Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Ketakutan, Kelaparan, dan Kehilangan: Jalan Menuju Kematangan Iman

11
×

Ketakutan, Kelaparan, dan Kehilangan: Jalan Menuju Kematangan Iman

Share this article

Kajian Syahida quran bil quran. Oleh: syahida

“Dan sungguh, Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”
QS. Al-Baqarah [2]: 155

Ketika Ujian Datang kepada Orang Beriman

JAKARTA.PPMIndonesia.com- Tidak seorang pun menginginkan ketakutan, kelaparan, kehilangan harta, kehilangan orang yang dicintai, atau kegagalan dalam kehidupan. Namun Al-Qur’an mengingatkan bahwa berbagai keadaan tersebut merupakan bagian dari kenyataan hidup manusia, termasuk dalam perjalanan orang-orang yang beriman.

Allah berfirman:

أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ ۝ وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sedangkan mereka tidak diuji? Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan orang-orang yang dusta.”

QS. Al-‘Ankabut [29]: 2–3

Ayat tersebut menunjukkan bahwa pengakuan iman tidak terpisah dari kenyataan adanya ujian. Ujian menjadi salah satu keadaan yang dapat memperlihatkan bagaimana seseorang mempertahankan keyakinan dan menjalani konsekuensi dari keimanannya.

Dengan demikian, Al-Qur’an tidak menjanjikan kehidupan tanpa kesulitan bagi orang beriman. Sebaliknya, Al-Qur’an mengajarkan bagaimana manusia seharusnya menyikapi kesulitan dengan tetap berpegang pada petunjuk Allah.

Ketakutan: Ketika Masa Depan Tidak Lagi Pasti

Ketakutan merupakan salah satu pengalaman mendasar dalam kehidupan manusia.

Takut kehilangan pekerjaan, takut kehilangan keluarga, takut menghadapi penyakit, takut menghadapi ancaman, atau takut terhadap masa depan yang belum diketahui.

Al-Qur’an memasukkan ketakutan sebagai salah satu bentuk ujian:

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ

“Dan sungguh, Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan.”

QS. Al-Baqarah [2]: 155

Ayat ini menunjukkan bahwa rasa takut merupakan salah satu bentuk pengalaman yang dapat menjadi ujian bagi manusia.

Kematangan iman, dalam perspektif Al-Qur’an, bukan berarti seseorang tidak pernah merasa takut. Yang menjadi perhatian adalah bagaimana rasa takut tersebut dihadapi: apakah ia membuat manusia kehilangan arah, atau justru mendorongnya untuk semakin berhati-hati, berikhtiar, berdoa, dan bersandar kepada Allah.

Kelaparan: Ketika Kebutuhan Dasar Menjadi Ujian

Setelah ketakutan, Al-Qur’an menyebut kelaparan:

وَالْجُوعِ

“Dan kelaparan.”

QS. Al-Baqarah [2]: 155

Kelaparan dan kesulitan memenuhi kebutuhan hidup merupakan pengalaman yang berat. Dalam kehidupan sehari-hari, keadaan tersebut dapat berkaitan dengan kehilangan penghasilan, kegagalan usaha, krisis ekonomi, gagal panen, atau berbagai sebab lainnya.

Namun Al-Qur’an mengingatkan agar manusia tidak menjadikan kondisi ekonomi sebagai ukuran sederhana untuk menilai kemuliaan atau kehinaan seseorang.

Allah berfirman:

فَأَمَّا الْإِنسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ ۝ وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ ۝ كَلَّا

“Adapun manusia, apabila Tuhannya mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, dia berkata, ‘Tuhanku telah memuliakanku.’ Namun apabila Dia mengujinya lalu membatasi rezekinya, dia berkata, ‘Tuhanku telah menghinakanku.’ Sekali-kali tidak!”

QS. Al-Fajr [89]: 15–17

Kata كَلَّا (kallā) menjadi koreksi terhadap anggapan bahwa banyaknya rezeki selalu berarti kemuliaan, sedangkan sedikitnya rezeki selalu berarti kehinaan.

Dengan demikian, kelapangan dan kesempitan sama-sama perlu dihadapi dengan kesadaran kepada Allah.

Kehilangan Harta: Ketika Apa yang Dimiliki Berkurang

Al-Qur’an juga menyebut:

وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ

“Dan kekurangan harta.”

