Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Ketika Al Quran Ditinggalkan Atas Nama Islam

15
×

Ketika Al Quran Ditinggalkan Atas Nama Islam

Share this article

Kajian Syahida quran bil quran. Oleh: syahida

Ketika Identitas Keislaman Lebih Kuat daripada Petunjuk Wahyu


PPMINDONESIA.COM | OPINI KEISLAMAN

Ada paradoks yang patut kita renungkan.

Al-Qur’an adalah kitab yang diyakini umat Islam sebagai wahyu Allah. Ia dibaca setiap hari, dihafalkan, dikumandangkan dalam berbagai kesempatan, dijadikan mahar, dicetak dalam jutaan eksemplar, bahkan menjadi simbol identitas umat.

Tetapi pertanyaan yang lebih mendasar adalah: seberapa jauh Al-Qur’an benar-benar menjadi sumber petunjuk dalam kehidupan?

Sebab meninggalkan Al-Qur’an tidak selalu berarti berhenti membacanya.

Seseorang dapat membaca Al-Qur’an setiap hari, tetapi tidak menjadikannya sebagai pedoman. Seseorang dapat berbicara atas nama Islam, tetapi ketika berhadapan dengan ayat Allah, justru lebih memilih kepentingan kelompok, tradisi, fanatisme, atau pendapat manusia.

Di sinilah Al-Qur’an menghadirkan sebuah peringatan yang sangat keras:

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا

“Dan Rasul berkata, ‘Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang ditinggalkan.’”

QS. Al-Furqan [25]: 30

Ayat ini seharusnya tidak hanya dibaca sebagai kisah tentang orang-orang yang menolak Al-Qur’an pada masa lalu. Ia adalah cermin bagi umat sepanjang zaman.

Pertanyaannya: apakah kita sedang meninggalkan Al-Qur’an tanpa menyadarinya?

Meninggalkan Al-Qur’an Tidak Selalu Berarti Tidak Membacanya

Kata mahjūr dalam ayat tersebut mengandung makna ditinggalkan atau tidak dipedulikan. Karena itu, bentuk meninggalkan Al-Qur’an dapat terjadi dalam banyak cara.

Al-Qur’an mungkin tetap berada di rumah, tetapi tidak menjadi pedoman dalam mengambil keputusan.

Ayat-ayatnya mungkin dibaca, tetapi tidak direnungkan.

Nasihatnya mungkin dikutip, tetapi tidak diamalkan.

Bahkan yang lebih ironis, ayat Al-Qur’an dapat digunakan untuk membenarkan sesuatu yang sesungguhnya bertentangan dengan pesan Al-Qur’an secara keseluruhan.

Padahal Allah telah menyatakan:

هَٰذَا بَلَاغٌ لِّلنَّاسِ وَلِيُنذَرُوا بِهِ وَلِيَعْلَمُوا أَنَّمَا هُوَ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ وَلِيَذَّكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, agar mereka diberi peringatan dengannya, agar mereka mengetahui bahwa Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.”

QS. Ibrahim [14]: 52

Al-Qur’an diturunkan untuk menjadi balagh—penyampaian yang sampai kepada manusia—dan untuk menjadi peringatan serta bahan renungan bagi orang-orang yang menggunakan akal.

Ketika Islam Lebih Banyak Diwarisi daripada Dipahami

Salah satu persoalan umat adalah cara kita menerima agama.

Sebagian besar dari kita lahir dalam keluarga Muslim. Kita belajar shalat dari orang tua, belajar membaca Al-Qur’an dari guru, mengenal berbagai tradisi keagamaan dari lingkungan, dan kemudian meneruskan apa yang telah kita terima.

Tidak ada yang salah dengan proses pewarisan itu.

Yang menjadi masalah adalah ketika warisan berubah menjadi ukuran kebenaran yang tidak boleh diperiksa kembali.

Al-Qur’an mengingatkan:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ۗ أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ

“Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,’ mereka menjawab, ‘Tidak! Kami hanya mengikuti apa yang kami dapati dari nenek moyang kami.’ Apakah mereka tetap mengikuti mereka walaupun nenek moyang mereka tidak memahami sesuatu dan tidak mendapat petunjuk?”

