Scroll untuk baca artikel
Nasional

Kebun Tua, Air Kelapa Terbuang, Nilai Tambah Hilang: Potret Masalah Kelapa Indonesia

150
×

Kebun Tua, Air Kelapa Terbuang, Nilai Tambah Hilang: Potret Masalah Kelapa Indonesia

Share this article

Penulis; emha | Editor: asyary

Ilustrasi potret kelapa indonesia

ppmindonesia.com.Jakarta — Indonesia selama ini dikenal sebagai salah satu raksasa kelapa dunia. Namun, di balik luasnya perkebunan rakyat yang mencapai lebih dari 3,4 juta hektar, terdapat masalah struktural yang terus menggerus daya saing komoditas strategis ini. Mulai dari kebun kelapa yang menua, limbah air kelapa yang terbuang, hingga minimnya industrialisasi hilir, semua berujung pada satu persoalan besar: hilangnya nilai tambah di tingkat petani.

Dari ujung Sumatera hingga Maluku, kelapa masih menjadi penopang ekonomi jutaan keluarga. Tetapi, produktivitas yang rendah dan rantai pasok yang belum efisien membuat komoditas ini terjebak sebagai pohon seribu manfaat yang tidak dimanfaatkan dengan baik.”

Kebun Tua dan Produktivitas yang Merosot

Data Direktorat Jenderal Perkebunan menunjukkan bahwa lebih dari 55 persen kebun kelapa rakyat saat ini sudah memasuki kategori tua dan tidak produktif. Banyak pohon sudah berusia 40–70 tahun, jauh melewati usia optimal untuk menghasilkan buah dalam jumlah maksimal.

“Kebun yang menua membuat produktivitas mandek. Tanpa program peremajaan yang agresif, kita akan terus tertinggal,” ujar ashari  aktivis PPM nasional Pemerhati Tanaman Kelapa.

Produktivitas kebun kelapa rakyat rata-rata hanya 0,8–1 ton kopra per hektar per tahun, jauh di bawah potensi optimal 3–4 ton. Ketimpangan ini membuat pendapatan petani stagnan selama bertahun-tahun.

Sayangnya, program peremajaan berjalan lambat akibat keterbatasan bibit unggul, minimnya pendampingan teknis, dan tiadanya skema insentif jangka panjang yang menarik bagi petani.

Air Kelapa Terbuang Percuma

Masalah berikutnya muncul pada rantai pasok industri. Air kelapa, yang sebenarnya dapat menjadi bahan baku minuman, kecantikan, hingga fermentasi, sebagian besar justru terbuang di sentra-sentra produksi.

Setiap tahun, diperkirakan jutaan liter air kelapa tidak termanfaatkan. Sebagian dibuang ke saluran air, sebagian lain dibiarkan mengalir begitu saja dari pengupasan buah di tingkat pengrajin.

“Dalam industri kelapa global, air kelapa adalah emas cair. Namun di Indonesia, ia masih dianggap limbah,” kata Marcella Tandiono, pelaku industri pengolahan kelapa di Sulawesi Utara.

Padahal, permintaan internasional untuk coconut water terus meningkat, bahkan menjadi komponen penting dalam pasar minuman kesehatan dan olahraga. Peluang pasar bernilai tinggi ini belum banyak disentuh oleh pelaku industri kecil dan menengah di daerah.

Hilangnya Nilai Tambah Hilir

Pada tataran hilir, struktur industri kelapa Indonesia masih terpusat pada produk dengan nilai tambah rendah seperti kopra dan kelapa bulat. Konversi menjadi produk modern—seperti VCO, nata de coco, coconut sugar, coconut milk powder, activated carbon, hingga coconut water RTD—belum berkembang merata.

Akibatnya, sebagian besar nilai tambah justru dinikmati industri besar atau negara lain yang mengimpor bahan baku dari Indonesia.

“Ketergantungan pada kopra adalah masalah klasik. Kita harus naik kelas. Tanpa industrialisasi desa, petani akan terus berada di posisi paling lemah,” ujar Risma Damanik, ekonom agribisnis Universitas Hasanuddin.

Hilirisasi kelapa yang lambat membuat pendapatan petani sulit meningkat signifikan meskipun permintaan global terhadap produk turunan kelapa sebenarnya tumbuh cepat.

Rantai Pasok yang Tidak Terintegrasi

Permasalahan lain muncul pada minimnya integrasi rantai pasok dari kebun hingga industri. Banyak sentra kelapa belum memiliki: pusat pengumpulan buah yang standar, koperasi pengolahan berbasis desa, teknologi sortasi dan grading, koneksi digital rantai pasok, fasilitas logistik dingin untuk produk air kelapa.

Ketiadaan ekosistem pendukung ini membuat harga di tingkat petani tidak stabil, bahkan sering jatuh di bawah biaya produksi.

Butuh Transformasi Sistemik

Pemerintah tengah menyusun peta jalan hilirisasi kelapa 2025–2045, yang mencakup program peremajaan massal, industrialisasi berbasis desa, dan digitalisasi rantai pasok. Namun, banyak pihak menekankan bahwa transformasi tidak boleh berhenti pada dokumen kebijakan.

“Perubahan harus mulai dari kebun. Petani harus mendapat bibit unggul, pelatihan teknis, dan akses pembiayaan yang terjangkau,” ujar Syaiful.

Sementara itu, para pelaku industri menilai bahwa insentif investasi di sektor pengolahan kelapa, termasuk untuk air kelapa, perlu diperluas.

Menjemput Momentum

Kelapa adalah komoditas yang menyimpan potensi besar dalam ekosistem pangan, energi terbarukan, dan produk kesehatan dunia. Namun, selama masalah fundamental—kebun tua, limbah air kelapa, dan stagnasi industri hilir—tidak dibenahi, Indonesia hanya akan menjadi pemasok bahan mentah murah bagi pasar global.

Dengan lebih dari 6,5 juta kepala keluarga bergantung pada komoditas ini, pembenahan sektor kelapa bukan hanya urgensi ekonomi, tetapi juga upaya menjaga keberlanjutan sosial pedesaan.

 

Example 120x600