Kajian Syahida: Menelusuri Makna ‘Ilm melalui Al-Qur’an Bil Al-Qur’an
PPMINDONESIA.COM | KAJIAN SYAHIDA
Pengantar
Di tengah kehidupan keagamaan, terdapat pemahaman yang cukup umum bahwa ketika Al-Qur’an menyebut “orang-orang yang berilmu”, yang dimaksud adalah para ulama, syekh, ustaz, pendeta, atau mereka yang memperoleh pendidikan agama secara formal.
Pemahaman tersebut tentu memiliki konteks sosial dan sejarahnya. Namun, pertanyaan yang lebih mendasar adalah: apakah Al-Qur’an sendiri memberikan pengertian bahwa “orang-orang yang berilmu” adalah sebuah kelompok sosial atau gelar keagamaan tertentu?
Pertanyaan ini menjadi penting karena Al-Qur’an menggunakan sejumlah istilah yang berasal dari akar kata ع ل م (‘ain-lam-mim), seperti ‘ilm, ‘ālim, al-‘ulamā’, ulū al-‘ilm, dan alladzīna ūtu al-‘ilm.
Kajian Syahida dengan pendekatan Al-Qur’an Bil Al-Qur’an berusaha menjawab persoalan tersebut dengan tidak terlebih dahulu memasukkan definisi dari luar Al-Qur’an. Sebaliknya, makna ‘ilm ditelusuri melalui berbagai ayat yang menggunakan akar kata yang sama.
Secara leksikal, ‘ilm berarti pengetahuan. Namun, dalam Al-Qur’an, penggunaannya menunjukkan konteks yang lebih luas: pengetahuan yang berkaitan dengan pengenalan terhadap kebenaran, penerimaan wahyu, iman, ketundukan, keadilan, dan ketakwaan. Pemetaan akar kata ‘ilm dalam Al-Qur’an juga memperlihatkan penggunaannya dalam berbagai konteks, termasuk ulū al-‘ilm, al-rāsikhūna fī al-‘ilm, dan alladzīna ūtu al-‘ilm. (Quranic Arabic Corpus)
Al-Qur’an Tidak Menggunakan “Ilmu” Hanya untuk Menunjukkan Gelar
Salah satu prinsip penting dalam membaca Al-Qur’an adalah memperhatikan bagaimana sebuah kata digunakan dalam keseluruhan Al-Qur’an.
Kata ‘ilm tidak selalu berkaitan dengan lembaga pendidikan, jabatan, atau gelar keagamaan.
Bahkan, Al-Qur’an menggunakan ‘ilm untuk menggambarkan keadaan seseorang yang mengetahui kebenaran, sementara lawannya adalah orang yang berbicara, bertindak, atau mengikuti hawa nafsu tanpa ilmu.
Allah berfirman:
بَلِ اتَّبَعَ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَهْوَاءَهُم بِغَيْرِ عِلْمٍ ۖ فَمَن يَهْدِي مَنْ أَضَلَّ اللَّهُ ۖ وَمَا لَهُم مِّن نَّاصِرِينَ
“Tetapi orang-orang yang zalim mengikuti keinginannya tanpa pengetahuan. Maka siapakah yang dapat memberi petunjuk kepada orang yang telah disesatkan Allah? Mereka tidak mempunyai penolong.”
QS. Ar-Rum [30]: 29
Di sini, lawan dari ‘ilm bukanlah “orang tanpa gelar”, melainkan keadaan mengikuti hawa nafsu tanpa pengetahuan.
Pola yang sama muncul ketika Al-Qur’an mengkritik orang-orang yang membuat klaim tentang Allah tanpa dasar pengetahuan:
وَجَعَلُوا لِلَّهِ شُرَكَاءَ الْجِنَّ وَخَلَقَهُمْ ۖ وَخَرَقُوا لَهُ بَنِينَ وَبَنَاتٍ بِغَيْرِ عِلْمٍ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يَصِفُونَ
“Mereka menjadikan jin sebagai sekutu bagi Allah, padahal Dialah yang menciptakan mereka. Dan mereka mengada-adakan bagi-Nya anak laki-laki dan anak perempuan tanpa pengetahuan. Mahasuci dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka sifatkan.”
