Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Mengapa Banyak Umat Takut Membaca Al-Qur’an Secara Langsung?

14
×

Mengapa Banyak Umat Takut Membaca Al-Qur’an Secara Langsung?

Share this article

Kajian Syahida quran bil quran. Oleh: syahida

Ketika Kitab Petunjuk Terasa Jauh dari Pembacanya


PPMINDONESIA.COM | KAJIAN SYAHIDA

Ada sebuah ironi besar dalam kehidupan umat Islam.

Al-Qur’an adalah kitab yang paling sering disebut sebagai petunjuk hidup. Ia dibaca dalam shalat, dikumandangkan di masjid, diajarkan di sekolah, dihafalkan oleh jutaan manusia, dan menjadi sumber utama identitas keislaman.

Tetapi ketika seorang Muslim ingin bertanya, “Apa sebenarnya yang dikatakan Al-Qur’an tentang persoalan ini?”, tidak sedikit yang justru merasa ragu membuka Al-Qur’an secara langsung.

Pertanyaan berikutnya menjadi lebih penting:

Mengapa kita merasa harus menunggu orang lain menjelaskan Al-Qur’an sebelum berani membacanya sebagai petunjuk bagi diri sendiri?

Tentu, memahami Al-Qur’an membutuhkan ilmu. Bahasa Arab, konteks ayat, hubungan antarayat, sejarah turunnya wahyu, dan khazanah keilmuan Islam semuanya dapat membantu seseorang memahami pesan Al-Qur’an secara lebih bertanggung jawab.

Namun ada perbedaan antara menggunakan ilmu untuk mendekat kepada Al-Qur’an dan merasa bahwa kita tidak boleh mendekati Al-Qur’an tanpa perantara tertentu.

Kajian Syahida—Qur’an bil Qur’an—berangkat dari keberanian untuk kembali mendengar kesaksian Al-Qur’an tentang dirinya sendiri.

Al-Qur’an Diturunkan untuk Menjadi Petunjuk

Allah tidak memperkenalkan Al-Qur’an sebagai kitab yang hanya dapat diakses oleh kelompok tertentu.

Allah berfirman:

ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ

“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.”

QS. Al-Baqarah [2]: 2

Kata yang sangat penting dalam ayat ini adalah هُدًى — hudan, petunjuk.

Jika Al-Qur’an adalah petunjuk, maka ia memiliki hubungan langsung dengan manusia yang mencari petunjuk.

Petunjuk tentu tidak berarti semua persoalan teknis dapat dipahami tanpa ilmu. Tetapi secara prinsip, Al-Qur’an memang ditujukan untuk membimbing manusia.

Allah bahkan menyebutnya sebagai petunjuk bagi manusia secara umum:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ

“Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda.”

QS. Al-Baqarah [2]: 185

Perhatikan: هُدًى لِّلنَّاسِ — petunjuk bagi manusia.

Bukan hanya bagi ahli tafsir.

Bukan hanya bagi akademisi.

Bukan hanya bagi orang yang telah menguasai seluruh khazanah keislaman.

Ia adalah petunjuk bagi manusia.

Allah Menyatakan Al-Qur’an Mudah Dipelajari

Ada ayat yang bahkan lebih tegas.

Allah berfirman:

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ

“Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran. Maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?”

QS. Al-Qamar [54]: 17

Kalimat ini diulang dalam Surah Al-Qamar pada ayat 17, 22, 32, dan 40.

Pengulangan tersebut layak menjadi bahan renungan.

Allah mengatakan:

يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ

“Kami telah memudahkan Al-Qur’an.”

Lalu Allah bertanya:

فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ

“Maka adakah yang mau mengambil pelajaran?”

Maka persoalannya mungkin bukan karena Al-Qur’an tidak dapat didekati.

Persoalannya bisa jadi karena kita telah membangun jarak psikologis terhadap Al-Qur’an.

Dari Mana Datangnya Rasa Takut Itu?

Rasa takut membaca Al-Qur’an secara langsung dapat muncul dari berbagai sebab.

Pertama, kita sering diajarkan bahwa Al-Qur’an adalah kitab yang sangat sakral sehingga seseorang merasa tidak layak berpikir tentangnya.

Kedua, kita kadang terlalu cepat menyamakan tadabbur dengan tindakan mengeluarkan fatwa.

Ketiga, kita mengira bahwa membaca Al-Qur’an berarti harus langsung menjadi ahli tafsir.

Keempat, kita terlalu terbiasa menerima kesimpulan orang lain sehingga kehilangan kebiasaan bertanya kepada ayat.

Padahal Al-Qur’an sendiri mengundang manusia untuk berpikir.

Allah berfirman:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ

“Tidakkah mereka mentadabburi Al-Qur’an?”

QS. Muhammad [47]: 24

Pertanyaannya bukan:

“Mengapa kamu tidak menghafal semua kitab tafsir?”

