Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Dari Taklid ke Tahqiq: Menghidupkan Kembali Tradisi Berpikir Kritis Muslim

139
×

Dari Taklid ke Tahqiq: Menghidupkan Kembali Tradisi Berpikir Kritis Muslim

Share this article

Kajian Syahida: Al-Qur’an bil Qur’an| Redaksi ppmindonesia|

Ilustrasi pena dan kitab terbuka dengan cahaya ayat Al-Qur’an.

 

ppmindonesia.com.Jakarta – Salah satu krisis terbesar dalam dunia Islam hari ini bukanlah kekurangan ritual, tetapi kejumudan berpikir. Banyak umat Islam yang beragama secara turun-temurun, mempraktikkan keyakinan bukan atas dasar pemahaman, melainkan kebiasaan sosial. Fenomena ini disebut taklid — mengikuti tanpa berpikir.

Padahal, Al-Qur’an berulang kali menegur sikap ini. Allah berfirman:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ۚ أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ
“Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,’ mereka menjawab: ‘(Tidak), kami hanya mengikuti apa yang kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.’ Apakah mereka akan (tetap mengikuti) walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak mendapat petunjuk?”(QS Al-Baqarah [2]: 170)

Ayat ini adalah teguran keras terhadap mentalitas pasif yang menolak berpikir kritis. Al-Qur’an mendorong umatnya menjadi pencari kebenaran (tahqiq), bukan pewaris tanpa nurani (taklid).

Tradisi Tahqiq dalam Al-Qur’an

Al-Qur’an tidak hanya mengajarkan iman, tetapi juga mengajarkan bagaimana beriman dengan benar — melalui proses berpikir, observasi, dan penalaran.

قُلِ انْظُرُوا مَاذَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
“Katakanlah: Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi.”(QS Yunus [10]: 101)

Perintah untuk melihat, memperhatikan, dan memikirkan ini menandai bahwa keimanan Qur’ani tidak lahir dari ketundukan buta, melainkan dari kesadaran akal.

Bahkan, Al-Qur’an menjadikan akal sebagai dasar moralitas manusia:

إِنَّ شَرَّ الدَّوَابِّ عِنْدَ اللَّهِ الصُّمُّ الْبُكْمُ الَّذِينَ لَا يَعْقِلُونَ
“Sesungguhnya seburuk-buruk makhluk di sisi Allah ialah orang-orang yang tuli, bisu, yang tidak menggunakan akalnya.”(QS Al-Anfal [8]: 22)

Dengan kata lain, kebodohan spiritual bukan karena kurangnya ibadah, tetapi karena tidak digunakannya akal untuk memahami petunjuk Allah.

Krisis Intelektual dalam Umat

Dalam sejarah Islam klasik, tahqiq melahirkan peradaban ilmu: lahirnya filsafat, astronomi, matematika, dan sains dalam kerangka tauhid. Namun ketika taklid menggantikan tahqiq, umat kehilangan keberanian untuk menalar dan menafsirkan.

Tradisi “ulama berkata” menggantikan “Allah berfirman.” Otoritas teks berpindah ke otoritas manusia. Akibatnya, umat lebih sibuk mempertahankan pendapat mazhab daripada mencari makna kebenaran dari sumber wahyu.

وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَا
“Dan mereka berkata: ‘Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menaati pemimpin-pemimpin kami dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar).’”(QS Al-Ahzab [33]: 67)

Ayat ini bukan sekadar kritik terhadap elite, tapi juga peringatan kepada umat yang rela mematikan akalnya demi loyalitas buta.

Dari Iman Pasif ke Iman Reflektif

Iman sejati dalam Al-Qur’an bukanlah hasil warisan, melainkan hasil kesadaran. Tahqiq berarti menelusuri bukti, memahami ayat, dan menguji kebenaran dengan hati dan akal.

الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ ۚ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ وَأُولَٰئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ
“(Yaitu) orang-orang yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti yang terbaik di antaranya. Mereka itulah yang diberi petunjuk oleh Allah, dan mereka itulah orang-orang yang berakal.” (QS Az-Zumar [39]: 18)

Di sinilah letak kemuliaan berpikir kritis dalam Islam: bukan untuk menolak agama, tapi untuk memahami dan menghidupkannya secara sadar.

Menuju Kebangkitan Intelektual Qur’ani

Revitalisasi umat Islam tidak akan lahir dari retorika moral semata, tetapi dari keberanian epistemik — keberanian untuk berpikir, meneliti, dan menguji ulang doktrin yang diwariskan.

Menjadi Qur’ani berarti beragama dengan pengetahuan, bukan dengan kebiasaan.
Menjadi muttaqin berarti menggunakan akal sebagai jalan menuju takwa.

Karena itu, seruan Al-Qur’an jelas:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ
“Maka apakah mereka tidak mentadabburi Al-Qur’an?” (QS Muhammad [47]: 24)

Tadabbur adalah jantung tahqiq. Tanpa tadabbur, agama berubah menjadi slogan; iman menjadi rutinitas tanpa ruh.

Taklid menuju Tahqiq

Dari taklid menuju tahqiq adalah perjalanan spiritual sekaligus intelektual. Ia menuntut keberanian untuk menimbang, meragukan demi mencari, dan mencari demi menemukan. Itulah jalan yang ditempuh para nabi, ilmuwan, dan mukmin sejati.

Kebangkitan Islam masa depan tidak akan lahir dari jumlah pengikut, tetapi dari kualitas pemahaman.
Dan hanya mereka yang berani berpikir — yang benar-benar mendengar suara wahyu.

Example 120x600