Kajian Syahida — Al-Qur’an bil Qur’an, Oleh: Tim Kajian Syahida
Pengantar: Ketika Sebuah Kata Menjadi Sebuah Ritual
Ada kata-kata dalam Al-Qur’an yang tampak sederhana, tetapi ketika dipindahkan dari konteks ayatnya ke dalam tradisi keagamaan, maknanya dapat mengalami pergeseran.
Salah satunya adalah kata:
رَجِيمٌ — rajīm
Kata ini muncul ketika Allah mengusir Iblis setelah ia menolak perintah-Nya.
Allah berfirman:
قَالَ فَاخْرُجْ مِنْهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٌ ٣٤
“Dia berfirman, ‘Maka keluarlah dari sana, karena sesungguhnya kamu adalah yang terkutuk.’” QS. Al-Hijr 15:34
Ungkapan yang hampir sama terdapat dalam Surah Shad:
قَالَ فَاخْرُجْ مِنْهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٌ ٧٧
“Dia berfirman, ‘Maka keluarlah dari sana; sesungguhnya kamu adalah yang terkutuk.’” QS. Shad 38:77
Dua ayat tersebut menarik perhatian karena rajīm kemudian sering dikaitkan dengan rajam, yakni tindakan melempar dengan batu.
Pertanyaannya:
Apakah rajīm dalam ayat tersebut memang berarti “yang dirajam”, ataukah Al-Qur’an sedang menggambarkan Iblis sebagai pihak yang terusir, tertolak, dan terkutuk?
Pertanyaan ini menjadi penting ketika istilah tersebut dikaitkan dengan praktik melempar jumrah dalam ibadah haji.
Kajian ini mencoba membacanya dengan metode Al-Qur’an bil Qur’an: memahami ayat melalui ayat-ayat Al-Qur’an lainnya.
Perhatikan Kalimat Sebelum “Rajīm”
Dalam QS. Al-Hijr 15:34, Allah tidak langsung mengatakan “rajīm”.
Sebelumnya terdapat perintah:
فَاخْرُجْ مِنْهَا
Fakhruj minhā.
“Maka keluarlah dari sana.”
Kemudian:
فَإِنَّكَ رَجِيمٌ
Fa-innaka rajīm.
“Sesungguhnya engkau adalah rajīm.”
Struktur kalimat ini penting.
Allah memerintahkan:
فَاخْرُجْ — “Keluarlah!”
Lalu menyatakan keadaan Iblis:
رَجِيمٌ — “yang tertolak/terkutuk.”
Dengan demikian, konteksnya adalah pengusiran Iblis, bukan tindakan manusia melempari Iblis.
Hal yang sama terjadi dalam QS. Shad 38:77:
فَاخْرُجْ مِنْهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٌ
“Maka keluarlah dari sana; sesungguhnya engkau adalah rajīm.”
Tidak ada perintah:
ارْجُمُوا إِبْلِيسَ
“Lemparilah Iblis.”
Yang ada justru:
فَاخْرُجْ
“Keluar!”
Di sinilah pembacaan Al-Qur’an bil Qur’an menjadi penting.
Al-A‘raf 7:13: “Keluarlah” dalam Kisah yang Sama
Sekarang mari kita baca kisah yang sama dalam Surah Al-A‘raf.
Allah berfirman:
قَالَ فَاهْبِطْ مِنْهَا فَمَا يَكُونُ لَكَ أَنْ تَتَكَبَّرَ فِيهَا فَاخْرُجْ إِنَّكَ مِنَ الصَّاغِرِينَ ١٣
“Dia berfirman, ‘Maka turunlah kamu dari sana! Karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya. Maka keluarlah! Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina.’” QS. Al-A‘raf 7:13
Di sini terdapat tiga ungkapan penting:
فَاهْبِطْ
“Maka turunlah.”فَاخْرُجْ
“Maka keluarlah.”مِنَ الصَّاغِرِينَ
“Termasuk orang-orang yang hina.”
Sementara dalam QS. Al-Hijr 15:34 dan QS. Shad 38:77:
فَاخْرُجْ مِنْهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٌ
“Maka keluarlah dari sana; sesungguhnya engkau adalah rajīm.”
