Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Apa yang Paling Ditekankan Al-Qur’an tentang Keberagamaan?

21
×

Apa yang Paling Ditekankan Al-Qur’an tentang Keberagamaan?

Share this article

Kajian Syahida – Qur’an bil Qur’an| Oleh: A Mohamed

Jakarta|PPMIndonesia.comKeberagamaan sering kali diukur dari keramaian ritual, kepatuhan simbolik, atau intensitas ekspresi keimanan di ruang publik. Namun Al-Qur’an, sebagai sumber utama ajaran Islam, tidak menilai agama dari tampilan luar semata. Ia memiliki penekanan yang konsisten, berulang, dan struktural tentang apa yang dianggap paling penting dalam beragama.

Untuk menemukan penekanan itu, pendekatan yang paling jujur adalah membiarkan Al-Qur’an menafsirkan dirinya sendiri—sebuah metode yang dikenal sebagai Qur’an bil Qur’an atau kajian syahîdah, di mana ayat-ayat saling bersaksi dan saling menjelaskan.

Iman dan Amal Saleh: Rumusan Dasar Keberagamaan

Salah satu frasa yang paling sering diulang Al-Qur’an adalah:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh …”
(antara lain QS. Al-Baqarah [2]: 82)

Pengulangan frasa ini menunjukkan bahwa keberagamaan menurut Al-Qur’an bertumpu pada dua hal utama:

  1. Iman (hubungan batin dengan Allah)
  2. Amal saleh (perwujudan iman dalam kehidupan nyata)

Agama tidak berhenti pada keyakinan, dan tidak pula cukup dengan aktivitas lahiriah. Ia menuntut kesatuan antara apa yang diyakini dan apa yang dilakukan.

Salat dan Zakat: Penekanan Struktural Al-Qur’an

Ketika Al-Qur’an berbicara lebih konkret tentang bagaimana iman dan amal itu diwujudkan, muncul satu pola yang sangat konsisten: salat dan zakat selalu disandingkan.

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ

“Laksanakanlah salat dan tunaikanlah zakat.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 43)

Penyandingan ini bukan kebetulan. Salat merepresentasikan hubungan vertikal manusia dengan Allah, sementara zakat merepresentasikan tanggung jawab sosial dan keadilan ekonomi. Dengan kata lain, Al-Qur’an menegaskan bahwa keberagamaan sejati harus menghubungkan langit dan bumi sekaligus.

Hal ini ditegaskan ketika Al-Qur’an merumuskan inti agama yang lurus:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

“Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali agar menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya, beragama dengan lurus, melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus.”
(QS. Al-Bayyinah [98]: 5)

Zakat dan Rahmat Allah

Ketika Al-Qur’an berbicara tentang siapa yang berhak atas rahmat Allah, penekanannya kembali muncul pada dimensi sosial keberagamaan:

وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ ۚ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ

“Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu, dan Aku akan menetapkannya bagi orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat …”
(QS. Al-A‘raf [7]: 156)

Ayat ini sangat penting, karena menunjukkan bahwa ketakwaan menurut Al-Qur’an bukan hanya kesalehan pribadi, melainkan juga kepekaan sosial yang nyata.

Kritik Al-Qur’an terhadap Keberagamaan yang Kosong

Al-Qur’an tidak segan mengkritik bentuk keberagamaan yang kehilangan dimensi kemanusiaan:

إِنَّهُ كَانَ لَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ الْعَظِيمِ
وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ

“Sesungguhnya dia tidak beriman kepada Allah Yang Mahabesar, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.”
(QS. Al-Haqqah [69]: 33–34)

Ketiadaan kepedulian sosial ditempatkan sejajar dengan gagalnya iman, seakan Al-Qur’an ingin menegaskan bahwa iman yang tidak membela kaum lemah adalah iman yang tidak selesai.

Kesadaran yang Datang Terlambat

Al-Qur’an juga menggambarkan bahwa hakikat keberagamaan sering baru disadari ketika semuanya terlambat:

لَقَدْ كُنْتَ فِي غَفْلَةٍ مِّنْ هَٰذَا فَكَشَفْنَا عَنكَ غِطَاءَكَ فَبَصَرُكَ الْيَوْمَ حَدِيدٌ

“Sungguh, kamu dahulu lalai tentang hal ini, maka Kami singkapkan penutupmu, sehingga penglihatanmu pada hari ini sangat tajam.”
(QS. Qaf [50]: 22)

Menariknya, permohonan manusia di ambang kematian bukan untuk ritual tambahan, melainkan untuk berbuat bagi sesama:

فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ الصَّالِحِينَ

“…niscaya aku akan bersedekah dan termasuk orang-orang yang saleh.”
(QS. Al-Munafiqun [63]: 10)

Ini menegaskan bahwa amal sosial adalah kebenaran yang sering diabaikan selama hidup.

Dari kesaksian ayat-ayat Al-Qur’an terhadap Al-Qur’an itu sendiri, tampak jelas bahwa yang paling ditekankan dalam keberagamaan bukanlah simbol, melainkan kesatuan iman, ibadah, dan kepedulian sosial.

Salat menjaga orientasi hati kepada Allah.
Zakat menjaga kepekaan nurani terhadap sesama.

Tanpa keduanya, agama kehilangan keseimbangannya. Inilah keberagamaan yang dikehendaki Al-Qur’an: iman yang hidup, ibadah yang jujur, dan amal yang membebaskan manusia dari ketimpangan dan kezaliman. (a mohamed)

Example 120x600