Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Ketika Kitab Suci Diperlakukan Sebagai Misteri

6
×

Ketika Kitab Suci Diperlakukan Sebagai Misteri

Share this article

Kajian Syahida Quran Bil Quran, Oleh: Syahida

Mengembalikan Al-Qur’an sebagai Petunjuk yang Terbuka untuk Dibaca, Dipahami, dan Diamalkan

PPMIndonesia| KAJIAN SYAHIDA — QUR’AN BIL QUR’AN


JAKARTA.PPMIndonesia.com– Ada sebuah paradoks dalam kehidupan umat Islam. Al-Qur’an diyakini sebagai petunjuk bagi manusia, dibaca setiap hari, dihafalkan, dilombakan, bahkan dimuliakan dalam berbagai kesempatan. Namun, tidak sedikit orang yang justru merasa bahwa memahami pesan Al-Qur’an secara langsung merupakan sesuatu yang sulit, berbahaya, atau bahkan tidak pantas dilakukan tanpa perantaraan otoritas tertentu.

Akibatnya, kitab suci yang semestinya menjadi sumber petunjuk kehidupan terkadang diperlakukan seperti sebuah misteri. Ia dihormati, tetapi pesannya tidak selalu dipahami. Ia dibaca, tetapi belum tentu menjadi dasar dalam mengambil keputusan. Ia berada di tengah kehidupan umat, tetapi maknanya seolah berada jauh di luar jangkauan pembacanya.

Pertanyaannya: benarkah Al-Qur’an diturunkan untuk menjadi kitab yang misterius? Apakah manusia diperintahkan hanya membacanya tanpa berusaha memahami pesan yang terkandung di dalamnya?

Kajian Syahida melalui pendekatan Qur’an bil Qur’an mengajak kita menelusuri jawaban itu dengan mempertemukan ayat-ayat Al-Qur’an sendiri.

Al-Qur’an Menyebut Dirinya sebagai Petunjuk

Al-Qur’an secara tegas menjelaskan tujuan kehadirannya. Kitab ini bukan diturunkan untuk membuat manusia semakin bingung, melainkan untuk memberikan petunjuk.

Allah berfirman:

QS Al-Baqarah [2]: 185

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ

“Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia, penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu, dan pembeda (antara yang benar dan yang batil).”

Ada tiga ungkapan penting dalam ayat ini: hudan linnas (petunjuk bagi manusia), bayyinat minal huda (penjelasan-penjelasan tentang petunjuk), dan al-furqan (pembeda).

Ketiganya menunjukkan bahwa Al-Qur’an memiliki fungsi yang sangat jelas. Ia memberi arah, menjelaskan jalan, dan membantu manusia membedakan kebenaran dari kebatilan.

Jika Al-Qur’an adalah petunjuk bagi manusia, tentu manusia tidak dimaksudkan untuk selamanya berada dalam ketidaktahuan terhadap pesan kitab tersebut.

Mengapa Al-Qur’an Justru Terasa Sulit Dipahami?

Kesulitan memahami Al-Qur’an tidak selalu berasal dari teksnya. Ada kalanya kesulitan itu tumbuh dari cara kita membangun hubungan dengan kitab suci.

Kita mungkin lebih terbiasa mendengar penjelasan tentang Al-Qur’an daripada membaca, memikirkan, dan menghubungkan ayat-ayatnya sendiri. Kita mengenal banyak pendapat tentang suatu ayat, tetapi belum tentu pernah menelusuri bagaimana ayat lain menjelaskan persoalan yang sama.

Dalam keadaan seperti itu, pengetahuan tentang Al-Qur’an dapat berkembang menjadi pengetahuan tentang pendapat manusia mengenai Al-Qur’an.

Tentu, ilmu tafsir, hadis, bahasa Arab, sejarah pewahyuan, dan khazanah keilmuan Islam memiliki peran penting. Semua itu dapat membantu pembaca memahami konteks dan kedalaman pesan kitab suci. Namun, bantuan keilmuan tidak seharusnya menggantikan hubungan langsung manusia dengan Al-Qur’an.

