PPMIndonesia.com Oleh: Tim Kajian Syahida
Ketika Ombak Datang, Semua Menjadi Ikhlas
Ada satu fenomena yang hampir selalu berulang dalam kehidupan manusia.
Ketika sehat, kaya, kuat, dan merasa mampu mengendalikan hidupnya, manusia sering merasa tidak terlalu membutuhkan Allah. Namun ketika musibah datang, penyakit menyerang, usaha bangkrut, kapal kehidupan diterjang badai, atau kematian terasa begitu dekat, tiba-tiba hati menjadi lembut dan lisan menjadi sangat fasih menyebut nama-Nya.
Saat itu manusia berdoa dengan penuh ketulusan.
Tidak lagi memikirkan jabatan, kekuasaan, koneksi, atau siapa yang bisa menolongnya.
Yang tersisa hanyalah Allah.
Pertanyaannya, mengapa setelah pertolongan itu datang, banyak manusia justru kembali melupakan-Nya?
Al-Qur’an ternyata mengungkap fenomena ini berulang kali. Dengan metode Quran bil Quran, kita akan melihat bagaimana ayat-ayat Al-Qur’an saling menjelaskan tentang sifat manusia ketika menghadapi krisis dan setelah mendapatkan keselamatan.
Saat Krisis, Manusia Kembali kepada Fitrahnya
Allah berfirman:
وَإِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فِي الْبَحْرِ ضَلَّ مَن تَدْعُونَ إِلَّا إِيَّاهُ ۖ فَلَمَّا نَجَّاكُمْ إِلَى الْبَرِّ أَعْرَضْتُمْ ۚ وَكَانَ الْإِنسَانُ كَفُورًا
“Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru selain Dia. Maka tatkala Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia adalah makhluk yang sangat tidak berterima kasih.” (QS. Al-Isra’ [17]: 67)
Ayat ini menggambarkan keadaan manusia yang berada dalam situasi tanpa jalan keluar.
Ketika semua sebab duniawi gagal menyelamatkan, manusia secara naluriah kembali kepada fitrahnya: mengakui bahwa hanya Allah yang benar-benar mampu menolong.
Menariknya, Al-Qur’an tidak mengatakan bahwa manusia belajar dari pengalaman itu. Justru setelah diselamatkan, banyak yang kembali berpaling.
Tauhid yang Muncul Saat Darurat
Fenomena yang sama dijelaskan dalam surah lain:
فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ
“Maka apabila mereka naik kapal mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Tetapi ketika Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka kembali mempersekutukan-Nya.” (QS. Al-‘Ankabut [29]: 65)
Ayat ini menunjukkan bahwa dalam keadaan kritis manusia mampu mencapai tingkat keikhlasan yang sangat tinggi.
Tidak ada lagi ketergantungan kepada selain Allah.
Namun setelah bahaya berlalu, ketergantungan kepada berbagai “sekutu” kembali muncul. Ada yang kembali menggantungkan hidupnya kepada harta, kekuasaan, manusia, tradisi, atau berbagai bentuk sandaran selain Allah.
Mengapa Allah Tetap Menolong Mereka?
Pertanyaan penting muncul: jika manusia sering melupakan Allah setelah diselamatkan, mengapa Allah tetap menolong mereka?
Jawabannya terdapat dalam sifat Allah sendiri.
Allah adalah Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
Bahkan ketika manusia belum sempurna imannya, Allah tetap membuka pintu pertolongan.
Allah berfirman:
أَمَّن يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ
“Atau siapakah yang memperkenankan doa orang yang berada dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya dan yang menghilangkan kesusahan?” (QS. An-Naml [27]: 62)
Ayat ini tidak menyebut status sosial, suku, kelompok, ataupun tingkat keilmuan seseorang.
Yang disebut adalah keadaan al-mudhtarr, yaitu orang yang benar-benar berada dalam kesempitan dan berseru kepada Allah.
Ketika hati menjadi tulus dan hanya bergantung kepada-Nya, pertolongan Allah pun datang.
