JAKARTA.PPMIndonesia.com-Ada sebuah pertanyaan penting dalam pembangunan masyarakat:
Kita sering memisahkan ketiganya.
Nilai ditempatkan di ruang moral dan keagamaan. Sosial ditempatkan di ruang kemasyarakatan. Ekonomi ditempatkan di ruang produksi, perdagangan, pendapatan, dan kesejahteraan.
Padahal dalam kehidupan nyata, ketiganya tidak pernah benar-benar terpisah.
Cara seseorang memperoleh penghasilan berkaitan dengan nilai yang diyakininya. Cara masyarakat membangun kerja sama berkaitan dengan tingkat kepercayaan sosial. Sebaliknya, kekuatan ekonomi dapat menentukan apakah nilai dan kehidupan sosial mampu bertahan atau justru mengalami tekanan.
Karena itu, pembangunan masyarakat tidak cukup hanya bertanya:
“Berapa besar pertumbuhan ekonomi?”
Tetapi juga perlu bertanya:
“Nilai apa yang mengarahkan ekonomi? Hubungan sosial seperti apa yang menopangnya? Dan kehidupan seperti apa yang dihasilkan oleh keduanya?”
Di sinilah gagasan Qaryah Thayyibah menemukan relevansinya.
QT = N + S + E: Bukan Penjumlahan, tetapi Integrasi
Dalam kerangka Qaryah Thayyibah, kehidupan masyarakat dapat dibaca melalui tiga unsur utama:
N + S + E
N = Nilai
S = Sosial
E = Ekonomi
Namun tanda “+” di antara ketiganya tidak dimaksudkan sebagai penjumlahan matematis.
Ia adalah tanda hubungan, interaksi, integrasi, dan transformasi.
Nilai memberikan arah.
Sosial membangun hubungan, kepercayaan, gotong royong, dan kelembagaan.
Ekonomi menyediakan daya hidup, sumber penghidupan, produktivitas, dan kemampuan memenuhi kebutuhan.
Ketiganya saling memengaruhi.
Nilai tanpa kekuatan sosial mudah berhenti sebagai gagasan.
Kekuatan sosial tanpa kemampuan ekonomi dapat mengalami keterbatasan dalam mempertahankan kehidupan masyarakat.
Ekonomi tanpa nilai dan solidaritas sosial dapat berubah menjadi sekadar pengejaran keuntungan.
Karena itu, Qaryah Thayyibah bukan sekadar masyarakat yang memiliki nilai agama, bukan sekadar masyarakat yang rukun, dan bukan pula sekadar masyarakat yang ekonominya tumbuh.
Qaryah Thayyibah adalah ketika nilai, sosial, dan ekonomi bekerja sebagai satu sistem kehidupan.
Nilai: Memberikan Arah bagi Kehidupan
Nilai merupakan kompas.
Ia menjawab pertanyaan: kehidupan seperti apa yang hendak dibangun?
Al-Qur’an memberikan prinsip yang sangat mendasar:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ
“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan.”
(QS. An-Nahl: 90)
Keadilan dan kebajikan bukan hanya persoalan ibadah individual.
Keduanya dapat menjadi prinsip dalam kehidupan sosial dan ekonomi.
Bagaimana masyarakat memperlakukan orang yang lemah?
Bagaimana keuntungan dibagi?
Bagaimana sumber daya dikelola?
Bagaimana keputusan dibuat?
Bagaimana seseorang memperoleh penghidupan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut pada akhirnya adalah pertanyaan tentang nilai.
Dengan demikian, nilai tidak boleh berhenti sebagai slogan.
Nilai harus turun menjadi perilaku, kebiasaan, aturan, kelembagaan, dan cara masyarakat mengelola kehidupan bersama.
Di sinilah nilai mulai menjadi kekuatan sosial.
Sosial: Ketika Nilai Menjadi Hubungan Antarmanusia
Nilai yang hidup akan melahirkan hubungan.
Kejujuran melahirkan kepercayaan.
Keadilan melahirkan rasa aman.
Kepedulian melahirkan solidaritas.
Gotong royong melahirkan kemampuan kolektif.
Karena itu, dimensi sosial dalam Qaryah Thayyibah bukan sekadar kegiatan berkumpul atau banyaknya aktivitas masyarakat.