QS. Al-An‘am [6]: 100
Dengan demikian, ‘ilm dalam Al-Qur’an tidak dapat begitu saja direduksi menjadi status sosial seseorang.
“Orang yang Diberi Ilmu” Mengetahui Kebenaran Lalu Beriman
Salah satu ayat yang sangat penting untuk memahami hubungan antara ilmu dan iman adalah QS. Al-Hajj [22]: 54:
وَلِيَعْلَمَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِن رَّبِّكَ فَيُؤْمِنُوا بِهِ فَتُخْبِتَ لَهُ قُلُوبُهُمْ ۗ وَإِنَّ اللَّهَ لَهَادِ الَّذِينَ آمَنُوا إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ
“Dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu mengetahui bahwa Al-Qur’an itu benar dari Tuhanmu, sehingga mereka beriman kepadanya dan hati mereka tunduk kepadanya. Sungguh, Allah memberi petunjuk kepada orang-orang yang beriman ke jalan yang lurus.”
QS. Al-Hajj [22]: 54
Perhatikan rangkaian yang dibangun ayat ini:
ilmu → mengetahui kebenaran → beriman → hati tunduk → jalan yang lurus.
Inilah salah satu pola penting dalam memahami ‘ilm secara Qur’ani.
Ilmu bukan sekadar mengetahui sesuatu secara intelektual. Ilmu yang benar membawa manusia kepada pengenalan terhadap kebenaran, kemudian melahirkan iman dan ketundukan hati.
Karena itu, istilah “orang yang berilmu” tidak tepat apabila secara otomatis dipersempit menjadi “orang yang memiliki gelar keagamaan”.
“Orang yang Diberi Ilmu” Mengenali Kebenaran Wahyu
Allah berfirman:
وَيَرَى الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ الَّذِي أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ هُوَ الْحَقَّ وَيَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ
“Dan orang-orang yang telah diberi ilmu melihat bahwa apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itulah yang benar dan memberi petunjuk kepada jalan Allah Yang Mahaperkasa, Maha Terpuji.”
QS. Saba’ [34]: 6
Sekali lagi terlihat pola yang sama:
ilmu → mengenali wahyu sebagai kebenaran → memperoleh petunjuk.
Jadi, ukuran yang ditonjolkan Al-Qur’an bukanlah gelar, melainkan kemampuan mengenali kebenaran yang berasal dari Allah.
“Orang yang Mendalam Ilmunya” dan Keimanan
Al-Qur’an juga menyebut:
لَٰكِنِ الرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ مِنْهُمْ وَالْمُؤْمِنُونَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ وَالْمُقِيمِينَ الصَّلَاةَ وَالْمُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالْمُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ أُولَٰئِكَ سَنُؤْتِيهِمْ أَجْرًا عَظِيمًا
“Tetapi orang-orang yang mendalam ilmunya di antara mereka dan orang-orang mukmin, mereka beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum engkau; demikian pula mereka yang melaksanakan salat, menunaikan zakat, serta beriman kepada Allah dan hari kemudian. Mereka itulah yang akan Kami berikan pahala yang besar.”
QS. An-Nisa’ [4]: 162
Istilah yang digunakan adalah:
الرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ — ar-rāsikhūna fī al-‘ilm
yakni orang-orang yang kokoh atau mendalam dalam ilmu.
Menariknya, ayat tersebut langsung menghubungkan mereka dengan iman kepada wahyu, salat, zakat, iman kepada Allah, dan iman kepada hari akhir.
Kajian akademik terhadap istilah ar-rāsikhūna fī al-‘ilm juga menunjukkan adanya hubungan antara kedalaman ilmu dan kekokohan iman, meskipun konteks QS. 3:7 dan QS. 4:162 memiliki nuansa yang berbeda. (UIN Jakarta Repository)
Dengan demikian, ilmu dalam Al-Qur’an memiliki dimensi epistemologis sekaligus spiritual dan moral.
QS. Ali ‘Imran [3]:18: Siapakah “Ulū al-‘Ilm”?
Inilah ayat yang menjadi salah satu pusat pembahasan:
شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
“Allah bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Dia; demikian pula para malaikat dan orang-orang yang berilmu, yang menegakkan keadilan. Tidak ada tuhan selain Dia, Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.”