Jika ayat-ayat tersebut dibaca bersama, gambaran yang muncul adalah:
Iblis diperintahkan turun, keluar, kehilangan kedudukannya, dan menjadi pihak yang hina serta tertolak.
Maka rajīm dalam konteks tersebut tidak harus dipahami sebagai “yang dilempari batu”.
Kesamaan Akar Kata Tidak Berarti Kesamaan Makna
Di sinilah kita harus berhati-hati.
Akar kata ر ج م (r-j-m) memang digunakan dalam bahasa Arab dengan sejumlah pengertian, termasuk tindakan melempar atau merajam dalam konteks tertentu.
Tetapi bentuk kata:
رَجِيم — rajīm
tidak boleh otomatis disamakan dengan kata kerja:
رَجَمَ — rajama
hanya karena keduanya berasal dari akar yang sama.
Al-Qur’an sendiri harus menjadi hakim pertama dalam menentukan makna sebuah kata.
Dalam QS. Al-Hijr 15:34, rajīm berada setelah:
فَاخْرُجْ مِنْهَا
“Maka keluarlah dari sana.”
Karena itu, konteksnya menunjuk kepada pengusiran dan penolakan terhadap Iblis.
Dengan kata lain:
“Rajīm” bukanlah perintah “rajam”.
Satu merupakan penyifatan terhadap Iblis.
Yang lain merupakan tindakan fisik melempar.
Keduanya tidak boleh disamakan tanpa dasar tekstual yang memadai.
Bagaimana Al-Qur’an Menggambarkan Setan?
Untuk memahami persoalan ini lebih jauh, kita perlu melihat bagaimana Al-Qur’an menggambarkan hubungan manusia dengan Setan.
Allah berfirman:
يَا بَنِي آدَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ يَنْزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْآتِهِمَا ۗ إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ ۗ إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ لِلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ ٢٧
“Wahai anak Adam! Jangan sampai kamu diperdayakan oleh setan sebagaimana halnya dia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga dengan menanggalkan pakaian keduanya untuk memperlihatkan aurat keduanya. Sesungguhnya dia dan pengikutnya dapat melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak dapat melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.” QS. Al-A‘raf 7:27
Ayat ini memberikan informasi penting:
إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ
“Sesungguhnya dia dan pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak dapat melihat mereka.”
Persoalannya kemudian menjadi jelas.
Al-Qur’an tidak mengarahkan manusia untuk mencari lokasi fisik Setan agar dapat menyerangnya dengan benda material.
Al-Qur’an justru memperingatkan manusia terhadap tipu daya dan pengaruhnya.
Bagaimana Al-Qur’an Mengajarkan Manusia Menghadapi Setan?
Jawaban Al-Qur’an sangat menarik.
Allah berfirman:
وَقُلْ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ ٩٧
وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُرُونِ ٩٨“Dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku, aku berlindung kepada-Mu dari bisikan-bisikan setan. Dan aku berlindung kepada-Mu, ya Tuhanku, agar mereka tidak mendekatiku.’”
QS. Al-Mu’minun 23:97–98
Perhatikan kata:
أَعُوذُ بِكَ
“Aku berlindung kepada-Mu.”
Itulah tindakan yang diperintahkan.
Bukan mencari Setan.
Bukan menemukan tempat duduknya.
Bukan melemparinya dengan batu.
Melainkan:
BERLINDUNG KEPADA ALLAH.
Prinsip yang sama terdapat dalam Surah An-Nahl:
فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ ٩٨
“Apabila kamu membaca Al-Qur’an, mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.”
QS. An-Nahl 16:98
Menarik untuk diperhatikan bahwa Al-Qur’an sendiri menyebut:
الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
“Setan yang rajīm.”
Di sini rajīm menjadi sifat bagi Setan.
Bukan perintah kepada manusia untuk melakukan ritual rajam terhadapnya.
Rajīm sebagai Status Iblis
Jika kita rangkai ayat-ayat tersebut:
Al-Hijr 15:34
فَاخْرُجْ مِنْهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٌ
“Maka keluarlah dari sana; sesungguhnya engkau adalah rajīm.”
