Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Antara Muslim dan Mu’min: Membaca Ulang Identitas Keislaman dalam Al-Qur’an

3
×

Antara Muslim dan Mu’min: Membaca Ulang Identitas Keislaman dalam Al-Qur’an

Share this article

Kajian Syahida quran bil quran. Oleh: syahida

 

Apakah setiap muslim otomatis disebut mu’min? Al-Qur’an memberikan penjelasan menarik tentang hubungan antara keislaman yang tampak dan keimanan yang bersemayam dalam hati.

Kajian Syahida – Qur’an bil Qur’an

Dalam kehidupan sehari-hari, istilah muslim dan mu’min sering digunakan secara bergantian. Seseorang yang beragama Islam disebut muslim, sementara orang yang beriman disebut mu’min. Keduanya seolah-olah memiliki pengertian yang sama.

Namun, ketika ditelusuri melalui ayat-ayat Al-Qur’an, ditemukan penggunaan kedua istilah tersebut dalam konteks yang tidak selalu identik. Bahkan, terdapat ayat yang secara tegas membedakan antara pernyataan keislaman dan keimanan yang telah tertanam dalam hati.

Perbedaan ini penting untuk dipahami. Sebab, Al-Qur’an tidak hanya berbicara tentang identitas keagamaan seseorang, tetapi juga menjelaskan proses pembentukan keyakinan, ketundukan, kesadaran, dan perilaku yang mencerminkan keimanan.

Muslim dan mu’min dalam QS Al-Hujurat: 14

Salah satu ayat yang paling jelas menjelaskan hubungan antara muslim dan mu’min terdapat dalam Surah Al-Hujurat ayat 14.

Allah SWT berfirman:

قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا ۖ قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَٰكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ

Mereka berkata, “Kami telah beriman.” Katakanlah, “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah, ‘Kami telah tunduk (Islam),’ karena iman belum masuk ke dalam hatimu.” (QS Al-Hujurat [49]: 14).

Ayat ini memberikan penjelasan yang sangat penting. Sekelompok orang Arab Badui menyatakan telah beriman. Namun, Allah memerintahkan Rasulullah SAW untuk meluruskan pernyataan tersebut.

Mereka belum dapat menyatakan diri sebagai orang-orang beriman dalam pengertian yang dimaksud ayat itu. Pernyataan yang lebih tepat adalah bahwa mereka telah aslamna, yakni menyatakan ketundukan atau masuk dalam komunitas Islam, sementara iman belum masuk ke dalam hati mereka.

Kata aslamna berasal dari akar kata aslama, sedangkan amanna berasal dari akar kata amana. Keduanya berkaitan dengan dimensi yang berbeda dalam kehidupan beragama.

Islam berkaitan dengan sikap berserah diri, ketundukan, dan penerimaan terhadap ajaran Allah. Sementara iman berkaitan dengan keyakinan dan kepercayaan yang tumbuh dalam hati.

Akan tetapi, ayat ini tidak berarti bahwa setiap muslim pasti tidak beriman. Konteksnya berbicara tentang sekelompok orang yang mengklaim telah mencapai derajat keimanan, padahal iman belum masuk ke dalam hati mereka.

Dengan demikian, ayat ini mengingatkan bahwa pengakuan keislaman tidak boleh berhenti sebagai identitas atau pernyataan lisan. Ia harus berkembang menjadi keyakinan yang sungguh-sungguh.

Iman bukan sekadar pengakuan

Al-Qur’an menjelaskan bahwa iman memiliki dimensi batin yang kemudian tercermin dalam kehidupan seseorang.

Dalam Surah Al-Anfal ayat 2, Allah SWT berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, bergetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya, dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal.

Ayat tersebut menyebutkan tiga karakter penting orang beriman.

Pertama, kepekaan hati ketika mengingat Allah. Kedua, bertambahnya iman ketika berinteraksi dengan ayat-ayat-Nya. Ketiga, tumbuhnya sikap tawakal kepada Allah.

Iman, dengan demikian, bukan sekadar status yang diperoleh melalui pengakuan. Ia merupakan kesadaran yang terus bertumbuh melalui hubungan manusia dengan Allah dan petunjuk-Nya.

Penjelasan serupa terdapat dalam Surah Al-Hujurat ayat 15:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sebenarnya hanyalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.

Di sini, iman dihubungkan dengan keyakinan yang tidak mudah goyah dan kesediaan berjuang dengan harta serta jiwa. Artinya, keimanan mempunyai konsekuensi etis dan sosial.

Orang beriman bukan hanya mereka yang mengucapkan pengakuan, melainkan mereka yang berusaha menghadirkan nilai-nilai keimanan dalam tindakan nyata.

Islam dan iman: Dua istilah, satu kesatuan perjalanan

Hubungan antara Islam dan iman juga dijelaskan dalam Surah Al-Baqarah ayat 208:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan (kaffah), dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.

Ayat ini menyeru orang-orang yang beriman agar masuk ke dalam as-silm secara menyeluruh. Kata as-silm dalam ayat ini dipahami oleh banyak mufasir sebagai Islam atau ketundukan kepada Allah.

Pesannya adalah bahwa keimanan tidak cukup hanya berada di dalam hati. Ia perlu diwujudkan dalam keseluruhan kehidupan.

Keislaman yang kaffah bukan semata-mata banyaknya simbol, identitas, atau aktivitas keagamaan. Ia juga menyangkut cara seseorang memperlakukan sesama manusia, menjalankan amanah, mencari nafkah, membangun keadilan, dan menjaga kehidupan.

