Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Stabilitas Iman di Zaman Bising: Tafsir Jalan Menjadi Rasyiduun

406
×

Stabilitas Iman di Zaman Bising: Tafsir Jalan Menjadi Rasyiduun

Share this article

Penulis: husni fahro| Editor: asyary|

ppmindonesia.com.Jakarta – Kita hidup di zaman yang bising. Bukan hanya oleh suara kendaraan dan gawai yang tak henti berdentang, tetapi juga oleh keramaian opini, godaan gaya hidup, kebisingan informasi, dan kebingungan nilai.

Dalam dunia yang penuh kegaduhan ini, mempertahankan iman yang stabil adalah tantangan besar.

Pertanyaannya: adakah dalam Al-Qur’an gambaran tentang orang-orang yang tetap kokoh dalam keimanan di tengah kekacauan?

Jawabannya: ada, dan mereka disebut sebagai “Rasyiduun”—orang-orang yang mendapatkan petunjuk lurus dan stabilitas hati dari Allah.

Menjadi Rasyiduun: Cermin Iman yang Matang

Al-Qur’an, dalam QS Al-Hujurat ayat 7–8, menggambarkan karakter orang beriman sejati:

وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ فِيْكُمْ رَسُوْلَ اللّٰهِۗ لَوْ يُطِيْعُكُمْ فِيْ كَثِيْرٍ مِّنَ الْاَمْرِ لَعَنِتُّمْ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ حَبَّبَ اِلَيْكُمُ الْاِيْمَانَ وَزَيَّنَهٗ فِيْ قُلُوْبِكُمْ وَكَرَّهَ اِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوْقَ وَالْعِصْيَانَۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الرّٰشِدُوْنَۙ ۝٧فَضْلًا مِّنَ اللّٰهِ وَنِعْمَةًۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ ۝٨

“Ketahuilah bahwa di tengah-tengah kamu ada Rasulullah. Seandainya dia menuruti (kemauan)-mu dalam banyak hal, pasti kamu akan mendapatkan kesusahan. Akan tetapi, Allah menjadikanmu cinta kepada keimanan dan menjadikan (iman) itu indah dalam hatimu serta menjadikanmu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kemaksiatan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan kebenaran.(rasyiduun). Itu adalah karunia dari Allah dan nikmat-Nya…” (QS 49:7–8)

Ayat ini menggambarkan bahwa orang-orang rasyiduun bukan hanya memiliki iman, tetapi juga merasakan kenikmatan iman, serta menolak semua bentuk penyimpangan dari fitrah. 

Mereka memiliki stabilitas spiritual yang membuat mereka tidak mudah digoyahkan, bahkan di tengah ujian zaman.

Imam Al-Qurthubi, dalam tafsirnya, menjelaskan bahwa “rasyiduun” adalah mereka yang diberikan basyiiratul iman—ketajaman pandangan dan kebeningan hati untuk membedakan kebenaran dan kebatilan. Mereka tidak sekadar mengikuti arus, tapi meniti jalan dengan panduan wahyu.

Zaman Bising: Ketika Kebenaran Dikaburkan

Saat ini, manusia dihadapkan pada banjir informasi yang membuat kebenaran terasa kabur. Yang salah bisa terlihat benar karena dibungkus rapi, dan yang benar bisa terlihat ekstrem karena tak populer.

Media sosial menjadi ruang paling berisik di mana opini mengalahkan prinsip, dan viralitas menjadi tolok ukur kebenaran.

Dalam situasi seperti ini, iman yang hanya bersandar pada formalitas atau hafalan tidak cukup. Diperlukan iman yang mengakar dalam hati dan kecintaan mendalam pada nilai-nilai ilahi. Iman yang tidak luntur oleh tren dan tidak goyah oleh tekanan sosial.

Buya Syafi’i Ma’arif dalam salah satu ceramahnya pernah berpesan:

“Orang beriman itu harus kuat karakter dan tidak mudah bimbang. Ia harus kokoh berdiri, bukan hanya karena ikut-ikutan. Ia tahu mengapa beriman dan untuk apa dia hidup.”

Inilah makna menjadi rasyiduun—beriman dengan kesadaran penuh, dengan fondasi akal, hati, dan petunjuk.

Stabilitas Iman Dimulai dari Hati yang Disucikan

Kunci stabilitas iman bukan pada banyaknya pengetahuan, tetapi pada hati yang bersih dan jiwa yang terarah. Karena itu, dalam QS Ash-Shams: 9–10 Allah berfirman:

قَدْ اَفْلَحَ مَنْ زَكّٰىهَاۖ ۝٩وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسّٰىهَاۗ ۝١٠

“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS 91:9–10)

Orang yang hatinya telah disucikan dari cinta dunia yang berlebihan, dari hawa nafsu, dan dari kebencian, akan lebih mudah menerima kebenaran dan bertahan di atasnya. Sebaliknya, hati yang penuh ambisi dunia akan rentan kehilangan arah.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam Madarij As-Salikin menulis:

 “Ketika iman telah menjadi manis di hati, maka dunia akan terasa pahit. Namun ketika dunia terasa manis, maka iman menjadi pahit.”

Maka jelas, jalan menjadi rasyiduun adalah jalan menyucikan hati, menanamkan cinta pada iman, dan menjadikan nilai-nilai Islam sebagai pondasi hidup, bukan sekadar simbol atau budaya.

Jalan Rasyiduun: Merdeka dari Kekacauan Zaman

Menjadi rasyiduun bukan berarti hidup tanpa tantangan, tetapi tetap tenang di tengah badai, karena hatinya telah berpaut pada Allah. Mereka adalah orang yang tak goyah ketika diuji, tak tergoda ketika diberi, dan tak tergelincir meski dikelilingi kegelapan.

اِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ اَلَّا تَخَافُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَبْشِرُوْا بِالْجَنَّةِ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ ۝٣٠

 “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: Tuhan kami adalah Allah, kemudian mereka istiqamah, maka malaikat turun kepada mereka (dan berkata): Janganlah kamu takut dan janganlah kamu sedih, dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan kepadamu.” (QS Fussilat: 30)

Merawat Iman di Tengah Kebisingan

Zaman yang bising tidak akan reda, bahkan mungkin akan semakin gaduh. Namun kita masih bisa memilih untuk tenang, jernih, dan istiqamah, sebagaimana para rasyiduun. 

Kita bisa memilih untuk menjadi pribadi yang mencintai keimanan, membenci kemaksiatan, dan menjadikan nilai-nilai Islam sebagai kompas utama hidup.

Menjadi rasyiduun adalah anugerah—tapi juga usaha. Dan dalam upaya itulah kita diuji, disaring, dan disucikan.

Semoga kita semua termasuk dalam golongan mereka yang disifati Allah dalam QS Al-Hujurat itu:

فَضْلًا مِّنَ اللّٰهِ وَنِعْمَةًۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ ۝٨

 “Itulah karunia dari Allah dan nikmat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS 49:8)- (husni fahro)

* Husni Fahro; peminat kajian  Nasionalis Religius dan solidarits sosial, alumni IAIN Sumatera Utara tinggal di Bogor.

Example 120x600