Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Al-Qur’an yang Lengkap, Mengapa Masih Dicari Penjelasnya?

31
×

Al-Qur’an yang Lengkap, Mengapa Masih Dicari Penjelasnya?

Share this article

Kajian Syahida – Qur’an bil Qur’an| Editor; asyary

Jakarta|PPMIndonesia.com – Di tengah kehidupan keagamaan umat Islam hari ini, ada satu keyakinan yang nyaris dianggap mapan: Al-Qur’an diyakini sebagai kitab suci, tetapi tidak cukup dipahami tanpa penjelasan dari sumber lain. Keyakinan ini diwariskan turun-temurun, jarang dipertanyakan, dan bahkan dianggap sebagai tanda kehati-hatian beragama.

Namun, jika kita kembali kepada Al-Qur’an itu sendiri, sebuah pertanyaan mendasar muncul: jika Al-Qur’an benar-benar kitab yang lengkap dan terperinci, mengapa ia masih dicari penjelasnya dari luar dirinya?

Allah secara tegas menyatakan:

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ
“Dan Kami telah menurunkan Kitab kepadamu sebagai penjelasan atas segala sesuatu, petunjuk, rahmat, dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.”
(QS. An-Nahl [16]: 89)

Ayat ini bukan sekadar pujian terhadap Al-Qur’an, melainkan pernyataan prinsipil tentang fungsinya.

Kesaksian Al-Qur’an tentang Kelengkapannya

Al-Qur’an tidak pernah mempresentasikan dirinya sebagai teks parsial atau belum selesai. Sebaliknya, ia bersaksi atas dirinya sebagai kitab yang lengkap, terperinci, dan final dalam urusan agama.

أَفَغَيْرَ اللَّهِ أَبْتَغِي حَكَمًا وَهُوَ الَّذِي أَنْزَلَ إِلَيْكُمُ الْكِتَابَ مُفَصَّلًا
“Apakah aku akan mencari hakim selain Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kepadamu Kitab yang terperinci?”
(QS. Al-An‘am [6]: 114)

Kata mufashshalan (terperinci) menegaskan bahwa tidak ada kekosongan normatif dalam Al-Qur’an yang mengharuskan pencarian sumber penentu di luar wahyu.

Al-Qur’an Menjelaskan Dirinya Sendiri

Dalam kajian Qur’an bil Qur’an, Al-Qur’an dipahami sebagai teks yang saling menjelaskan satu sama lain. Prinsip ini bukan teori akademik modern, melainkan klaim langsung dari wahyu.

وَلَقَدْ جِئْنَاهُم بِكِتَابٍ فَصَّلْنَاهُ عَلَىٰ عِلْمٍ هُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
“Sungguh, Kami telah mendatangkan kepada mereka sebuah Kitab yang Kami jelaskan berdasarkan ilmu, sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.”
(QS. Al-A‘raf [7]: 52)

Dan ditegaskan berulang kali:

كَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ
“Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui.”
(QS. Al-An‘am [6]: 105)

Penjelasan Al-Qur’an bersifat internal, konsisten, dan dapat diakses oleh orang-orang yang berpikir dan beriman.

Masalahnya Bukan pada Wahyu, tetapi pada Sikap Manusia

Alasan yang sering dikemukakan untuk mencari sumber lain adalah pertanyaan praktis: bagaimana cara shalat, berapa zakat yang harus dibayar, bagaimana praktik ibadah dijalankan? Pertanyaan-pertanyaan ini sering muncul bahkan sebelum seseorang membaca Al-Qur’an secara menyeluruh.

Padahal, Al-Qur’an telah diposisikan oleh Allah sebagai petunjuk yang mudah dipahami:

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ
“Sungguh, Kami telah memudahkan Al-Qur’an untuk dipelajari. Maka adakah yang mau mengambil pelajaran?”
(QS. Al-Qamar [54]: 17)

Ketika Al-Qur’an dianggap sulit dan tidak mencukupi, sesungguhnya yang bermasalah bukan wahyunya, melainkan cara manusia mendekatinya.

Rasul Mengikuti Wahyu, Bukan Menambahinya

Al-Qur’an sangat jelas dalam mendefinisikan peran Rasulullah SAW: beliau adalah penyampai wahyu, bukan sumber wahyu alternatif.

إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰ إِلَيَّ
“Aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku.”
(QS. Al-An‘am [6]: 50)

Dan ditegaskan kembali:

مَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ
“Tugas seorang Rasul hanyalah menyampaikan.”
(QS. Al-Ma’idah [5]: 99)

Dengan demikian, menjadikan sumber lain sebagai penentu makna Al-Qur’an berarti menempatkan sesuatu di atas wahyu itu sendiri.

Mayoritas Tidak Menjamin Kebenaran

Banyak praktik dan keyakinan bertahan karena dianut oleh mayoritas. Namun Al-Qur’an justru mengingatkan bahaya mengikuti arus tanpa penilaian wahyu.

وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ
“Jika engkau mengikuti kebanyakan manusia di bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.”
(QS. Al-An‘am [6]: 116)

Kebenaran dalam Islam tidak ditentukan oleh jumlah pengikut, melainkan oleh kesesuaian dengan firman Allah.

Al-Qur’an Dijaga Agar Dipahami, Bukan Ditinggalkan

Allah menjamin penjagaan Al-Qur’an secara langsung:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
“Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Qur’an dan Kami pula yang menjaganya.”
(QS. Al-Hijr [15]: 9)

Menjadi pertanyaan logis: apa gunanya penjagaan wahyu, jika maknanya harus bergantung pada sumber-sumber yang tidak dijamin penjagaannya? Ini justru menegaskan bahwa penjelasan Al-Qur’an telah disertakan di dalam Al-Qur’an itu sendiri.

Ketika Al-Qur’an Ditinggalkan tanpa Disadari

Al-Qur’an bahkan merekam keluhan Rasulullah SAW:

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا
“Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang ditinggalkan.”
(QS. Al-Furqan [25]: 30)

Yang ditinggalkan bukan mushafnya, melainkan perannya sebagai rujukan utama iman, etika, dan hukum kehidupan.

Kembali kepada Kesaksian Wahyu

Al-Qur’an adalah kitab yang lengkap, jelas, dan dimudahkan. Mencari penjelasan di luar dirinya bukanlah bentuk kehati-hatian iman, melainkan sering kali cerminan ketidakpercayaan terhadap kesaksian wahyu itu sendiri.

Allah menegaskan:

وَلَقَدْ أَنزَلْنَا إِلَيْكُمْ كِتَابًا فِيهِ ذِكْرُكُمْ ۖ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
“Sungguh, Kami telah menurunkan kepadamu sebuah Kitab yang di dalamnya terdapat peringatan bagimu. Tidakkah kamu berpikir?”
(QS. Al-Anbiya’ [21]: 10)

Maka, pertanyaannya bukan lagi apakah Al-Qur’an cukup, melainkan apakah kita sungguh-sungguh bersedia menjadikannya cukup. (syahida)

Example 120x600