JAKARTA.PPMIndonesia.com — Shalawat kepada Nabi Muhammad SAW telah menjadi bagian yang sangat dekat dengan kehidupan umat Islam. Ia dibaca dalam doa, majelis keagamaan, peringatan Maulid, maupun berbagai kesempatan lainnya.
Namun, ada satu pertanyaan yang menarik untuk direnungkan melalui pendekatan Qur’an bil Qur’an: Apa sesungguhnya makna perintah “shallū ‘alaihi” dalam Al-Qur’an? Apakah ia hanya berkaitan dengan melafalkan shalawat, atau Al-Qur’an memberikan gambaran yang lebih luas tentang bagaimana seorang beriman memuliakan Rasulullah?
Pertanyaan tersebut menjadi salah satu pokok kajian Syahida bersama Husni Nasution. Pendekatan yang digunakan adalah membaca satu ayat dengan ayat-ayat Al-Qur’an lainnya sehingga makna suatu istilah dapat dilihat dalam keseluruhan konteks Al-Qur’an.
Perintah “Shallū ‘Alaihi” dalam Al-Qur’an
Perintah bershalawat secara langsung terdapat dalam QS Al-Ahzab ayat 56:
إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّ ۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan.”
(QS Al-Ahzab [33]:56)
Ayat ini menggunakan dua perintah: ṣallū ‘alaihi dan sallimū taslīmā.
Dalam tradisi Islam, ayat tersebut menjadi dasar anjuran membaca shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad SAW. Tetapi dalam pendekatan Qur’an bil Qur’an, kajian tidak berhenti pada bentuk lafaznya.
Pertanyaan berikutnya adalah: bagaimana Al-Qur’an menjelaskan bentuk keberimanan kepada Rasulullah?
Jawabannya dapat ditelusuri antara lain melalui QS Al-A’raf ayat 157.
Beriman kepada Rasul dan Mengikuti Nur
Allah berfirman:
ٱلَّذِينَ يَتَّبِعُونَ ٱلرَّسُولَ ٱلنَّبِيَّ ٱلْأُمِّيَّ ٱلَّذِي يَجِدُونَهُۥ مَكْتُوبًا عِندَهُمْ فِي ٱلتَّوْرَىٰةِ وَٱلْإِنجِيلِ يَأْمُرُهُم بِٱلْمَعْرُوفِ وَيَنْهَىٰهُمْ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ ٱلطَّيِّبَٰتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ ٱلْخَبَٰٓئِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَٱلْأَغْلَٰلَ ٱلَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ ۚ فَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ بِهِۦ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَٱتَّبَعُوا۟ ٱلنُّورَ ٱلَّذِيٓ أُنزِلَ مَعَهُۥٓ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ
“(Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi, yang mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang makruf dan melarang mereka dari yang mungkar, menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk, dan membebaskan mereka dari beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya yang diturunkan bersamanya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
(QS Al-A’raf [7]:157)
Ayat tersebut menyebut beberapa bentuk sikap terhadap Rasulullah: beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti nur yang diturunkan bersamanya.
Dalam kajian Husni Nasution, frasa “wa-ttaba‘ū an-nūra alladzī unzila ma‘ahu” menjadi penting.
Sebab, setelah menyebut iman, penghormatan, dan pertolongan kepada Rasul, Al-Qur’an kembali menegaskan tindakan mengikuti nur yang diturunkan bersama Rasul.
Dengan pendekatan ini, makna memuliakan Rasul tidak hanya dilihat dari ekspresi verbal, tetapi juga dari sejauh mana manusia mengikuti petunjuk wahyu yang beliau bawa.
Apa yang Dimaksud dengan “Nur”?
Pertanyaan berikutnya adalah: nur apakah yang diturunkan bersama Rasulullah?
