Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Apakah Agama Harus Melawan Akal?

4
×

Apakah Agama Harus Melawan Akal?

Share this article

Kajian Syahida quran bil quran. Oleh: syahida

Ketika keyakinan dianggap harus diterima tanpa pertanyaan, kita perlu kembali membaca bagaimana Al-Qur’an mengajak manusia berpikir, merenung, memeriksa, dan memahami petunjuk Allah.

JAKARTA.PPMIndonesia.com- Ada sebuah pertanyaan yang layak direnungkan setiap orang beragama: apakah semakin kuat iman seseorang, semakin sedikit ia harus menggunakan akalnya? Apakah menerima ajaran agama berarti harus menghentikan pertanyaan ketika berhadapan dengan sesuatu yang terasa tidak masuk akal?

Pertanyaan ini bukan sekadar perdebatan antara kelompok yang disebut tradisional dan kelompok yang disebut liberal. Persoalannya lebih mendasar: bagaimana Al-Qur’an memosisikan akal dalam perjalanan manusia menemukan kebenaran?

Dalam kehidupan beragama, seseorang terkadang dihadapkan pada penjelasan yang dianggap wajib diterima hanya karena disampaikan oleh tokoh yang dihormati, diwariskan turun-temurun, atau dinyatakan sebagai bagian dari ajaran agama. Ketika penjelasan tersebut menimbulkan pertanyaan, sebagian orang merasa bahwa mempertanyakannya sama dengan meragukan agama.

Padahal, sebelum menetapkan bahwa akal dan agama saling bertentangan, kita perlu bertanya: benarkah pertentangan itu berasal dari wahyu, atau justru muncul dari cara manusia memahami dan menyampaikan ajaran?

Melalui pendekatan Al-Qur’an Bil Al-Qur’an, Kajian Syahida mengajak pembaca menelusuri ayat-ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang akal, pengetahuan, bukti, dan sikap manusia terhadap kebenaran.

Al-Qur’an Berulang Kali Mengajak Manusia Berpikir

Jika akal dianggap sebagai musuh agama, bagaimana kita memahami banyaknya seruan Al-Qur’an agar manusia berpikir dan mengambil pelajaran?

Allah berfirman:

أَفَلَا تَعْقِلُونَ

“Maka apakah kamu tidak mengerti?” (QS Al-Baqarah [2]: 44, penggalan ayat)

Ungkapan tersebut bukan satu-satunya seruan Al-Qur’an kepada manusia agar menggunakan akalnya. Dalam sejumlah ayat, Al-Qur’an mengajukan pertanyaan yang menggugah kesadaran, mengajak manusia memperhatikan tanda-tanda kebesaran Allah, dan mengevaluasi keyakinan yang mereka pegang.

Allah juga berfirman:

إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

“Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mengerti.” (QS Ar-Ra‘d [13]: 4, penggalan ayat)

Ayat tersebut memperlihatkan hubungan antara tanda-tanda Allah dan kemampuan manusia untuk memahami. Tanda-tanda itu tidak sekadar hadir untuk dilihat, tetapi juga direnungkan dan dipahami.

Dengan demikian, penggunaan akal bukanlah kegiatan yang dengan sendirinya bertentangan dengan iman. Dalam banyak bagian Al-Qur’an, berpikir justru menjadi jalan untuk mengenali tanda-tanda kebesaran Allah.

Wahyu Tidak Memerintahkan Manusia Mengikuti Tanpa Pengetahuan

Al-Qur’an memberikan peringatan tegas agar manusia tidak mengikuti sesuatu tanpa dasar pengetahuan.

Allah berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak engkau ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS Al-Isra’ [17]: 36)

Ayat ini menempatkan pengetahuan dan tanggung jawab pribadi sebagai perkara penting. Manusia tidak cukup hanya mendengar suatu pernyataan, lalu mengikutinya tanpa pertimbangan.

Pendengaran, penglihatan, dan hati disebut sebagai hal-hal yang akan dimintai pertanggungjawaban. Pesan ini mengajak manusia bersikap hati-hati terhadap informasi, klaim, dan penafsiran yang diterimanya.