QS. Ali ‘Imran [3]:18
Perhatikan istilah yang digunakan:
أُولُو الْعِلْمِ — ulū al-‘ilm
Secara bahasa, istilah tersebut menunjuk kepada orang-orang yang memiliki ilmu/pengetahuan.
Yang sangat penting adalah keterangan yang mengiringinya:
قَائِمًا بِالْقِسْطِ — qā’iman bil-qisṭ
yakni menegakkan keadilan.
Jadi ayat tersebut tidak sekadar menyebut adanya orang-orang yang mengetahui, tetapi mengaitkan pengetahuan mereka dengan kesaksian tauhid dan penegakan keadilan.
Ayat ini menjadi sangat penting bagi Kajian Syahida karena Al-Qur’an sendiri memberikan karakter kepada ulū al-‘ilm: mereka terkait dengan kesaksian terhadap keesaan Allah dan keadilan. (Quranic Arabic Corpus)
Bagaimana dengan QS. Al-Mujadilah [58]:11?
Ayat lain yang sering dikaitkan dengan keutamaan orang berilmu adalah:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”
QS. Al-Mujadilah [58]:11
Ayat ini sering dipahami sebagai dalil tentang kedudukan tinggi para ulama.
Namun, apakah ayat tersebut secara eksplisit mengatakan “Allah akan meninggikan para ulama sebagai suatu kelas sosial atau kelompok pemegang otoritas agama”?
Tidak.
Teks ayat menggunakan:
الَّذِينَ آمَنُوا — orang-orang yang beriman
dan
الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ — orang-orang yang diberi ilmu.
Karena itu, ayat tersebut perlu dibaca bersama ayat-ayat lain yang menjelaskan hubungan antara iman dan ilmu.
Tidak cukup hanya mengambil terjemahan “orang-orang yang diberi ilmu”, kemudian langsung memasukkan pengertian sosial “ulama”.
Apakah Kata “dan” Memisahkan Dua Kelompok?
Dalam QS. 58:11 terdapat huruf:
وَ — wa
yang lazim diterjemahkan sebagai “dan”.
Namun, secara kebahasaan, keberadaan wa tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa dua unsur yang dihubungkannya merupakan dua kelompok yang mutlak terpisah.
Karena itu, ayat:
الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ
tidak seharusnya langsung dijadikan dasar bahwa:
orang beriman = satu kelompok,
orang berilmu = kelompok lain yang pasti berarti ulama.
Hubungan keduanya perlu dibaca melalui keseluruhan penggunaan ‘ilm dalam Al-Qur’an.
Dan ketika ayat-ayat lain dibaca bersama, tampak bahwa iman dan ilmu bukan dua konsep yang berdiri tanpa hubungan.
QS. Al-Hajj [22]:54 bahkan menunjukkan bahwa orang-orang yang diberi ilmu mengetahui kebenaran, kemudian beriman dan hati mereka tunduk.
Al-Qur’an Mengenal “Ulama”, tetapi Apa Ukurannya?
Di sini terdapat satu hal yang perlu diperhatikan secara lebih cermat.
Al-Qur’an memang menggunakan istilah:
الْعُلَمَاءُ — al-‘ulamā’
sebagaimana dalam QS. Fāṭir [35]:28:
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Maha Pengampun.”
QS. Fāṭir [35]:28
Namun, yang menarik adalah ukuran yang langsung diberikan Al-Qur’an:
يَخْشَى اللَّهَ — takut kepada Allah.
Dengan demikian, ‘ulamā’ dalam ayat tersebut tidak cukup dipahami berdasarkan gelar formal.
Kata itu berada dalam konteks pengenalan terhadap tanda-tanda kekuasaan Allah di alam dan kemudian menghasilkan khashyah, yaitu rasa takut yang melahirkan ketundukan kepada Allah.
Karena itu, jika seseorang disebut “berilmu”, pertanyaan Qur’annya bukan hanya:
“Berapa banyak yang ia ketahui?”
Tetapi juga:
“Apa yang dilakukan pengetahuannya terhadap dirinya?”
Apakah ilmu tersebut membuatnya lebih dekat kepada kebenaran, lebih takut kepada Allah, lebih adil, dan lebih tunduk kepada-Nya?
Ilmu yang Tidak Melahirkan Kebenaran Bukanlah Ukuran Kemuliaan
Al-Qur’an juga menunjukkan bahwa seseorang dapat memiliki pengetahuan tetapi tetap menyimpang.
