Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Iri Hati Digital: Saat Social Comparison Menyerang

458
×

Iri Hati Digital: Saat Social Comparison Menyerang

Share this article

Penulis : emha | Editor : asyary

ppmindonesia.com.Jakarta – Sebuah pemandangan yang kini sangat biasa: seseorang membuka Instagram, melihat teman lamanya liburan ke Eropa, lalu mendadak merasa hidupnya hampa.

Di TikTok, ia melihat orang lain pamer skincare mahal, tubuh ideal, pasangan romantis, atau rumah mewah. Tanpa sadar, ada suara kecil di dalam hati yang berbisik, “Mengapa bukan aku?”

Inilah fenomena yang disebut para psikolog sebagai social comparison—membandingkan diri sendiri dengan orang lain.

Dan di era digital, perbandingan ini tak lagi sesekali, tapi bisa terjadi setiap hari, setiap jam, bahkan setiap scroll.

Iri Hati di Era Digital: Krisis Sunyi yang Nyata

Iri hati atau hasad adalah perasaan tidak senang melihat orang lain mendapat nikmat. Jika dibiarkan, ia bisa menjadi penyakit hati yang membakar kebahagiaan, memadamkan rasa syukur, dan menjauhkan dari kebaikan.

Dalam konteks media sosial, hasad sering datang secara diam-diam. Kita mungkin tidak mengakuinya, tapi kita tahu sensasinya—rasa menusuk di dada saat melihat orang lain “lebih” dari kita.

Psikolog sosial Dr. Leon Festinger menyebut social comparison sebagai dorongan alami manusia untuk menilai dirinya sendiri dengan membandingkan dengan orang lain.

Namun, menurutnya, jika dilakukan secara berlebihan, hal ini akan memicu rasa rendah diri, iri hati, dan stres sosial. Dan media sosial, kata para ahli seperti Jean Twenge dan Jonathan Haidt, telah mempercepat dan memperkuat fenomena ini secara masif.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah ﷺ sudah memperingatkan:

“Janganlah kalian saling mendengki, saling membenci, dan saling membelakangi. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.
(HR. Bukhari dan Muslim)

Iri hati bukan hanya soal perasaan personal, tapi bisa menghancurkan ikatan sosial dan persaudaraan.

Al-Qur’an dan Larangan Hasad

Al-Qur’an memberi peringatan tegas terhadap iri hati. Salah satu doa perlindungan paling populer adalah:

وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَࣖ ۝٥

“Dan dari kejahatan pendengki apabila ia dengki.” (QS. Al-Falaq: 5)

Dalam surah lain, Allah SWT juga mengingatkan:

اَمْ يَحْسُدُوْنَ النَّاسَ عَلٰى مَآ اٰتٰىهُمُ اللّٰهُ مِنْ فَضْلِهٖۚ….۝٥٤

“Apakah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) karena karunia yang Allah telah berikan kepadanya?” (QS. An-Nisa: 54)

Hasad bukan hanya bentuk penyakit hati, tapi juga bentuk ketidakpuasan terhadap takdir dan karunia Allah kepada orang lain. Seakan-akan kita tidak rela Allah memberi kelebihan kepada sesama.

Imam Al-Ghazali, dalam Ihya Ulumuddin, menulis bahwa hasad adalah “penyakit spiritual yang paling tua,” bahkan iblis pun tergelincir karenanya—dengki terhadap Adam.

Social Media: Panggung yang Tak Selalu Nyata

Satu hal penting yang sering dilupakan saat membandingkan diri dengan orang lain di media sosial adalah: apa yang kita lihat belum tentu nyata, dan jika nyata pun, belum tentu utuh.

Orang memotret momen terbaik, menyaring cahaya, menghapus luka, dan membentuk narasi yang ingin dilihat orang lain.

Dr. Zubair Syed, pakar psikologi Muslim, mengatakan bahwa banyak Muslim yang terperangkap dalam “ilusi kebahagiaan orang lain” di media sosial. “Kita melihat sorotan (highlight), bukan kehidupan nyata,” ujarnya.

Allah mengingatkan agar kita tidak tergoda oleh dunia yang memesona namun fana:

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ اِلٰى مَا مَتَّعْنَا بِهٖٓ اَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ەۙ لِنَفْتِنَهُمْ فِيْهِۗ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَّاَبْقٰى ۝١٣١

“Janganlah sekali-kali engkau tujukan pandangan matamu pada kenikmatan yang telah Kami anugerahkan kepada beberapa golongan dari mereka (sebagai) bunga kehidupan dunia agar Kami uji mereka dengan (kesenangan) itu. Karunia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal.”  (QS. Thaha: 131)

Ayat ini menegaskan bahwa Allah menyuruh kita untuk tidak silau pada pencapaian orang lain, karena setiap orang diuji dengan cara yang berbeda.

Menjaga Hati di Tengah Gelombang Perbandingan

Apa yang bisa kita lakukan agar tidak terus-menerus menjadi korban social comparison dan iri hati digital?

  1. Perkuat syukur (al-syukr)
    Setiap hari, latih diri melihat apa yang dimiliki, bukan hanya yang belum dimiliki.

    “Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu…” (QS. Ibrahim: 7) 
  2. Fokus pada perjalanan diri
    Islam mengajarkan bahwa yang penting bukan seberapa tinggi kita dibanding orang lain, tapi seberapa ikhlas dan sungguh-sungguh kita dalam menjalani amanah hidup. 
  3. Kurangi konsumsi konten pemicu iri
    Jika melihat konten seseorang selalu membuat hati tak tenang, bukan dosa untuk meng-unfollow atau menonaktifkan sejenak media sosial. 
  4. Doakan orang yang membuat kita iri
    Ini adalah terapi ruhani. Mendoakan kebaikan untuk orang yang kita iri justru menjadi bentuk tazkiyatun nafs (pensucian jiwa). 
  5. Tingkatkan dzikir dan tilawah
    Hati yang penuh dengan Al-Qur’an lebih tahan dari bisikan iri dan godaan dunia maya. 

Penutup: Menuju Qana’ah Digital

Di era digital, kita tidak hanya butuh kuota internet, tapi juga kuota kesadaran diri. Kita butuh bukan hanya jaringan cepat, tapi juga hati yang tenang dan penuh qana’ah—rasa cukup.

“Digital envy” adalah penyakit baru yang menjangkiti banyak orang, bahkan tanpa mereka sadari. Tapi Islam telah sejak awal memberi obatnya: syukur, rendah hati, dan fokus pada diri.

Akhirnya, dalam setiap scroll dan klik, kita perlu bertanya bukan “Mengapa dia punya itu?” tapi “Apa yang Allah ingin aku pelajari dari ini?”

Dan seperti pesan Nabi ﷺ:

Lihatlah kepada orang yang lebih rendah darimu dalam urusan dunia, dan jangan melihat kepada yang di atasmu, agar kamu tidak meremehkan nikmat Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Mari jaga hati kita di tengah derasnya dunia digital—agar tidak hanya terhubung dengan dunia, tapi juga tetap terhubung dengan Tuhan.(emha)

Example 120x600