Scroll untuk baca artikel
Akademi PPMBerita

QT = N + S + E: Sebuah Rumus Kehidupan, Bukan Sekadar Penjumlahan

10
×

QT = N + S + E: Sebuah Rumus Kehidupan, Bukan Sekadar Penjumlahan

Share this article

Redaksippmindonesia. Editor; asyary

Rubrik: Opini PPM

Ketika Sebuah Rumus Berbicara tentang Kehidupan

JAKARTA.PPMIndonesi.com- Setiap masyarakat memiliki cara untuk memahami kehidupan dan membangun masa depannya. Ada yang memulainya dari ekonomi, ada yang menekankan kekuatan sosial, ada pula yang menjadikan nilai dan agama sebagai fondasi utama.

Namun, kehidupan masyarakat sesungguhnya tidak pernah berjalan hanya melalui satu dimensi.

Manusia membutuhkan nilai untuk menentukan arah. Membutuhkan masyarakat untuk membangun hubungan. Dan membutuhkan ekonomi untuk memenuhi kebutuhan serta menjaga keberlangsungan hidup.

Karena itu, ketika Pusat Peranserta Masyarakat (PPM) memperkenalkan konsep Qaryah Thayyibah dengan rumus:

QT = N + S + E

rumus tersebut seharusnya tidak dibaca seperti persamaan matematika biasa.

QT bukan hasil penjumlahan N, S, dan E.

Tanda “+” di dalam rumus tersebut justru menggambarkan hubungan, interaksi, integrasi, dan transformasi.

N = Nilai
S = Sosial
E = Ekonomi

Ketiganya bukan tiga kotak yang berdiri sendiri.

Ketiganya adalah tiga dimensi kehidupan yang saling memengaruhi dan bersama-sama membentuk sebuah sistem kehidupan masyarakat.

Dengan demikian, Qaryah Thayyibah bukan sekadar masyarakat yang memiliki kegiatan ekonomi, kegiatan sosial, dan kegiatan keagamaan. Qaryah Thayyibah adalah masyarakat yang mampu mengintegrasikan ketiganya menjadi sebuah kehidupan yang baik.

PPM dan Posisi Qaryah Thayyibah

Dalam konstruksi kelembagaan PPM, penting membedakan antara PPM sebagai organisasi dan Qaryah Thayyibah sebagai model atau pendekatan pemberdayaan masyarakat.

PPM merupakan organisasi kemasyarakatan dan gerakan pemberdayaan masyarakat.

Sedangkan Qaryah Thayyibah merupakan salah satu konsepsi praksis untuk membangun kehidupan masyarakat yang berdaya dan seimbang.

Dengan posisi tersebut, PPM tidak hadir untuk menggantikan negara, tidak pula menjadi lembaga keagamaan formal.

PPM bergerak dalam ruang masyarakat sipil: membangun kesadaran, memperkuat partisipasi, mengembangkan kelembagaan masyarakat, dan menghubungkan nilai dengan kehidupan nyata.

Qaryah Thayyibah menjadi salah satu ruang tempat gagasan tersebut diterjemahkan.

Karena itu, QT bukan sekadar program PPM.

Ia merupakan paradigma pemberdayaan

N: Nilai sebagai Kompas Kehidupan

Dimensi pertama adalah N — Nilai.

Masyarakat membutuhkan nilai karena pembangunan tanpa arah dapat kehilangan tujuan.

Nilai menjawab pertanyaan:

Untuk apa kita membangun?

Kehidupan seperti apa yang ingin kita wujudkan?

Apa yang boleh dilakukan dan apa yang harus dihindari?

Bagaimana manusia memperlakukan manusia lainnya?

Dalam perspektif PPM, nilai tidak hanya berkaitan dengan doktrin keagamaan, tetapi juga nilai kemanusiaan yang menjadikan kehidupan lebih adil, bermartabat, bertanggung jawab, dan berkelanjutan.

Al-Qur’an, misalnya, memberikan perhatian besar terhadap keadilan:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ

“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan.”
(QS. An-Nahl [16]: 90)

Ayat tersebut menunjukkan bahwa nilai tidak berhenti sebagai keyakinan.

Keadilan harus menjadi tindakan.

Kebaikan harus menjadi perilaku.

Amanah harus menjadi tata kelola.

Dengan demikian, nilai berfungsi seperti kompas.

Ia tidak menggantikan perjalanan, tetapi menentukan arah perjalanan.

S: Sosial sebagai Ruang Kehidupan

Manusia tidak hidup sendirian.

Kesadaran individu membutuhkan ruang sosial agar dapat berkembang.