QS. Al-Baqarah [2]: 155

Kehilangan harta dapat menjadi pengalaman yang mengguncangkan. Seseorang mungkin kehilangan pekerjaan, usaha, tabungan, rumah, atau sumber penghidupan.

Al-Qur’an mengingatkan manusia tentang kedudukan harta dan kepemilikan:

وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

“Dan milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi.”

QS. Ali ‘Imran [3]: 189

Kesadaran ini dapat membantu seorang mukmin menempatkan harta secara proporsional. Apa yang berada dalam penguasaan manusia pada hakikatnya tetap berada dalam lingkup kepemilikan dan ketentuan Allah.

Karena itu, kehilangan harta tidak dengan sendirinya menjadi ukuran bahwa seseorang telah kehilangan kemuliaan di sisi Allah.

Kehilangan Jiwa: Ketika Kesedihan Menjadi Sangat Dalam

Bagian berikutnya dari QS. Al-Baqarah [2]: 155 adalah:

وَالْأَنفُسِ

“Dan jiwa-jiwa.”

Kehilangan orang yang dicintai merupakan salah satu pengalaman yang sangat berat.

Al-Qur’an menggambarkan kesedihan Nabi Ya’qub ketika berpisah dengan Yusuf:

وَتَوَلَّىٰ عَنْهُمْ وَقَالَ يَا أَسَفَىٰ عَلَىٰ يُوسُفَ وَابْيَضَّتْ عَيْنَاهُ مِنَ الْحُزْنِ فَهُوَ كَظِيمٌ

“Dan dia berpaling dari mereka seraya berkata, ‘Alangkah sedihnya aku terhadap Yusuf.’ Kedua matanya menjadi putih karena kesedihan, dan dia menahan perasaannya.”

QS. Yusuf [12]: 84

Ayat ini memberikan gambaran penting tentang hubungan antara iman dan kesedihan.

Kesabaran tidak harus dipahami sebagai ketiadaan rasa sedih. Nabi Ya’qub sendiri mengalami kesedihan yang mendalam.

Namun kesedihan tersebut tidak membuatnya berhenti berharap kepada Allah.

Beliau berkata:

إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ

“Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.”

QS. Yusuf [12]: 86

Dengan demikian, Al-Qur’an memberikan ruang bagi kesedihan manusia, sekaligus mengarahkan tempat pengaduan dan pengharapannya kepada Allah.

Kehilangan Hasil: Ketika Kerja Keras Belum Berbuah

Al-Qur’an juga menyebut:

وَالثَّمَرَاتِ

“Dan buah-buahan.”

QS. Al-Baqarah [2]: 155

Dalam konteks masyarakat agraris, kehilangan hasil tanaman dapat berarti hilangnya sumber penghidupan.

Dalam konteks kehidupan sekarang, hal itu dapat direnungkan melalui berbagai pengalaman ketika hasil usaha tidak sesuai harapan: usaha yang gagal, pekerjaan yang tidak menghasilkan, rencana yang tertunda, atau cita-cita yang belum tercapai.

Al-Qur’an mengingatkan:

وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ۝ وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَىٰ

“Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya, dan sesungguhnya usahanya itu kelak akan diperlihatkan.”

QS. An-Najm [53]: 39–40

Ayat ini dapat menjadi pengingat bahwa manusia bertanggung jawab atas ikhtiarnya. Adapun hasil akhir kehidupan tidak selalu berada dalam kendali manusia.

Karena itu, kegagalan memperoleh hasil yang diharapkan tidak selalu berarti seluruh usaha menjadi sia-sia.

Apa yang Dapat Kita Pelajari dari Ujian?

Al-Qur’an tidak selalu menjelaskan satu alasan tunggal di balik setiap peristiwa yang dialami seseorang. Karena itu, kita perlu berhati-hati ketika menyimpulkan maksud Allah dari sebuah musibah tertentu.

Namun, Al-Qur’an memberikan sejumlah prinsip yang dapat menjadi pedoman dalam menyikapi ujian.

Pertama, ujian dapat memperlihatkan kualitas iman

Allah berfirman:

وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا

“Dan agar Allah mengetahui orang-orang yang beriman.”QS. Ali ‘Imran [3]: 140

Ujian dapat memperlihatkan bagaimana seseorang mempertahankan iman ketika berada dalam keadaan yang tidak mudah.