Al-Qur’an memberikan petunjuk melalui QS Asy-Syura ayat 52:
وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ رُوحًا مِّنْ أَمْرِنَا ۚ مَا كُنتَ تَدْرِي مَا ٱلْكِتَٰبُ وَلَا ٱلْإِيمَٰنُ وَلَٰكِن جَعَلْنَٰهُ نُورًا نَّهْدِي بِهِۦ مَن نَّشَآءُ مِنْ عِبَادِنَا ۚ وَإِنَّكَ لَتَهْدِيٓ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ
“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh dengan perintah Kami. Sebelumnya engkau tidaklah mengetahui apakah Kitab itu dan apakah iman itu, tetapi Kami menjadikannya cahaya, dengan itu Kami memberi petunjuk kepada siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sungguh, engkau benar-benar membimbing kepada jalan yang lurus.”
(QS Asy-Syura [42]:52)
Ayat ini menyebut rūḥan min amrinā, “ruh dari perintah Kami”, yang kemudian disebut sebagai nūr, cahaya.
Dalam pembacaan Husni Nasution, hubungan QS Al-A’raf ayat 157 dengan QS Asy-Syura ayat 52 membuka pemahaman bahwa nur yang diturunkan bersama Rasul berkaitan dengan wahyu Allah yang menjadi petunjuk manusia.
Karena itu, mengikuti Rasul tidak dipisahkan dari mengikuti petunjuk yang Allah turunkan melalui risalahnya.
Nur sebagai Cahaya yang Menerangkan
Konsep tersebut kembali mendapatkan penjelasan dalam QS An-Nisa ayat 174:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ قَدْ جَآءَكُم بُرْهَٰنٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَأَنزَلْنَآ إِلَيْكُمْ نُورًا مُّبِينًا
“Wahai manusia! Sungguh, telah sampai kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang.”
(QS An-Nisa [4]:174)
Di sini Al-Qur’an memperkenalkan dua istilah: burhan, bukti yang nyata, dan nur mubin, cahaya yang menerangkan.
Nur bukan sekadar sesuatu yang dilihat secara fisik. Dalam konteks ayat tersebut, ia terkait dengan petunjuk yang menerangi manusia dalam menemukan jalan kebenaran.
Maka, ketika QS Al-A’raf ayat 157 berbicara mengenai “nur yang diturunkan bersama Rasul”, kajian Qur’an bil Qur’an dapat membacanya dalam hubungan dengan wahyu yang menjadi petunjuk.
Dari Nur Menuju Kelapangan Dada
Al-Qur’an selanjutnya menggambarkan kondisi manusia yang memperoleh cahaya dari Tuhannya.
Allah berfirman:
أَفَمَن شَرَحَ ٱللَّهُ صَدْرَهُۥ لِلْإِسْلَٰمِ فَهُوَ عَلَىٰ نُورٍ مِّن رَّبِّهِۦ ۚ فَوَيْلٌ لِّلْقَٰسِيَةِ قُلُوبُهُم مِّن ذِكْرِ ٱللَّهِ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ فِي ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ
“Maka apakah orang yang Allah lapangkan dadanya untuk menerima Islam lalu dia mendapat cahaya dari Tuhannya sama dengan orang yang hatinya membatu? Maka celakalah mereka yang hatinya telah membatu dari mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.”
(QS Az-Zumar [39]:22)
Ayat tersebut menghubungkan tiga hal: Islam, kelapangan dada, dan nur dari Tuhan.
Dalam kajian Syahida, hal ini menjadi dimensi penting dalam memahami shalawat. Mengikuti Rasul dan mengikuti nur bukan hanya persoalan pengetahuan, tetapi menyangkut kesiapan batin untuk menerima petunjuk Allah.
Islam dan Jalan Rasyad
Rangkaian kajian kemudian dapat dilanjutkan dengan QS Al-Jinn ayat 14:
وَأَنَّا مِنَّا ٱلْمُسْلِمُونَ وَمِنَّا ٱلْقَٰسِطُونَ ۖ فَمَنْ أَسْلَمَ فَأُو۟لَٰٓئِكَ تَحَرَّوْا۟ رَشَدًا
“Dan sesungguhnya di antara kami ada yang berserah diri dan ada pula yang menyimpang dari kebenaran. Barang siapa berserah diri, maka mereka itu benar-benar telah memilih jalan yang lurus.”
