Mencari Bentuk Kehidupan yang Seimbang
JAKARTA.PPMIndonesia.com- Peradaban manusia dibangun melalui berbagai perkembangan: ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, politik, kebudayaan, dan kelembagaan sosial.
Namun, kemajuan pada satu bidang tidak selalu berarti kemajuan kehidupan secara keseluruhan.
Ekonomi dapat tumbuh, tetapi kesenjangan tetap terjadi.
Teknologi dapat berkembang, tetapi hubungan sosial dapat melemah.
Kota dapat semakin modern, tetapi lingkungan mengalami tekanan.
Masyarakat dapat semakin religius dalam ekspresi simboliknya, tetapi persoalan kemiskinan, ketidakadilan, dan ketidakberdayaan belum tentu terselesaikan.
Pertanyaan pentingnya kemudian bukan hanya:
Seberapa jauh masyarakat mengalami kemajuan?
Tetapi:
Apakah berbagai unsur kehidupan tersebut berkembang secara seimbang dan saling memperkuat?
Di sinilah gagasan Qaryah Thayyibah memperoleh relevansinya.
Qaryah Thayyibah tidak sekadar berbicara tentang desa yang baik atau komunitas yang ideal. Ia merupakan gagasan tentang bagaimana manusia membangun sebuah sistem kehidupan yang nilai, sosial, ekonomi, lingkungan, dan kemanusiaannya dapat berkembang secara serasi.
Dalam kerangka Pusat Peranserta Masyarakat (PPM), Qaryah Thayyibah dapat dipahami sebagai salah satu model praksis pemberdayaan masyarakat menuju equilibrium peradaban.
PPM dan Qaryah Thayyibah
Untuk memahami posisi Qaryah Thayyibah, perlu dibedakan antara PPM sebagai organisasi dan Qaryah Thayyibah sebagai model pemberdayaan.
PPM merupakan organisasi kemasyarakatan dan gerakan pemberdayaan masyarakat.
PPM bekerja di ruang masyarakat sipil dengan membangun kesadaran, memperkuat partisipasi, mengembangkan kelembagaan, serta menghubungkan nilai dengan realitas kehidupan.
Sementara itu, Qaryah Thayyibah merupakan salah satu konsepsi praksis untuk menerjemahkan gagasan tersebut ke dalam kehidupan masyarakat.
Dengan demikian:
PPM adalah penggerak dan jembatan.
Qaryah Thayyibah adalah model kehidupan dan praksis pemberdayaan.
Qaryah Thayyibah tidak dimaksudkan sebagai program yang seragam untuk seluruh masyarakat. Setiap komunitas memiliki karakter, persoalan, budaya, potensi, dan kebutuhan yang berbeda.
Yang dibangun bukan keseragaman bentuk, melainkan kesamaan prinsip tentang bagaimana kehidupan masyarakat dikembangkan secara terpadu dan seimbang.
Dari Nilai Menuju Kehidupan
Salah satu persoalan pembangunan adalah adanya jarak antara nilai dan kehidupan.
Nilai sering dibicarakan sebagai sesuatu yang ideal.
Ekonomi dibicarakan sebagai sesuatu yang praktis.
Sosial dibicarakan sebagai urusan hubungan antarmanusia.
Lingkungan dibicarakan sebagai persoalan tersendiri.
Padahal dalam kehidupan nyata, semuanya saling berhubungan.
Keputusan ekonomi memengaruhi kehidupan sosial.
Kehidupan sosial memengaruhi perilaku ekonomi.
Nilai memengaruhi cara manusia mengambil keputusan.
Lingkungan memengaruhi keberlangsungan ekonomi.
Dan semuanya pada akhirnya kembali kepada manusia.
Karena itu, Qaryah Thayyibah berangkat dari gagasan bahwa kehidupan tidak dapat dibangun secara terfragmentasi.
Diperlukan sebuah pendekatan yang mampu menghubungkan berbagai dimensi tersebut.
QT = N + S + E
Salah satu kerangka yang digunakan PPM adalah:
QT = N + S + E
N = Nilai
S = Sosial
E = Ekonomi
Rumus tersebut bukan persamaan matematika.
Tanda “+” bukan sekadar berarti menambahkan tiga unsur.
Ia menunjukkan hubungan, interaksi, integrasi, dan transformasi.
