Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Ilmu yang Menghidupkan Iman: Koreksi atas Pemahaman Elitis terhadap QS. 3:18 dan QS. 58:11

255
×

Ilmu yang Menghidupkan Iman: Koreksi atas Pemahaman Elitis terhadap QS. 3:18 dan QS. 58:11

Share this article

Kajian Syahida – Qur’an bil Qur’an| Oleh: Syahida

ppmindonesia.com.Jakarta – Dua ayat Al-Qur’an sering dijadikan landasan untuk menguatkan stratifikasi elit keagamaan: QS. Āli ‘Imrān (3):18 dan QS. Al-Mujādilah (58):11. Ayat-ayat ini biasanya dipahami sebagai pujian khusus kepada “para ulama” dalam pengertian institusional—yaitu mereka yang menempuh pendidikan formal agama, memegang gelar keagamaan, dan menduduki otoritas tertentu dalam struktur sosial Islam.

Padahal, membaca ayat-ayat ini melalui metodologi Qur’an bil Qur’an menegaskan makna yang jauh lebih mendasar dan substantif: ‘ilm (pengetahuan) dalam Al-Qur’an adalah kesadaran iman, bukan monopoli ulama.

Ayat yang Sering Disalahpahami

Pertama, QS. 3:18:

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُوا الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
“Allah menyatakan bahwa tidak ada Tuhan selain Dia; (demikian pula) para malaikat dan orang-orang yang berilmu yang menegakkan keadilan. Tidak ada Tuhan selain Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”(QS. Āli ‘Imrān [3]: 18)

Kedua, QS. 58:11:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
“Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”(QS. Al-Mujādilah [58]: 11)

Kedua ayat ini sering dibaca secara terpisah dan dipahami sebagai pujian kepada dua kelompok berbeda: “orang beriman” dan “pemegang otoritas keilmuan agama”. Padahal, bahasa Qur’an tidak mendukung dikotomi tersebut.

Memahami ‘Ilm melalui Metode Qur’an bil Qur’an

Al-Qur’an memaknai ‘ilm bukan sebagai gelar, sanad, sertifikasi, atau pembelajaran melalui guru-guru elit tertentu, melainkan sebagai kesadaran eksistensial yang menuntun seseorang pada iman, ketundukan, dan keadilan.

Dalam QS. Al-Hajj (22):54:

وَلِيَعْلَمَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِن رَّبِّكَ فَيُؤْمِنُوا بِهِ فَتُخْبِتَ لَهُ قُلُوبُهُمْ ۗ
“Dan agar orang-orang yang diberi ilmu mengetahui bahwa ini adalah kebenaran dari Tuhanmu, lalu mereka beriman kepadanya, dan hati mereka pun tunduk kepada-Nya.”

Di sini, ciri “orang berilmu” identik dengan ciri orang beriman: hati yang tunduk. Tidak ada dimensi akademik, tidak ada gelar religius.

Ayat lain, QS. Fāṭir (35):28, memperjelas secara definitif:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu.”

Kata ‘ulama’ dalam ayat ini tidak menunjuk pada “kelas ulama”. Intinya adalah: siapa pun yang memiliki kesadaran dan pengenalan mendalam atas kebesaran Allah pasti akan takut kepada-Nya. Setiap mukmin sejati adalah ulama dalam pengertian Qur’an.

Menganalisis QS. 58:11: Waw dan Makna Kesatuan

Kata sambung “و” (wa) dalam ayat QS. 58:11 sering diterjemahkan sebagai “dan” yang memberi kesan pemisahan. Padahal dalam konstruksi bahasa Arab klasik, wa kerap berfungsi asosiatif, bukan pemisah kategoris—mendekati fungsi koma dalam bahasa Inggris.

Dengan demikian, ayat tersebut dapat dibaca sebagai penegasan karakteristik, bukan dua kelompok berbeda:

  • Orang-orang beriman — yaitu mereka yang diberi ilmu,
  • dan orang-orang yang diberi ilmu — yaitu mereka yang beriman

Dalam metode Qur’an bil Qur’an ini diperkuat oleh QS. An-Nisā’ (4):162:

لَٰكِنِ الرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ مِنْهُمْ وَالْمُؤْمِنُونَ …
“Akan tetapi orang-orang yang mendalam ilmunya di antara mereka dan orang-orang yang beriman…”

Konstruk ini menunjukkan bahwa kedalaman ilmu berpadu dengan iman. Tidak ada oposisi.

Siapa “Orang-orang Berilmu” dalam QS. 3:18?

Ayat QS. 3:18 memposisikan “orang-orang berilmu” berdampingan dengan Allah dan para malaikat dalam kesaksian tauhid. Ini bukan posisi simbolis untuk “ulama formal”, melainkan: orang-orang yang memahami tauhid secara mendalam, menegakkan keadilan (قَائِمًا بِالْقِسْطِ), dan menjadikan kesaksian tauhid sebagai prinsip moral.

QS. 34:6 menegaskan sifat mereka:

وَيَرَى الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ الَّذِي أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ هُوَ الْحَقَّ
“Dan orang-orang yang diberi ilmu melihat bahwa apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu adalah kebenaran.”

Ciri utamanya: pengenalan terhadap kebenaran wahyu — bukan ijazah, bukan status sosial.

Ilmu dalam Al-Qur’an: Menyala dari Iman, Memancar ke Keadilan

Dalam QS. Al-Qasas (28):80:

وَلَٰكِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ قَالُوا… ثَوَابُ اللَّهِ خَيْرٌ لِّمَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا
“Tetapi orang-orang yang diberi ilmu berkata, ‘Pahala Allah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh…’”

Ini menunjukkan: orang berilmu adalah mereka yang memahami realitas akhirat, mereka mengajak pada amal saleh, dan ilmu mereka menyinari kesadaran hidup.

Ilmu dalam Al-Qur’an adalah energi moral, bukan hierarki struktural.

Mengapa Tafsir Elitis Terjadi?

Ada tiga sumber kekeliruan tradisional:

  1. Pembacaan menggunakan paradigma feodal—menganggap pengetahuan selalu dimiliki oleh kelompok terbatas.
  2. Dominasi institusi keagamaan yang mengaitkan “ilmu” dengan otoritas.
  3. Salah tafsir pada kata sambung “wa sehingga memisahkan iman dari ilmu.

Padahal Al-Qur’an justru menghapus sekat dan mempersatukan keduanya.

 Mengembalikan Ilmu ke Kesadaran Tauhid

Al-Qur’an mendefinisikan “orang berilmu” sebagai mereka yang; mengenal Allah, menghayati kebenaran wahyu, tunduk hatinya, menegakkan keadilan, dan hidup dengan kesadaran iman.

Bukan monopoli lembaga agama. Bukan gelar. Bukan struktur hierarkis.

Ilmu yang sejati adalah ilmu yang menghidupkan iman.

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami setelah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi.” (QS. Āli ‘Imrān [3]: 8)

Example 120x600