Yang lebih penting adalah kualitas hubungan antarmanusia.
Apakah masyarakat saling percaya?
Apakah orang miskin mempunyai ruang untuk berpartisipasi?
Apakah warga hanya menjadi penerima bantuan atau menjadi pelaku pembangunan?
Apakah keputusan menyangkut kehidupan bersama dibuat secara partisipatif?
Apakah masyarakat memiliki kelembagaan yang mampu menyelesaikan persoalannya sendiri?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menentukan apakah masyarakat memiliki daya sosial.
Pemberdayaan karena itu bukan sekadar memberikan sesuatu kepada masyarakat.
Pemberdayaan adalah proses membangun daya.
Dari:
bantuan → pendampingan → kemampuan → kelembagaan → kemandirian.
Pada titik inilah masyarakat mulai berubah dari objek pembangunan menjadi subjek kehidupan.
Ekonomi: Memberikan Daya Hidup
Nilai dan solidaritas sosial membutuhkan basis kehidupan yang nyata.
Manusia harus makan.
Keluarga membutuhkan penghasilan.
Anak-anak membutuhkan pendidikan.
Masyarakat membutuhkan akses terhadap pelayanan dasar.
Karena itu, ekonomi bukan unsur tambahan dalam pembangunan masyarakat. Ekonomi merupakan salah satu fondasi keberlangsungan kehidupan.
Namun ekonomi dalam Qaryah Thayyibah tidak ditempatkan sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan.
Pertanyaan ekonominya bukan hanya:
“Berapa besar keuntungan?”
Tetapi juga:
“Siapa yang memperoleh manfaat?”
“Apakah masyarakat memiliki akses?”
“Apakah sumber daya ekonomi memperkuat kemandirian?”
“Apakah kegiatan ekonomi menciptakan ketergantungan atau kemampuan?”
“Apakah pertumbuhan ekonomi memperkuat atau justru merusak kehidupan sosial dan lingkungan?”
Dengan demikian, ekonomi dipahami sebagai daya hidup masyarakat, bukan sekadar angka pertumbuhan.
Ketika Ketiganya Bertemu
Di sinilah makna terdalam dari QT = N + S + E.
Bayangkan sebuah desa memiliki kelompok tani.
Jika hanya ada ekonomi, kelompok tani mungkin hanya berorientasi pada produksi dan keuntungan.
Tetapi ketika nilai hadir, muncul kesadaran tentang kejujuran, keadilan, keberlanjutan, dan tanggung jawab terhadap tanah.
Ketika unsur sosial hadir, petani membangun kelompok, berbagi pengetahuan, mengelola produksi bersama, membangun jaringan pemasaran, dan menciptakan kelembagaan.
Kemudian ekonomi menjadi lebih kuat karena produksi, distribusi, dan pemasaran tidak dilakukan secara sendiri-sendiri.
Di sini:
Nilai mengarahkan.
Sosial menghubungkan.
Ekonomi menghidupkan.
Ketiganya kemudian membentuk sistem.
Itulah Qaryah Thayyibah.
Koperasi sebagai Contoh Sistem N + S + E
Koperasi dapat menjadi contoh sederhana bagaimana ketiga unsur tersebut bertemu.
Pada dimensi nilai, koperasi membutuhkan kejujuran, keadilan, tanggung jawab, transparansi, dan kesetaraan.
Pada dimensi sosial, koperasi membutuhkan kepercayaan, partisipasi anggota, musyawarah, solidaritas, dan kelembagaan.
Pada dimensi ekonomi, koperasi harus mampu menyediakan layanan ekonomi, memperkuat usaha anggota, memperluas akses pasar, dan meningkatkan pendapatan.
Jika koperasi hanya mengejar transaksi ekonomi, ia dapat kehilangan ruh kebersamaannya.
Jika koperasi hanya berbicara tentang kebersamaan tanpa kemampuan ekonomi, ia akan sulit bertahan.
Tetapi jika nilai, sosial, dan ekonomi bekerja bersama, koperasi dapat menjadi institusi ekonomi rakyat sekaligus institusi sosial.
Di sinilah koperasi dapat menjadi salah satu bentuk konkret Qaryah Thayyibah.