Nilai memberikan arah.
Sosial menyediakan ruang kehidupan bersama.
Ekonomi memberikan daya hidup.
Ketiganya kemudian berinteraksi membentuk kualitas kehidupan yang baru.
Karena itu, Qaryah Thayyibah tidak cukup jika hanya memiliki kegiatan keagamaan, kegiatan sosial, dan kegiatan ekonomi secara terpisah.
Pertanyaannya adalah:
Apakah ketiganya saling memperkuat?
Jika ya, maka proses menuju Qaryah Thayyibah mulai terjadi.
Nilai: Kompas Peradaban
Dimensi pertama adalah nilai.
Setiap masyarakat membutuhkan jawaban atas pertanyaan:
Untuk apa kita hidup?
Untuk apa ekonomi dibangun?
Untuk apa kekayaan diciptakan?
Bagaimana manusia memperlakukan sesamanya?
Bagaimana manusia memperlakukan bumi?
Nilai memberikan orientasi terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Al-Qur’an menyatakan:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ
“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan.”
(QS. An-Nahl [16]: 90)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa nilai keadilan dan kebajikan tidak berhenti sebagai gagasan.
Ia harus hadir dalam kehidupan.
Keadilan harus terlihat dalam hubungan sosial.
Kejujuran harus terlihat dalam transaksi ekonomi.
Amanah harus terlihat dalam tata kelola kelembagaan.
Kepedulian harus terlihat dalam cara manusia memperlakukan lingkungan.
Dengan demikian, nilai adalah kompas, bukan sekadar hiasan kehidupan.
Sosial: Membangun Kekuatan Bersama
Manusia tidak hidup sebagai individu yang terpisah.
Ia hidup dalam keluarga, tetangga, komunitas, organisasi, pasar, dan berbagai jaringan sosial.
Karena itu, masyarakat membutuhkan modal sosial: kepercayaan, gotong royong, solidaritas, komunikasi, musyawarah, dan kelembagaan.
Dalam Qaryah Thayyibah, masyarakat bukan sekadar penerima program.
Masyarakat menjadi subjek perubahan.
Mereka mengenali persoalan.
Mereka menentukan prioritas.
Mereka membangun kerja sama.
Mereka mengembangkan kelembagaan.
Mereka mengelola sumber daya.
Di sinilah prinsip peranserta masyarakat menjadi penting.
Pembangunan tidak hanya dilakukan untuk masyarakat.
Pembangunan harus semakin mampu dilakukan bersama masyarakat dan oleh masyarakat.
Ekonomi: Menciptakan Daya Hidup
Nilai dan solidaritas membutuhkan daya dukung ekonomi.
Masyarakat membutuhkan pangan, pekerjaan, pendidikan, kesehatan, perumahan, modal usaha, dan akses pasar.
Karena itu, ekonomi merupakan bagian penting dari Qaryah Thayyibah.
Tetapi ekonomi tidak ditempatkan sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan.
Ekonomi harus berada dalam ekosistem kehidupan.
Keuntungan harus tetap berhubungan dengan keadilan.
Produksi harus memperhatikan keberlanjutan.
Pasar harus memperhatikan manusia.
Kelembagaan ekonomi harus memperkuat masyarakat, bukan membuat masyarakat semakin tergantung.
Dengan demikian, ekonomi dalam Qaryah Thayyibah adalah ekonomi yang memberdayakan.
Tanda “+”: Jantung Qaryah Thayyibah
Justru tanda “+” merupakan bagian paling penting dari rumus QT.
Nilai tanpa sosial dapat berhenti sebagai gagasan.
Sosial tanpa ekonomi dapat kekurangan daya dukung.
Ekonomi tanpa nilai dapat kehilangan arah.
Namun ketika ketiganya berinteraksi, muncul kualitas baru.
Nilai → memberi arah
Sosial → membangun kekuatan
Ekonomi → menciptakan daya
Kemudian:
Arah + Kekuatan + Daya → Kehidupan yang Berdaya
Itulah Qaryah Thayyibah.
Karena itu, keseimbangan tidak berarti ketiga unsur harus memiliki ukuran yang sama.
Keseimbangan berarti setiap unsur menjalankan fungsinya dan saling memperkuat.
Qaryah Thayyibah sebagai Living System
Qaryah Thayyibah lebih tepat dipahami sebagai living system, sebuah sistem kehidupan yang terus bergerak.
