Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Zakat Tidak Populer? Membaca Ulang Sejarah dan Bahasa Wahyu

8
×

Zakat Tidak Populer? Membaca Ulang Sejarah dan Bahasa Wahyu

Share this article

Kajian Syahida - Quran bil Quran| Editor : asyary

Ilustrasi memahami zakat (leonardo)

Jakarta|PPMIndonesia.com– Benarkah zakat tidak populer pada masa Nabi? Benarkah Al-Qur’an lebih mempopulerkan sadaqah daripada zakat? Pertanyaan-pertanyaan ini belakangan muncul dalam ruang diskusi publik. Ada yang menyatakan bahwa jika umat Islam ingin maju, pemahaman zakat perlu ditinjau ulang, bahkan ditinggalkan dalam bentuk formalnya.

amun, benarkah demikian jika kita membaca Al-Qur’an secara utuh, dengan pendekatan Qur’an bil Qur’an—menjelaskan ayat dengan ayat?

Zakat dalam Struktur Wahyu: Selalu Berdampingan dengan Shalat

Fakta pertama yang tidak dapat diabaikan adalah bahwa zakat termasuk perintah paling sering diulang dalam Al-Qur’an. Hampir selalu ia dirangkaikan dengan shalat.

📖 Surah Al-Baqarah 2:43

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ
“Dan tegakkanlah shalat, datangkanlah zakat, dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk.”

Frasa أَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ berulang lebih dari dua puluh kali dalam Al-Qur’an. Secara struktural, zakat bukan ajaran pinggiran. Ia ditempatkan sejajar dengan shalat—pilar spiritual umat.

Jika zakat tidak populer, mengapa ia begitu konsisten hadir dalam redaksi wahyu?

Zakat atau Sadaqah?

Memang benar, dalam beberapa ayat yang berbicara tentang distribusi harta, Al-Qur’an menggunakan kata sadaqah.

📖 Surah At-Taubah 9:60

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا…
“Sesungguhnya sadaqah-sadaqah itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, para pengelolanya…”

Ayat ini sering dijadikan dasar hukum zakat dalam tradisi fiqh. Di sini digunakan istilah as-sadaqāt, bukan az-zakāh.

Namun dalam ayat lain:

📖 Surah At-Taubah 9:103

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا
“Ambillah dari harta mereka sadaqah, dengan itu engkau membersihkan dan mensucikan mereka.”

Kata kerja تُزَكِّيهِمْ (tuzakkīhim) berasal dari akar kata yang sama dengan zakat (زكا). Artinya, sadaqah dalam konteks ini berfungsi sebagai instrumen tazkiyah (penyucian).

Dengan pendekatan Qur’an bil Qur’an, terlihat bahwa zakat dan sadaqah bukanlah dua konsep yang saling meniadakan, tetapi memiliki relasi makna: zakat adalah nilai pertumbuhan dan penyucian; sadaqah adalah bentuk konkret pelaksanaannya.

Makna Semantik Zakat: Pertumbuhan dan Kesucian

Secara bahasa, zakat berarti tumbuh, berkembang, dan suci.

Makna ini ditegaskan dalam ayat:

📖 Surah Asy-Syams 91:9–10

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا ۝ وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا
“Sungguh beruntung orang yang mensucikan jiwanya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.”

Di sini zakat bukan angka, melainkan proses pemurnian jiwa.

Dalam ayat lain:

📖 Surah Ar-Rum 30:39

وَمَا آتَيْتُمْ مِنْ زَكَاةٍ تُرِيدُونَ وَجْهَ اللَّهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُضْعِفُونَ
“Apa yang kamu berikan berupa zakat untuk mencari keridaan Allah, maka mereka itulah orang-orang yang dilipatgandakan (pahalanya).”

Zakat dihubungkan dengan pertumbuhan berlipat ganda (al-mud‘ifūn). Artinya, zakat adalah mekanisme pertumbuhan spiritual dan sosial.

Sejarah Praktik: Minimal atau Maksimal?

Dalam tradisi fiqh, zakat dirumuskan dengan ketentuan nisab dan kadar, termasuk angka 2,5 persen untuk harta tertentu. Ini adalah batas minimal kewajiban.

Namun Al-Qur’an sendiri menggambarkan karakter orang beriman yang tidak dibatasi oleh angka minimal:

📖 Surah Ali Imran 3:134

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ
“Yaitu orang-orang yang berinfak dalam keadaan lapang maupun sempit.”

Artinya, zakat sebagai kewajiban formal tidak menutup pintu bagi infak dan sadaqah yang lebih luas. Ia adalah fondasi, bukan puncak.

Integrasi Ibadah dan Ekonomi

Al-Qur’an menegaskan bahwa aktivitas ekonomi tidak boleh melalaikan dari shalat dan zakat.

📖 Surah An-Nur 24:37

رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ
“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan jual beli dari mengingat Allah, menegakkan shalat, dan mendatangkan zakat.”

Ayat ini menunjukkan bahwa zakat bukan sekadar ritual tahunan, tetapi prinsip etis dalam sistem ekonomi.

Jadi, Apakah Zakat Tidak Populer?

Jika yang dimaksud “tidak populer” adalah secara istilah sehari-hari pada masa awal Islam, bisa jadi kata sadaqah lebih luas digunakan.

Namun jika dilihat dari struktur wahyu, zakat adalah pilar utama ajaran Islam. Ia:

  • diulang puluhan kali,
  • dirangkaikan dengan shalat,
  • dikaitkan dengan penyucian jiwa,
  • dan menjadi dasar distribusi sosial.

Zakat tidak pernah menjadi ajaran pinggiran. Ia justru menjadi jembatan antara spiritualitas dan keadilan sosial.

Membaca Ulang dengan Keseimbangan

Membaca ulang sejarah dan bahasa wahyu bukan untuk meruntuhkan tradisi, tetapi untuk memperdalam makna.

Zakat bukan sekadar angka 2,5 persen. Ia adalah:

  • tazkiyah (penyucian),
  • pertumbuhan (nama’),
  • solidaritas sosial,
  • dan mekanisme keadilan ekonomi.

Maka pertanyaan sejatinya bukan apakah zakat populer atau tidak.

Pertanyaannya:
Sudahkah zakat menghadirkan pertumbuhan yang bersih dalam diri dan masyarakat kita? (syahida)

Example 120x600