Tetapi:

Tidakkah mereka mentadabburi Al-Qur’an?”

Tadabbur Bukan Berarti Berbicara Tanpa Ilmu

Di sinilah kita perlu berhati-hati.

Mengajak umat membaca Al-Qur’an secara langsung bukan berarti mengajak setiap orang menafsirkan Al-Qur’an sesuka hati.

Al-Qur’an justru melarang manusia mengikuti sesuatu tanpa pengetahuan:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولًا

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban.”

QS. Al-Isra’ [17]: 36

Karena itu, Kajian Syahida bukan ajakan untuk berbicara sembarangan tentang Al-Qur’an.

Sebaliknya, ia adalah ajakan untuk membaca dengan rendah hati, membandingkan ayat dengan ayat, memperhatikan konteks, menggunakan ilmu, dan tidak tergesa-gesa mengambil kesimpulan.

Dengan kata lain:

berani membaca langsung, tetapi rendah hati dalam menyimpulkan.

Al-Qur’an Meminta Kita Menggunakan Akal

Mengapa Allah meminta manusia membaca dan mentadabburi Al-Qur’an?

Karena manusia diberi akal.

Allah berfirman:

كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Ini adalah Kitab yang Kami turunkan kepadamu, penuh berkah, agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.”

QS. Shad [38]: 29

Ayat ini menarik karena menghubungkan tiga hal:

Kitab → tadabbur → ulul albab.

Al-Qur’an diturunkan.

Manusia diminta mentadabburinya.

Orang-orang berakal mengambil pelajaran darinya.

Dengan demikian, berpikir tentang Al-Qur’an bukan ancaman bagi iman.

Berpikir adalah bagian dari perjalanan iman.

Mengapa Harus Takut Bertanya kepada Al-Qur’an?

Dalam kehidupan sehari-hari, kita terbiasa bertanya.

Ketika menghadapi masalah ekonomi, kita membaca data.

Ketika menghadapi masalah kesehatan, kita mencari pengetahuan.

Ketika menghadapi masalah sosial, kita melakukan analisis.

Namun ketika berhadapan dengan persoalan agama, kadang kita justru berhenti bertanya.

Kita cukup mengatakan:

“Kata orang begini.”

“Dari dulu memang begitu.”

“Kata kelompok kami begitu.”

“Tokoh itu mengatakan begitu.”

Padahal Al-Qur’an meminta manusia menggunakan ukuran yang lebih mendasar.

Allah berfirman:

قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ

“Katakanlah, ‘Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu orang yang benar.’”

QS. Al-Baqarah [2]: 111

Islam bukan agama yang melarang pertanyaan.

Islam justru menuntut bukti, ilmu, dan kesadaran.

Jangan Jadikan Mayoritas sebagai Pengganti Wahyu

Salah satu alasan seseorang takut mempertanyakan pemahaman yang sudah mapan adalah karena ia takut berbeda dengan mayoritas.

Namun Al-Qur’an justru mengingatkan:

وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ

“Jika kamu mengikuti kebanyakan orang di bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka hanya mengikuti persangkaan.”

QS. Al-An‘am [6]: 116

Ayat ini bukan perintah untuk selalu melawan mayoritas.

Pesannya adalah:

kebenaran tidak ditentukan oleh jumlah.

Karena itu, seorang Muslim tidak perlu takut bertanya hanya karena pertanyaannya berbeda.

Yang harus ditakuti adalah ketika kita menolak kebenaran hanya karena ia berbeda dengan kebiasaan kita.

Al-Qur’an sebagai Pembeda

Allah menurunkan Al-Qur’an sebagai Furqan—pembeda antara yang benar dan yang batil.

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَىٰ عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا

“Mahasuci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan kepada hamba-Nya agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.”

QS. Al-Furqan [25]: 1

Jika Al-Qur’an adalah Furqan, maka ia harus menjadi alat ukur.

Artinya, pemahaman kita pun harus siap diukur oleh Al-Qur’an.

Tradisi harus siap diuji.

Pendapat harus siap dikoreksi.

Kebiasaan harus siap ditinjau.

Bahkan pemahaman yang telah kita pegang selama puluhan tahun harus siap dikaji kembali apabila ternyata tidak sejalan dengan pesan Al-Qur’an.

Inilah sikap ilmiah sekaligus sikap iman.

Al-Qur’an Tidak Menghendaki Kita Menjadikannya Kitab yang Ditinggalkan

Allah telah menggambarkan sebuah keadaan yang seharusnya menjadi peringatan bagi umat:

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا

“Dan Rasul berkata, ‘Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang ditinggalkan.’”

QS. Al-Furqan [25]: 30

Ada kemungkinan seseorang meninggalkan Al-Qur’an bukan dengan membuang mushaf.

