Kritik Al-Qur’an terhadap Keberagamaan yang Berhenti pada Ritual
ppmindonesia.com.Jakarta – Di tengah meningkatnya semangat beragama, satu fenomena mencolok justru mengemuka: Al-Qur’an semakin sering dibaca, tetapi semakin jarang dipahami. Lantunan ayat-ayat suci terdengar di berbagai ruang—masjid, rumah, hingga media digital—namun pesan Al-Qur’an kerap tidak hadir dalam cara berpikir, bersikap, dan mengambil keputusan hidup.
Dalam praktik keberagamaan seperti ini, pahala sering kali mengalahkan makna. Membaca Al-Qur’an dipersepsikan selesai pada hitungan huruf dan keindahan suara, bukan pada pemahaman dan pengamalan. Padahal, Al-Qur’an sendiri secara tegas mengkritik bentuk keberagamaan yang terjebak pada simbol dan ritual semata.
Al-Qur’an Diturunkan untuk Dipahami
Al-Qur’an tidak pernah menyebut dirinya sekadar bacaan ibadah. Ia memperkenalkan dirinya sebagai kitab petunjuk yang menuntut pemahaman dan kesadaran.
لَقَدْ أَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ كِتَابًا فِيهِ ذِكْرُكُمْ ۖ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
“Sungguh, Kami telah menurunkan kepadamu sebuah Kitab yang di dalamnya terdapat peringatan bagimu. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (QS. Al-Anbiyā’ [21]: 10)
Ayat ini menempatkan akal dan pemahaman sebagai pintu utama berinteraksi dengan Al-Qur’an. Membaca tanpa memahami berarti memutus hubungan antara wahyu dan tujuan diturunkannya.
Keberagamaan Ritual dan Ilusi Ketaatan
Banyak orang merasa telah menunaikan kewajiban terhadap Al-Qur’an hanya dengan melaksanakan ritual—salat, puasa, dan membaca ayat-ayat tertentu—tanpa pernah bertanya: apa yang sebenarnya dikatakan Al-Qur’an tentang kehidupan, keadilan, dan tanggung jawab manusia?
Al-Qur’an justru mempertanyakan sumber agama yang tidak berpijak langsung pada wahyu.
أَمْ لَكُمْ كِتَابٌ فِيهِ تَدْرُسُونَ
“Ataukah kamu mempunyai kitab (lain) yang darinya kamu belajar?” (QS. Al-Qalam [68]: 37)
Ayat ini adalah kritik tajam terhadap keberagamaan yang mengambil rujukan dari tradisi, figur, atau kebiasaan mayoritas, tetapi menjauh dari Al-Qur’an itu sendiri.
Ketika Mayoritas Menjadi Ukuran Kebenaran
Salah satu pembenaran paling umum atas praktik keagamaan yang dangkal adalah alasan “sudah menjadi kebiasaan” atau “diikuti oleh mayoritas”. Al-Qur’an menolak logika ini secara tegas.
وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ
“Jika engkau menuruti kebanyakan manusia di bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.”
(QS. Al-An‘ām [6]: 116)
Kebenaran dalam Al-Qur’an tidak ditentukan oleh jumlah pengikut, melainkan oleh kesesuaiannya dengan wahyu. Mengikuti mayoritas tanpa pemahaman pribadi justru berpotensi menjauhkan manusia dari petunjuk.
Al-Qur’an yang Ditinggalkan dalam Praktik
Ironisnya, Al-Qur’an telah lama mengingatkan tentang umat yang membaca Kitab Allah tetapi meninggalkannya dalam kehidupan nyata.
وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا
“Dan Rasul berkata, ‘Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang ditinggalkan.’” (QS. Al-Furqān [25]: 30)
“Meninggalkan” Al-Qur’an bukan berarti tidak membacanya, melainkan tidak menjadikannya rujukan dalam berpikir, bersikap, dan menata kehidupan.
Pendekatan Syahadah: Tanggung Jawab Pribadi atas Wahyu
Dalam perspektif Al-Qur’an, iman bukan sekadar identitas kolektif, tetapi kesaksian personal. Setiap manusia bertanggung jawab langsung atas hubungannya dengan Al-Qur’an.
إِنَّ الَّذِي فَرَضَ عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لَرَادُّكَ إِلَىٰ مَعَادٍ
“Sesungguhnya Dia yang telah menetapkan Al-Qur’an atasmu pasti akan mengembalikanmu ke tempat kembali.” (QS. Al-Qaṣaṣ [28]: 85)
Ayat ini menegaskan bahwa Al-Qur’an akan menjadi dasar pertanggungjawaban manusia, bukan tradisi atau klaim ketaatan simbolik.
Dari Pahala Menuju Makna
Al-Qur’an menyebut dirinya sebagai cahaya dan petunjuk yang nyata, bukan sekadar bacaan penggugur kewajiban.
قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلَامِ
“Sungguh telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan Kitab yang jelas. Dengan itu Allah memberi petunjuk kepada orang-orang yang mengikuti keridaan-Nya ke jalan-jalan keselamatan.” (QS. Al-Mā’idah [5]: 15–16)
Petunjuk ini hanya berfungsi bagi mereka yang mengikuti dan memaknainya, bukan sekadar melantunkannya.
Keberagamaan yang menjadikan pahala sebagai tujuan utama, tetapi mengabaikan makna dan pesan Al-Qur’an, berisiko melahirkan kesalehan semu. Al-Qur’an tidak diturunkan untuk sekadar dibaca, tetapi untuk mengubah cara manusia memahami hidup dan menjalani amanahnya sebagai hamba dan khalifah.
Sudah saatnya umat Islam berpindah dari menghitung pahala menuju merawat makna, dari lantunan menuju tuntunan. Sebab, hanya dengan itulah Al-Qur’an kembali menjadi cahaya yang membimbing, bukan sekadar suara yang berlalu.



























