ppmindonesia.com. Karawang — Kebutuhan akan pusat distribusi pangan yang lebih modern, efisien, dan dekat dengan jalur logistik mendorong lahirnya Pasar Induk Klari, sebuah pasar grosir baru yang berdiri di koridor strategis Karawang Timur. Berbeda dengan pasar induk pada umumnya, pengembangan kawasan ini menonjol karena menggunakan prinsip “dari pedagang, untuk pedagang”—sebuah pendekatan yang menempatkan pelaku usaha sebagai pusat perencanaan.
Proyek yang berlokasi sekitar 500 meter dari Gerbang Tol Karawang Timur ini digadang menjadi simpul perdagangan baru bagi Jawa Barat bagian tengah dan timur. Lahan berada di kawasan yang telah dipetakan sebagai titik pengembangan logistik dan distribusi komoditas pangan.
Dirancang Berdasarkan Kebutuhan Pedagang
Berbeda dari model pembangunan pasar induk konvensional yang cenderung top–down, Pasar Induk Klari mengadopsi pola komunikasi langsung dengan asosiasi pedagang. Tim perancang melibatkan kelompok pedagang sayur, buah, bumbu, hingga kebutuhan industri retail.
“Pedagang tidak hanya ditempatkan sebagai penyewa, mereka menjadi co-designer. Kami mendengar langsung kebutuhan mereka—ukuran los, zona bongkar muat, arah sirkulasi kendaraan, hingga fasilitas sanitasi,” ujar Poernomo Setyadi Direktur PT Klari Berkat Utama
Beberapa rancangan yang berasal dari masukan pedagang antara lain:
- Zona logistik terpisah antara truk besar, pikap, dan kendaraan kecil.
- Akses 24 jam dengan jalur masuk–keluar yang tidak saling bersinggungan.
- Ketinggian lantai dan lebar jalan dalam area pasar yang memungkinkan manuver kendaraan besar.
- Ruang penyimpanan dingin (cold storage) untuk komoditas tertentu.
- Lapak higienis dengan standar sanitasi yang disesuaikan kebutuhan dagang modern.
Mengurangi Beban Pasar Induk Caringin, Cibitung, dan Kramat Jati
Selama bertahun-tahun, distribusi pangan wilayah Jabodetabek-Jabar bertumpu pada tiga pasar induk besar: Caringin (Bandung), Cibitung (Bekasi), dan Kramat Jati (Jakarta Timur). Ketiganya kini menghadapi tantangan serupa: kemacetan, kapasitas melebihi beban, serta keterbatasan lahan ekspansi.
Keberadaan Pasar Induk Klari dinilai dapat menjadi solusi distribusi baru. Lokasinya di koridor tol Cipularang–Jakarta–Pantura membuat arus barang dari arah Bandung, Purwakarta, Subang, hingga Cirebon tidak perlu masuk ke area metropolitan Jakarta.
Menurut analisis internal pengembang, setidaknya 30–40 persen trafik distribusi sayur dan buah dari arah Jawa Barat Timur dapat dialihkan ke Klari, sehingga mengurangi tekanan pada pasar induk yang sudah jenuh.
Bebas Banjir dan Didukung Infrastruktur Modern
Salah satu nilai tambah proyek ini adalah elevasi lahan yang lebih tinggi dan sistem drainase modern. Areal pasar sepanjang tahun tergenang pada banyak titik pasar induk lama, sering menjadi keluhan pedagang.
“Di Klari kami pastikan pedagang tidak lagi berjualan sambil menghindari genangan. Banjir mengganggu kualitas komoditas, mengurangi kenyamanan pembeli, dan memicu kerugian,” ujar Peornomo .
Tak hanya itu, area pasar dilengkapi:
- Kantor pengelola 24 jam,
- Sistem keamanan CCTV,
- Sanitasi modern,
- Food waste management,
- Tempat ibadah dan rest area,
- Area parkir luas yang terpisah antara pembeli dan kendaraan logistik.
Mulai Konstruksi 2025, Operasional 2026
Pembangunan Pasar Induk Klari telah mulai Oktober 2025 dengan target operasional pada semester pertama 2027. Pengembang juga menyediakan skema kepemilikan unit dengan cicilan DP hingga 12 kali dengan status kepemilikan unit adalah Hak Guna Bangunan atas nama pedagang.
Minat pemesanan awal disebut cukup tinggi. Pada tahap land clearing dan pematangan lahan, pedagang dari Karawang, Purwakarta, Subang, Bandung dan Bekasi telah banyak mendaftarkan diri, terutama pedagang komoditas sayur dan cabai.
Diharapkan Menjadi Pusat Perdagangan Baru Jawa Barat Timur
Dengan fasilitas modern, pemetaan zona yang rapi, dan lokasi yang strategis, Pasar Induk Klari diharapkan menjadi titik pusat perdagangan baru yang tidak hanya mendukung rantai pasok pangan, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.
“Kami ingin menciptakan pasar induk yang benar-benar nyaman dan layak bagi pedagang. Ini bukan sekadar bangunan, tetapi sistem perdagangan yang lebih tertata,” ujar Poernomo.



