(QS Al-Jinn [72]:14)
Kata aslama dalam ayat ini berkaitan dengan sikap berserah diri kepada Allah. Sedangkan rasyad menunjuk pada jalan yang benar atau lurus.
Dengan demikian, dalam pembacaan Qur’an bil Qur’an, terdapat rangkaian makna yang menarik:
Wahyu → Nur → Petunjuk → Islam → Rasyad.
Rangkaian tersebut memberikan dimensi lebih luas dalam memahami perintah bershalawat.
Bagaimana Hadis Menjelaskan Shalawat?
Di samping Al-Qur’an, hadis Nabi juga memberikan penjelasan tentang keutamaan bershalawat.
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا
“Barang siapa bershalawat kepadaku satu kali, Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.”
(HR Muslim)
Hadis tersebut menunjukkan keutamaan membaca shalawat kepada Rasulullah.
Namun, kajian Qur’an bil Qur’an yang dikembangkan Husni Nasution mengajak pembaca melihat bahwa pembicaraan tentang shalawat dapat ditempatkan dalam konteks yang lebih luas, yakni hubungan antara Rasul, wahyu, nur, iman, dan kehidupan manusia.
Dengan demikian, membaca shalawat secara lisan dan mengikuti petunjuk wahyu tidak harus diposisikan sebagai dua hal yang saling bertentangan. Lafaz shalawat merupakan bentuk penghormatan, sementara mengikuti petunjuk Allah merupakan wujud penghayatan iman dalam kehidupan.
Memuliakan Rasul dengan Mengikuti Petunjuknya
Pertanyaan “Apa makna shallū ‘alaihi?” akhirnya membawa kita kembali kepada QS Al-Ahzab ayat 56.
Al-Qur’an memang memerintahkan orang-orang beriman untuk bershalawat kepada Nabi. Tetapi ketika ayat tersebut dibaca bersama QS Al-A’raf ayat 157, ditemukan dimensi lain dari hubungan umat dengan Rasulullah: iman, penghormatan, pertolongan, dan mengikuti nur yang diturunkan bersamanya.
Di sinilah kajian Qur’an bil Qur’an memberikan ruang refleksi.
Bershalawat tidak hanya menghadirkan nama Rasulullah di lisan, tetapi juga dapat menjadi momentum untuk menghadirkan petunjuk yang beliau bawa ke dalam kehidupan.
Shalawat dengan demikian dapat dipahami dalam dua dimensi: ucapan sebagai ekspresi penghormatan dan penghayatan terhadap petunjuk wahyu sebagai konsekuensi iman kepada Rasul.
Catatan Kajian Syahida
Kajian Husni Nasution di Kanal Syahida tidak bermaksud meniadakan praktik membaca shalawat yang telah menjadi bagian dari tradisi umat Islam. Fokus kajian ini adalah mengajak pembaca menelusuri hubungan makna shalawat dengan ayat-ayat Al-Qur’an lainnya.
Dari QS Al-Ahzab 56, perjalanan kajian bergerak menuju QS Al-A’raf 157, QS Asy-Syura 52, QS An-Nisa 174, QS Az-Zumar 22, dan QS Al-Jinn 14.
Rangkaian tersebut dapat dirangkum dalam satu pertanyaan reflektif:
Ketika kita mengucapkan “shallū ‘alaihi”, sudahkah shalawat itu membawa kita untuk mengikuti nur yang diturunkan bersama Rasulullah?
Sebab, dalam perspektif Qur’an bil Qur’an, memuliakan Rasul bukan hanya menghadirkan kecintaan kepada beliau melalui lisan, tetapi juga membuka diri terhadap cahaya wahyu yang menjadi petunjuk menuju jalan yang lurus.
Kanal Syahida | Kajian Qur’an bil Qur’an





























