Scroll untuk baca artikel
BeritaOpini

Sangkerta: Warisan Kebudayaan dari Rahim Gerakan PPM

7
×

Sangkerta: Warisan Kebudayaan dari Rahim Gerakan PPM

Share this article

OPINI PPMINDONESIA

JAKARTA.PPMIndonesia.com – Dalam sejarah perjalanan Pusat Peranserta Masyarakat (PPM), pemberdayaan masyarakat tidak pernah dimaknai sebatas peningkatan ekonomi, pendidikan, atau pembangunan sosial. Sejak awal kelahirannya pada tahun 1985 di Yogyakarta, PPM memandang bahwa manusia hanya akan tumbuh secara utuh apabila pembangunan juga menyentuh dimensi budaya, kreativitas, dan nilai-nilai kemanusiaan.

Dari cara pandang itulah lahir Sangkerta (Sanggar Kesenian Peranserta), sebuah badan otonom bidang seni dan budaya yang menjadi ruang ekspresi, pendidikan, sekaligus pemberdayaan masyarakat melalui pendekatan kebudayaan. Kehadiran Sangkerta bukanlah pelengkap organisasi, melainkan bagian yang tidak terpisahkan dari filosofi gerakan PPM.

Seni sebagai Jalan Pemberdayaan

Pada pertengahan dekade 1980-an, ketika berbagai organisasi masyarakat lebih banyak memusatkan perhatian pada isu ekonomi dan sosial, PPM mengambil langkah yang berbeda. Para pendirinya meyakini bahwa pembangunan manusia tidak cukup hanya melalui peningkatan kesejahteraan material, tetapi juga harus membangun kepekaan, imajinasi, dan kesadaran budaya.

Dalam perspektif PPM, seni merupakan sarana membentuk karakter, memperkuat solidaritas sosial, mengembangkan kreativitas, serta membangun keberanian masyarakat untuk menyampaikan gagasan. Seni bukan sekadar hiburan, melainkan instrumen pendidikan dan transformasi sosial.

Pemikiran inilah yang kemudian melahirkan Sangkerta sebagai wadah bagi lahirnya berbagai gagasan kreatif yang berpijak pada semangat peranserta masyarakat.

Lahir dari Ruang Publik

Perjalanan Sangkerta bermula dari ruang publik yang sangat sederhana. Di trotoar Jalan Malioboro, tepat di depan Gedung DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta, para seniman muda menggelar pertunjukan terbuka yang memadukan pembacaan puisi, musik, teater, dan seni rupa.

Salah satu peristiwa yang paling dikenang adalah pembacaan puisi oleh Ahmad Mukhlis, yang menghadirkan suasana artistik berbeda dengan memadamkan lampu penerangan di sekitar lokasi pertunjukan untuk beberapa saat. Dalam temaram malam, puisi dibacakan dengan penuh penghayatan, menghadirkan pengalaman estetik yang menyentuh masyarakat yang menyaksikannya.

Pertunjukan sederhana itu menjadi simbol bahwa seni tidak membutuhkan panggung megah untuk menyampaikan pesan. Jalanan, trotoar, dan ruang publik dapat menjadi tempat lahirnya kreativitas dan dialog budaya.

Dari semangat itulah Sangkerta tumbuh sebagai komunitas seni yang menjadikan masyarakat bukan hanya penonton, tetapi juga bagian dari proses berkesenian.

Dibangun oleh Semangat Kolektif

Sangkerta lahir melalui kerja bersama para seniman, budayawan, penulis, dan aktivis yang memiliki cita-cita menghadirkan ruang seni yang inklusif.

Tokoh-tokoh yang berperan dalam proses perintisan dan pengembangannya antara lain Almarhum Ali Mustofa Trajutisna, Ahmad Mukhlis, Ki Mujar, Badrus Zaman, Totong Lis, dan Nunik Tasnim Haryani.

Masing-masing memberikan kontribusi sesuai dengan kemampuan dan perannya. Badrus Zaman merancang logo Sangkerta yang hingga kini menjadi identitas visual komunitas tersebut. Ahmad Mukhlis dikenal sebagai penggerak pertunjukan-pertunjukan awal di Malioboro. Ki Mujar kemudian mengembangkan berbagai program seni dan teater yang memperluas kiprah Sangkerta di Yogyakarta.

