Scroll untuk baca artikel
Hikmah

TAAT KEPADA RASUL MENURUT AL-QUR’AN BIL AL-QUR’AN

9
×

TAAT KEPADA RASUL MENURUT AL-QUR’AN BIL AL-QUR’AN

Share this article

Kajian Syahida Qur'an bil Qur'an. Oleh: Syahida

PPMindonesia.com. Oleh: Tim Kajian Syahida PPM Indonesia

Mengapa Al-Qur’an Berulang Kali Memerintahkan Taat kepada Rasul?

Di antara perintah yang paling sering disebutkan dalam Al-Qur’an adalah perintah untuk menaati Allah dan Rasul-Nya. Perintah tersebut muncul dalam berbagai konteks: keimanan, hukum, kehidupan sosial, hingga penyelesaian perselisihan.

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ

“Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul serta ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berselisih dalam sesuatu perkara, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Akhir.”(QS An-Nisa [4]: 59)

Akan tetapi, apa sebenarnya yang dimaksud Al-Qur’an dengan taat kepada Rasul?

Apakah yang harus ditaati adalah pribadi Rasul sebagai manusia? Ataukah risalah yang beliau bawa dari Allah?

Untuk menjawabnya, kita perlu membiarkan Al-Qur’an menjelaskan dirinya sendiri.


Memahami Rasul Melalui Tugas yang Diberikan Allah

Sebuah prinsip penting dalam Al-Qur’an adalah bahwa fungsi seseorang ditentukan oleh tugas yang diberikan kepadanya.

Ketika Al-Qur’an berbicara tentang rasul, fokusnya selalu tertuju pada penyampaian wahyu.

Allah berfirman:

رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ

“Ya Tuhan kami, utuslah kepada mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu, mengajarkan Kitab dan hikmah serta menyucikan mereka.” (QS Al-Baqarah [2]: 129)

Ayat ini menyebut tiga misi utama kerasulan:

  1. Membacakan ayat-ayat Allah.
  2. Mengajarkan Al-Kitab.
  3. Menyucikan manusia.

Misi tersebut ditegaskan kembali:

رَسُولًا يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِ اللَّهِ مُبَيِّنَاتٍ لِيُخْرِجَ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ

“Seorang rasul yang membacakan kepada kamu ayat-ayat Allah yang jelas agar Dia mengeluarkan orang-orang yang beriman dan beramal saleh dari kegelapan menuju cahaya.” (QS Ath-Thalaq [65]: 11)

Dengan demikian, pusat misi kerasulan menurut Al-Qur’an adalah penyampaian ayat-ayat Allah.

Rasul Tidak Berbicara atas Dasar Kehendaknya Sendiri

Mengapa Rasul harus ditaati?

Al-Qur’an menjelaskan bahwa dalam menjalankan tugas kerasulannya, Rasul tidak menyampaikan sesuatu dari hawa nafsunya sendiri.

Allah berfirman:

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ ۝ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ

“Dan tidaklah dia berbicara menurut hawa nafsunya. Tidak lain yang diucapkannya itu adalah wahyu yang diwahyukan.”(QS An-Najm [53]: 3–4)

Karena itulah Allah menghubungkan ketaatan kepada Rasul dengan ketaatan kepada-Nya.

Mengapa Taat kepada Rasul Sama dengan Taat kepada Allah?

Al-Qur’an memberikan jawaban yang sangat tegas.

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ

“Barang siapa menaati Rasul, maka sungguh ia telah menaati Allah.” (QS An-Nisa [4]: 80)

Ayat ini tidak menjadikan Rasul sebagai sumber otoritas yang terpisah dari Allah.

Sebaliknya, ayat ini menjelaskan bahwa Rasul menyampaikan apa yang berasal dari Allah. Karena itu, menerima petunjuk Rasul berarti menerima petunjuk Allah.

Hubungan ini serupa dengan seorang utusan yang menyampaikan pesan dari pengutusnya. Menghormati pesan tersebut berarti menghormati pihak yang mengutusnya.

Rasul Sendiri Diperintahkan Mengikuti Wahyu

Menariknya, Rasul yang diperintahkan untuk ditaati ternyata juga diperintahkan untuk mengikuti wahyu.