Shad 38:77
فَاخْرُجْ مِنْهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٌ
“Maka keluarlah dari sana; sesungguhnya engkau adalah rajīm.”
Al-A‘raf 7:13
فَاخْرُجْ إِنَّكَ مِنَ الصَّاغِرِينَ
“Maka keluarlah! Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina.”
An-Nahl 16:98
الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
“Setan yang rajīm.”
Maka secara tematik terlihat satu rangkaian:
Iblis membangkang → diperintahkan keluar → menjadi hina/tertolak → disebut rajīm.
Yang digambarkan Al-Qur’an adalah kejatuhan Iblis, bukan ritual manusia untuk melempar Iblis.
Lalu Apa yang Menjadi Fokus Al-Qur’an dalam Haji?
Sekarang kita masuk ke persoalan haji.
Al-Qur’an menjelaskan:
وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ ٢٧
لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ… ٢٨“Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, agar mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan agar mereka menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan…” QS. Al-Hajj 22:27–28
Ayat tersebut memberikan dua orientasi penting:
لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ
“agar mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka”
dan:
وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ
“dan agar mereka menyebut nama Allah.”
Al-Qur’an kemudian mengulang tema dzikir dalam rangkaian ayat haji.
Setelah Arafah: “Ingatlah Allah”
Allah berfirman:
فَإِذَا أَفَضْتُمْ مِنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُوا اللَّهَ عِنْدَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ وَاذْكُرُوهُ كَمَا هَدَاكُمْ… ١٩٨
“Maka apabila kamu bertolak dari Arafah, berzikirlah kepada Allah di Masyarilharam. Dan berzikirlah kepada-Nya sebagaimana Dia telah memberi petunjuk kepadamu…” QS. Al-Baqarah 2:198
Kemudian:
فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا ۗ
“Maka apabila kamu telah menyelesaikan manasikmu, berzikirlah kepada Allah sebagaimana kamu menyebut-nyebut nenek moyangmu, bahkan berzikirlah lebih banyak lagi.” QS. Al-Baqarah 2:200
Dan:
وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ ۗ
“Dan berzikirlah kepada Allah pada hari-hari yang telah ditentukan.” QS. Al-Baqarah 2:203
Ada pola yang sangat kuat:
Haji → Arafah → bertolak → mengingat Allah → menyelesaikan manasik → mengingat Allah → hari-hari tertentu → mengingat Allah.
Pusat orientasinya adalah Allah.
Apakah Al-Qur’an Menyebut “Rajam Setan” sebagai Ritual Haji?
Inilah pertanyaan yang harus diajukan secara langsung.
Dalam ayat-ayat Al-Qur’an yang membicarakan haji, kita menemukan:
- seruan haji;
- berbagai manfaat;
- penyebutan nama Allah;
- Arafah;
- Masy‘arilharam;
- penyelesaian manasik;
- dzikir;
- penyembelihan hewan;
- doa dan permohonan ampun.
Tetapi kita tidak menemukan ayat yang secara eksplisit mengatakan:
“Lemparilah Setan dengan batu.”
Karena itu, apabila suatu praktik hendak disebut sebagai perintah Al-Qur’an, perlu dibedakan antara:
Apa yang diperintahkan Al-Qur’an
dan
Apa yang berasal dari tradisi, penafsiran, atau sumber keagamaan lainnya.
Pembedaan ini penting agar tidak semua praktik keagamaan secara otomatis dinisbatkan kepada Al-Qur’an.
Al-Qur’an Tidak Menjadikan Setan sebagai Pusat Ibadah
Ada persoalan lain yang layak direnungkan.
Jika tujuan haji adalah:
وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ
“menyebut nama Allah,”
maka orientasi utama seorang jamaah seharusnya adalah Allah.
Allah berfirman:
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ ١٥٢
“Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari-Ku.” QS. Al-Baqarah 2:152
Dalam perspektif tauhid, Setan bukan objek ibadah.
Setan adalah musuh yang harus diwaspadai.
Allah berfirman:
إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا ۖ
“Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka perlakukanlah dia sebagai musuh.”