Dalam konteks kehidupan beragama, prinsip tersebut relevan ketika seseorang mendengar penjelasan tentang ayat, riwayat, hukum, atau keyakinan tertentu. Ia perlu mengetahui sumbernya, memahami konteksnya, dan menimbang bagaimana penjelasan itu berhubungan dengan keseluruhan petunjuk Al-Qur’an.

Namun, ayat ini juga tidak boleh digunakan sebagai alasan untuk menolak setiap pendapat yang belum langsung dipahami. Sikap yang dituntut adalah mencari pengetahuan, bukan menganggap ketidaktahuan sebagai bukti bahwa suatu ajaran pasti salah.

Jangan Menyamakan Kebenaran dengan Kebiasaan Turun-Temurun

Salah satu tantangan dalam memahami agama adalah kecenderungan menganggap sesuatu benar hanya karena telah lama dilakukan oleh orang-orang sebelum kita.

Al-Qur’an menggambarkan sikap tersebut melalui firman Allah:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ۗ أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ

“Apabila dikatakan kepada mereka, ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,’ mereka menjawab, ‘Tidak! Kami mengikuti apa yang kami dapati pada nenek moyang kami.’ Apakah mereka tetap mengikuti mereka, sekalipun nenek moyang mereka tidak memahami sesuatu apa pun dan tidak mendapat petunjuk?” (QS Al-Baqarah [2]: 170)

Ayat ini mengkritik sikap yang menjadikan tradisi sebagai alasan terakhir untuk mempertahankan keyakinan. Sesuatu tidak otomatis benar hanya karena diwariskan oleh generasi sebelumnya.

Tentu saja, tidak semua tradisi keliru dan tidak semua pendapat terdahulu harus ditolak. Pengetahuan generasi sebelumnya dapat menjadi sumber pelajaran yang berharga. Akan tetapi, warisan tersebut tetap perlu dipahami dan dinilai berdasarkan kebenaran, bukan diterima semata-mata karena asal-usulnya.

Prinsip ini juga berlaku bagi siapa pun yang berbicara atas nama agama. Gelar, kedudukan, popularitas, dan banyaknya pengikut tidak dengan sendirinya menjadi bukti bahwa setiap pernyataannya pasti benar.

Pertanyaan yang lebih penting bukan hanya siapa yang berbicara, melainkan apa dasar pernyataannya dan apakah penjelasannya dapat dipertanggungjawabkan.

Al-Qur’an Mengajarkan Tabayyun, Bukan Ketergesa-gesaan

Penggunaan akal juga berkaitan erat dengan sikap memeriksa informasi. Al-Qur’an tidak mengajarkan manusia menerima setiap kabar secara serampangan.

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman, jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan yang akhirnya membuat kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS Al-Hujurat [49]: 6)

Ayat ini menegaskan pentingnya tabayyun, yakni memeriksa kebenaran berita sebelum mengambil tindakan. Walaupun konteks langsung ayat tersebut berbicara tentang berita yang dibawa orang fasik, prinsip kehati-hatian dalam menerima informasi juga penting ketika manusia menilai klaim-klaim yang beredar di masyarakat.

Dalam urusan agama, tabayyun dapat diwujudkan dengan menelusuri sumber pernyataan, memeriksa ketepatan kutipan, memahami konteks ayat, dan membedakan antara bunyi wahyu dengan penafsiran manusia terhadap wahyu.

Bersikap kritis bukan berarti selalu menolak. Memeriksa bukan berarti mencurigai semua orang. Justru, pemeriksaan yang jujur membantu seseorang menghindari kesimpulan yang keliru dan tuduhan yang tidak berdasar.

Bagaimana Jika Sebuah Penjelasan Terasa Bertentangan dengan Akal?

Di sinilah persoalan utama muncul. Seseorang mendengar penjelasan agama yang menurutnya sulit diterima secara rasional. Apa yang seharusnya dilakukan?

Pertama, ia perlu memastikan apakah yang sedang dipersoalkan benar-benar bunyi ayat Al-Qur’an atau justru penafsiran, terjemahan, riwayat, maupun penjelasan seseorang.

Kedua, ia perlu memeriksa konteks dan hubungan ayat tersebut dengan ayat-ayat lain. Dalam pendekatan Al-Qur’an Bil Al-Qur’an, satu ayat tidak dibaca secara terpisah dari keseluruhan pesan Al-Qur’an. Ayat-ayat yang membahas tema serupa dipertemukan agar makna yang lebih utuh dapat dipahami.