Analogi sederhananya adalah tubuh manusia.
Jantung memiliki fungsi yang berbeda dari paru-paru.
Paru-paru berbeda dari otak.
Otak berbeda dari sistem pencernaan.
Namun tubuh menjadi hidup karena seluruh bagian tersebut bekerja dalam keterhubungan.
Demikian pula masyarakat.
Nilai, sosial, ekonomi, lingkungan, pendidikan, budaya, dan kelembagaan tidak harus menjadi sama.
Yang dibutuhkan adalah keserasian hubungan di antara semuanya.
Karena itu:
Keseimbangan bukan kesamaan.
Keseimbangan adalah keterhubungan yang sehat.
Kesadaran ABC: Fondasi Manusianya
Qaryah Thayyibah juga tidak dapat dilepaskan dari manusia yang menjadi pelaku kehidupan.
Di sinilah gagasan Kesadaran ABC — Aku, Bumi, dan Cipta menjadi relevan.
Aku
Manusia mengenali dirinya: potensi, keterbatasan, kebutuhan, tujuan, dan tanggung jawabnya.
Bumi
Manusia menyadari bahwa dirinya merupakan bagian dari ekosistem kehidupan dan memiliki tanggung jawab terhadap lingkungan.
Cipta
Manusia menyadari adanya Sang Pencipta sebagai sumber orientasi nilai dan pertanggungjawaban kehidupan.
Dari sini terbentuk sebuah alur:
ABC → Kesadaran Manusia → N + S + E → Qaryah Thayyibah → Equilibrium Peradaban
Kesadaran ABC membentuk manusia.
N + S + E membentuk sistem kehidupan.
Qaryah Thayyibah menjadi ruang praksis.
Sedangkan equilibrium peradaban menjadi arah jangka panjangnya.
Dari “Aku” Menuju “Kita”
Kesadaran diri tidak berakhir pada diri sendiri.
Manusia yang sadar bahwa dirinya memiliki tanggung jawab akan menyadari bahwa hidupnya berhubungan dengan orang lain.
Dari:
Aku
bergerak menuju:
Kita.
Dari:
Kita
berkembang menjadi:
Masyarakat.
Dan dari masyarakat berkembang menuju:
Kehidupan bersama yang berkeadaban.
Inilah mengapa Qaryah Thayyibah bukan hanya persoalan tempat tinggal.
Ia adalah cara manusia mengorganisasikan kehidupan bersama secara sadar.
Praktik Konkret Qaryah Thayyibah
Qaryah Thayyibah akan kehilangan makna jika hanya berhenti pada konsep.
Karena itu, ia perlu diuji dalam persoalan nyata masyarakat.
1. Ketahanan Pangan Berbasis Masyarakat
Misalnya sebuah kampung menghadapi kenaikan harga pangan.
Pendekatan QT dapat dimulai dengan:
N — Nilai: membangun kesadaran bahwa pangan merupakan kebutuhan dasar dan kepedulian terhadap sesama merupakan tanggung jawab bersama.
S — Sosial: petani, kelompok perempuan, pemuda, koperasi, dan warga membangun jaringan pangan lokal.
E — Ekonomi: produksi, pengolahan, distribusi, dan pemasaran dikembangkan agar petani memperoleh pasar dan masyarakat memperoleh akses pangan.
Hasilnya bukan sekadar kegiatan ekonomi.
Terbentuk ekosistem pangan masyarakat.
2. Koperasi sebagai Miniatur QT
Koperasi juga dapat menjadi ruang praktik Qaryah Thayyibah.
Nilai: kejujuran, amanah, keterbukaan, keadilan.
Sosial: anggota menjadi pemilik, berpartisipasi dalam musyawarah, saling memperkuat, dan membangun kelembagaan bersama.
Ekonomi: koperasi menyediakan akses modal, pemasaran, pengadaan, atau layanan ekonomi sesuai kebutuhan anggota.
Dengan demikian, koperasi tidak sekadar menjadi badan usaha.
Ia dapat menjadi instrumen pemberdayaan masyarakat.
3. Sampah Menjadi Gerakan Sosial-Ekonomi
Persoalan sampah juga dapat menjadi pintu masuk QT.
Nilai: membangun tanggung jawab terhadap bumi.
