Scroll untuk baca artikel
BeritaNasional

Menelusuri Jejak Sawit di Balik Banjir Sumatra: Hutan yang Hilang, Risiko yang Meningkat

124
×

Menelusuri Jejak Sawit di Balik Banjir Sumatra: Hutan yang Hilang, Risiko yang Meningkat

Share this article

Penulis; emha | Editor: asyary

Kawasan hutan KEL termasuk TNGL di Aceh Tamiang yang berubah menjadi perkebunan sawit. Foto: Ayat S Karokaro/ Mongabay Indonesia

ppmindonesia.com.Jakarta – Banjir besar yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra dalam beberapa pekan terakhir kembali memunculkan pertanyaan lama: siapa yang harus bertanggung jawab atas hilangnya fungsi ekologis hutan dan meningkatnya risiko bencana hidrometeorologi?

Di tengah gelombang banjir, sebuah unggahan viral di platform X menyoroti akar persoalan tersebut. “Sawit tidak bisa menggantikan hutan. Mengganti hutan dengan sawit bukan reboisasi. Itu deforestasi, hilangnya fungsi alam yang tak bisa digantikan,” tulis akun @dai******, Sabtu (29/11/2025).

Unggahan itu kini menjadi percakapan publik, mengingat kawasan yang terdampak banjir sebagian besar merupakan wilayah yang selama dua dekade terakhir mengalami ekspansi besar-besaran perkebunan kelapa sawit.

Produksi Sawit Melonjak, Hutan Menyusut

Indonesia masih memegang predikat sebagai produsen minyak kelapa sawit terbesar di dunia. Laporan Foreign Agricultural Service – USDA 2024/2025 mencatat, produksi minyak sawit Indonesia mencapai 46 juta ton, dua kali lipat dibanding Malaysia.

Pada periode 2013–2019, produksi sawit naik dari 28 juta ton menjadi 47 juta ton. Lonjakan ini tidak terlepas dari perluasan lahan yang masif—banyak di antaranya berasal dari konversi hutan alam menjadi perkebunan industri.

Kenaikan produksi ini memang menggerakkan ekonomi, namun di sisi lain memicu kerusakan ekosistem yang semakin terasa dampaknya hari ini: banjir bandang, tanah longsor, kekeringan, sedimentasi sungai, hingga krisis air di musim kemarau.

Ahli UGM: Sawit Tidak Bisa Menggantikan Fungsi Hutan

Peneliti Hidrologi Hutan dan Konservasi DAS Fakultas Kehutanan UGM, Hatma Suryatmojo, menegaskan bahwa kebun sawit tidak dapat menggantikan peran ekologis hutan tropis.

Meski sawit sering diklaim tetap membuat lahan hijau, tapi sesungguhnya sama sekali berbeda dengan hijaunya hutan,” ujar Hatma.

Menurut dia, struktur vegetasi hutan alam jauh lebih kompleks. Tajuk hutan berlapis-lapis, lantai hutan tertutup rapat oleh serasah, dan sistem akarnya membentuk struktur tanah yang kaya organik dan berpori besar. Karena itu, hutan memiliki kemampuan tinggi untuk: menahan energi hujan, meningkatkan infiltrasi, mengendalikan limpasan permukaan, dan menjaga kestabilan lereng.

Kebun sawit itu homogen. Kanopinya tunggal, serasahnya tipis, dan tanahnya cenderung padat. Infiltrasi jauh lebih rendah. Hujan lebat jelas menghasilkan limpasan besar,” jelasnya.

Benang Merah Sawit dan Banjir Sumatra

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa konversi hutan menjadi perkebunan sawit memiliki dampak jangka panjang pada ekosistem, terutama dalam konteks hidrologi. Berikut sejumlah faktor yang memperkuat keterkaitan antara sawit dan meningkatnya risiko banjir:

1. Tanah Menjadi Padat dan Kehilangan Makropori

Penggunaan alat berat, pembersihan lahan, dan kegiatan operasional rutin membuat struktur tanah semakin padat. Makropori—ruang besar dalam tanah yang penting untuk penyerapan air—hilang. Akibatnya, saat hujan deras, air tidak masuk ke tanah, melainkan mengalir bebas sebagai limpasan permukaan.

2. Hilangnya Tajuk dan Serasah Hutan

Pada hutan alam, air hujan tertahan oleh tajuk berlapis serta serasah tebal di lantai hutan. Pada kebun sawit, tidak ada mekanisme yang mampu menahan energi hujan secara efektif. Dampaknya adalah erosi, aliran permukaan tinggi, dan sedimentasi sungai.

3. Fragmen Ekosistem dan Hilangnya Keanekaragaman Hayati

Hutan tropis menyimpan hingga 80–90 persen spesies dunia. Ketika hutan hilang, banyak satwa kehilangan habitat dan perannya dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Fragmentasi juga memicu munculnya satwa liar di permukiman, konflik manusia-satwa, dan hilangnya fungsi ekologi penting seperti penyerbukan dan regenerasi hutan.

4. Krisis Air dan Emisi Karbon Meningkat

Pembukaan hutan, terutama di lahan gambut, menyebabkan pelepasan karbon dalam jumlah besar. Selain mempercepat perubahan iklim, pemanasan lokal akibat hilangnya tutupan hutan juga meningkatkan intensitas hujan ekstrem serta memperpanjang musim kering.

Memulihkan Fungsi Hulu DAS: Jalan yang Tak Bisa Ditawar

Menanggapi pertanyaan mengenai langkah terbaik mengurangi risiko banjir dan longsor, Hatma menegaskan bahwa mempertahankan hutan alam yang tersisa adalah prioritas utama.

Hutan tersisa harus dipertahankan. Itu harga mati,” tegas Hatma.

Ia merekomendasikan agar kawasan hulu DAS dikembalikan pada fungsi lindungnya. Proses ini mencakup: mengembalikan tutupan hutan dengan tanaman asli, mengurangi aktivitas pembukaan lahan di hulu, memastikan perlindungan kawasan lindung, serta memperketat izin pembukaan kebun sawit di lereng-lereng curam.

Hulu DAS harus dipulihkan fungsinya sebagai kawasan lindung. Inilah satu-satunya cara jangka panjang untuk mengurangi risiko banjir dan longsor,” ujarnya.

Sawit Penting, Tapi Hutan Tidak Tergantikan

Di tengah pertumbuhan industri sawit yang menopang perekonomian nasional, Indonesia menghadapi dilema besar: menjaga kontribusi ekonomi tanpa mengorbankan ekosistem yang menopang kehidupan jutaan warga. Bukti ilmiah menunjukkan bahwa kebun sawit bukanlah pengganti hutan alam.

Menelusuri jejak sawit di balik banjir Sumatra mengungkap satu kenyataan: hilangnya hutan berarti meningkatnya risiko. Jika hutan yang tersisa tidak dilindungi, bencana ekologis hanya akan semakin sering terjadi dan semakin sulit dipulihkan.

Example 120x600