Jakarta|PPMIndonesia.com- Al-Qur’an tidak hanya berbicara tentang kehidupan, tetapi juga tentang momen paling jujur dalam eksistensi manusia: saat kematian tiba. Pada detik itu, seluruh topeng runtuh, ilusi tersingkap, dan manusia berhadapan langsung dengan kebenaran yang selama hidup sering diabaikan.
Menariknya, Al-Qur’an tidak menggambarkan penyesalan manusia secara samar, melainkan sangat spesifik. Ia bahkan merekam apa yang disesali, apa yang diminta, dan apa yang terlambat dilakukan. Untuk memahaminya secara utuh, pendekatan yang tepat adalah Qur’an bil Qur’an, membiarkan ayat-ayat saling bersaksi dan menjelaskan.
Kematian sebagai Momen Tersingkapnya Kebenaran
Al-Qur’an menggambarkan kematian bukan sekadar akhir biologis, melainkan peristiwa epistemik—saat seluruh kebenaran menjadi terang:
وَجَاءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ۖ ذَٰلِكَ مَا كُنتَ مِنْهُ تَحِيدُ
“Dan datanglah sakaratul maut dengan membawa kebenaran. Itulah yang dahulu kamu hindari.”
(QS. Qaf [50]: 19)
Ayat ini menegaskan bahwa kematian membawa al-haqq—kebenaran yang utuh, bukan lagi potongan-potongan persepsi duniawi.
Kebenaran itu semakin ditegaskan dalam ayat berikutnya:
لَقَدْ كُنتَ فِي غَفْلَةٍ مِّنْ هَٰذَا فَكَشَفْنَا عَنكَ غِطَاءَكَ فَبَصَرُكَ الْيَوْمَ حَدِيدٌ
“Sungguh, kamu dahulu lalai tentang hal ini. Maka Kami singkapkan penutupmu, sehingga penglihatanmu pada hari ini sangat tajam.”
(QS. Qaf [50]: 22)
Pada saat itu, manusia tidak lagi berdebat, tidak menyusun pembenaran, dan tidak bisa berdalih. Semua realitas tampak apa adanya.
Penyesalan Orang-Orang yang Mengingkari Tuhan
Al-Qur’an mencatat bahwa orang-orang yang menolak keberadaan dan kekuasaan Allah akan menyadari kesalahan fatal mereka di ambang kematian atau di akhirat:
حَتَّىٰ إِذَا أَدْرَكَهُ الْغَرَقُ قَالَ آمَنتُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا الَّذِي آمَنَتْ بِهِ بَنُو إِسْرَائِيلَ
“Hingga ketika Fir‘aun hampir tenggelam, ia berkata, ‘Aku beriman bahwa tidak ada tuhan selain Tuhan yang dipercayai Bani Israil.’”
(QS. Yunus [10]: 90)
Namun, kesadaran yang datang setelah kebenaran tersingkap sepenuhnya tidak lagi bernilai sebagai iman yang menyelamatkan.
Syirik dan Kesadaran tentang Kekuasaan Allah
Demikian pula mereka yang menyekutukan Allah, menggantungkan harapan dan ketaatan pada selain-Nya:
وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا
“Sekiranya orang-orang zalim melihat ketika mereka menyaksikan azab, (niscaya mereka tahu) bahwa segala kekuasaan itu milik Allah seluruhnya.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 165)
Kesadaran ini datang ketika struktur kekuasaan dunia runtuh, dan tidak satu pun sekutu imajiner mampu memberi pertolongan.
Penyesalan yang Paling Menonjol: Lalai Beramal Sosial
Namun yang paling menarik dari kesaksian Al-Qur’an adalah jenis penyesalan yang muncul saat kematian tiba. Al-Qur’an tidak menyebut penyesalan karena kurang berpuasa atau belum berhaji, melainkan karena lalai berbuat bagi sesama:
وَأَنفِقُوا مِن مَّا رَزَقْنَاكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ الصَّالِحِينَ
“Infakkanlah sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu, lalu ia berkata, ‘Ya Tuhanku, sekiranya Engkau menangguhkan kematianku sedikit waktu lagi, niscaya aku akan bersedekah dan termasuk orang-orang yang saleh.’”
(QS. Al-Munafiqun [63]: 10)
Permohonan itu sangat jelas: kesempatan untuk bersedekah. Ini menunjukkan bahwa pada saat seluruh kebenaran tersingkap, manusia menyadari betapa besar nilai amal sosial dan kepedulian terhadap sesama.
Mengapa Amal Sosial Menjadi Penyesalan Utama?
Al-Qur’an telah lama memberi peringatan bahwa kegagalan iman sering kali berwujud dalam pengabaian terhadap kaum lemah:
إِنَّهُ كَانَ لَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ الْعَظِيمِ
وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ“Sesungguhnya dia tidak beriman kepada Allah Yang Mahabesar, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.”
(QS. Al-Haqqah [69]: 33–34)
Ayat ini menegaskan bahwa iman yang tidak melahirkan kepedulian sosial adalah iman yang gagal menunaikan amanahnya.
Orang-Orang yang Tidak Menyesal
Sebaliknya, Al-Qur’an menggambarkan kelompok manusia yang tidak menyesal di ambang kematian, karena mereka telah “berinvestasi” sejak hidup:
إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَّن تَبُورَ
“Sesungguhnya orang-orang yang membaca Kitab Allah, melaksanakan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi maupun terang-terangan, mereka mengharapkan perdagangan yang tidak akan merugi.”
(QS. Fathir [35]: 29)
Mereka memahami sejak awal bahwa hidup adalah ladang akhirat, bukan sekadar arena akumulasi dunia.
Penutup
Dari kesaksian Al-Qur’an atas dirinya sendiri, tampak jelas bahwa penyesalan terbesar manusia di ambang kematian bukanlah kurangnya ritual, melainkan kelalaian dalam berbuat bagi sesama.
Kematian mengajarkan kebenaran yang sering kita tunda:
bahwa iman harus menjelma menjadi amal,
dan bahwa kepedulian sosial bukan pelengkap agama,
melainkan inti dari keberagamaan yang dikehendaki Allah.
Al-Qur’an telah mengingatkan sejak awal.
Pertanyaannya kini bukan lagi apa yang akan kita sesali,
melainkan apakah kita masih punya waktu untuk memperbaikinya. (syahida)



