Allah berfirman:

قُلْ إِنَّمَا أَتَّبِعُ مَا يُوحَىٰ إِلَيَّ مِنْ رَبِّي

“Katakanlah: Sesungguhnya aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dari Tuhanku.” (QS Al-A’raf [7]: 203)

Dan juga:

إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰ إِلَيَّ

“Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku.” (QS Al-An’am [6]: 50)

Ayat-ayat ini memperlihatkan sebuah rantai ketaatan yang sangat jelas:

Allah → Wahyu → Rasul → Umat Manusia

Karena itu, hakikat ketaatan kepada Rasul tidak dapat dipisahkan dari wahyu yang beliau ikuti.

Apa yang Disampaikan Rasul kepada Manusia?

Allah menjelaskan:

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ

“Wahai Rasul! Sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu.”(QS Al-Maidah [5]: 67)

Dan:

وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَذَا الْقُرْآنُ لِأُنْذِرَكُمْ بِهِ وَمَنْ بَلَغَ

“Dan Al-Qur’an ini diwahyukan kepadaku agar aku memberi peringatan kepadamu dengannya dan kepada siapa saja yang sampai kepadanya.” (QS Al-An’am [6]: 19)

Ayat ini menunjukkan bahwa sarana utama yang digunakan Rasul untuk membimbing umat adalah Al-Qur’an yang diwahyukan kepadanya.

Rasul Tidak Berwenang Mengubah Risalah

Al-Qur’an bahkan memberikan ancaman keras apabila seorang rasul mengatasnamakan Allah untuk sesuatu yang tidak berasal dari-Nya.

وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ الْأَقَاوِيلِ ۝ لَأَخَذْنَا مِنْهُ بِالْيَمِينِ ۝ ثُمَّ لَقَطَعْنَا مِنْهُ الْوَتِينَ

“Seandainya dia mengada-adakan sebagian perkataan atas nama Kami, niscaya Kami pegang dia dengan tangan kanan, kemudian Kami potong urat jantungnya.” (QS Al-Haqqah [69]: 44–46)

Ayat ini menunjukkan bahwa seorang rasul tidak memiliki otoritas untuk menciptakan agama menurut kehendaknya sendiri. Tugasnya adalah menyampaikan apa yang telah Allah turunkan.

Ketika Rasul Mengeluhkan Umatnya

Menarik untuk dicermati bahwa ketika Al-Qur’an menggambarkan keluhan Rasul pada Hari Kiamat, yang beliau keluhkan adalah sikap umat terhadap Al-Qur’an.

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا

“Dan Rasul berkata: Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang ditinggalkan.” (QS Al-Furqan [25]: 30)

Keluhan ini mengandung pesan mendalam bahwa hubungan umat dengan Rasul tidak dapat dipisahkan dari hubungan mereka dengan Al-Qur’an.

Mengembalikan Perselisihan kepada Allah dan Rasul

Kembali kepada ayat awal dalam Surah An-Nisa ayat 59, Al-Qur’an memerintahkan agar setiap perselisihan dikembalikan kepada Allah dan Rasul.

Dalam perspektif Al-Qur’an bil Al-Qur’an, Allah adalah sumber wahyu, sedangkan Rasul adalah penyampai wahyu tersebut kepada manusia.

Karena itu, mengembalikan suatu perkara kepada Allah dan Rasul berarti mengembalikannya kepada petunjuk Allah yang disampaikan melalui Rasul-Nya.

Hakikat Taat kepada Rasul

Melalui penelusuran ayat-ayat Al-Qur’an, terlihat bahwa Rasul diutus untuk membacakan ayat-ayat Allah, mengajarkan kitab-Nya, menyampaikan wahyu-Nya, serta membimbing manusia menuju cahaya petunjuk.

Ketaatan kepada Rasul bukanlah ketaatan yang berdiri terpisah dari Allah. Justru Al-Qur’an menunjukkan bahwa ketaatan kepada Rasul merupakan konsekuensi dari ketaatan kepada Allah karena Rasul membawa risalah-Nya.

Dengan demikian, dalam perspektif Al-Qur’an bil Al-Qur’an, hakikat taat kepada Rasul adalah menerima, mengikuti, dan mengamalkan petunjuk Allah yang beliau sampaikan kepada umat manusia.

Semakin dekat seseorang kepada wahyu yang dibawa Rasul, semakin dekat pula ia kepada tujuan kerasulan itu sendiri. Wallāhu a’lam bish-shawāb. (syahida)

Example 120x600