Ketiga, ia perlu membedakan antara sesuatu yang belum dipahami dan sesuatu yang telah terbukti keliru. Keterbatasan pengetahuan manusia tidak serta-merta membuktikan bahwa suatu hal salah. Sebaliknya, sebuah pernyataan juga tidak otomatis benar hanya karena diklaim sebagai ajaran agama.

Al-Qur’an sendiri mengingatkan manusia bahwa pengetahuannya terbatas.

Allah berfirman:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ ۖ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

“Mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah, ‘Roh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kamu tidak diberi pengetahuan kecuali sedikit.’” (QS Al-Isra’ [17]: 85)

Ayat ini mengajarkan kerendahan hati intelektual. Ada hal-hal yang belum diketahui manusia secara memadai. Mengakui keterbatasan pengetahuan bukanlah kekalahan akal, melainkan bagian dari kejujuran dalam mencari kebenaran.

Karena itu, ada perbedaan antara mengatakan, “Saya belum memahami persoalan ini,” dan mengatakan, “Persoalan ini pasti benar karena saya diperintahkan untuk tidak bertanya.” Pernyataan pertama membuka ruang untuk belajar, sedangkan yang kedua dapat menutup pintu pemeriksaan.

Al-Qur’an Mengajak Manusia Mendengar dan Memilih yang Terbaik

Al-Qur’an tidak hanya mendorong manusia mendengar, tetapi juga memberikan perhatian kepada mereka yang menggunakan pertimbangan untuk memilih yang terbaik.

Allah berfirman:

الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ ۚ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ

“(Yaitu) mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal sehat.” (QS Az-Zumar [39]: 18)

Ayat ini memberikan gambaran tentang sikap orang yang menggunakan akal sehat: mendengarkan, mempertimbangkan, dan mengikuti yang terbaik.

Pesan tersebut tidak sejalan dengan sikap yang mengharuskan seseorang menutup telinga terhadap pertanyaan hanya karena sebuah pendapat berasal dari pihak yang berpengaruh. Namun, ayat ini juga bukan pembenaran untuk memilih ajaran semata-mata berdasarkan selera pribadi.

Memilih yang terbaik menuntut ukuran yang dapat dipertanggungjawabkan. Dalam kerangka Kajian Syahida, Al-Qur’an menjadi rujukan utama untuk menimbang pesan-pesan yang dikaitkan dengan agama, sementara akal digunakan untuk membaca, memahami, membandingkan, dan mengambil pelajaran dari petunjuk tersebut.

Apakah Akal Boleh Menjadi Penguasa Mutlak?

Jika akal tidak boleh dimatikan, apakah berarti akal manusia harus menjadi ukuran mutlak bagi segala sesuatu?

Tidak demikian. Akal manusia memiliki keterbatasan. Pengetahuan dapat berkembang, penilaian dapat keliru, dan kesimpulan seseorang dapat dipengaruhi oleh prasangka, kepentingan, atau emosi.

Karena itu, persoalannya bukan memilih antara akal dan wahyu seolah-olah keduanya harus selalu bermusuhan. Persoalannya adalah bagaimana manusia menggunakan akalnya secara jujur untuk memahami wahyu, sekaligus mengakui batas-batas pengetahuannya.

Dalam pendekatan Qur’an Bil Al-Qur’an, manusia tidak menjadikan pendapat pribadinya sebagai pengganti petunjuk Allah. Ia juga tidak menjadikan pendapat manusia lain kebal dari pemeriksaan hanya karena pendapat tersebut telah lama beredar.

Akal berperan untuk memahami dan menimbang. Wahyu menjadi petunjuk bagi kehidupan manusia. Adapun penafsiran terhadap wahyu tetap merupakan pekerjaan manusia yang membutuhkan ketelitian, keterbukaan terhadap bukti, dan kesediaan memperbaiki kekeliruan.

Dengan demikian, menggunakan akal tidak identik dengan menolak wahyu. Sebaliknya, mengatasnamakan wahyu juga tidak otomatis membuat setiap penjelasan manusia menjadi benar.