Persoalannya bukan memilih antara membaca sendiri atau belajar kepada orang yang berilmu. Keduanya dapat berjalan bersama. Yang perlu dihindari adalah anggapan bahwa pembaca biasa tidak memiliki tanggung jawab untuk berusaha memahami petunjuk yang ditujukan kepadanya.

Al-Qur’an Justru Mempertanyakan Mengapa Manusia Tidak Merenungkannya

Salah satu ayat yang sangat penting dalam pembahasan ini adalah seruan untuk melakukan perenungan terhadap Al-Qur’an.

QS Muhammad [47]: 24

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

“Maka tidakkah mereka merenungkan Al-Qur’an, ataukah hati mereka sudah terkunci?”

Ayat ini bukan sekadar mengajak manusia membaca. Kata yatadabbarun mengandung makna merenungkan secara mendalam, memperhatikan hubungan makna, dan memikirkan konsekuensi pesan yang dibaca.

Dengan demikian, membaca Al-Qur’an tidak berhenti pada pelafalan. Ada tanggung jawab untuk melakukan tadabur.

Pertanyaan Al-Qur’an dalam ayat tersebut sangat mendasar: mengapa manusia tidak merenungkan kitab yang telah diturunkan sebagai petunjuk?

Jika perenungan merupakan perintah, maka upaya memahami Al-Qur’an bukanlah tindakan yang harus ditakuti. Justru, meninggalkan perenungan patut menjadi bahan introspeksi.

Al-Qur’an Menjelaskan Dirinya dengan Berbagai Cara

Pendekatan Qur’an bil Qur’an bertolak dari keyakinan bahwa ayat-ayat Al-Qur’an tidak berdiri sendiri. Sebuah tema dapat dijelaskan, diperinci, diperkuat, atau diberi batasan melalui ayat lain.

Al-Qur’an sendiri menyatakan bahwa Allah telah menjelaskan berbagai perumpamaan dan tanda dalam kitab-Nya.

QS Al-Isra’ [17]: 89

وَلَقَدْ صَرَّفْنَا لِلنَّاسِ فِي هَٰذَا الْقُرْآنِ مِنْ كُلِّ مَثَلٍ فَأَبَىٰ أَكْثَرُ النَّاسِ إِلَّا كُفُورًا

“Dan sungguh, dalam Al-Qur’an ini Kami telah menjelaskan berulang-ulang kepada manusia dengan bermacam-macam perumpamaan, tetapi kebanyakan manusia tidak menyukainya, bahkan mengingkari.”

Perhatikan ungkapan sharrafna linnasi fi hadzal-Qur’an min kulli matsal. Al-Qur’an menyebut adanya penjelasan dengan berbagai perumpamaan dan cara penyampaian.

Hal ini memberi dasar penting bagi pembacaan lintas ayat. Ketika kita menemukan satu istilah, jangan tergesa-gesa menetapkan maknanya hanya berdasarkan satu potongan ayat. Telusuri ayat lain yang menggunakan istilah serupa, membicarakan tema yang sama, atau menjelaskan akibat dari suatu tindakan.

Dengan cara itu, pemahaman tidak dibangun dari satu ayat yang dilepaskan dari keseluruhan pesan kitab.

Jangan Mengikuti Sesuatu yang Tidak Diketahui

Salah satu penghalang pemahaman adalah kebiasaan menerima sesuatu tanpa memeriksa dasar pengetahuannya.

Al-Qur’an memberikan prinsip yang sangat tegas:

QS Al-Isra’ [17]: 36

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Dan janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak engkau ketahui. Karena sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.”

Ayat ini meletakkan tanggung jawab pengetahuan pada setiap manusia. Pendengaran, penglihatan, dan hati bukan sekadar perangkat untuk menerima informasi, melainkan amanah yang akan dipertanggungjawabkan.