Ketahanan Pangan: Dari Nilai ke Ekosistem
Contoh lainnya adalah ketahanan pangan.
Ketahanan pangan sering dipahami sebagai persoalan produksi.
Padahal ia jauh lebih luas.
Dimulai dari nilai: kesadaran bahwa pangan adalah kebutuhan dasar dan tanah adalah bagian dari kehidupan yang harus dijaga.
Kemudian sosial: warga membangun kelompok, mengelola lahan, berbagi pengetahuan, dan membangun jaringan distribusi.
Kemudian ekonomi: produksi menghasilkan pendapatan, membuka pasar, memperkuat usaha lokal, dan mengurangi ketergantungan.
Ketika ketiga unsur tersebut menyatu, program pangan tidak berhenti sebagai proyek.
Ia berkembang menjadi ekosistem pangan masyarakat.
Inilah perbedaan mendasar antara proyek dan Qaryah Thayyibah.
Proyek memiliki target.
Qaryah Thayyibah membangun sistem yang mampu terus hidup setelah proyek selesai.
Dari Program Menuju Ekosistem
Pembangunan masyarakat sering kali terjebak dalam pendekatan program.
Ada program pendidikan.
Ada program ekonomi.
Ada program sosial.
Ada program lingkungan.
Masing-masing memiliki anggaran, indikator, kegiatan, dan laporan.
Tidak ada yang salah dengan program.
Masalahnya muncul ketika program-program tersebut berjalan sendiri-sendiri.
Pendidikan tidak berhubungan dengan ekonomi.
Ekonomi tidak berhubungan dengan lingkungan.
Kegiatan sosial tidak terhubung dengan kelembagaan.
Akibatnya, masyarakat menerima banyak kegiatan tetapi belum tentu mengalami perubahan sistem kehidupan.
Qaryah Thayyibah menawarkan cara pandang yang berbeda:
bukan sekadar memperbanyak program, tetapi menghubungkan program menjadi ekosistem.
Pendidikan dapat memperkuat ekonomi.
Ekonomi dapat memperkuat kelembagaan sosial.
Kelembagaan sosial dapat menjaga nilai.
Nilai dapat mengarahkan ekonomi agar tidak merusak lingkungan.
Lingkungan yang terjaga dapat menopang kehidupan ekonomi.
Di situlah terbentuk sebuah lingkaran kehidupan yang saling menguatkan.
Dari “Aku” Menuju “Kita”
Integrasi N + S + E juga berkaitan dengan Kesadaran ABC: Aku, Bumi, Cipta.
Aku adalah kesadaran terhadap diri: siapa saya, apa potensi saya, apa tanggung jawab saya, dan untuk apa saya hidup.
Bumi adalah kesadaran bahwa manusia hidup dalam jaringan kehidupan yang lebih luas.
Cipta adalah kesadaran terhadap sumber nilai dan tanggung jawab manusia sebagai makhluk yang diberi amanah.
Kesadaran “Aku” yang matang tidak berhenti pada kepentingan diri.
Ia bergerak menuju “Kita.”
Dari Aku lahir kesadaran.
Dari kesadaran lahir tanggung jawab.
Dari tanggung jawab lahir hubungan sosial.
Dari hubungan sosial lahir kerja sama.
Dari kerja sama lahir kelembagaan.
Dari kelembagaan lahir kemampuan ekonomi bersama.
Dengan demikian, perjalanan:
ABC → Kesadaran Manusia → N + S + E → Qaryah Thayyibah
merupakan proses dari kesadaran pribadi menuju kehidupan kolektif.
Qaryah Thayyibah sebagai Living System
Pada akhirnya, Qaryah Thayyibah lebih tepat dipahami sebagai living system atau sistem kehidupan yang hidup.
Ia bukan hanya struktur.
Bukan hanya organisasi.
Bukan hanya program.
Bukan pula sekadar nama sebuah desa.
Ia adalah kehidupan masyarakat yang mampu menghubungkan:
- nilai dengan tindakan,
- tindakan dengan kebiasaan,
- kebiasaan dengan kelembagaan,
- kelembagaan dengan ekonomi,
- dan ekonomi dengan keberlanjutan kehidupan.
Karena itu, ukuran keberhasilan Qaryah Thayyibah bukan hanya berapa banyak kegiatan yang dilaksanakan.