Mengapa Kita Cepat Lupa?
Al-Qur’an menjelaskan bahwa salah satu kelemahan manusia adalah mudah melupakan nikmat.
وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
“Dan sangat sedikit dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (QS. Saba’ [34]: 13)
Bersyukur bukan sekadar mengucapkan alhamdulillah.
Bersyukur berarti tetap mengingat Allah setelah memperoleh apa yang diminta.
Banyak orang rajin berdoa ketika sakit, tetapi lalai ketika sehat.
Rajin memohon ketika miskin, tetapi lupa ketika kaya.
Rajin menangis ketika terhimpit masalah, tetapi jarang bersujud ketika hidup berjalan lancar.
Karena itu Al-Qur’an berulang kali mengingatkan bahwa ujian bukan hanya kesulitan, tetapi juga kenikmatan.
Nikmat Juga Merupakan Ujian
Sebagian orang mengira bahwa ujian hanya berupa penderitaan.
Padahal Al-Qur’an mengajarkan sebaliknya.
وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً
“Kami menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan.” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 35)
Kesulitan menguji kesabaran.
Sedangkan kelapangan menguji rasa syukur.
Banyak orang lulus dalam ujian kesulitan karena mereka kembali kepada Allah. Namun tidak sedikit yang gagal dalam ujian kenikmatan karena mereka melupakan-Nya.
Pelajaran dari Nabi Yunus
Salah satu kisah paling menarik tentang krisis dan pertolongan Allah adalah kisah Nabi Yunus.
Ketika berada dalam kegelapan perut ikan, lautan, dan malam, beliau berdoa:
لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
“Tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 87)
Lalu Allah berfirman:
فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ ۚ وَكَذَٰلِكَ نُنجِي الْمُؤْمِنِينَ
“Maka Kami memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari kedukaan. Dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 88)
Kisah ini menunjukkan bahwa jalan keluar dari krisis selalu dimulai dengan kembali kepada Allah secara tulus.
Setelah Selamat, Apa yang Harus Dilakukan?
Jika krisis membuat kita mendekat kepada Allah, maka keselamatan seharusnya membuat kita semakin dekat lagi.
Allah berfirman:
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ
“Karena itu ingatlah Aku, niscaya Aku ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku.” (QS. Al-Baqarah [2]: 152)
Ayat ini memberikan formula sederhana namun mendalam:
Pertolongan Allah hendaknya melahirkan ingatan kepada Allah.
Keselamatan hendaknya melahirkan syukur.
Nikmat hendaknya melahirkan ketaatan.
Bukan sebaliknya.
Refleksi Syahida
Melalui ayat-ayat Al-Qur’an, kita menemukan bahwa manusia sering kali menjadi sangat dekat dengan Allah saat krisis karena pada saat itu seluruh ilusi kekuatan dunia runtuh.
Krisis mengembalikan manusia kepada fitrahnya.
Namun setelah pertolongan datang, banyak yang kembali terpesona oleh dunia dan melupakan sumber pertolongan yang sebenarnya.
Karena itu Al-Qur’an tidak hanya mengajarkan cara berdoa ketika susah, tetapi juga cara menjaga hubungan dengan Allah ketika keadaan sudah membaik.
Hakikat syukur bukanlah mengingat Allah saat membutuhkan-Nya.
Hakikat syukur adalah tetap mengingat Allah setelah kebutuhan itu dipenuhi.
Mungkin pertanyaan terbesar bukanlah:
“Mengapa Allah menolong kita saat krisis?”
Karena kasih sayang-Nya menjelaskan hal itu.
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Mengapa kita begitu mudah melupakan Allah setelah Dia menyelamatkan kita?”
Semoga kita termasuk golongan yang tidak hanya mengingat Allah saat badai datang, tetapi juga ketika lautan kehidupan kembali tenang. Wallahu a’lam bish-shawab. (syahida)





