Kehadiran mereka menunjukkan bahwa Sangkerta dibangun di atas semangat gotong royong dan kepemimpinan kolektif. Tidak ada tokoh tunggal yang mendominasi perjalanan komunitas ini; setiap perintis memberikan warna dalam membentuk identitas Sangkerta.

Rumah bagi Seniman Muda

Sejak awal, Sangkerta membuka ruang bagi siapa saja yang ingin berkarya. Mahasiswa, seniman otodidak, penulis, pemusik, pekerja seni, hingga masyarakat umum dapat bertemu, belajar, dan berkolaborasi tanpa dibatasi latar belakang pendidikan maupun status sosial.

Pendekatan tersebut menjadikan Sangkerta sebagai ruang alternatif bagi banyak anak muda yang belum memperoleh kesempatan berekspresi di institusi seni formal.

Di tempat inilah kreativitas tumbuh melalui kebersamaan, dialog, dan kerja kolektif.

Membangkitkan Kembali Teater Pelajar

Salah satu kontribusi penting Sangkerta adalah penyelenggaraan Festival Teater Pelajar Tingkat SLTA se-Yogyakarta yang dimulai pada tahun 1987 dan berlangsung selama tiga tahun berturut-turut.

Festival ini lahir ketika aktivitas teater pelajar mengalami kevakuman. Dengan semangat gotong royong, para aktivis Sangkerta menggalang dukungan, menghubungi sekolah-sekolah, mencari sponsor, hingga menghadirkan piala penghargaan dari berbagai pihak.

Lebih dari sekadar kompetisi, festival tersebut menjadi ruang pendidikan budaya yang melahirkan generasi baru aktor, sutradara, penulis naskah, dan pekerja seni yang kemudian berkiprah di berbagai bidang.

Seni dan Pengabdian kepada Masyarakat

Perjalanan Sangkerta tidak hanya diwarnai pementasan seni. Komunitas ini juga aktif menyelenggarakan pameran seni rupa, performance art, instalasi seni, produksi program budaya di TVRI, serta berbagai kegiatan sosial dan keagamaan.

Kegiatan seperti Tarawih Bersama di kawasan Malioboro yang melibatkan para pramuniaga, masyarakat, dan aktivis menjadi bukti bahwa seni bagi Sangkerta tidak pernah dipisahkan dari kehidupan sosial. Seni hadir sebagai media membangun kebersamaan, memperkuat nilai-nilai kemanusiaan, dan menumbuhkan kepedulian terhadap sesama.

Warisan yang Tetap Relevan

Lebih dari empat puluh tahun sejak kelahirannya, Sangkerta tetap menjadi bagian penting dari sejarah gerakan PPM. Di tengah perubahan zaman, nilai-nilai yang diwariskan para pendirinya masih memiliki relevansi yang kuat.

Sangkerta mengajarkan bahwa pembangunan masyarakat tidak cukup diukur dari pertumbuhan ekonomi atau pembangunan fisik. Pembangunan juga harus melahirkan manusia yang kreatif, memiliki kepekaan sosial, menghargai kebudayaan, dan mampu bekerja sama.

Di sinilah letak kekuatan Sangkerta sebagai warisan kebudayaan dari rahim gerakan PPM. Ia bukan sekadar sanggar seni, melainkan ruang pembelajaran, ruang dialog, dan ruang pemberdayaan yang menjadikan kebudayaan sebagai bagian dari proses membangun masyarakat.

Dalam konteks Indonesia hari ini, ketika tantangan globalisasi, digitalisasi, dan perubahan sosial berlangsung begitu cepat, semangat Sangkerta menjadi semakin penting. Seni harus tetap hadir di tengah masyarakat sebagai media yang menyatukan, mendidik, dan menginspirasi.

Karena pada akhirnya, sebagaimana diyakini oleh para perintis PPM, masyarakat yang kuat bukan hanya masyarakat yang sejahtera secara ekonomi, tetapi juga masyarakat yang memiliki identitas budaya, daya cipta, dan semangat gotong royong. Nilai-nilai itulah yang terus diwariskan Sangkerta dari generasi ke generasi sebagai bagian dari perjalanan panjang gerakan Pusat Peranserta Masyarakat.(ppmindonesia)

Example 120x600