QS. Al-Baqarah [2]: 170

Kritik Al-Qur’an di sini bukan terhadap sejarah atau tradisi semata. Yang dikritik adalah ketaatan buta kepada warisan ketika warisan itu tidak lagi diuji dengan petunjuk Allah.

“Ikutilah Apa yang Diturunkan Kepadamu”

Ada satu seruan Al-Qur’an yang sangat jelas:

اتَّبِعُوا مَا أُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاءَ ۗ قَلِيلًا مَّا تَذَكَّرُونَ

“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran.”

QS. Al-A‘raf [7]: 3

Perintahnya sederhana: ikuti apa yang diturunkan.

Dalam perspektif Kajian Syahida, ayat ini perlu dibaca bersama ayat-ayat lain yang menjelaskan fungsi Al-Qur’an sebagai petunjuk, pembeda, penjelas, dan rahmat.

Allah berfirman:

إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ

“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk kepada jalan yang paling lurus.”

QS. Al-Isra’ [17]: 9

Jika Al-Qur’an adalah petunjuk menuju jalan yang paling lurus, maka persoalan umat bukan kekurangan petunjuk, melainkan apakah kita benar-benar mengikuti petunjuk tersebut?

Ketika Pendapat Manusia Mengalahkan Ayat Allah

Dalam kehidupan keagamaan, manusia membutuhkan ilmu dan penjelasan. Karena itu, ulama, guru, mufasir, dan para ahli memiliki peran penting.

Namun Al-Qur’an mengingatkan agar manusia tidak mengangkat pendapat manusia menjadi kebenaran mutlak yang tidak boleh diuji.

Allah berfirman:

أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُم مِّنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَن بِهِ اللَّهُ

“Apakah mereka mempunyai sekutu-sekutu yang menetapkan bagi mereka aturan agama yang tidak diizinkan Allah?”

QS. Asy-Syura [42]: 21

Ayat ini membawa kita kepada prinsip yang sangat penting: agama tidak boleh dibuat berdasarkan kehendak manusia lalu kemudian dilegitimasi dengan nama Allah.

Dalam Kajian Syahida, setiap pemikiran dan praktik keagamaan perlu kembali diuji dengan keseluruhan pesan Al-Qur’an.

Mayoritas Bukan Jaminan Kebenaran

Ada kecenderungan psikologis manusia untuk menganggap sesuatu benar karena banyak orang mengikutinya.

Tetapi Al-Qur’an justru memberikan peringatan:

وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ

“Jika kamu mengikuti kebanyakan orang di bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka hanya mengikuti persangkaan.”

QS. Al-An‘am [6]: 116

Ayat ini tidak berarti bahwa semua yang dilakukan mayoritas pasti salah.

Pesannya lebih mendasar: jumlah tidak dapat dijadikan standar kebenaran.

Standarnya adalah petunjuk Allah.

Karena itu, seorang Muslim seharusnya memiliki keberanian intelektual untuk bertanya:

Apakah yang kita lakukan benar karena sesuai dengan Al-Qur’an, atau kita menganggapnya benar hanya karena sudah dilakukan banyak orang?

Al-Qur’an Tidak Meminta Kita Berhenti Berpikir

Al-Qur’an tidak pernah meminta manusia mematikan akalnya.

Sebaliknya, Al-Qur’an berkali-kali mengajak manusia berpikir dan mentadabburi.

Allah berfirman:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ

“Tidakkah mereka mentadabburi Al-Qur’an?”

QS. Muhammad [47]: 24

Dan:

كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Ini adalah Kitab yang Kami turunkan kepadamu, penuh berkah, agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.”

QS. Shad [38]: 29

Tadabbur berarti masuk lebih dalam, menghubungkan pesan, melihat hubungan antarayat, dan mengambil pelajaran.

Inilah salah satu dasar Kajian Syahida: ayat tidak berdiri sendirian. Al-Qur’an dibaca sebagai satu kesatuan yang saling menerangkan.

Al-Qur’an sebagai Furqan

Mengapa Al-Qur’an harus ditempatkan sebagai ukuran?