Dengan demikian, Islam dan iman tidak seharusnya dipertentangkan. Keduanya merupakan dimensi yang saling berhubungan dalam perjalanan penghambaan manusia kepada Allah.

Muslim bukan sekadar identitas keturunan

Al-Qur’an juga memperlihatkan bahwa istilah muslim mempunyai makna yang lebih luas daripada identitas sosial atau kelompok tertentu.

Nabi Ibrahim AS, misalnya, berdoa agar dirinya dan keturunannya menjadi orang-orang yang berserah diri kepada Allah.

Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 128:

رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ

Ya Tuhan kami, jadikanlah kami orang yang berserah diri kepada-Mu, dan dari keturunan kami (jadikanlah) umat yang berserah diri kepada-Mu.

Doa Ibrahim tersebut menunjukkan bahwa muslim merupakan identitas penghambaan dan ketundukan kepada Allah. Ia bukan semata-mata identitas yang diwariskan melalui keluarga atau lingkungan sosial.

Bahkan, Al-Qur’an menggunakan istilah muslim untuk menggambarkan sikap para nabi dan pengikut mereka yang berserah diri kepada Allah.

Dalam Surah Ali Imran ayat 52, ketika Nabi Isa AS bertanya kepada para pengikutnya siapa yang akan menjadi penolong dalam perjuangan di jalan Allah, mereka menjawab:

قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنْصَارُ اللَّهِ ۖ آمَنَّا بِاللَّهِ وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

Para pengikut setia itu berkata, “Kamilah penolong-penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah, dan saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang muslim.”

Ayat ini memperlihatkan kedekatan antara pengakuan iman dan sikap berserah diri. Keduanya hadir bersama dalam komitmen untuk membela nilai-nilai ketuhanan.

Keimanan harus melahirkan amal saleh

Jika iman merupakan keyakinan yang hidup dalam hati, bagaimana Al-Qur’an mengukur kehadirannya dalam kehidupan?

Salah satu jawabannya terdapat dalam Surah Al-Ashr ayat 1–3:

وَالْعَصْرِ ۝ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ۝ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.

Surah yang pendek ini menyebutkan empat unsur yang saling berkaitan: iman, amal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.

Iman tidak diletakkan sebagai sesuatu yang terpisah dari amal. Ia harus menghasilkan kebajikan dan tanggung jawab sosial.

Bahkan, keimanan tidak cukup diwujudkan dalam kesalehan individual. Ada tanggung jawab untuk membangun hubungan yang baik dengan orang lain, menjaga kebenaran, dan saling menguatkan dalam kesabaran.

Dalam konteks ini, identitas keislaman perlu dibaca lebih luas. Seorang muslim tidak cukup hanya merasa menjadi bagian dari komunitas agama. Ia juga perlu mengembangkan kualitas keimanan yang melahirkan manfaat bagi kehidupan.

Dari pengakuan menuju kesadaran dan pengabdian

Membaca ayat-ayat tersebut secara bersama-sama memberikan gambaran bahwa muslim dan mu’min mempunyai hubungan yang erat, tetapi tidak selalu digunakan dengan makna yang persis sama.

Istilah muslim menekankan sikap berserah diri dan ketundukan kepada Allah. Sementara mu’min menekankan keyakinan yang bersemayam dalam hati dan tercermin dalam sikap hidup.

QS Al-Hujurat ayat 14 menunjukkan bahwa pengakuan keislaman tidak otomatis membuktikan kematangan iman. QS Al-Anfal ayat 2 menjelaskan karakter batin orang beriman. QS Al-Hujurat ayat 15 memperlihatkan bahwa iman menuntut keteguhan dan pengorbanan. Sementara QS Al-Ashr menghubungkan iman dengan amal saleh dan tanggung jawab sosial.

Namun, hubungan ini bukan alasan untuk mudah menghakimi keimanan orang lain. Kedalaman iman seseorang pada akhirnya merupakan perkara yang diketahui Allah. Manusia dapat menilai tindakan yang tampak, tetapi tidak mempunyai kewenangan mutlak untuk memastikan isi hati orang lain.

Karena itu, membaca ulang identitas muslim dan mu’min semestinya mendorong introspeksi, bukan memperlebar pertentangan.

Pertanyaan yang lebih penting bukan sekadar apakah kita telah menyandang identitas muslim, melainkan sejauh mana ketundukan kepada Allah telah membentuk keyakinan, kejujuran, keadilan, kepedulian, dan pengabdian kita.

Penutup: Menjadi muslim yang menghadirkan keimanan

Al-Qur’an mengajak manusia untuk tidak berhenti pada pengakuan. Keislaman harus menjadi pintu bagi tumbuhnya keimanan, sedangkan keimanan harus menemukan bentuknya dalam amal saleh.

Muslim dan mu’min bukan dua identitas yang harus dipertentangkan. Keduanya menggambarkan dimensi penting dalam perjalanan manusia menuju penghambaan yang utuh: berserah diri kepada Allah, membenarkan petunjuk-Nya, dan mewujudkan nilai-nilai-Nya dalam kehidupan.

Pada akhirnya, ukuran keislaman tidak semestinya berhenti pada simbol dan sebutan. Keimanan perlu terlihat dalam sikap yang jujur, adil, amanah, peduli, serta membawa kemaslahatan bagi sesama dan alam semesta.

Sebab, keimanan yang hidup bukan hanya mengubah cara manusia menyebut dirinya di hadapan orang lain, melainkan juga mengubah cara ia memperlakukan kehidupan.(syahida)

Example 120x600