Allah berfirman:
وَلَقَدْ جَاءَهُم مِّنَ الْأَنبَاءِ مَا فِيهِ مُزْدَجَرٌ حِكْمَةٌ بَالِغَةٌ فَمَا تُغْنِ النُّذُرُ
“Dan sungguh, telah sampai kepada mereka berita-berita yang di dalamnya terdapat peringatan. Itulah suatu hikmah yang sempurna, tetapi peringatan-peringatan itu tidak berguna bagi mereka.”
QS. Al-Qamar [54]:4–5
Al-Qur’an bahkan menggambarkan orang yang mengetahui kebenaran tetapi tidak mengikutinya sebagai sebuah problem moral.
Karena itu, pengetahuan dan gelar tidak boleh disamakan dengan kebenaran.
Ukuran Qur’ani selalu kembali kepada iman, ketundukan, keadilan, dan amal saleh.
Yusuf: Ilmu dan Hikmah sebagai Karunia Allah
Dalam kisah Yusuf, Allah berfirman:
وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ آتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ
“Dan ketika dia telah dewasa, Kami memberinya kebijaksanaan dan ilmu. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.”
QS. Yusuf [12]:22
Ilmu disebut bersama ḥukm—kebijaksanaan atau kemampuan menetapkan keputusan dengan benar—dan kemudian dikaitkan dengan al-muḥsinīn, orang-orang yang berbuat baik.
Ini kembali memperlihatkan bahwa ilmu dalam Al-Qur’an bukan sekadar penguasaan informasi.
Ilmu yang bernilai adalah ilmu yang menjadi bagian dari hikmah dan ihsan.
Siapa yang “Tidak Berilmu” Menurut Al-Qur’an?
Jika kita ingin memahami sebuah istilah secara Qur’ani, kita juga perlu memperhatikan lawannya.
Allah berfirman:
قَدْ خَسِرَ الَّذِينَ قَتَلُوا أَوْلَادَهُمْ سَفَهًا بِغَيْرِ عِلْمٍ
“Sungguh rugi orang-orang yang membunuh anak-anak mereka karena kebodohan tanpa pengetahuan.”
QS. Al-An‘am [6]:140
Dan:
بَلِ اتَّبَعَ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَهْوَاءَهُم بِغَيْرِ عِلْمٍ
“Tetapi orang-orang yang zalim mengikuti keinginannya tanpa pengetahuan.”
QS. Ar-Rum [30]:29
Pola ini memperlihatkan bahwa “tanpa ilmu” berkaitan dengan ketidaktahuan, hawa nafsu, kesesatan, dan tindakan yang tidak didasarkan pada kebenaran.
Karena itu, “berilmu” secara Qur’ani bukan hanya masalah seberapa banyak informasi yang tersimpan di kepala, tetapi berkaitan dengan kemampuan mengetahui dan mengikuti kebenaran.
Ilmu yang Sejati Melahirkan Keimanan
QS. Al-Hajj [22]:54 memberikan salah satu pola paling jelas:
أَنَّهُ الْحَقُّ مِن رَّبِّكَ فَيُؤْمِنُوا بِهِ فَتُخْبِتَ لَهُ قُلُوبُهُمْ
“Bahwa itu adalah kebenaran dari Tuhanmu, lalu mereka beriman kepadanya dan hati mereka tunduk kepadanya.”
Rangkaian ini dapat dirumuskan sebagai:
ILMU
↓
MENGETAHUI KEBENARAN
↓
IMAN
↓
KETUNDUKAN HATI
↓
JALAN YANG LURUS
Inilah pola yang sangat penting dalam Kajian Syahida: Al-Qur’an Bil Al-Qur’an.
Jadi, Benarkah “Orang Berilmu” Selalu Berarti Ulama?
Jawabannya perlu dirumuskan dengan hati-hati.
Tidak tepat jika setiap istilah “orang-orang yang berilmu” dalam Al-Qur’an secara otomatis diterjemahkan atau dipahami sebagai “ulama” dalam pengertian kelompok sosial atau pemegang gelar keagamaan tertentu.
Al-Qur’an menggunakan sejumlah istilah yang berasal dari akar ‘ilm dengan konteks yang beragam.