Karena Allah menyebutnya sebagai Furqan—pembeda.

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَىٰ عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا

“Mahasuci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan kepada hamba-Nya agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.”

QS. Al-Furqan [25]: 1

Sebagai Furqan, Al-Qur’an bukan hanya sesuatu yang harus kita bela, tetapi juga sesuatu yang harus membedakan dan menguji kehidupan kita.

Kita sering berkata bahwa kita membela Al-Qur’an.

Tetapi pertanyaan yang lebih penting adalah:

Apakah kita bersedia ketika Al-Qur’an membela kebenaran dengan cara mengoreksi diri kita sendiri?

Jangan Menjadikan Al-Qur’an Sekadar Legitimasi

Ada bahaya lain yang lebih halus: menjadikan Al-Qur’an bukan sebagai petunjuk, melainkan sebagai alat legitimasi.

Kita menentukan keputusan terlebih dahulu, kemudian mencari ayat untuk membenarkannya.

Kita memilih kepentingan terlebih dahulu, kemudian mencari dalil.

Kita membangun kelompok terlebih dahulu, kemudian mencari pembenaran keagamaan.

Dalam keadaan seperti itu, Al-Qur’an tidak lagi menjadi hakim atas kita. Justru kita yang menjadikan ayat sebagai alat untuk menghakimi sesuai kepentingan kita.

Padahal Allah berfirman:

أَفَغَيْرَ اللَّهِ أَبْتَغِي حَكَمًا وَهُوَ الَّذِي أَنزَلَ إِلَيْكُمُ الْكِتَابَ مُفَصَّلًا

“Maka apakah aku akan mencari hakim selain Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan Kitab kepadamu secara terperinci?”

QS. Al-An‘am [6]: 114

Pertanyaan ini sangat relevan untuk kehidupan umat hari ini:

Siapa yang sesungguhnya menjadi hakim atas kehidupan kita—wahyu atau kepentingan kita sendiri?

Kembali kepada Al-Qur’an, Bukan Berarti Menolak Ilmu

Kembali kepada Al-Qur’an tidak berarti menolak ulama, hadis, sejarah, bahasa Arab, atau khazanah keilmuan Islam.

Justru kita membutuhkan ilmu agar dapat membaca Al-Qur’an dengan lebih bertanggung jawab.

Namun ada perbedaan antara menggunakan ilmu untuk membantu memahami Al-Qur’an dan menempatkan produk pemikiran manusia sebagai sesuatu yang lebih tinggi daripada Al-Qur’an.

Dalam Kajian Syahida, posisi Al-Qur’an tetap menjadi pusat.

Sebab Allah berfirman:

إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَقُصُّ عَلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَكْثَرَ الَّذِي هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ

“Sesungguhnya Al-Qur’an ini menjelaskan kepada Bani Israil sebagian besar dari apa yang mereka perselisihkan.”

QS. An-Naml [27]: 76

Al-Qur’an datang bukan untuk memperbanyak kebingungan, tetapi untuk membawa manusia kepada petunjuk.

Masalah Terbesar Mungkin Bukan Kurangnya Al-Qur’an

Kita hidup pada zaman ketika Al-Qur’an sangat mudah diakses.

Ada mushaf di setiap masjid.

Ada aplikasi Al-Qur’an di setiap telepon pintar.

Ada rekaman tilawah, kajian, terjemahan, dan berbagai literatur.

Namun akses yang semakin mudah tidak otomatis membuat manusia semakin dekat kepada petunjuk.

Mengapa?

Karena kedekatan fisik dengan Al-Qur’an berbeda dengan kedekatan kesadaran kepada Al-Qur’an.

Allah berfirman:

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ

“Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran. Maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?”

QS. Al-Qamar [54]: 17

Pertanyaan Allah di ujung ayat itu sangat menarik:

فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ

“Maka adakah yang mau mengambil pelajaran?”

Masalahnya mungkin bukan apakah Al-Qur’an tersedia.

Masalahnya adalah: adakah kita yang sungguh-sungguh mau mengambil pelajaran darinya?

Dari Islam sebagai Identitas Menuju Islam sebagai Petunjuk

Islam tidak cukup berhenti sebagai identitas.