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
- Apakah masyarakat semakin mampu mengatur kehidupannya sendiri?
- Apakah hubungan sosial semakin kuat?
- Apakah nilai semakin nyata dalam perilaku?
- Apakah ekonomi semakin mandiri?
- Apakah lingkungan semakin terjaga?
- Apakah masyarakat semakin mampu menjadi subjek perubahan?
Jika jawabannya semakin kuat, maka Qaryah Thayyibah sedang tumbuh sebagai sebuah sistem kehidupan.
Peran PPM: Membangun Jembatan, Bukan Menggantikan Masyarakat
Dalam konteks ini, PPM memiliki posisi strategis.
PPM tidak perlu mengambil alih kehidupan masyarakat.
PPM juga tidak harus menjadi pelaksana seluruh kegiatan masyarakat.
Peran PPM adalah menjadi jembatan, fasilitator, katalisator, dan penghubung.
Menghubungkan nilai dengan realitas.
Menghubungkan pengetahuan dengan pengalaman.
Menghubungkan masyarakat dengan sumber daya.
Menghubungkan potensi lokal dengan peluang ekonomi.
Menghubungkan individu dengan kelembagaan.
Dan yang paling penting, membantu masyarakat menemukan dayanya sendiri.
Karena tujuan pemberdayaan bukan membuat masyarakat terus bergantung kepada pendamping.
Tujuannya adalah agar masyarakat pada akhirnya mampu berjalan dengan kekuatannya sendiri.
Menuju Equilibrium Peradaban
Pada titik ini, Qaryah Thayyibah tidak lagi sekadar berbicara tentang desa.
Ia berbicara tentang cara membangun peradaban.
Peradaban tidak akan seimbang apabila ekonomi berkembang tetapi solidaritas sosial melemah.
Peradaban juga tidak akan seimbang apabila teknologi maju tetapi manusia kehilangan martabat.
Demikian pula, pembangunan tidak akan berkelanjutan apabila pertumbuhan ekonomi menghancurkan lingkungan.
Karena itu, equilibrium peradaban membutuhkan kehidupan yang serasi, selaras, dan harmonis.
Ekonomi memiliki daya.
Sosial memiliki ikatan.
Nilai memiliki arah.
Ketika ketiganya terintegrasi, masyarakat memiliki peluang untuk membangun kehidupan yang bukan hanya tumbuh, tetapi juga bermakna, berkeadilan, dan berkelanjutan.
Penutup: Kehidupan yang Tidak Terpecah
Barangkali tantangan terbesar pembangunan masyarakat hari ini bukan kekurangan program.
Kita memiliki banyak program.
Bukan pula kekurangan nilai.
Kita memiliki banyak ajaran dan nilai luhur.
Tantangannya adalah bagaimana semuanya bertemu dalam kehidupan nyata.
Nilai tidak berhenti sebagai wacana.
Sosial tidak berhenti sebagai kegiatan.
Ekonomi tidak berhenti sebagai transaksi.
Ketiganya harus menjadi satu sistem kehidupan.
Di sinilah Qaryah Thayyibah menemukan maknanya.
N memberi arah.
S membangun kekuatan bersama.
E memberikan daya hidup.
Dan tanda “+” di antara ketiganya adalah jembatan yang membuat semuanya saling terhubung.
Maka Qaryah Thayyibah bukan sekadar tempat tinggal yang baik.
Ia adalah cara hidup.
Sebuah ruang tempat manusia belajar menghubungkan nilai dengan tindakan, kebersamaan dengan kemandirian, dan ekonomi dengan martabat manusia.
Dari ruang kecil itulah sebuah cita-cita besar dapat dimulai:
membangun masyarakat yang tidak hanya maju secara ekonomi, tetapi juga kuat secara sosial, berakar pada nilai, dan mampu menjaga keseimbangan kehidupan.
Karena pada akhirnya, peradaban yang sehat bukanlah peradaban yang hanya mampu menghasilkan kekayaan, tetapi peradaban yang mampu mengubah kekayaan menjadi kehidupan yang lebih bermartabat bagi manusia dan lingkungannya. (ppmindonesia)





