Prinsip ini juga relevan dalam kehidupan beragama. Kita tidak cukup hanya mengatakan, “Saya mengikuti karena sejak dahulu diajarkan demikian.” Kita perlu bertanya: apa dasar ajarannya? Bagaimana hubungan pendapat itu dengan ayat-ayat Al-Qur’an? Apakah pemahaman tersebut sejalan dengan keseluruhan pesan kitab?

Mengajukan pertanyaan bukan berarti merendahkan ulama atau menolak tradisi keilmuan. Justru, sikap kritis yang bertanggung jawab merupakan bagian dari kesungguhan mencari ilmu.

Mengikuti Warisan Bukan Pengganti Kewajiban Berpikir

Al-Qur’an juga mengkritik sikap yang menjadikan kebiasaan nenek moyang sebagai alasan untuk tidak menggunakan akal.

QS Al-Baqarah [2]: 170

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ۗ أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ

“Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,’ mereka menjawab, ‘Tidak! Kami mengikuti apa yang kami dapati pada nenek moyang kami.’ Apakah mereka akan mengikuti juga, walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa pun dan tidak mendapat petunjuk?”

Ayat ini mengingatkan bahwa warisan tidak otomatis menjadi kebenaran hanya karena telah berlangsung lama.

Tradisi dapat menyimpan kebijaksanaan. Para ulama dapat mewariskan ilmu yang sangat berharga. Namun, setiap generasi tetap memiliki tanggung jawab untuk memahami petunjuk Allah dan tidak menjadikan kebiasaan sebagai pengganti kebenaran.

Dalam konteks ini, Al-Qur’an tidak mengajak manusia memutus hubungan dengan sejarah keilmuan. Al-Qur’an mengajak manusia agar tidak kehilangan kemampuan menilai dan mempertanggungjawabkan keyakinannya.

Kitab Suci Harus Dibaca untuk Menjadi Pedoman Kehidupan

Al-Qur’an bukan sekadar bacaan yang disimpan, dipajang, atau dilantunkan dalam kegiatan seremonial. Ia diturunkan agar menjadi pedoman yang diikuti.

Allah berfirman:

QS Al-An’am [6]: 155

وَهَٰذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Dan ini adalah Kitab (Al-Qur’an) yang Kami turunkan dengan penuh berkah. Maka ikutilah ia dan bertakwalah agar kamu mendapat rahmat.”

Ayat ini menyebut dua hal secara berurutan: fattabi‘uhu (ikutilah ia) dan wattaqu (bertakwalah).

Mengikuti Al-Qur’an berarti membawa petunjuknya ke dalam kehidupan. Kejujuran dalam perdagangan, keadilan dalam kepemimpinan, kepedulian terhadap orang lemah, tanggung jawab terhadap lingkungan, serta upaya membangun kesejahteraan merupakan bagian dari ruang aktualisasi nilai-nilai Al-Qur’an.

Dengan demikian, ukuran keberhasilan hubungan manusia dengan kitab suci tidak cukup dilihat dari seberapa sering ia dibaca, tetapi juga dari sejauh mana nilai-nilainya membentuk perilaku dan kehidupan bersama.

Ketika Al-Qur’an Ditinggalkan dalam Kehidupan Nyata

Ada peringatan yang sangat kuat dalam Al-Qur’an tentang pengaduan Rasul mengenai sikap kaumnya terhadap kitab suci.

QS Al-Furqan [25]: 30

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا

“Dan Rasul (Muhammad) berkata, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang diabaikan.’”

Kata mahjura berasal dari makna meninggalkan atau mengabaikan. Pengabaian terhadap Al-Qur’an tidak harus berarti tidak pernah menyentuh mushaf. Seseorang bisa saja rajin membacanya, tetapi mengabaikan pesan dan tuntunan yang terkandung di dalamnya.

