Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Ketika Kebiasaan Lebih Dipercaya daripada Al-Qur’an

15
×

Ketika Kebiasaan Lebih Dipercaya daripada Al-Qur’an

Share this article

Kajian syahida - Quran bil Quran| Editor: asyary

Membaca Ulang Salat, Tasbih, dan Ketaatan dalam Cahaya Kitab Suci

Jakarta|PPMIndonesia.com– Salah satu persoalan serius dalam kehidupan keagamaan umat Islam hari ini bukanlah kekurangan ritual, melainkan kelebihan kebiasaan yang jarang diuji kembali oleh Al-Qur’an. Banyak praktik ibadah dijalankan dengan penuh keyakinan, namun jarang ditanya: apakah ini benar-benar definisi yang Al-Qur’an berikan?

Di sinilah Al-Qur’an mengingatkan bahaya terbesar umat beriman: mengikuti tradisi tanpa kesaksian wahyu. Kebiasaan diwarisi, dipraktikkan, dan dipertahankan—bahkan ketika ia mulai menggantikan pesan Al-Qur’an itu sendiri.

Al-Qur’an dan Kritik terhadap Tradisi yang Membutakan

Al-Qur’an secara tegas mengkritik sikap mengikuti kebiasaan hanya karena diwariskan oleh mayoritas:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ۚ أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,’ mereka menjawab: ‘Tidak, kami hanya mengikuti apa yang kami dapati dari nenek moyang kami.’ Apakah mereka tetap akan mengikuti meskipun nenek moyang mereka tidak mengetahui apa pun dan tidak mendapat petunjuk?”
(QS. Al-Baqarah: 170)

Ayat ini bukan sekadar kritik terhadap kaum musyrik, tetapi peringatan lintas zaman: tradisi bisa berubah menjadi hijab yang menutupi kebenaran wahyu.

Tasbih dan Salat: Dua Konsep yang Berbeda dalam Al-Qur’an

Salah satu kekeliruan yang lahir dari kebiasaan adalah menyamakan tasbih dengan salat, seolah-olah keduanya identik atau dapat saling menggantikan.

Al-Qur’an justru membedakan secara tegas.

Tasbih: Pengagungan Tanpa Ikatan Waktu

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا ۝ وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

“Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah Allah dengan zikir yang banyak, dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.”
(QS. Al-Ahzab: 41–42)

Tasbih dalam Al-Qur’an bersifat luas, fleksibel, dan tidak terikat format tertentu. Ia dapat dilakukan kapan saja sebagai bentuk kesadaran akan kebesaran Allah.

Salat: Ibadah dengan Waktu, Tata Tertib, dan Kesadaran Sosial

Berbeda dengan tasbih, salat memiliki definisi struktural yang jelas:

إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

“Sesungguhnya salat itu adalah kewajiban yang telah ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”
(QS. An-Nisa: 103)

Salat bukan sekadar ucapan atau gerak fisik, melainkan peristiwa kesadaran yang terikat waktu dan tanggung jawab.

Salat Tidak Pernah Dipisahkan dari Dampak Etis

Al-Qur’an tidak pernah memaknai salat sebagai ritual kosong. Ia selalu dikaitkan dengan transformasi moral dan sosial:

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ

“Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”
(QS. Al-Ankabut: 45)

Maka salat yang tidak berdampak pada perilaku sosial sejatinya telah kehilangan ruh Qur’ani-nya, meskipun secara kebiasaan dianggap sah.

Ketika Kebiasaan Menggantikan Kesaksian Wahyu

Masalah muncul ketika:

  • Tasbih dianggap cukup menggantikan salat
  • Ritual lebih dipercaya daripada pesan Al-Qur’an
  • Mayoritas dijadikan standar kebenaran

Padahal Al-Qur’an telah mengingatkan:

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ

“Jika engkau mengikuti kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.”
(QS. Al-An’am: 116)

Kebenaran dalam Islam bukan ditentukan oleh kebiasaan, melainkan oleh kesaksian Al-Qur’an terhadap dirinya sendiri (Qur’an yufassiru ba‘ḍuhu ba‘ḍan).

Kembali Menjadi Saksi, Bukan Pewaris Buta

Kajian Qur’an bil Qur’an menuntut keberanian untuk menguji ulang kebiasaan, bukan untuk merusak iman, tetapi justru menyelamatkannya dari formalitas kosong.

Salat harus dikembalikan pada definisi Al-Qur’an, tasbih harus diletakkan pada fungsi aslinya, dan umat Islam harus berani bertanya:

Apakah yang kita lakukan ini bersumber dari Al-Qur’an, atau hanya dari kebiasaan yang diwariskan tanpa disadari?

Karena Al-Qur’an tidak pernah samar—yang sering kabur adalah cara kita membacanya.(syahida)

Example 120x600