Karena itu, dimensi kedua adalah S — Sosial.

Masyarakat membutuhkan hubungan, solidaritas, gotong royong, kepercayaan, komunikasi, kelembagaan, dan kemampuan menyelesaikan persoalan secara bersama.

Nilai yang baik tetapi tidak memiliki ruang sosial untuk diwujudkan akan sulit menjadi kekuatan perubahan.

Sebaliknya, kehidupan sosial tanpa nilai dapat kehilangan orientasi.

Karena itu, masyarakat bukan sekadar kumpulan individu.

Masyarakat adalah jaringan hubungan.

Di dalamnya terdapat keluarga, tetangga, kelompok usaha, koperasi, komunitas, organisasi masyarakat, lembaga pendidikan, dan berbagai bentuk kelembagaan lainnya.

Qaryah Thayyibah berusaha membangun jaringan tersebut agar masyarakat memiliki kemampuan untuk saling memperkuat.

Dalam perspektif ini, modal sosial merupakan kekuatan pembangunan.

Kepercayaan melahirkan kerja sama.

Kerja sama melahirkan kelembagaan.

Kelembagaan melahirkan kemampuan bersama.

Dan kemampuan bersama membuka jalan menuju kemandirian.

E: Ekonomi sebagai Daya Hidup

Dimensi ketiga adalah E — Ekonomi.

Ekonomi tidak boleh dipahami hanya sebagai persoalan uang dan keuntungan.

Ekonomi adalah salah satu cara manusia memenuhi kebutuhan hidup.

Pangan, sandang, tempat tinggal, pendidikan, kesehatan, pekerjaan, modal usaha, dan berbagai kebutuhan kehidupan lainnya membutuhkan fondasi ekonomi.

Karena itu, masyarakat yang ingin berdaya membutuhkan ekonomi yang sehat.

Namun ekonomi juga membutuhkan nilai dan sosial.

Ekonomi tanpa nilai dapat melahirkan keserakahan.

Ekonomi tanpa solidaritas dapat memperlebar kesenjangan.

Ekonomi tanpa keberlanjutan dapat merusak lingkungan.

Karena itu, ekonomi dalam Qaryah Thayyibah bukan ekonomi yang berdiri sendiri.

Ia adalah ekonomi yang berada dalam ekosistem kehidupan masyarakat.

Tanda “+” yang Mengubah Segalanya

Di sinilah inti dari rumus:

QT = N + S + E

Yang paling penting justru bukan N, S, atau E secara terpisah.

Yang paling penting adalah tanda “+”.

Mengapa?

Karena tanda “+” menunjukkan hubungan.

Nilai bertemu sosial.

Sosial bertemu ekonomi.

Ekonomi kembali dipandu oleh nilai.

Terjadi hubungan timbal balik.

Nilai memengaruhi perilaku ekonomi.

Ekonomi memperkuat kehidupan sosial.

Kehidupan sosial menjadi ruang aktualisasi nilai.

Dengan demikian, rumus QT lebih tepat dipahami sebagai sistem yang hidup.

Ia bukan:

Nilai + Sosial + Ekonomi = sekadar tiga kegiatan.

Melainkan:

Nilai ↔ Sosial ↔ Ekonomi → kualitas kehidupan baru.

Kualitas baru itulah yang disebut Qaryah Thayyibah.

Bukan Tiga Program yang Berjalan Sendiri

Kesalahpahaman dapat terjadi apabila QT diterjemahkan hanya sebagai tiga jenis program.

Misalnya:

ada program keagamaan untuk N,

ada kegiatan sosial untuk S,

dan ada kegiatan ekonomi untuk E.

Kemudian ketiganya dianggap sudah menghasilkan Qaryah Thayyibah.

Belum tentu.

Sebab persoalannya bukan pada keberadaan ketiga program tersebut.

Persoalannya adalah apakah ketiganya saling berhubungan?

Misalnya sebuah kegiatan ekonomi koperasi.

Jika koperasi hanya mengejar keuntungan, ia baru bergerak pada dimensi ekonomi.

Tetapi jika koperasi dibangun dengan kejujuran, amanah, keadilan, transparansi, dan keberpihakan kepada anggota, maka nilai mulai masuk ke dalam sistem ekonomi.

Jika koperasi kemudian memperkuat solidaritas anggota, menciptakan lapangan kerja, membangun jaringan usaha, dan meningkatkan kemampuan ekonomi keluarga, maka dimensi sosial ikut bergerak.

Di sinilah tanda “+” mulai bekerja.