Al-Qur’an dapat hadir dalam suara, tetapi tidak hadir dalam keputusan. Ia dibaca dalam acara keagamaan, tetapi tidak menjadi pedoman dalam mengelola kekuasaan, ekonomi, hubungan sosial, dan kehidupan keluarga.

Inilah bentuk keterasingan yang perlu direnungkan: ketika kitab suci begitu dekat secara fisik, tetapi jauh dalam praktik kehidupan.

Mengembalikan Keberanian untuk Membaca dan Memahami

Lalu bagaimana mengakhiri kecenderungan memperlakukan Al-Qur’an sebagai misteri?

Pertama, membangun kebiasaan membaca Al-Qur’an beserta terjemahannya. Pembaca perlu mengenali tema, pesan, dan arah pembicaraan ayat.

Kedua, membiasakan membaca ayat secara utuh dan mempertemukannya dengan ayat lain yang memiliki hubungan tema. Jangan membangun kesimpulan hanya dari satu potongan ayat.

Ketiga, menggunakan akal dan hati secara bertanggung jawab. Perhatikan konteks, bahasa, hubungan antarayat, serta penjelasan para ahli. Jangan tergesa-gesa menyimpulkan sesuatu yang belum dipahami.

Keempat, menguji pemahaman melalui kehidupan nyata. Apakah suatu pemahaman melahirkan keadilan, kejujuran, kasih sayang, tanggung jawab, dan kemaslahatan? Ataukah justru melahirkan kesewenang-wenangan dan kerusakan?

Kelima, membangun budaya belajar bersama. Memahami Al-Qur’an bukan monopoli kelompok tertentu. Setiap orang dapat memulai proses belajar, sambil tetap menghargai ilmu dan bimbingan orang-orang yang memiliki kompetensi.

Al-Qur’an sendiri mengingatkan bahwa kitab ini dimudahkan untuk menjadi bahan pelajaran dan perenungan.

QS Al-Qamar [54]: 17

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ

“Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?”

Kemudahan yang disebutkan ayat ini bukan berarti seluruh persoalan bahasa, sejarah, dan kandungan Al-Qur’an dapat dipahami tanpa proses belajar. Namun, ayat tersebut memberikan dorongan kuat bahwa Al-Qur’an terbuka untuk dijadikan pelajaran dan direnungkan oleh manusia.

Mengubah Rasa Takut Menjadi Kesungguhan Belajar

Kitab suci tidak seharusnya menjadi misteri yang membuat manusia semakin jauh dari petunjuk. Al-Qur’an diturunkan agar manusia membaca, berpikir, merenungkan, memahami, dan menjadikan nilai-nilainya sebagai pedoman kehidupan.

Menghormati Al-Qur’an bukan berarti menjauh dari maknanya. Menghormati Al-Qur’an justru berarti bersungguh-sungguh mempelajari dan mengikuti petunjuknya.

Para ulama, ahli bahasa, ahli tafsir, dan generasi terdahulu telah mewariskan khazanah pengetahuan yang sangat berharga. Kita patut menghargainya. Namun, warisan keilmuan itu semestinya menjadi jembatan untuk mendekat kepada Al-Qur’an, bukan dinding yang menghalangi manusia untuk berinteraksi dengannya.

Dalam semangat Qur’an bil Qur’an, setiap pembaca diajak kembali membuka kitab suci, mempertemukan ayat dengan ayat, menguji pemahaman, dan mengambil pelajaran darinya.

Sebab, pertanyaan paling penting bukanlah siapa yang berhak berbicara tentang Al-Qur’an, melainkan apakah kita sungguh-sungguh telah mendengarkan, memahami, dan mengikuti petunjuk yang disampaikan Al-Qur’an.

Jangan sampai kita begitu sibuk menjaga kehormatan kitab suci, tetapi lupa menjalankan pesan yang terkandung di dalamnya. (syahida)

Example 120x600