QS. Fathir 35:6
Maka melawan Setan bukan berarti menjadikan Setan sebagai pusat perhatian ritual.
Justru sebaliknya:
Semakin manusia mengenal Allah, semakin ia mampu mengenali tipu daya Setan.
Batu atau Kesadaran?
Di sinilah makna simbolik dapat dipertanyakan.
Jika seseorang melempar batu dengan keyakinan bahwa ia sedang melawan Setan, pertanyaan Qur’ani yang lebih mendalam adalah:
Apakah setelah batu dilempar, kesombongan dalam dirinya juga dilempar?
Apakah kebohongan dilempar?
Apakah iri hati dilempar?
Apakah kezaliman dilempar?
Apakah keserakahan dilempar?
Apakah kemunafikan dilempar?
Sebab Iblis dalam Al-Qur’an tidak digambarkan sebagai sekadar makhluk yang berdiri di sebuah tempat dan menunggu manusia melemparinya.
Iblis adalah simbol nyata dari pembangkangan, kesombongan, dan godaan yang menyesatkan manusia.
Kisahnya dimulai dengan kesombongan:
أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ
“Aku lebih baik darinya.” (QS. Al-A‘raf 7:12)
Inilah penyakit yang harus diperangi manusia:
kesombongan yang membuat manusia merasa lebih tinggi daripada yang lain.
Setan Bekerja melalui Bisikan
Al-Qur’an menjelaskan cara kerja Setan dengan sangat jelas:
الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ ٥
مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ ٦“Yang membisikkan ke dalam dada manusia, dari golongan jin dan manusia.”QS. An-Nas 114:5–6
Perhatikan:
يُوَسْوِسُ
“membisikkan.”
Inilah wilayah perjuangan manusia.
Bukan sekadar benda fisik.
Bukan sekadar lokasi fisik.
Tetapi kesadaran, hati, pikiran, dan pilihan manusia.
Karena itu Al-Qur’an mengajarkan:
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ١
مَلِكِ النَّاسِ ٢
إِلَٰهِ النَّاسِ ٣
مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ ٤“Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Tuhan manusia, Raja manusia, sembahan manusia, dari kejahatan pembisik yang bersembunyi.’” QS. An-Nas 114:1–4
Strateginya sangat jelas:
berlindung kepada Allah.
Dari Rajīm ke Rajam: Bagaimana Pergeseran Makna Terjadi?
Dari perspektif kajian Qur’ani, kita dapat membedakan tiga lapisan:
Pertama — Makna kata dalam ayat
Rajīm dalam kisah Iblis berkaitan dengan keadaan Iblis sebagai pihak yang terusir, tertolak, dan terkutuk.
Kedua — Makna akar kata
Akar ر ج م juga memiliki penggunaan yang berhubungan dengan melempar dalam konteks tertentu.
Ketiga — Pengembangan menjadi ritual
Praktik melempar jumrah merupakan bagian dari tradisi dan pelaksanaan manasik haji yang berkembang dalam sejarah Islam.
Ketiganya tidak boleh dicampuradukkan.
Kesalahan metodologis terjadi apabila:
kata “rajīm” → dianggap berarti “rajam” → kemudian praktik “melempar Setan” dianggap langsung merupakan perintah Al-Qur’an.
Padahal hubungan tersebut memerlukan pembuktian tersendiri.
Kajian Al-Qur’an bil Qur’an Mengajarkan Kehati-hatian
Metode Al-Qur’an bil Qur’an tidak berarti menolak seluruh tradisi keagamaan secara otomatis.
Metode ini justru meminta kita memulai dari pertanyaan paling mendasar:
Apa yang sebenarnya dikatakan Al-Qur’an?
Ketika QS. Al-Hijr 15:34 dibaca bersama QS. Shad 38:77 dan QS. Al-A‘raf 7:13, tema yang muncul adalah pengusiran Iblis.
Ketika QS. An-Nahl 16:98 dan QS. Al-Mu’minun 23:97–98 dibaca bersama, cara menghadapi Setan adalah memohon perlindungan kepada Allah.
