Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Maryam: Simbol Spiritualitas Universal dalam Al-Qur’an

155
×

Maryam: Simbol Spiritualitas Universal dalam Al-Qur’an

Share this article

Kajian Syahida – Qur’an bil Qur’an| Redaksi; ppmindonesia

ppmindoneaia.com.Jakarta – Dalam khazanah Islam, sosok Maryam binti ‘Imran bukan sekadar ibu dari Nabi Isa ‘alaihissalam. Ia adalah lambang spiritualitas universal—simbol kemurnian, keteguhan, dan ketaatan yang melampaui sekat gender, etnis, maupun agama. Al-Qur’an menempatkan Maryam pada posisi unik: satu-satunya perempuan yang disebut langsung namanya dalam kitab suci ini, bahkan satu surah dinamai khusus Surah Maryam.

Maryam dalam Al-Qur’an: Sosok Terpilih

Al-Qur’an menegaskan bahwa Maryam adalah figur pilihan yang disucikan dari segala kekotoran duniawi, dipersiapkan untuk menerima amanah besar.

وَإِذۡ قَالَتِ ٱلۡمَلَـٰٓئِكَةُ يَـٰمَرۡيَمُ إِنَّ ٱللَّهَ ٱصۡطَفَىٰكِ وَطَهَّرَكِ وَٱصۡطَفَىٰكِ عَلَىٰ نِسَآءِ ٱلۡعَـٰلَمِينَ
“Dan (ingatlah) ketika para malaikat berkata: ‘Wahai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilihmu, menyucikanmu, dan melebihkanmu atas segala perempuan di dunia (yang ada pada masanya).’
(QS Āli ‘Imrān [3]: 42)

Ayat ini menegaskan dua aspek penting: spiritual election (pilihan ketuhanan) dan purification (penyucian jiwa). Dalam konteks Qur’ani, “istifā” (pemilihan) bukanlah bentuk privilese biologis, melainkan konsekuensi tanggung jawab moral dan spiritual yang berat.

Spiritualitas Maryam: Ibadah, Kesendirian, dan Kontemplasi

Maryam adalah sosok perempuan yang menempuh jalan spiritual independen, jauh dari kemewahan dan hiruk-pikuk dunia. Al-Qur’an menggambarkan kehidupannya yang penuh ibadah dan perenungan:

كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيۡهَا زَكَرِيَّا ٱلۡمِحۡرَابَ وَجَدَ عِندَهَا رِزۡقٗاۖ قَالَ يَـٰمَرۡيَمُ أَنَّىٰ لَكِ هَـٰذَاۖ قَالَتۡ هُوَ مِنۡ عِندِ ٱللَّهِۖ إِنَّ ٱللَّهَ يَرۡزُقُ مَن يَشَآءُ بِغَيۡرِ حِسَابٖ
“Setiap kali Zakaria masuk menemui Maryam di mihrab, ia mendapati makanan di sisinya. Zakaria berkata, ‘Wahai Maryam, dari mana engkau memperoleh ini?’ Maryam menjawab, ‘Semua ini dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa perhitungan.’”
(QS Āli ‘Imrān [3]: 37)

Maryam adalah representasi spiritualitas aktif, bukan sekadar simbol pasif kesucian. Ia beribadah, berdoa, dan berfikir. Dalam dirinya, Al-Qur’an memadukan dua energi penting: ‘ubūdiyyah (ketundukan kepada Allah) dan istiqamah (keteguhan dalam kesendirian).

Keajaiban Kelahiran Isa: Manifestasi Keimanan, Bukan Dogma

Kisah kelahiran Isa bukan untuk menegaskan keilahian manusia, melainkan untuk menampilkan kekuasaan Allah dan keimanan Maryam.