Kedua, kesulitan dapat menjadi momentum untuk kembali kepada Allah

Allah berfirman:

فَأَخَذْنَاهُم بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُونَ

“Lalu Kami timpakan kepada mereka kesengsaraan dan penderitaan agar mereka merendahkan diri.”

QS. Al-An‘am [6]: 42

Ayat ini menunjukkan bahwa dalam keadaan tertentu, kesulitan dapat menjadi kesempatan bagi manusia untuk menyadari keterbatasannya dan kembali merendahkan diri di hadapan Allah.

Ketiga, ujian dapat menjadi jalan menuju kesabaran dan petunjuk

Allah berfirman:

وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”

QS. Al-Baqarah [2]: 155

Kemudian Allah menjelaskan:

أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

“Mereka itulah yang memperoleh keberkahan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”

QS. Al-Baqarah [2]: 157

Ayat ini memperlihatkan bahwa respons manusia terhadap ujian sangat penting. Kesabaran yang dibangun di atas kesadaran kepada Allah dapat menjadi jalan menuju rahmat dan petunjuk-Nya.

Kematangan Iman Bukan Berarti Bebas dari Ujian

Dari rangkaian ayat tersebut, kita dapat melihat bahwa kematangan iman tidak harus diukur dari seberapa mudah kehidupan seseorang.

Seorang yang matang secara iman bukan berarti seseorang yang tidak pernah takut, tidak pernah sedih, tidak pernah kehilangan, atau tidak pernah mengalami kesulitan ekonomi.

Al-Qur’an justru memperlihatkan bahwa para nabi dan orang-orang saleh juga mengalami berbagai keadaan tersebut.

Yang menjadi perhatian adalah bagaimana manusia merespons keadaan itu.

Ketika takut, ia tetap berusaha mencari jalan yang benar.

Ketika rezeki sempit, ia tidak menjadikan kesulitan sebagai alasan untuk mengambil jalan yang haram.

Ketika kehilangan, ia tetap menyadari bahwa kehidupan dan segala yang dimilikinya berada dalam kepemilikan Allah.

Ketika bersedih, ia tidak dilarang untuk menangis, tetapi tetap menjaga harapan kepada Allah.

Membaca Ujian dengan Cahaya Wahyu

Ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, kehilangan orang yang dicintai, dan kegagalan memperoleh hasil merupakan bagian dari kenyataan hidup manusia.

Al-Qur’an tidak mengajarkan kita untuk menganggap setiap kesulitan pasti merupakan hukuman Allah. Sebaliknya, Al-Qur’an mengajarkan kehati-hatian dalam menilai sebuah peristiwa sekaligus mengarahkan manusia kepada sikap yang benar ketika menghadapinya.

Kita mungkin tidak selalu mengetahui mengapa sebuah ujian terjadi.

Tetapi kita dapat memilih bagaimana menghadapinya.

Kita dapat memilih untuk tetap jujur ketika terdesak, tetap sabar ketika kehilangan, tetap berikhtiar ketika gagal, dan tetap berharap kepada Allah ketika jalan terasa sempit.

Allah berfirman:

مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَن يُؤْمِن بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa kecuali dengan izin Allah. Dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Dia memberi petunjuk kepada hatinya.”

QS. At-Taghabun [64]: 11

Ayat ini memberikan perspektif yang menenangkan: ketika musibah datang, orang beriman diarahkan bukan untuk mengklaim mengetahui seluruh rahasia di balik peristiwa tersebut, melainkan untuk membuka hati kepada petunjuk Allah.

Maka ketakutan dapat menjadi ruang untuk belajar bertawakal.

Kesempitan dapat menjadi kesempatan untuk memperkuat kesabaran.

Kehilangan dapat menjadi momentum untuk menyadari keterbatasan manusia.

Dan kesedihan dapat menjadi jalan untuk kembali mengadu kepada Allah.

Bukan karena setiap musibah pasti memiliki satu makna yang dapat kita pastikan, tetapi karena Al-Qur’an memberikan cara yang benar untuk menjalani keadaan yang tidak selalu dapat kita pahami.

Di situlah kematangan iman tumbuh: bukan ketika hidup selalu mudah, melainkan ketika dalam keadaan sulit pun manusia tetap berusaha berjalan di bawah petunjuk Allah.

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ۝ إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”QS. Asy-Syarh [94]: 5–6

Wallāhu a‘lam bish-shawāb. (syahida)

 

Example 120x600