Scroll untuk baca artikel
BeritaOpini

Qaryah Thayyibah: Ketika Nilai, Sosial, dan Ekonomi Menjadi Sistem Kehidupan

9
×

Qaryah Thayyibah: Ketika Nilai, Sosial, dan Ekonomi Menjadi Sistem Kehidupan

Share this article

Penulus: Emha, Editor: asyary

JAKARTA. PPMIndonesia.com-Di tengah arus pembangunan yang semakin menempatkan pertumbuhan ekonomi sebagai ukuran utama kemajuan, kita justru menyaksikan paradoks yang semakin nyata. Produk Domestik Bruto (PDB) meningkat, investasi bertambah, dan infrastruktur terus dibangun.

Namun, pada saat yang sama, kesenjangan sosial melebar, kerusakan lingkungan semakin mengkhawatirkan, dan krisis moral menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Fenomena ini menunjukkan bahwa pembangunan yang hanya bertumpu pada indikator ekonomi tidak cukup untuk membangun manusia dan peradaban. Kemajuan material belum tentu melahirkan ketenteraman sosial. Kekayaan belum tentu menghadirkan kebahagiaan. Bahkan, masyarakat yang makmur secara ekonomi dapat tetap mengalami kemiskinan nilai dan kehilangan arah hidup.

Di sinilah konsep Qaryah Thayyibah yang dikembangkan oleh Pusat Peranserta Masyarakat (PPM) memperoleh relevansinya.

Qaryah Thayyibah Bukan Sekadar Desa yang Makmur

Al-Qur’an menggambarkan masyarakat ideal melalui firman Allah:

بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ

“Negeri yang baik dan Tuhan Yang Maha Pengampun.”* (QS. Saba’ [34]: 15)

Ayat tersebut menunjukkan bahwa kemajuan suatu masyarakat tidak hanya diukur dari melimpahnya hasil bumi atau tingginya pendapatan, tetapi juga dari hadirnya keberkahan, keadilan, serta hubungan harmonis antara manusia dengan Allah, sesama manusia, dan alam semesta.

Bagi PPM, Qaryah Thayyibah bukan sekadar konsep desa ideal, melainkan paradigma pembangunan masyarakat yang bertumpu pada keseimbangan antara dimensi spiritual, sosial, budaya, ekonomi, dan lingkungan.

Paradigma tersebut dirumuskan dalam formulasi sederhana:

**QT = N + S + E**

di mana:

  • N adalah Nilai;
  • S adalah Sosial;
  • E adalah Ekonomi.

Namun, rumusan ini tidak dimaksudkan sebagai persamaan matematika.

Bukan Penjumlahan Angka

Sering kali orang memahami tanda “+” sebagai operasi penjumlahan. Seolah-olah jika nilai diberi porsi 30 persen, sosial 30 persen, dan ekonomi 40 persen, maka tercapailah keseimbangan.

Pandangan seperti ini justru bertentangan dengan hakikat kehidupan.

Kehidupan bukan mesin yang disusun dari komponen-komponen yang berdiri sendiri. Kehidupan adalah sistem yang hidup (*living system*), tempat setiap unsur saling memengaruhi dan saling menghidupi.

Karena itu, tanda “+” dalam rumusan Qaryah Thayyibah lebih tepat dipahami sebagai simbol integrasi, interaksi, dan transformasi.

Belajar dari Reaksi Kimia

Dalam ilmu kimia, hidrogen dan oksigen memiliki sifat yang sangat berbeda. Namun, ketika keduanya bereaksi dalam komposisi yang tepat, lahirlah air dengan sifat yang sama sekali baru.

Air bukan sekadar gabungan hidrogen dan oksigen. Air merupakan kualitas baru yang muncul dari interaksi keduanya.

Demikian pula nilai, sosial, dan ekonomi.

Nilai yang berdiri sendiri hanya akan menjadi idealisme. Sosial tanpa nilai mudah berubah menjadi konflik kepentingan. Ekonomi tanpa nilai dan solidaritas sosial akan melahirkan eksploitasi, kesenjangan, dan kerakusan.

Ketika ketiganya berinteraksi secara harmonis, lahirlah masyarakat yang produktif sekaligus berkeadilan.

Inilah yang dimaksud dengan  emergent quality, yaitu kualitas baru yang muncul karena adanya integrasi sistemik.