QT sebagai Living System

Karena itu, Qaryah Thayyibah lebih tepat dipahami sebagai living system atau sistem kehidupan yang terus bergerak.

Ia menyerupai organisme.

Dalam tubuh manusia, jantung, paru-paru, otak, darah, dan organ lainnya memiliki fungsi berbeda.

Tidak ada yang perlu dibuat sama.

Yang diperlukan adalah keserasian fungsi.

Demikian pula dalam masyarakat.

Nilai tidak harus berubah menjadi ekonomi.

Ekonomi tidak harus menggantikan sosial.

Sosial tidak harus menjadi agama.

Masing-masing tetap memiliki karakter dan fungsi.

Namun semuanya harus saling menopang.

Itulah makna keseimbangan yang sesungguhnya.

Keseimbangan bukan kesamaan.

Keseimbangan adalah kemampuan berbagai unsur yang berbeda untuk hidup bersama dalam satu sistem.

Dari Kesadaran ABC Menuju QT

Konsep QT juga tidak berdiri sendiri.

Ia memiliki hubungan dengan gagasan Kesadaran ABC: Aku, Bumi, dan Cipta.

Aku mengajarkan manusia untuk mengenali dirinya.

Siapa saya?

Apa potensi saya?

Apa tanggung jawab saya?

Untuk apa saya hidup?

Bumi mengajarkan bahwa manusia hidup dalam sebuah ekosistem.

Manusia membutuhkan alam, tetapi sekaligus memiliki tanggung jawab untuk menjaganya.

Cipta menghubungkan manusia dengan kesadaran tentang Sang Pencipta dan sumber nilai kehidupan.

Dari sini terbentuk hubungan:

ABC → Kesadaran Manusia → N + S + E → Qaryah Thayyibah

Kesadaran ABC berada pada tingkat kesadaran manusia.

N + S + E berada pada tingkat struktur kehidupan masyarakat.

Sedangkan Qaryah Thayyibah merupakan kualitas kehidupan yang lahir dari integrasi keduanya.

Dengan demikian, pembangunan masyarakat sesungguhnya dimulai dari pembangunan manusia.

Dari “Aku” Menuju “Kita”

Kesadaran “Aku” bukanlah individualisme.

Justru kesadaran diri yang matang membawa manusia kepada kesadaran tentang orang lain.

Aku menyadari bahwa hidupku berhubungan dengan kehidupan orang lain.

Aku menyadari bahwa kesejahteraanku tidak boleh dibangun dengan menghancurkan kesejahteraan orang lain.

Aku menyadari bahwa kebutuhan ekonomi keluargaku memiliki hubungan dengan ekonomi lingkungan.

Aku menyadari bahwa kehidupan manusia memiliki hubungan dengan bumi.

Dari sinilah kesadaran bergerak:

Aku → Kita → Masyarakat → Kehidupan Bersama.

Qaryah Thayyibah berada pada proses tersebut.

Ia bukan sekadar tempat tinggal yang baik.

Ia adalah cara masyarakat membangun kehidupan bersama secara sadar.

Ketika Ekonomi Menjadi Bagian dari Dakwah Bil Hal

Konsepsi QT juga memperluas pemahaman tentang dakwah.

Dakwah tidak hanya berbicara tentang apa yang benar.

Dakwah juga perlu memperlihatkan bagaimana kebenaran tersebut menghasilkan kehidupan yang lebih baik.

Jika keadilan adalah nilai, maka ia harus terlihat dalam hubungan ekonomi.

Jika persaudaraan adalah nilai, maka ia harus terlihat dalam solidaritas sosial.

Jika amanah adalah nilai, maka ia harus terlihat dalam tata kelola organisasi.

Jika manusia adalah khalifah, maka tanggung jawab terhadap bumi harus terlihat dalam cara masyarakat mengelola sumber daya.

Di sinilah dakwah bil hal memperoleh maknanya.

Nilai menjadi tindakan.

Tindakan menjadi kebiasaan.

Kebiasaan menjadi budaya.

Budaya membentuk kehidupan masyarakat.

QT dan Pemberdayaan Wong Cilik

Paradigma QT juga membawa konsekuensi terhadap cara memandang masyarakat akar rumput.

Wong cilik bukan objek pembangunan.

Mereka adalah subjek kehidupan.

Mereka memiliki pengalaman, pengetahuan lokal, jaringan sosial, dan potensi ekonomi.

Yang sering kali mereka kekurangan bukan semata-mata potensi, tetapi akses terhadap pengetahuan, modal, teknologi, pasar, kelembagaan, dan jaringan.