Menguji Keyakinan dengan Keseluruhan Petunjuk Al-Qur’an

Al-Qur’an menyebut dirinya sebagai petunjuk dan pembeda. Allah berfirman:

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَىٰ عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا

“Mahasuci Allah yang telah menurunkan Furqan (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (QS Al-Furqan [25]: 1)

Kata Al-Furqan berkaitan dengan fungsi membedakan. Dalam kehidupan beragama, manusia membutuhkan kemampuan membedakan antara wahyu dan tafsir, antara fakta dan dugaan, antara bukti dan klaim, serta antara kebenaran dan kebiasaan yang sekadar diwariskan.

Dalam metode Al-Qur’an Bil Al-Qur’an, ayat-ayat yang berkaitan dengan suatu tema dibaca bersama. Penafsiran tidak hanya bertumpu pada satu penggalan kalimat, tetapi mempertimbangkan konteks dan pesan Al-Qur’an secara menyeluruh.

Pendekatan ini menuntut kehati-hatian. Tidak cukup mengambil satu ayat untuk mengukuhkan pendapat yang telah disukai sejak awal. Ayat-ayat lain yang relevan juga perlu diperiksa, termasuk yang mungkin menantang pemahaman kita sendiri.

Dengan cara itu, membaca Al-Qur’an menjadi proses pencarian yang terus-menerus, bukan sekadar mencari pembenaran atas keyakinan yang sudah dimiliki.

Agama Tidak Perlu Takut pada Pertanyaan yang Jujur

Mengapa sebagian orang merasa takut ketika ajaran agama dipertanyakan? Salah satu sebabnya mungkin karena pertanyaan dianggap sebagai ancaman terhadap kewibawaan tokoh, tradisi, atau pemahaman yang telah mapan.

Namun, pertanyaan yang diajukan dengan niat mencari kebenaran berbeda dari pertanyaan yang sengaja digunakan untuk merendahkan atau memperolok keyakinan. Niat, cara, dan kesungguhan dalam memeriksa persoalan tetap penting.

Al-Qur’an mengajak manusia berpikir, memeriksa berita, tidak mengikuti sesuatu tanpa pengetahuan, dan mendengarkan perkataan dengan mempertimbangkan yang terbaik. Prinsip-prinsip ini memberikan ruang bagi pencarian yang bertanggung jawab.

Karena itu, seseorang tidak seharusnya dipaksa memilih antara dua sikap ekstrem: menerima seluruh klaim tanpa pemeriksaan atau menolak seluruh warisan keagamaan tanpa kajian. Ia dapat bersikap terbuka sekaligus kritis, menghormati tradisi sekaligus memeriksanya, serta mengakui keterbatasan dirinya tanpa mematikan daya pikir.

Penutup: Iman, Akal, dan Kejujuran Mencari Kebenaran

Apakah agama harus melawan akal?

Jika yang dimaksud adalah petunjuk Allah sebagaimana dipahami melalui keseluruhan pesan Al-Qur’an, maka kita perlu berhati-hati sebelum menyimpulkan bahwa iman menuntut manusia mematikan kemampuan berpikirnya. Al-Qur’an justru berkali-kali mengajak manusia menggunakan akal, mencari pengetahuan, memeriksa berita, dan mengambil pelajaran.

Tetapi akal juga tidak boleh berubah menjadi alasan untuk menganggap semua yang belum dipahami pasti salah atau menjadikan selera pribadi sebagai penentu kebenaran.

Melalui Kajian Syahida: Al-Qur’an Bil Al-Qur’an, kita diajak menempuh jalan pencarian yang bertanggung jawab: membaca wahyu dengan sungguh-sungguh, menghubungkan ayat dengan ayat, memeriksa penafsiran manusia, dan bersedia mengoreksi kesimpulan ketika ditemukan dasar yang lebih kuat.

Iman bukanlah alasan untuk berhenti berpikir. Berpikir pun bukan alasan untuk menolak segala sesuatu secara tergesa-gesa.

Dari taklid menuju pemahaman. Dari prasangka menuju pemeriksaan. Dari fanatisme menuju pencarian yang jujur. Dan dari sekadar mengikuti perkataan manusia menuju usaha memahami petunjuk Allah dengan akal yang bertanggung jawab.(syahida)

Example 120x600