Scroll untuk baca artikel
BeritaOpini

MY TIME: Merumuskan Waktu, Menata Hidup, dan Membangun Kualitas Diri

4
×

MY TIME: Merumuskan Waktu, Menata Hidup, dan Membangun Kualitas Diri

Share this article

Penulis: Guntoro Soewarno. Editor: Asyary

SEMARANG.PPMIndonesia.com– Allah memberikan jatah waktu kepada setiap manusia secara adil: 24 jam dalam sehari. Tidak lebih dan tidak kurang. Tentu, kecuali orang Madura—demikian candaan yang sering kita dengar.

Ketika pernah muncul larangan agar warung Madura tidak buka selama 24 jam, konon esok harinya muncul pengumuman di sejumlah warung:

“Warung Madura Buka 25 Jam!”

Sebuah humor yang mengundang tawa. Tetapi di balik candaan itu, ada satu pertanyaan serius: seberapa besar sebenarnya kita menghargai waktu yang Allah berikan kepada kita?

Selama ini, kebanyakan orang membagi hidup dalam pola sederhana: delapan jam untuk tidur, delapan jam untuk bekerja, dan delapan jam sisanya untuk keluarga serta berbagai aktivitas lainnya.

Persoalannya, sering kali waktu delapan jam terakhir itulah yang justru mengalir begitu saja. Seperti air sungai yang turun dari pegunungan—bergerak tanpa arah yang kita rencanakan, tanpa bentuk, dan tanpa kesadaran akan nilainya.

Padahal, waktu adalah salah satu kekayaan paling mahal yang dimiliki manusia.

Waktu Adalah Sekali Pakai

Berbeda dengan banyak hal lain dalam kehidupan, waktu memiliki sifat yang sangat unik: sekali digunakan, ia habis selamanya.

Mau kita gunakan atau tidak, waktu tetap habis.

Setiap detik berlalu.
Setiap menit berkurang.
Setiap jam menghilang.
Setiap hari membawa kita semakin dekat kepada batas usia yang tidak kita ketahui.

Waktu tidak dapat disimpan. Tidak dapat dipinjam. Tidak dapat diulang. Dan yang paling penting, tidak dapat diperbarui.

Tanpa kita sadari, waktu terus menggerogoti jatah usia kita. Ia tidak peduli siapa kita—petani, pengusaha, pejabat, karyawan, aktivis, orang kaya, ataupun orang biasa.

Karena itu, persoalan terbesar bukan sekadar berapa banyak waktu yang kita miliki, tetapi seberapa berkualitas kita menggunakannya.

Sayangnya, kita sering belum memiliki budaya yang benar-benar menghargai waktu.

Contoh sederhana adalah budaya molor.

Meeting dijadwalkan pukul 10.00, tetapi baru benar-benar dimulai pukul 11.00. Satu jam hilang begitu saja. Kadang tidak ada yang merasa bersalah. Bahkan, keterlambatan itu dianggap sebagai sesuatu yang biasa dan dapat dimaklumi.

Padahal, jika sepuluh orang menunggu selama satu jam, sesungguhnya ada sepuluh jam kehidupan manusia yang terbuang.

Ini bukan sekadar soal keterlambatan. Ini adalah soal budaya menghargai kehidupan orang lain.

Sisa Delapan Jam: Kesempatan Menjadi Berkualitas

Jika kita menggunakan pola delapan jam tidur, delapan jam bekerja, maka sesungguhnya kita masih memiliki sekitar delapan jam lainnya.

Delapan jam inilah yang seharusnya menjadi ruang bagi kita untuk meningkatkan kualitas hidup.

Pertanyaannya: digunakan untuk apa delapan jam itu?

Apakah habis untuk aktivitas tanpa arah?

Nongkrong berjam-jam tanpa tujuan. Merokok sambil membicarakan orang lain. Ngobrol ngalor-ngidul mengenai hal-hal yang tidak menambah pengetahuan. Berdebat di grup WhatsApp tentang sesuatu yang tidak penting. Tenggelam dalam media sosial tanpa menghasilkan apa-apa.

Tidak ada yang salah dengan bersantai. Tidak ada pula yang salah dengan memiliki hobi. Yang menjadi persoalan adalah ketika kita tidak lagi mampu membedakan antara istirahat yang memberi energi dan kebiasaan yang sekadar menghabiskan waktu.

Orang yang ingin membangun kualitas hidup harus mulai bertanya kepada dirinya sendiri:

Hari ini, ke mana waktu saya pergi?