Sosial: warga membentuk kelompok pengelola sampah atau bank sampah.
Ekonomi: sampah yang memiliki nilai dipilah, dikumpulkan, diolah, dan dipasarkan.
Dengan demikian:
kesadaran lingkungan → organisasi masyarakat → aktivitas ekonomi.
Masalah lingkungan tidak hanya diselesaikan, tetapi sekaligus menjadi ruang pemberdayaan.
4. Pemuda dan Ekonomi Digital Kampung
Pemuda dapat menjadi kekuatan penting dalam QT.
Nilai: teknologi digunakan sebagai alat untuk menghasilkan manfaat.
Sosial: pemuda membangun komunitas digital yang membantu UMKM, koperasi, kelompok tani, dan kegiatan masyarakat.
Ekonomi: teknologi digunakan untuk pemasaran digital, katalog produk, jasa kreatif, perdagangan daring, dan pengembangan usaha.
Dengan demikian, teknologi tidak menjauhkan generasi muda dari masyarakat.
Sebaliknya, teknologi menjadi alat memperkuat masyarakat.
Dari Bantuan Menuju Kemandirian
Pendekatan QT juga mengubah cara memahami pemberdayaan.
Bantuan bukan tujuan akhir.
Bantuan harus menjadi jembatan menuju kemampuan.
Prosesnya dapat digambarkan:
Bantuan → Pendampingan → Kemampuan → Kelembagaan → Kemandirian
Masyarakat yang berdaya bukan masyarakat yang tidak pernah membutuhkan bantuan.
Masyarakat yang berdaya adalah masyarakat yang secara bertahap memiliki kemampuan untuk mengelola persoalannya sendiri.
Karena itu, ukuran keberhasilan pemberdayaan bukan hanya berapa banyak bantuan yang diberikan.
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
Apakah setelah proses pemberdayaan masyarakat menjadi lebih mampu?
Dari Proyek Menuju Ekosistem
Perbedaan antara pendekatan proyek dan Qaryah Thayyibah terletak pada orientasi keberlanjutannya.
Proyek memiliki target.
Qaryah Thayyibah membangun kemampuan.
Proyek dapat selesai ketika anggaran dan jadwal berakhir.
Qaryah Thayyibah justru diharapkan terus hidup setelah program selesai.
Karena itu pertanyaan pentingnya adalah:
Apakah kelembagaan semakin kuat?
Apakah masyarakat semakin mandiri?
Apakah hubungan sosial semakin baik?
Apakah ekonomi semakin berdaya?
Apakah nilai semakin menjadi budaya?
Apakah lingkungan semakin terjaga?
Jika jawabannya ya, maka kegiatan telah berkembang dari proyek menjadi ekosistem.
Menuju Equilibrium Peradaban
Dari sinilah gagasan equilibrium peradaban memperoleh maknanya.
Equilibrium peradaban bukan keadaan ketika semua hal menjadi sempurna.
Ia merupakan kondisi ketika berbagai dimensi kehidupan mampu berkembang tanpa saling menghancurkan.
Ekonomi berkembang tanpa merusak lingkungan.
Teknologi berkembang tanpa menghilangkan kemanusiaan.
Individu berkembang tanpa menghancurkan solidaritas.
Kebebasan berkembang bersama tanggung jawab.
Kesejahteraan individu berkembang bersama kesejahteraan masyarakat.
Spiritualitas berkembang bersama kepedulian sosial.
Dengan kata lain:
Kemajuan tidak boleh dibayar dengan kehancuran dimensi kehidupan yang lain.
Inilah inti keseimbangan peradaban.
Dari Qaryah Thayyibah Menuju Peradaban
Qaryah Thayyibah dapat dilihat sebagai skala kecil dari cita-cita peradaban.
Jika sebuah kampung mampu mengintegrasikan nilai, sosial, ekonomi, lingkungan, dan budaya, maka kampung tersebut menjadi laboratorium kecil bagi kehidupan berkeadaban.
Dari satu komunitas dapat tumbuh komunitas lain.
Dari satu kelembagaan dapat berkembang jaringan kelembagaan.
Dari satu praktik baik dapat lahir pembelajaran bersama.
Dengan demikian, perubahan peradaban tidak selalu harus dimulai dari pusat kekuasaan.
Ia dapat dimulai dari komunitas yang sadar dan berdaya.
