Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Apakah Hewan Benar-Benar Menderita?

36
×

Apakah Hewan Benar-Benar Menderita?

Share this article

Kajian Syahida – Qur’an bil Qur’an| Editor; asyary

 

Sebuah Kesaksian Qur’ani tentang Rahmat Ilahi**

Jakarta|PPMIndonesia.com– Salah satu pertanyaan teologis yang sering muncul ketika manusia menyaksikan kekerasan di alam adalah: apakah hewan benar-benar merasakan penderitaan sebagaimana yang kita bayangkan?

Pertanyaan ini bukan sekadar persoalan biologis atau emosional, melainkan juga persoalan iman, keadilan Tuhan, dan pemahaman kita terhadap rahmat Allah. Ketika kita melihat seekor hewan diterkam pemangsa, disembelih untuk makanan, atau mati dalam kondisi yang tampak menyakitkan, nurani kita terguncang. Apakah Tuhan Yang Maha Pengasih membiarkan makhluk yang terus bertasbih kepada-Nya mengalami penderitaan hebat?

Tulisan ini mencoba menjawab kegelisahan tersebut melalui Al-Qur’an dengan Al-Qur’an (Qur’an bil Qur’an), disertai kesaksian reflektif (syahida), bukan untuk melegitimasi kekejaman, melainkan untuk menyingkap kedalaman rahmat ilahi yang sering luput dari persepsi manusia.

Hewan dalam Perspektif Al-Qur’an: Makhluk yang Bertasbih

Al-Qur’an menegaskan bahwa seluruh makhluk hidup adalah hamba Allah yang senantiasa memuliakan-Nya:

وَإِن مِّن شَىْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَـٰكِن لَّا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ

“Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak memahami tasbih mereka.”
(QS. Al-Isrā’ [17]: 44)

Ayat ini menjadi fondasi penting: hewan bukan benda mati, bukan sekadar objek biologis, melainkan makhluk sadar dalam kapasitas yang Allah kehendaki. Karena itu, mustahil rahmat Allah terputus dari mereka.

Penderitaan: Antara Realitas dan Persepsi Manusia

Manusia cenderung menyamakan ekspresi lahiriah dengan pengalaman batiniah. Padahal Al-Qur’an berkali-kali mengingatkan bahwa apa yang tampak bagi manusia tidak selalu sama dengan kenyataan hakiki.

Contoh paling tegas adalah kisah Nabi Isa عليه السلام:

وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَـٰكِن شُبِّهَ لَهُمْ

“Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh itu) diserupakan bagi mereka.”
(QS. An-Nisā’ [4]: 157)

Orang-orang kafir meyakini bahwa mereka telah menyiksa dan membunuh Nabi Isa, padahal Allah menegaskan bahwa itu hanya tampak bagi mereka. Ayat ini membuka prinsip Qur’ani yang sangat penting: persepsi manusia tidak selalu mencerminkan pengalaman makhluk yang sesungguhnya.

Api yang Tidak Membakar: Preseden Ilahi

Prinsip ini ditegaskan kembali dalam kisah Nabi Ibrahim عليه السلام ketika ia dijatuhi hukuman dibakar hidup-hidup:

قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ

“Kami berfirman: Wahai api, jadilah engkau dingin dan menyelamatkan bagi Ibrahim.”
(QS. Al-Anbiyā’ [21]: 69)

Api tetap api, secara fisik tetap menyala, namun fungsi menyakitkannya dicabut oleh kehendak Allah. Bagi orang-orang yang menyaksikan, Ibrahim tampak disiksa. Namun bagi Ibrahim sendiri, tidak ada penderitaan.

Di sinilah Al-Qur’an mengajarkan bahwa Allah berkuasa memisahkan kondisi lahiriah dari pengalaman rasa sakit.

Kesaksian Alam: Ketika Hewan Tidak Bereaksi terhadap “Siksaan”

Dalam sebuah dokumenter satwa liar di Afrika, terlihat sekelompok hyena mengejar seekor wildebeest hingga kelelahan, lalu memakannya dalam keadaan hidup. Secara visual, adegan ini sangat mengguncang. Namun satu hal yang mengherankan: wildebeest itu tidak meronta, tidak berteriak, bahkan tetap duduk tegak tanpa perlawanan.

Penjelasan ilmiah menyebutkan bahwa dalam kondisi ekstrem, tubuh hewan (dan manusia) dapat mengalami shock fisiologis, di mana hormon tertentu mematikan sensasi nyeri. Rasa sakit secara fungsional dihapus, meskipun tubuh sedang rusak.

Kesaksian ini sejalan dengan prinsip Qur’ani: Allah mampu mencabut rasa sakit tanpa harus mengubah peristiwa lahiriah.

Apakah Ini Berarti Al-Qur’an Membenarkan Kekejaman?

Tidak.

Al-Qur’an secara tegas melarang agresi dan kezaliman dalam bentuk apa pun:

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْمُعْتَدِينَ

“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Baqarah [2]: 190)

Manusia tetap bertanggung jawab secara moral atas setiap tindakan kekerasan terhadap hewan. Namun larangan ini tidak otomatis berarti bahwa hewan mengalami penderitaan batiniah sebagaimana yang kita bayangkan.

Mengapa Manusia Beriman Tetap Merasakan Penderitaan?

Pertanyaan berikutnya adalah: jika Allah melindungi hewan dari rasa sakit, mengapa banyak orang beriman justru menderita sepanjang hidupnya?

Al-Qur’an memberi isyarat bahwa status “mukmin sejati” bersifat final, bukan sementara:

يَا أَيُّهَا ٱلَّذِينَ آمَنُوا ٱتَّقُوا ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.”
(QS. Āli ‘Imrān [3]: 102)

Selama hidup, manusia masih berada dalam masa ujian, sebagaimana mahasiswa yang belum diwisuda. Perlindungan total baru diberikan setelah kelulusan, yakni pada saat kematian.

Melalui pendekatan Qur’an bil Qur’an, kita menemukan satu benang merah:

Allah berulang kali menunjukkan bahwa rasa sakit bukanlah keniscayaan dari penderitaan lahiriah. Api tidak membakar Ibrahim. Penyaliban Isa hanya tampak bagi musuhnya. Dan sangat mungkin, penderitaan hewan pun lebih merupakan ilusi persepsi manusia daripada realitas batin hewan itu sendiri.

Ini bukan ajakan untuk abai terhadap etika, tetapi kesaksian tentang keluasan rahmat Allah—rahmat yang bekerja bahkan ketika mata manusia hanya melihat kekerasan.

وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ

“Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.” (QS. Al-A‘rāf [7]: 156)

Mungkin bukan Tuhan yang kurang pengasih, melainkan pemahaman kita tentang kasih-Nya yang masih terbatas. (syahida)

Example 120x600