Seorang Muslim bukan hanya seseorang yang menyandang nama Islam, tetapi seseorang yang bersedia tunduk kepada petunjuk Allah.

Allah berfirman:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati terhadap keputusan yang engkau berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”

QS. An-Nisa’ [4]: 65

Dalam konteks Qur’anic worldview, tunduk bukan sekadar mengaku beriman, tetapi bersedia menerima kebenaran ketika kebenaran itu datang dan mengoreksi kepentingan diri.

Refleksi Syahida: Apakah Kita Masih Menjadikan Al-Qur’an sebagai Pedoman?

Mungkin sudah waktunya kita mengajukan pertanyaan yang lebih jujur.

Bukan:

“Apakah saya Muslim?”

Tetapi:

“Sejauh mana kehidupan saya mengikuti petunjuk Al-Qur’an?”

Bukan:

“Siapa tokoh yang harus saya ikuti?”

Tetapi:

“Apakah apa yang saya ikuti sesuai dengan petunjuk Allah?”

Bukan:

“Apa yang dikatakan mayoritas?”

Tetapi:

“Apa yang dikatakan Al-Qur’an?”

Dan bukan pula:

“Bagaimana mempertahankan pemahaman saya?”

Melainkan:

“Apakah saya bersedia mengubah pemahaman saya ketika Al-Qur’an menunjukkan sesuatu yang lebih benar?”

Itulah mungkin makna terdalam dari Qur’an bil Qur’an.

Al-Qur’an tidak hanya dibaca untuk mencari pembenaran.

Al-Qur’an dibaca agar kita bersedia dikoreksi olehnya.

Penutup: Jangan Sampai Al-Qur’an Menjadi Saksi yang Terlupakan

Rasulullah mengingatkan melalui firman Allah:

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا

“Dan Rasul berkata, ‘Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang ditinggalkan.’”

QS. Al-Furqan [25]: 30

Ayat ini seharusnya menjadi cermin, bukan sekadar kutipan.

Jangan sampai kita mengaku membela Islam tetapi menjauh dari nilai-nilai Al-Qur’an.

Jangan sampai kita berbicara tentang agama tetapi mengabaikan keadilan.

Jangan sampai kita memperbanyak simbol keislaman tetapi kehilangan kejujuran, amanah, kasih sayang, persaudaraan, dan tanggung jawab sosial yang begitu kuat ditekankan Al-Qur’an.

Jangan sampai Al-Qur’an hanya menjadi suara yang kita lantunkan, tetapi bukan suara yang kita dengarkan.

Sebab persoalan umat mungkin bukan karena Al-Qur’an terlalu jauh.

Bisa jadi justru kita yang terlalu jauh dari Al-Qur’an.

Dan karena itu, jalan pulangnya sederhana sekaligus berat:

kembali membaca, memahami, mentadabburi, dan mengikuti apa yang benar-benar diturunkan Allah.

Bukan Islam yang hanya diwarisi.

Bukan Islam yang hanya diidentifikasi.

Tetapi Islam yang dihayati sebagai ketundukan kepada petunjuk Allah.


KOTAK REFLEKSI

“Al-Qur’an tidak diturunkan hanya agar kita memiliki kitab suci, tetapi agar kita memiliki petunjuk. Ia bukan sekadar bacaan yang kita hormati, melainkan cahaya yang harus menerangi cara kita berpikir, bersikap, dan menjalani kehidupan.”

Kajian Syahida — Qur’an bil Qur’an
Al-Qur’an Menjelaskan Dirinya Sendiri


Tentang Kajian

Kajian Syahida (Qur’an bil Qur’an) merupakan pendekatan pembacaan Al-Qur’an dengan menjadikan ayat-ayat Al-Qur’an sebagai kesaksian dan penjelasan terhadap ayat-ayat lainnya. Pendekatan ini mendorong pembaca untuk melakukan tadabbur, menghubungkan ayat secara tematik, dan menjadikan keseluruhan pesan Al-Qur’an sebagai ukuran dalam memahami kehidupan.

PPMINDONESIA.COM | Media Peranserta Masyarakat

Example 120x600