Ciri Orang Sukses: Menghargai Waktu

Salah satu ciri yang banyak saya temukan pada orang-orang yang berhasil membangun usaha adalah kesungguhannya dalam menghargai waktu.

Mereka disiplin terhadap agenda. Jika ada janji, mereka berusaha menepatinya. Jika ada pekerjaan yang harus diselesaikan, mereka tidak selalu menunggu suasana hati yang sempurna.

Mereka memiliki kesadaran sederhana: waktu terbatas dan kehidupan tidak memberikan kepastian tentang hari esok.

Saya pernah mengenal seorang pengusaha di Purwakarta, Pak Mesakh Supriyadi. Selama kurang lebih tiga tahun saya pernah berbisnis bersama beliau. Salah satu pelajaran yang paling membekas dari beliau bukan hanya soal bisnis, tetapi tentang bagaimana memperlakukan waktu.

Beliau terbiasa menyelesaikan pekerjaan sesegera mungkin.

Suatu ketika saya bertanya, “Kok begitu, Pak? Mengapa segala sesuatu harus segera dikerjakan?”

Jawabannya sederhana, tetapi sangat dalam:

“Waktu kita terbatas. Kita tidak tahu satu menit ke depan masih ada atau tidak. Maka, kerjakan apa pun sesegera mungkin.”

Kalimat itu terus saya ingat.

Bukan berarti semua pekerjaan harus dilakukan tergesa-gesa. Tetapi jangan pula kita membiasakan diri menunda sesuatu yang sebenarnya bisa diselesaikan hari ini.

Sebab, terlalu banyak penundaan pada akhirnya membuat hidup kita dipenuhi oleh pekerjaan yang tidak pernah selesai.

DREAM BOOK: Berdialog dengan Diri Sendiri

Dalam perjalanan saya belajar bisnis di Indonesia Islamic Business Forum (IIBF), salah satu pelajaran penting yang saya peroleh dari guru bisnis saya, Pak Heppy Trenggono, adalah kebiasaan mencatat rencana dan hal-hal penting setiap pagi.

Beliau menyebutnya sebagai Dream Book.

Kelihatannya sederhana: mengambil waktu di pagi hari untuk duduk, berpikir, menulis, dan merumuskan apa yang penting dalam hidup.

Tetapi sesungguhnya, kebiasaan itu adalah sebuah proses membangun arah.

Pak Heppy pernah menekankan bahwa pencatatan tersebut merupakan directions—arah perjalanan hidup. Tanpa arah, manusia mudah sibuk tetapi belum tentu bergerak menuju tujuan.

Apa saja yang dapat kita rumuskan dalam Dream Book?

A. Target Akhirat

Ini adalah pertanyaan paling mendasar.

Untuk apa kita hidup?

Apa yang ingin kita pertanggungjawabkan kepada Allah?

Bagaimana kualitas ibadah, amal, kejujuran, manfaat, dan hubungan kita dengan sesama?

Jangan sampai kita begitu serius menyusun target kekayaan, tetapi tidak pernah sungguh-sungguh menyusun target kehidupan akhirat.

B. Target Dunia

Target dunia perlu dibagi secara realistis:

1. Target Jangka Panjang
Apa yang ingin kita capai dalam lima atau sepuluh tahun mendatang?

2. Target Jangka Menengah
Apa yang harus dicapai dalam satu hingga tiga tahun ke depan?

3. Target Jangka Pendek
Apa yang harus kita selesaikan dalam beberapa bulan ke depan untuk mendekatkan diri pada tujuan yang lebih besar?

C. Target Hari Ini

Jangan terlalu banyak.

Pilih dua pekerjaan penting yang benar-benar realistis untuk dituntaskan.

Misalnya:

  • Meeting dengan pihak yang menjadi mitra strategis.
  • Menyelesaikan administrasi perbankan yang tertunda.

Cukup dua hal, tetapi harus selesai.

Karena hidup tidak selalu membutuhkan daftar pekerjaan yang panjang. Yang kita butuhkan adalah kemampuan menentukan prioritas dan menuntaskan yang paling penting.

Dream Book Adalah “My Time”

Bagi saya, saat kita membuka Dream Book dan mulai menulis, itulah My Time.

Waktu saya.

Waktu ketika saya tidak sedang mengurusi orang lain. Tidak sedang sibuk dengan telepon. Tidak sedang tenggelam dalam rapat. Tidak sedang mengikuti hiruk-pikuk media sosial.

