Scroll untuk baca artikel
BeritaNasional

Deforestasi Akibat Konsesi Hutan dan Lahan

193
×

Deforestasi Akibat Konsesi Hutan dan Lahan

Share this article

Penulis: jacob ereste| Editor: asyary

ppmindonesia.com.Banten – Selama 80 tahun Indonesia merdeka, hutan yang seharusnya menjadi penyangga utama kehidupan justru mengalami penyusutan drastis akibat konsesi hutan dan lahan yang diberikan tanpa kontrol ketat.

Dari perkiraan luas awal antara 143 hingga 220 juta hektar pada awal kemerdekaan, kini hutan Indonesia tinggal sekitar 95,97 juta hektar pada tahun 2025.

Data tersebut menempatkan Indonesia memang masih sebagai negara dengan tutupan hutan terluas di Asia Tenggara dan peringkat ke-8 dunia. Namun capaian itu menyembunyikan ironi besar: kehilangan lebih dari separuh hutan alamnya dalam satu abad kurang.

Tren Penurunan Tutupan Hutan Nasional

Pada tahun 1990, luas hutan Indonesia masih tercatat sekitar 116,3 juta hektar. Angka ini sempat mengalami kenaikan tipis sekitar 0,1 persen pada 2015, namun kembali menurun drastis dalam satu dekade terakhir. Sumber lain bahkan menyebutkan luas hutan Indonesia sekitar 120,3 juta hektar pada 2020, sebelum akhirnya Indonesia kehilangan 10,7 juta hektar hutan tropis primer pada 2024.

Pemerintah memang pernah mencabut sebagian izin konsesi kawasan hutan. Namun langkah tersebut belum cukup signifikan untuk membendung laju deforestasi maupun mengantisipasi krisis iklim ekstrem yang kini memicu banjir besar, longsor, dan bencana ekologis di berbagai wilayah Indonesia.

Hutan Indonesia: Dari Masa ke Masa

Catatan Atlantika Institut Nusantara, merujuk laporan Departemen Kehutanan tahun 1986 dan Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) 1980, menunjukkan bahwa pada masa awal konsesi:

  • Hutan lindung: ±48 juta hektar
  • Hutan produksi: ±24 juta hektar
  • Hutan konservasi: ±18 juta hektar
  • Hutan rusak: ±30 juta hektar

Kini, pada tahun 2025, komposisi hutan Indonesia tersisa:

  • Hutan primer: 45,3 juta hektar
  • Hutan sekunder: 37,3 juta hektar
  • Hutan tanaman: 4,3 juta hektar
  • Kawasan hutan tanpa tutupan: 33,4 juta hektar

Angka ini mencerminkan degradasi serius, bukan sekadar penurunan luas, tetapi juga penurunan kualitas ekosistem hutan.

Jawa: Pulau Padat, Hutan Sekarat

Pulau Jawa hanya menyisakan sekitar 24 persen kawasan berhutan dari total luas wilayahnya (±129.600 km²). Dari angka tersebut, hanya 29 persen yang benar-benar berupa tutupan hutan, sementara sisanya berupa kebun raya dan taman.

Total luas hutan di Jawa kini sekitar 2,4 juta hektar, terdiri dari:

  • 800 ribu hektar hutan lindung
  • 1,6 juta hektar hutan produksi
  • Sisanya hutan konservasi

Padahal, secara ekologis Jawa membutuhkan minimal 2,7 juta hektar hutan, sehingga terdapat defisit sekitar 300 ribu hektar.

Sumatra: Dari Paru-Paru Menjadi Lahan Konsesi

Luas hutan Sumatra diperkirakan antara 34–40 juta hektar, namun terus menyusut. Rinciannya antara lain:

  • Riau: ±9,4 juta hektar
  • Sumatra Utara: ±1,94 juta hektar
  • Sumatra Barat: ±1,62 juta hektar
  • Jambi: ±2,3 juta hektar
  • Bengkulu: ±711 ribu hektar

Sementara itu, Sumatra Selatan hanya memiliki sekitar 171 ribu hektar, dan Lampung tinggal 10.798 hektar—angka yang nyaris simbolik untuk sebuah provinsi.

Bangka Belitung: Kritis dan Terabaikan

Pulau Bangka hanya memiliki 96.641 hektar hutan, sedangkan Belitung 81.789 hektar. Sekitar 16,35 persen kawasan hutan di kedua pulau ini berada dalam kondisi kritis, akibat pertambangan, alih fungsi lahan, dan lemahnya pengawasan.

Kalimantan: Deforestasi Massif Tanpa Ampun

Kalimantan yang dahulu dikenal sebagai benteng hutan tropis, kini mengalami penyusutan drastis. Dari sekitar 49,8 juta hektar, kini:

  • Kalimantan Timur: ±8,34 juta hektar
  • Kalimantan Tengah: ±19,7 ribu hektar (pasca deforestasi besar 2024)
  • Kalimantan Utara: ±8,6 ribu hektar

Deforestasi massif ini disebabkan oleh perkebunan sawit, penebangan liar, kebakaran hutan, dan alih fungsi lahan yang lepas kendali.

Sulawesi dan Papua: Target Baru Ekspansi Modal

Pulau Sulawesi, meski masih memiliki kawasan lindung dan konservasi yang cukup luas, kini mulai terancam oleh pola deforestasi serupa. Ancaman ini diperparah oleh ekspansi sawit dan pembiaran alih fungsi lahan.

Papua, dengan sisa hutan sekitar 33,12 juta hektar, menjadi sasaran empuk pemilik modal karena lemahnya pengawasan. Pada 2019–2020 saja, Papua kehilangan 55,65 ribu hektar hutan, dengan 78 persen terjadi di area berizin. Pada awal 2024, deforestasi kembali tercatat seluas 765,71 hektar hanya dalam dua bulan.

Warisan Kerusakan Ekologis

Deforestasi akibat konsesi hutan dan lahan yang tidak terkendali telah memangkas hutan Indonesia dari 143–220 juta hektar menjadi hanya 95,97 juta hektar dalam rentang 1945–2025. Ini bukan sekadar angka statistik, melainkan warisan kerusakan ekologis yang harus ditanggung generasi mendatang.

Tanpa perubahan paradigma pembangunan dan penegakan hukum lingkungan yang tegas, Indonesia bukan hanya kehilangan hutannya, tetapi juga kehilangan masa depan ekologisnya. (jacob ereste)

Example 120x600