Karena itu, pemberdayaan bukan sekadar memberikan bantuan.

Pemberdayaan adalah membangun daya.

Membangun kemampuan untuk mengenali masalah.

Membangun kemampuan untuk mengambil keputusan.

Membangun kemampuan untuk bekerja sama.

Membangun kemampuan untuk mengelola sumber daya.

Dan pada akhirnya membangun kemampuan untuk menentukan masa depan sendiri.

Di sinilah QT menemukan dimensi praksisnya.

Dari Qaryah Thayyibah Menuju Equilibrium Peradaban

Jika QT dipahami sebagai sistem kehidupan, maka tujuan akhirnya bukan sekadar terciptanya desa yang produktif.

Lebih jauh, Qaryah Thayyibah diarahkan menuju equilibrium peradaban.

Sebuah kehidupan yang:

  • memiliki nilai,
  • memiliki solidaritas,
  • memiliki keberdayaan ekonomi,
  • menjaga lingkungan,
  • dan menghormati martabat manusia.

Equilibrium tersebut tidak lahir dari dominasi satu unsur.

Ia lahir dari hubungan yang sehat antarunsur.

Nilai memberi arah kepada ekonomi.

Ekonomi memberikan daya kepada masyarakat.

Masyarakat menjadi ruang hidup bagi nilai.

Lingkungan menjadi dasar keberlanjutan ekonomi.

Dan manusia menjadi penghubung seluruhnya.

Inilah peradaban yang tidak hanya bertanya:

“Seberapa banyak yang kita miliki?”

tetapi juga:

“Untuk apa yang kita miliki?”

“Bagaimana kita memperolehnya?”

“Siapa yang memperoleh manfaatnya?”

“Apakah kehidupan menjadi lebih baik karenanya?”

QT Bukan Rumus Mati

Pada akhirnya, QT = N + S + E bukanlah rumus yang selesai ketika ditulis.

Ia merupakan rumus yang harus terus diuji dalam kehidupan.

Apakah nilai benar-benar hidup dalam masyarakat?

Apakah hubungan sosial semakin kuat?

Apakah ekonomi semakin memberdayakan?

Apakah masyarakat semakin mandiri?

Apakah lingkungan semakin terjaga?

Apakah manusia semakin sadar akan dirinya, bumi, dan Sang Pencipta?

Jika jawabannya bergerak ke arah positif, maka tanda “+” dalam QT benar-benar bekerja.

Tetapi jika nilai berjalan sendiri, sosial berjalan sendiri, dan ekonomi berjalan sendiri, maka yang terjadi hanyalah kumpulan kegiatan—belum menjadi sebuah sistem kehidupan.

Sebuah Rumus untuk Menghidupkan Kehidupan

Qaryah Thayyibah pada akhirnya bukan sekadar konsep pembangunan desa.

Ia merupakan cara pandang tentang bagaimana manusia membangun kehidupan.

N — Nilai memberikan arah.
S — Sosial memberikan ruang hubungan.
E — Ekonomi memberikan daya hidup.

Dan tanda “+” menghubungkan semuanya.

Karena itu, QT = N + S + E bukan sekadar penjumlahan.

Ia adalah rumus tentang integrasi kehidupan.

Dari nilai lahir kesadaran.

Dari kesadaran lahir tindakan.

Dari tindakan lahir kebiasaan.

Dari kebiasaan lahir budaya.

Dari budaya lahir kelembagaan.

Dan dari kelembagaan lahir masyarakat yang berdaya.

Dalam kerangka PPM, Qaryah Thayyibah menjadi salah satu ruang untuk menerjemahkan gagasan tersebut ke dalam kehidupan nyata.

PPM menjadi penggerak dan jembatan.

Kesadaran ABC menjadi fondasi manusianya.

N + S + E menjadi struktur kehidupannya.

Qaryah Thayyibah menjadi model praksisnya.

Dan equilibrium peradaban menjadi arah besarnya.

Sebab pada akhirnya, masyarakat yang baik bukanlah masyarakat yang hanya memiliki ekonomi yang kuat.

Bukan pula masyarakat yang hanya memiliki solidaritas sosial.

Dan bukan hanya masyarakat yang memiliki nilai-nilai luhur.

Masyarakat yang baik adalah masyarakat yang mampu menghidupkan nilai, memperkuat hubungan sosial, mengembangkan ekonomi, dan menjaga keberlanjutan kehidupan sebagai satu kesatuan.

Itulah makna terdalam dari:

QT = N + S + E

Sebuah rumus kehidupan, bukan sekadar penjumlahan.(ppmindonesia)

Example 120x600