Itulah waktu untuk berdialog dengan diri sendiri.

Untuk bertanya:

Siapa saya hari ini?
Apa yang sudah saya lakukan?
Apa yang belum saya perbaiki?
Ke mana saya sedang berjalan?
Apakah target hidup saya realistis?
Apakah saya sudah pantas memiliki impian sebesar yang saya tuliskan?

Semakin dalam kita berdialog dengan diri sendiri, semakin kita mengenal diri kita.

Dan semakin kita mengenal diri sendiri, semakin jujur kita dalam merumuskan kehidupan.

Seseorang mungkin dengan mudah menulis, “Super Kaya Raya pada 2030.”

Tidak ada yang salah dengan impian besar.

Tetapi pertanyaannya adalah: apakah kita sudah menyiapkan kualitas diri, disiplin, ilmu, kerja keras, sistem, dan karakter yang sepadan dengan impian tersebut?

Dream Book seharusnya bukan sekadar tempat menulis keinginan. Ia harus menjadi ruang evaluasi antara impian dan kesiapan diri.

Itulah hakikat My Time: dialog ke dalam.

Membuat Waktu Menjadi Berkualitas

Setiap orang harus berani merumuskan ulang kehidupannya.

Bagaimana cara kita berbisnis?
Bagaimana kita memperlakukan keluarga?
Bagaimana hubungan kita dengan Allah?
Berapa banyak waktu yang kita gunakan untuk belajar?
Apa yang kita lakukan untuk menjaga kesehatan?
Berapa waktu yang kita sisihkan untuk membantu orang lain?

Kita perlu menciptakan berbagai bentuk My Time sesuai pola kehidupan, kebutuhan, dan kultur masing-masing.

My Time untuk Keluarga

Bagi saya, keluarga harus ditempatkan sebagai prioritas.

“My Family is The First Client.”

Sesibuk apa pun kita membangun bisnis, jangan sampai orang-orang terdekat justru selalu mendapatkan sisa waktu kita.

Istri dan anak-anak tidak seharusnya hanya menerima “waktu yang tersisa setelah semua pekerjaan selesai”.

Justru kita harus sengaja menyediakan waktu terbaik untuk mereka.

Bisa dengan kegiatan sederhana: sarapan bersama, menyirami tanaman di depan rumah bersama pasangan, mengobrol tanpa gangguan telepon, atau menyediakan satu hari penuh setiap bulan untuk berkumpul bersama anak dan cucu.

Sesekali, buat perjalanan bersama. Tidak harus selalu jauh dan mahal. Yang penting adalah menghadirkan waktu yang utuh.

Sebab pada akhirnya, anak-anak mungkin tidak terlalu mengingat berapa banyak uang yang kita hasilkan. Tetapi mereka akan mengingat apakah kita pernah benar-benar hadir dalam hidup mereka.

My Time untuk Mendekat kepada Allah

Ada waktu yang harus benar-benar menjadi milik kita bersama Allah.

Bangun sebelum Subuh. Bersimpuh. Berdoa. Bermuhasabah. Menangis jika perlu. Menyampaikan seluruh kegelisahan dan harapan secara langsung kepada-Nya.

Dalam kehidupan yang semakin bising, manusia membutuhkan ruang hening.

Ruang untuk mengingat bahwa sehebat apa pun rencana kita, ada kekuasaan Allah yang melampaui seluruh perhitungan manusia.

Inilah My Time yang tidak boleh hilang.

My Time untuk Belajar

Sisihkan waktu untuk membaca.

Tenggelam di toko buku selama dua atau tiga jam. Membaca buku yang selama ini tertunda. Mempelajari sesuatu yang baru.

Cukup seminggu sekali.

Karena seseorang tidak akan berkembang hanya dengan mengulang aktivitas yang sama setiap hari.

Kita perlu memperbarui cara berpikir.

Dunia berubah. Teknologi berubah. Pasar berubah. Pertanian berubah. Bisnis berubah. Cara manusia berkomunikasi pun berubah.

Jika kita tidak menyediakan waktu untuk belajar, maka perlahan kita akan tertinggal.

My Time untuk Bisnis yang Lebih Sehat

Tujuan membangun bisnis seharusnya bukan agar kita semakin sibuk sepanjang hidup.

Justru bisnis yang semakin berkembang harus diarahkan agar memiliki sistem yang semakin kuat.

