratorium Dakwah Pemberdayaan
Dalam kerangka pemikiran PPM, konsep Qaryah Thayyibah menjadi model konkret dakwah pemberdayaan.
Qaryah Thayyibah adalah masyarakat yang: kuat spiritualitasnya, mandiri ekonominya, sehat lingkungan hidupnya,harmonis kehidupan sosialnya, dan partisipatif tata kelolanya.
Di dalamnya, masjid tidak hanya menjadi pusat ibadah ritual, tetapi juga pusat:
- Pendidikan,
- Pemberdayaan ekonomi,
- Pengembangan kader,
- Dan pelayanan sosial.
Religiusitas yang Membebaskan
Religiusitas yang sejati tidak membuat manusia menjauh dari persoalan dunia.
Sebaliknya, religiusitas yang matang justru melahirkan:
- Etos kerja,
- Tanggung jawab sosial,
- Kepedulian terhadap kaum lemah,
- Keberanian melawan ketidakadilan,
- dan komitmen membangun kesejahteraan bersama.
Agama tidak hadir untuk melanggengkan kemiskinan.
Agama hadir untuk membebaskan manusia dari berbagai bentuk keterbelakangan dan penindasan.
Saatnya Dakwah Menjadi Gerakan Perubahan
Paradoks religiusitas yang kita saksikan hari ini harus menjadi bahan refleksi bersama.
Tantangan umat bukan kekurangan ajaran agama.
Tantangannya adalah bagaimana menjadikan nilai-nilai agama sebagai energi perubahan sosial.
Dakwah tidak boleh berhenti di mimbar.
Dakwah harus hadir di sawah, pasar, sekolah, koperasi, lingkungan hidup, dan ruang-ruang kehidupan masyarakat.
Karena pada akhirnya, keberhasilan dakwah bukan hanya diukur dari banyaknya orang yang mendengar ceramah, tetapi dari banyaknya kehidupan yang berubah menjadi lebih adil, lebih berdaya, dan lebih bermartabat.
Inilah semangat Dakwah Pemberdayaan yang diperjuangkan PPM: menghadirkan agama sebagai kekuatan pembebasan, pemberdayaan, dan pembangunan peradaban menuju Qaryah Thayyibah, masyarakat yang baik, sejahtera, dan diridhai Allah SWT. (A Mohammed]




