Belajar dari Tubuh Manusia

Analogi lain dapat ditemukan pada tubuh manusia.

Jantung, paru-paru, otak, dan ginjal memiliki fungsi yang berbeda. Tidak satu pun organ tersebut dapat menggantikan fungsi organ lainnya.

Namun seluruh organ bekerja dalam satu sistem kehidupan.

Ketika satu organ terganggu, seluruh tubuh ikut merasakan dampaknya.

Begitu pula kehidupan masyarakat.

Ekonomi tidak dapat dipisahkan dari pendidikan.

Pendidikan tidak dapat dipisahkan dari budaya.

Budaya tidak dapat dipisahkan dari moral.

Moral tidak dapat dipisahkan dari spiritualitas.

Semuanya merupakan satu ekosistem kehidupan.

Karena itu, keseimbangan dalam Qaryah Thayyibah bukanlah keseimbangan mekanis, melainkan keseimbangan organis.

Kesadaran ABC sebagai Energi Perubahan

Pertanyaannya kemudian, apa yang menggerakkan seluruh sistem tersebut?

PPM menjawabnya melalui konsep Kesadaran ABC, yaitu:

  • A (Aku)**, kesadaran diri sebagai hamba Allah sekaligus khalifah di bumi.
  • B (Bumi)**, kesadaran ekologis bahwa manusia merupakan bagian dari sistem kehidupan yang harus dijaga.
  • C (Cipta)**, kesadaran ketuhanan bahwa seluruh aktivitas manusia merupakan amanah dari Sang Pencipta.

Kesadaran ABC menjadi energi yang menghidupkan seluruh sistem.

Tanpa kesadaran ini, nilai hanya menjadi slogan.

Sosial hanya menjadi organisasi.

Ekonomi hanya menjadi transaksi.

Namun ketika kesadaran itu hidup, seluruh aktivitas manusia berubah menjadi ibadah, pelayanan, dan pemberdayaan.

PPM sebagai Jembatan Sub-Kultur

Dalam perspektif inilah Pusat Peranserta Masyarakat (PPM) memosisikan dirinya sebagai jembatan sub-kultur.

PPM bukan sekadar organisasi sosial, tetapi gerakan peradaban yang menjembatani nilai-nilai Al-Qur’an dengan realitas kehidupan masyarakat, khususnya masyarakat akar rumput (*wong cilik*).

PPM berupaya mempertemukan iman dengan tindakan, ilmu dengan pengabdian, budaya dengan perubahan sosial, dan ekonomi dengan keadilan.

Pemberdayaan masyarakat tidak dimulai dari bantuan, melainkan dari kebangkitan kesadaran.

Karena masyarakat yang sadar akan mampu membangun dirinya sendiri.

Menuju Titik Equilibrium Peradaban

Tujuan akhir pembangunan menurut paradigma PPM bukanlah sekadar meningkatnya pendapatan masyarakat.

Tujuan akhirnya adalah tercapainya **equilibrium peradaban**, yaitu keadaan ketika nilai, hubungan sosial, ekonomi, budaya, dan lingkungan berada dalam harmoni yang saling menguatkan.

Masyarakat seperti inilah yang disebut Al-Qur’an sebagai Qaryah Thayyibah*

Masyarakat yang tidak hanya makmur, tetapi juga berkeadaban.

Tidak hanya produktif, tetapi juga berkeadilan.

Tidak hanya maju secara ekonomi, tetapi juga kaya nilai, kuat solidaritas sosial, serta memperoleh keberkahan dari Allah SWT.

Di tengah krisis multidimensi yang melanda dunia modern, paradigma Qaryah Thayyibah menawarkan sebuah jalan alternatif. Sebuah jalan yang tidak memisahkan agama dari kehidupan, tidak memisahkan pembangunan dari nilai, dan tidak memisahkan kemajuan dari kemanusiaan.

Mungkin inilah saatnya pembangunan Indonesia tidak lagi semata-mata mengejar pertumbuhan, tetapi mulai membangun sistem kehidupan. Sebab, peradaban yang kokoh bukan dibangun oleh angka-angka statistik, melainkan oleh manusia-manusia yang memiliki kesadaran, nilai, dan tanggung jawab terhadap sesama, alam, serta Tuhannya. ppmindonesia)

 

Example 120x600