Kita perlu mengubah pola bermain: dari seorang pemilik usaha yang mengerjakan semuanya sendiri—merangkap manajer, staf administrasi, tenaga pemasaran, bahkan sesekali menjadi office boy—menjadi pemimpin yang membangun sistem dan tim.

Idealnya, semakin besar dan kuat bisnis kita, semakin baik pula kemampuan kita mengelola waktu.

Bukan semakin besar bisnis, semakin hilang kehidupan kita.

Kesuksesan bukan sekadar memiliki omzet besar. Kesuksesan juga berarti memiliki kebebasan untuk menggunakan waktu secara bermakna—bersama keluarga, belajar, beribadah, dan membantu lebih banyak orang.

Saatnya Merumuskan My Time

Setiap orang memiliki My Time yang berbeda.

Seorang petani mungkin memiliki My Time saat berjalan menyusuri kebun pada pagi hari.

Seorang pengusaha mungkin menemukannya ketika menulis target bisnis sebelum aktivitas dimulai.

Seorang ayah mungkin menemukannya ketika berbicara dari hati ke hati dengan anaknya.

Seorang ibu mungkin menemukannya ketika memiliki waktu untuk membaca, berdoa, dan merawat dirinya.

Seorang aktivis mungkin menemukannya ketika merenungkan apakah perjuangan yang dilakukan masih sejalan dengan nilai-nilai yang diyakininya.

Tidak ada rumus tunggal.

Yang penting adalah kita secara sadar merancang waktu, bukan sekadar membiarkan waktu membawa kita ke mana-mana.

Semakin banyak My Time yang kita rumuskan secara sehat dan konsisten, semakin besar peluang kita membangun kehidupan yang seimbang.

Ada waktu untuk Allah.
Ada waktu untuk diri sendiri.
Ada waktu untuk keluarga.
Ada waktu untuk belajar.
Ada waktu untuk bekerja dan membangun usaha.
Ada waktu untuk beristirahat.
Ada waktu untuk membantu orang lain.

Karena hidup yang berkualitas bukan hidup yang paling sibuk.

Hidup yang berkualitas adalah hidup yang memiliki arah.

Penutup: Waktu Tidak Pernah Kembali

Kita sering berkata, “Nanti saja.”

Padahal, tidak ada yang menjamin bahwa “nanti” benar-benar datang.

Kita sering berkata, “Besok saya mulai.”

Padahal, besok belum tentu menjadi milik kita.

Maka, jangan menunggu tahun depan untuk memperbaiki hidup. Jangan menunggu kaya untuk mulai membahagiakan keluarga. Jangan menunggu tua untuk mendekat kepada Allah. Jangan menunggu sempurna untuk mulai belajar.

Mulailah hari ini.

Ambil waktu sejenak setiap pagi.

Buka catatan.

Tuliskan arah hidup.

Rumusan target akhirat. Rumuskan target dunia. Tentukan tujuan jangka panjang, jangka menengah, dan jangka pendek. Kemudian pilih dua hal terpenting yang harus dituntaskan hari ini.

Itulah My Time.

Waktu untuk kembali mengenal diri sendiri.

Waktu untuk memastikan bahwa hidup kita tidak sekadar berjalan, tetapi benar-benar menuju sesuatu.

Sebab pada akhirnya, kita semua memiliki jatah yang sama: 24 jam sehari.

Yang membedakan bukan jumlah waktunya.

Yang membedakan adalah kesadaran, pilihan, disiplin, dan kualitas kita dalam menggunakannya.

Lalu, sudah berapa banyak “My Time” yang Anda miliki dan telah menjadi kebiasaan dalam kehidupan?

Mari kita rumuskan bersama.

Dengan hati yang riang.

Dengan pikiran yang jernih.

Dan dengan kesadaran bahwa setiap detik yang Allah berikan adalah kesempatan yang tidak akan pernah kembali.

Mari jadikan waktu bukan sekadar sesuatu yang habis, tetapi sesuatu yang menghasilkan makna.(guntoro soewarno)

 Guntoro Soewarno
Petani Organik sejak 2014, Founder Ali OrganicFarm (ALO FARM) Kota Semarang, Pendiri Perkumpulan Petani Organik “Pandawa Lima” Yogyakarta, Komisaris Utama PT Rig Global Investindo dan PT Aurora Alpha Centauri.

Tulisan ini didedikasikan untuk para Petani Organik Member Skill Up Kelas Reguler dan Platinum.

Example 120x600