ppmindonesia.com.Jakarta — Sejarah manusia selalu ditandai dengan bagaimana energi dikelola. Dari kayu bakar, batu bara, minyak, hingga energi terbarukan, pilihan manusia menentukan arah peradaban: apakah menuju kehancuran atau keberlanjutan. Al-Qur’an jauh sebelum istilah energi hijau populer, telah mengingatkan manusia agar tidak merusak bumi yang Allah titipkan.
Eksploitasi yang Membakar
Dalam banyak ayat, Al-Qur’an menggambarkan energi sebagai anugerah yang bisa berubah menjadi malapetaka jika disalahgunakan. Firman Allah dalam QS Ar-Rum [30]:41 menyebutkan:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
Ayat ini relevan dengan kondisi modern: perubahan iklim, pencemaran udara, dan krisis lingkungan banyak diakibatkan pola eksploitasi energi fosil tanpa kendali.
Jalan Hijau dalam Al-Qur’an
Namun, Al-Qur’an juga menegaskan bahwa bumi diciptakan dengan keseimbangan. Dalam QS Al-Hijr [15]:19 disebutkan:
وَالْأَرْضَ مَدَدْنَاهَا وَأَلْقَيْنَا فِيهَا رَوَاسِيَ وَأَنبَتْنَا فِيهَا مِن كُلِّ شَيْءٍ مَّوْزُونٍ
“Dan Kami telah menghamparkan bumi, menancapkan padanya gunung-gunung, serta menumbuhkan di sana segala sesuatu menurut ukuran.”
Konsep mauzun (terukur) mengajarkan pentingnya keberlanjutan. Segala sesuatu ada takaran, tidak boleh dieksploitasi berlebihan.
Pandangan Para Tokoh
Cendekiawan Muslim, Seyyed Hossein Nasr, dalam karyanya Man and Nature menegaskan bahwa krisis ekologi modern berakar dari paradigma materialistis yang memisahkan manusia dari dimensi spiritual alam. “Al-Qur’an menempatkan manusia sebagai khalifah, bukan predator bumi. Jika energi hanya dipandang sebagai komoditas ekonomi, maka kehancuranlah yang menanti,” tulisnya.
Senada dengan itu, KH. Ali Yafie pernah menekankan pentingnya fiqh lingkungan. Menurutnya, menjaga keberlanjutan energi adalah bagian dari maqashid syariah untuk memelihara kehidupan. “Eksploitasi sumber daya tanpa batas berarti menyalahi amanah Allah. Islam menuntut keseimbangan, bukan kerakusan,” ungkapnya dalam salah satu ceramahnya.
Pilihan Peradaban
Kini, dunia berada di persimpangan jalan. Energi fosil yang murah tetapi merusak, atau energi hijau yang berkelanjutan namun menuntut investasi besar. Dalam kerangka Qur’ani, pilihan ini bukan sekadar teknis, tetapi etis.
QS Al-A’raf [7]:56 mengingatkan:
وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَ
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah (Allah) memperbaikinya; berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan harapan. Sesungguhnya rahmat Allah dekat kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.”
Eksploitasi atau Keberlanjutan
Al-Qur’an memberi dua jalan: eksploitasi yang berujung pada kerusakan, atau keberlanjutan yang sejalan dengan sunnatullah. Pilihan itu ada di tangan manusia modern. Apakah kita akan menyalakan api peradaban dengan kerakusan, atau menyalakan cahaya kehidupan dengan energi hijau yang berkeadilan? (syahida)
*Husni Nasution, alumnus IAIN Sumatera Utara dari Bogor, dikenal sebagai pemikir kebangsaan dan pengkaji Al-Qur'an. Ia dikenal dengan konsep 'Nasionalisme Religius' yang mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan, serta perhatian besar terhadap solidaritas sosial.



