قَالَتۡ أَنَّىٰ يَكُونُ لِي غُلَـٰمٞ وَلَمۡ يَمۡسَسۡنِي بَشَرٞ وَلَمۡ أَكُ بَغِيّٗا ٢٠ قَالَ كَذَٰلِكِ قَالَ رَبُّكِ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٞ
“Maryam berkata, ‘Bagaimana mungkin aku mempunyai anak, padahal tidak ada seorang lelaki pun yang menyentuhku dan aku bukan seorang perempuan jahat?’ Allah berfirman, ‘Demikianlah, Tuhanmu berfirman: Hal itu mudah bagi-Ku.’”
(QS Maryam [19]: 20–21)

Kisah ini mengandung pelajaran mendalam bahwa iman tidak bertentangan dengan rasionalitas, tetapi melampaui batas logika manusia. Maryam tidak menolak wahyu karena tidak sesuai dengan logika sosial, tetapi menerimanya dengan keyakinan spiritual yang murni.

Maryam sebagai Figur Universal

Maryam tidak hanya milik umat Islam, tetapi juga dihormati oleh Yahudi dan Nasrani. Namun, Al-Qur’an menampilkan Maryam sebagai sosok yang universal dan transhistoris — simbol perjuangan manusia untuk menegakkan kemurnian iman dalam sistem yang menindas.

وَجَعَلۡنَا ٱبۡنَ مَرۡيَمَ وَأُمَّهُۥٓ ءَايَةٗ وَءَاوَيۡنَـٰهُمَآ إِلَىٰ رَبۡوَةٖ ذَاتِ قَرَارٖ وَمَعِينٖ
“Dan Kami jadikan putra Maryam dan ibunya sebagai tanda kebesaran (Kami), dan Kami tempatkan mereka di dataran tinggi yang tenang dan mempunyai sumber air.”
(QS Al-Mu’minūn [23]: 50)

Ayat ini menegaskan bahwa Maryam adalah “āyah” (tanda) — bukan hanya bagi umatnya, tapi bagi seluruh manusia. Dalam konteks ini, Maryam menjadi ikon universal spirituality yang menunjukkan bahwa kemuliaan manusia bukan ditentukan oleh jenis kelamin atau garis keturunan, melainkan oleh ketakwaan dan integritas moral.

Spiritualitas Perempuan dalam Perspektif Qur’ani

Maryam menegaskan satu pesan besar dalam Al-Qur’an: perempuan juga bisa menjadi simbol kesempurnaan iman. Dalam QS At-Tahrīm [66]: 11–12, Allah menyebut Maryam bersama istri Firaun sebagai contoh bagi orang beriman, bukan hanya perempuan beriman.

وَمَرۡيَمَ ٱبۡنَتَ عِمۡرَانَ ٱلَّتِيٓ أَحۡصَنَتۡ فَرۡجَهَا فَنَفَخۡنَا فِيهِ مِن رُّوحِنَا وَصَدَّقَتۡ بِكَلِمَـٰتِ رَبِّهَا وَكُتُبِهِۦ وَكَانَتۡ مِنَ ٱلۡقَـٰنِتِينَ
“Dan (ingatlah) Maryam putri Imran yang memelihara kehormatannya, lalu Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami; dia membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan kitab-kitab-Nya, dan dia termasuk orang yang taat.” (QS At-Tahrīm [66]: 12)

Maryam adalah simbol bahwa spiritualitas tidak memiliki gender. Kesalehan, keberanian moral, dan kepatuhan kepada kebenaran adalah jalan menuju kemuliaan sejati — baik bagi laki-laki maupun perempuan.

Maryam, Cermin Manusia Paripurna

Maryam adalah cermin manusia yang mencapai derajat spiritual tertinggi melalui iman dan kesucian hati. Ia menjadi bukti nyata bahwa kesucian tidak berarti keterasingan dari dunia, melainkan kemampuan menjaga keimanan di tengah ujian. Dalam dirinya, Al-Qur’an menegaskan bahwa jalan menuju Allah terbuka bagi siapa pun yang beriman dan beramal saleh, tanpa melihat jenis kelamin atau status sosial.

Example 120x600