Ketika QS. Al-Hajj 22:27–28 dan QS. Al-Baqarah 2:198–203 dibaca bersama, tema penting dalam haji adalah mengingat dan menyebut nama Allah.
Maka kita memperoleh sebuah pertanyaan yang layak dibawa ke ruang diskusi:
Apakah benar kata “rajīm” dapat dijadikan dasar Qur’ani untuk menyatakan bahwa Allah memerintahkan ritual merajam Setan dalam haji?
Al-Qur’an sendiri memberi kita bahan untuk menguji pertanyaan tersebut.
Haji: Memindahkan Pusat Perhatian dari Simbol kepada Allah
Al-Qur’an memberikan gambaran tentang orang yang menjalankan haji bukan hanya sebagai pelaksana gerakan fisik, tetapi sebagai manusia yang mengarahkan kesadarannya kepada Allah.
Allah berfirman:
لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ ۚ
“Daging dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu.”QS. Al-Hajj 22:37
Ayat ini memberikan prinsip penting:
Allah tidak membutuhkan bentuk lahiriah tanpa kesadaran batin.
Yang sampai kepada Allah adalah:
التَّقْوَىٰ
“ketakwaan.”
Maka setiap ritual harus mengantarkan manusia kepada kesadaran tauhid, bukan berhenti pada gerakan fisik.
Penutup: Jangan Biarkan Simbol Mengalahkan Pesan Wahyu
Rajīm adalah kata yang layak dibaca kembali.
Dalam QS. Al-Hijr 15:34 dan QS. Shad 38:77, kata itu muncul dalam konteks Allah mengusir Iblis:
فَاخْرُجْ مِنْهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٌ
“Maka keluarlah dari sana; sesungguhnya engkau adalah rajīm.”
Al-Qur’an tidak mengatakan:
“Lemparilah Iblis dengan batu.”
Ketika Al-Qur’an menjelaskan bagaimana manusia menghadapi Setan, ia memberikan petunjuk:
أَعُوذُ بِكَ
“Aku berlindung kepada-Mu.”
Dan ketika Al-Qur’an berbicara tentang haji, ia berulang kali menekankan:
فَاذْكُرُوا اللَّهَ
“Maka berzikirlah kepada Allah.”
Karena itu, persoalan yang lebih besar bukan sekadar batu apa yang dilemparkan, tetapi:
Apa yang ada dalam diri kita yang harus benar-benar dilemparkan?
- Kesombongan?
- Kebencian?
- Ketamakan?
- Kezaliman?
- Kebohongan?
Atau keinginan untuk merasa lebih suci daripada orang lain?
Jika itulah musuh yang sesungguhnya, maka perjuangan melawan Setan bukan sekadar persoalan melempar batu, melainkan mengalahkan bisikan yang menguasai hati manusia.
Dan mungkin di situlah pesan terdalam kisah Iblis dalam Al-Qur’an:
Iblis telah terusir. Yang harus kita waspadai sekarang adalah jangan sampai kesombongan Iblis justru hidup kembali di dalam diri kita.
KOTAK RENUNGAN
“Rajīm atau Rajam?”
رَجِيمٌ
Rajīm
→ sifat/status Iblis yang terusir, tertolak, atau terkutuk dalam konteks ayat.
رَجَمَ
Rajama
→ kata kerja yang dalam konteks tertentu bermakna melempar/merajam.
فَاخْرُجْ
Fakhruj
→ “Maka keluarlah.”
أَعُوذُ بِكَ
A‘ūdhu bika
→ “Aku berlindung kepada-Mu.”
فَاذْكُرُوا اللَّهَ
Fadzkurullāh
→ “Maka berzikirlah kepada Allah.”
Pertanyaan untuk direnungkan:
Apakah kita sedang membaca Al-Qur’an melalui ritual, atau sedang membaca ritual melalui Al-Qur’an?
KAJIAN SYAHIDA
Al-Qur’an bil Qur’an
“Membaca ayat dengan ayat, menguji makna dengan wahyu, dan mengembalikan pusat kesadaran kepada Allah.”
ppmindonesia.com | Kajian Islam | Al-Qur’an dan Kehidupan





