Dari bawah.
Dari kehidupan sehari-hari.
Dari cara manusia bekerja, berdagang, bertetangga, menjaga lingkungan, mendidik anak, dan menyelesaikan persoalan bersama.
Peran PPM: Menjadi Jembatan
Dalam proses tersebut, posisi PPM menjadi penting.
PPM bukan pihak yang datang untuk menggantikan masyarakat.
PPM berperan sebagai penggerak, fasilitator, pendamping, dan jembatan.
PPM membantu masyarakat membaca persoalannya.
Membantu menemukan potensinya.
Menghubungkan nilai dengan kebutuhan nyata.
Mengembangkan partisipasi.
Memperkuat kelembagaan.
Dan membuka jaringan yang memungkinkan masyarakat berkembang.
Tetapi masyarakat tetap menjadi subjek utama.
Sebab keberhasilan Qaryah Thayyibah pada akhirnya bukan diukur dari seberapa besar PPM melakukan kegiatan.
Keberhasilannya lebih penting diukur dari:
seberapa kuat masyarakat setelah proses tersebut berlangsung.
Equilibrium Peradaban sebagai Arah
Jika dirumuskan secara sederhana, arah pemikiran ini dapat digambarkan:
Kesadaran ABC
Aku – Bumi – Cipta
↓
Integrasi Kehidupan
Nilai – Sosial – Ekonomi
↓
Qaryah Thayyibah
Masyarakat yang sadar, berdaya, dan mampu mengelola kehidupannya
↓
Equilibrium Peradaban
Kehidupan yang serasi, selaras, dan harmonis
Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa equilibrium peradaban tidak lahir secara tiba-tiba.
Ia dimulai dari kesadaran manusia.
Kesadaran melahirkan tindakan.
Tindakan membentuk kebiasaan.
Kebiasaan membentuk budaya.
Budaya membentuk kelembagaan.
Kelembagaan memperkuat masyarakat.
Dan masyarakat yang berdaya menjadi fondasi peradaban.
Penutup: Membangun Peradaban dari Kehidupan Sehari-hari
Qaryah Thayyibah pada akhirnya bukan sekadar konsep tentang kampung yang baik.
Ia merupakan gagasan tentang bagaimana manusia membangun kehidupan yang baik secara sadar dan bersama-sama.
Nilai memberikan arah.
Sosial memberikan kekuatan.
Ekonomi memberikan daya hidup.
Lingkungan memberikan ruang keberlanjutan.
Budaya memberikan identitas.
Dan manusia menjadi penghubung semuanya.
Dalam kerangka PPM, Qaryah Thayyibah merupakan salah satu jalan untuk menerjemahkan nilai ke dalam praksis pemberdayaan masyarakat.
Karena itu, equilibrium peradaban tidak harus dimulai dari pembangunan yang besar.
Ia dapat dimulai dari sebuah keluarga yang membangun kejujuran.
Dari sekelompok warga yang membangun koperasi.
Dari petani yang membangun rantai pangan bersama.
Dari pemuda yang menggunakan teknologi untuk memberdayakan kampungnya.
Dari masyarakat yang mengubah sampah menjadi sumber daya.
Dari warga yang belajar menyelesaikan persoalan secara bersama.
Dari situlah peradaban mulai tumbuh.
Bukan hanya dalam gedung-gedung besar, tetapi dalam kehidupan manusia sehari-hari.
Qaryah Thayyibah adalah laboratorium kecil kehidupan.
Dan ketika laboratorium-laboratorium kecil itu tumbuh, saling belajar, dan saling menguatkan, maka terbuka jalan menuju sesuatu yang lebih besar:
Equilibrium Peradaban.
Sebuah kehidupan yang tidak hanya mengejar kemajuan, tetapi mampu menjaga keseimbangan.
Tidak hanya membangun kekayaan, tetapi juga membangun martabat.
Tidak hanya memperkuat individu, tetapi juga memperkuat masyarakat.
Tidak hanya menguasai bumi, tetapi juga merawatnya.
Dan tidak hanya bertanya tentang apa yang dapat dibangun manusia, tetapi juga tentang manusia seperti apa yang sedang dibangun oleh peradaban itu sendiri.(ppmindonesia)





