Ia meninggalkannya ketika tidak lagi menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber pertimbangan hidup.

Ia meninggalkannya ketika lebih percaya kepada prasangka daripada petunjuk.

Ia meninggalkannya ketika kepentingan kelompok lebih penting daripada kebenaran.

Ia meninggalkannya ketika ayat hanya dicari untuk membenarkan keputusan yang telah dibuat sebelumnya.

Dan ia meninggalkannya ketika merasa bahwa Al-Qur’an terlalu sulit untuk dibaca, dipahami, dan direnungkan.

Kembali Membuka Al-Qur’an

Mungkin yang dibutuhkan umat bukan sekadar memperbanyak orang yang berbicara tentang Al-Qur’an.

Kita membutuhkan lebih banyak manusia yang mau mendengar Al-Qur’an.

Bukan hanya membaca satu atau dua ayat untuk mencari pembenaran.

Tetapi membaca keseluruhan Al-Qur’an.

Membandingkan ayat dengan ayat.

Memperhatikan kata-kata yang digunakan Allah.

Mencari hubungan antara satu ayat dengan ayat lainnya.

Mengamati tema yang berulang.

Membedakan antara pesan yang eksplisit dan kesimpulan manusia.

Dan yang paling penting: bersedia dikoreksi oleh Al-Qur’an.

Allah berfirman:

إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ

“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk kepada jalan yang paling lurus.”

QS. Al-Isra’ [17]: 9

Kalau ia benar-benar petunjuk, maka kita harus membiarkannya menunjukkan jalan.

Refleksi Syahida

Kajian Syahida tidak mengajak umat untuk meninggalkan ilmu.

Ia justru mengajak umat kembali menjadikan Al-Qur’an sebagai pusat ilmu keagamaannya.

Tidak ada alasan untuk takut membuka Al-Qur’an.

Tidak ada alasan untuk takut bertanya.

Tidak ada alasan untuk takut mentadabburi.

Yang diperlukan adalah ketulusan, ilmu, kerendahan hati, dan kesediaan menerima kebenaran.

Sebab membaca Al-Qur’an secara langsung bukan berarti seseorang merasa dirinya lebih pintar daripada ulama.

Sebaliknya, membaca Al-Qur’an secara langsung adalah pengakuan bahwa setiap manusia membutuhkan petunjuk Allah.

Ulama dapat membantu.

Guru dapat membimbing.

Khazanah tafsir dapat memperkaya.

Sejarah dapat memberikan konteks.

Bahasa Arab dapat membuka kedalaman makna.

Tetapi pada akhirnya, yang sedang kita cari adalah petunjuk Allah melalui wahyu-Nya.

Penutup: Jangan Takut Mendekat kepada Wahyu

Mungkin sudah saatnya kita mengubah cara pandang.

Jangan mengajarkan umat bahwa Al-Qur’an adalah kitab yang terlalu sulit untuk disentuh.

Ajarkan mereka membaca.

Ajarkan mereka memahami.

Ajarkan mereka bertanya.

Ajarkan mereka mentadabburi.

Ajarkan mereka membandingkan ayat dengan ayat.

Dan ajarkan pula satu sikap terpenting:

jangan merasa paling benar ketika membaca Al-Qur’an.

Datanglah kepada Al-Qur’an sebagai pencari petunjuk, bukan sebagai orang yang sudah membawa kesimpulan.

Allah berfirman:

فَذَكِّرْ بِالْقُرْآنِ مَن يَخَافُ وَعِيدِ

“Maka berilah peringatan dengan Al-Qur’an kepada orang yang takut kepada ancaman-Ku.”

QS. Qaf [50]: 45

Al-Qur’an tidak meminta kita sekadar memilikinya.

Ia meminta kita mendengarnya.

Ia meminta kita mentadabburinya.

Ia meminta kita mengambil pelajaran darinya.

Dan akhirnya, ia meminta kita mengikuti petunjuknya.

Maka jangan sampai ketakutan kita kepada pendapat manusia membuat kita jauh dari wahyu Allah.

Jangan takut membaca Al-Qur’an secara langsung.

Takutlah jika suatu hari kita memiliki Al-Qur’an, tetapi tidak lagi menjadikannya sebagai petunjuk.


KOTAK REFLEKSI

“Datanglah kepada Al-Qur’an bukan dengan kesombongan seorang yang merasa sudah tahu, tetapi dengan kerendahan hati seorang pencari petunjuk. Bacalah ia, renungkan ia, hubungkan ayat dengan ayat, dan bersiaplah ketika Al-Qur’an mengoreksi apa yang selama ini kita anggap benar.”

KAJIAN SYAHIDA

Qur’an bil Qur’an — Al-Qur’an Menjelaskan Dirinya Sendiri

PPMINDONESIA.COM | Media Peranserta Masyarakat

Example 120x600