Dalam QS. 3:18 digunakan ulū al-‘ilm.
Dalam QS. 4:162 digunakan ar-rāsikhūna fī al-‘ilm.
Dalam sejumlah ayat digunakan alladzīna ūtu al-‘ilm.
Sementara QS. 35:28 menggunakan al-‘ulamā’.
Kesemuanya harus dibaca berdasarkan konteks masing-masing.
Bahkan kajian terhadap penggunaan istilah tersebut menunjukkan bahwa ‘ilm dan turunannya memang memiliki beragam bentuk penggunaan dalam Al-Qur’an, sehingga tidak tepat menyamakan seluruhnya dengan satu kategori sosial tertentu. (Quranic Arabic Corpus)
Ukuran Qur’ani: Bukan Gelar, tetapi Buah Ilmu
Dari ayat-ayat yang telah dikaji, tampak beberapa karakter penting orang yang benar-benar berilmu menurut Al-Qur’an:
Pertama, mengenali kebenaran.
“…mengetahui bahwa itu adalah kebenaran dari Tuhanmu…”
QS. 22:54
Kedua, beriman kepada kebenaran tersebut.
“…lalu mereka beriman kepadanya…”
QS. 22:54
Ketiga, hati tunduk kepada Allah.
“…dan hati mereka tunduk kepadanya…”
QS. 22:54
Keempat, menegakkan keadilan.
قَائِمًا بِالْقِسْطِ
“menegakkan keadilan.”
QS. 3:18
Kelima, memiliki rasa takut kepada Allah.
يَخْشَى اللَّهَ
“takut kepada Allah.”
QS. 35:28
Keenam, membuktikan ilmu melalui iman dan amal.
“…orang-orang yang beriman dan beramal saleh…”
QS. 28:80
Dengan demikian, ukuran Al-Qur’an terhadap ilmu sangat erat dengan buah moral dan spiritualnya.
Kesimpulan Kajian Syahida
Kajian Al-Qur’an Bil Al-Qur’an terhadap ayat-ayat tentang ‘ilm membawa kita pada satu kesimpulan penting:
Al-Qur’an tidak menjadikan “ilmu” semata-mata sebagai gelar atau identitas sosial.
Al-Qur’an memang mengenal istilah al-‘ulamā’, tetapi ketika menjelaskan karakter mereka, Al-Qur’an menunjuk kepada khashyah—rasa takut dan tunduk kepada Allah.
Al-Qur’an juga menyebut ulū al-‘ilm, alladzīna ūtu al-‘ilm, dan ar-rāsikhūna fī al-‘ilm. Ketika ayat-ayat tersebut dibaca secara keseluruhan, ilmu berulang kali dihubungkan dengan mengenali kebenaran, beriman, memahami wahyu, tunduk kepada Allah, menegakkan keadilan, dan beramal saleh. (Quranic Arabic Corpus)
Karena itu, kurang tepat apabila istilah “orang-orang yang berilmu” secara otomatis dipersempit menjadi ulama, syekh, pendeta, atau pemegang otoritas keagamaan tertentu.
Yang lebih penting justru adalah pertanyaan yang diajukan Al-Qur’an:
Apakah ilmu yang kita miliki membawa kita kepada kebenaran?
Apakah ilmu membuat kita beriman?
Apakah ilmu membuat hati tunduk kepada Allah?
Apakah ilmu membuat kita menegakkan keadilan?
Apakah ilmu membuat kita takut dan bertanggung jawab di hadapan Allah?
Jika jawabannya adalah ya, maka di situlah kita menemukan karakter orang yang berilmu dalam perspektif Al-Qur’an.
Sebab, dalam logika Qur’ani, ilmu bukan sekadar sesuatu yang diketahui oleh akal; ilmu adalah sesuatu yang semestinya mengubah cara manusia mengenal Allah, memahami kebenaran, dan menjalani kehidupan.
TAKE AWAY KAJIAN SYAHIDA
“Jangan ukur ilmu seseorang hanya dari gelarnya. Ukurlah dari kebenaran yang ia kenali, iman yang ia miliki, keadilan yang ia tegakkan, dan ketundukan kepada Allah yang lahir dari pengetahuannya.”





























