Scroll untuk baca artikel
BeritaNasional

Sebuah Perjalanan: Menyambung Jejak Perjuangan Bersama KH. Habib Chirzin

198
×

Sebuah Perjalanan: Menyambung Jejak Perjuangan Bersama KH. Habib Chirzin

Share this article

Penulis: prihandoyo kuswanto| Editor: asyary

Menggali Pemikiran di Magelang Momen hangat kunjungan Prihandoyo Kuswanto ke kediaman Habib Chirzin di Magelang. Pertemuan ini menjadi ruang diskusi mendalam mengenai isu-isu kebangsaan dan kemanusiaan, melanjutkan tradisi intelektual yang senantiasa dijaga oleh kedua tokoh tersebut.

ppmindonesia.com. Magelang – Sabtu, 17 Mei 2025, menjadi hari yang penuh getar batin dan kenangan panjang. Langkah saya mengarah ke kawasan Borobudur, membawa rasa rindu yang telah tersimpan selama kurang lebih 25 tahun. Hati berdebar, bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan ruhani untuk kembali bertemu seorang guru, sahabat, sekaligus teladan perjuangan: KH. Habib Chirzin.

Tepat pukul 12.00 siang, saya tiba di sebuah rumah joglo yang asri dan anggun—rumah dengan arsitektur Jawa yang meneduhkan jiwa. Di teras rumah itu, KH. Habib Chirzin telah menunggu. Saat kami berpelukan, waktu seolah berhenti. Sungguh, Allah telah mempertemukan kami kembali setelah perjalanan panjang yang memisahkan ruang dan masa.

Kami pun masuk ke dalam rumah dan mulai menapaki kembali lorong-lorong kenangan. Ingatan saya melayang ke tahun 1986, saat saya masih memanggil beliau dengan sebutan Mas Habib, Ketua Pemuda Muhammadiyah Nasional di Jakarta. Kala itu, saya tinggal bersama Mas Habib dan beberapa kawan di Rawamangun. Putra-putra beliau, Dik Nafis dan Dik Arif, masih balita—sekitar tiga tahun usianya.

Kenangan juga tertuju pada almarhumah Mbak Sri Hindun Fauziah, istri Mas Habib, yang dengan penuh kasih setiap pagi menyiapkan sarapan untuk kami. Semoga Allah SWT menempatkan beliau dan almarhum Dik Arif di surga-Nya. Aamiin.

Dua setengah dekade berlalu terasa seperti satu tarikan napas panjang. Saat itu kami bergabung dalam Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (PPM), sebuah LSM yang dimotori oleh Mas Habib Chirzin bersama Mas Adi Sasono, Mas Ali, dan Mas Dawam Rahardjo. Saya bersama Badrus dan Hariadi bahkan pernah diamanahkan untuk menjalani pengabdian selama delapan bulan di pedalaman Asmat, Agats, Papua—membangun Pusat Asmat sebagai wujud nyata kerja-kerja pemberdayaan masyarakat.

Percakapan kami pun mengalir pada isu-isu kebangsaan hari ini: persoalan ketatanegaraan, amendemen UUD 1945, serta perjuangan Rumah Pancasila yang terus melakukan kajian kritis demi mengembalikan ruh UUD 1945 dan Pancasila sebagaimana disahkan pada 18 Agustus 1945.

Mas Habib juga bercerita bahwa Ketua MPR RI, Ahmad Muzani, pernah berkunjung ke rumah beliau. Harapan pun menguat, semoga suatu saat kami dapat bertemu kembali dengan Pak Muzani untuk bersama-sama memperjuangkan agenda kebangsaan tersebut—sejalan dengan visi dan misi Partai Gerindra: kembali pada UUD 1945 dan Pancasila sebagai dasar berbangsa dan bernegara.

Tak terasa, waktu menunjukkan pukul 15.00 WIB. Pertemuan singkat namun sarat makna itu harus kami akhiri, karena saya masih memiliki agenda lain di Yogyakarta. Seusai makan siang bersama, saya berpamitan. Mas Habib memberikan oleh-oleh berupa Majalah Pesantren Pabelan yang mengangkat tema Eko Pesantren—sebuah gagasan besar dan visioner dalam menghadapi kerusakan dunia akibat abainya manusia terhadap keberlanjutan hidup.

Gagasan Eko Pesantren adalah seruan moral dan spiritual: bahwa keberagamaan tidak boleh terlepas dari tanggung jawab ekologis. Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin menemukan wujud nyatanya melalui pesantren-pesantren yang berpihak pada kelestarian lingkungan dan keberlanjutan kehidupan.

Semoga gerakan Eko Pesantren menyadarkan kita semua akan pentingnya membangun peradaban yang selaras dengan alam. Dan semoga KH. Habib Chirzin senantiasa diberi kesehatan, kekuatan, dan terus menjadi sumber inspirasi dalam perjuangan panjang ini.

Aamiin ya Rabbal ‘Alamin. (Prihandoyo Kuswanto)

Example 120x600