Jakarta|PPMIdonesia.com– Dalam praktik keagamaan umat Islam hari ini, shalat sering dipahami terutama sebagai ritual formal: rangkaian gerakan, bacaan, dan waktu-waktu tertentu yang harus ditunaikan agar kewajiban gugur. Ukurannya adalah sah atau batal, lengkap atau kurang rukun.
Namun pertanyaan mendasarnya jarang diajukan: apakah pemahaman ini sejalan dengan cara Al-Qur’an sendiri berbicara tentang sholā? Ataukah Al-Qur’an justru menawarkan makna yang lebih luas dan mendasar dari sekadar ritual?
Tulisan ini merupakan kajian syahida, yakni kesaksian kritis terhadap Al-Qur’an dengan membiarkan Al-Qur’an menjelaskan dirinya sendiri melalui metode Qur’an bil Qur’an—membaca satu konsep dengan menghimpun seluruh ayat yang terkait dengannya, tanpa mendahulukan definisi yang dibentuk oleh tradisi belakangan.
Metode Qur’an bil Qur’an: Membiarkan Al-Qur’an Bicara
Metode Qur’an bil Qur’an berangkat dari keyakinan bahwa Al-Qur’an adalah satu kesatuan makna. Istilah kunci di dalamnya—termasuk sholā—harus dipahami melalui keseluruhan penggunaan istilah tersebut di berbagai ayat dan konteks.
Dengan pendekatan ini, pertanyaan yang diajukan bukan lagi “bagaimana sholat dilakukan?”, melainkan:
“apa fungsi dan makna sholā menurut Al-Qur’an?”
Sholā dalam Al-Qur’an: Bukan Sekadar Ritual
Salah satu fakta penting yang muncul dari pembacaan Qur’an bil Qur’an adalah bahwa kata sholā tidak selalu bermakna ritual fisik.
Sholā Allah dan Malaikat
Al-Qur’an bahkan menggunakan istilah sholā untuk Allah dan para malaikat.
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersholā atas Nabi.”
(QS. Al-Ahzab [33]: 56)
Tentu tidak masuk akal memahami ayat ini sebagai “Allah melakukan sholat” dalam pengertian ritual. Di sini, sholā bermakna dukungan, penguatan, dan keberpihakan Ilahi.
Makna serupa juga muncul dalam ayat lain:
أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ
“Mereka itulah yang memperoleh sholā dari Tuhan mereka dan rahmat.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 157)
Sholā, dengan demikian, berkaitan dengan relasi dan komitmen, bukan semata-mata aktivitas ritual.
Sholā dan Konsekuensi Sosial
Al-Qur’an secara konsisten mengaitkan sholā dengan perilaku moral dan sosial. Ini terlihat jelas dalam Surah Al-Ma‘un.
فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ
“Maka celakalah orang-orang yang mushollīn, yaitu mereka yang lalai dari sholā-nya.”
(QS. Al-Ma‘un [107]: 4–5)
Yang dikritik bukan orang yang tidak sholā, melainkan mushollīn—orang-orang yang mengaku menjalankan sholā tetapi kehilangan esensinya. Kritik ini menjadi terang ketika ayat-ayat berikutnya dibaca:
وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ
“Dan tidak mendorong pemberian makan kepada orang miskin.”
(QS. Al-Ma‘un [107]: 3)
وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ
“Dan mereka enggan menolong dengan hal-hal yang berguna.”
(QS. Al-Ma‘un [107]: 7)
Dalam perspektif ini, sholā jelas bukan ritual kosong, melainkan komitmen etis yang harus tampak dalam kepedulian sosial.
Fungsi Sholā: Mencegah Kerusakan Moral
Al-Qur’an menegaskan fungsi utama sholā sebagai kekuatan pengendali moral.
إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ
“Sesungguhnya sholā itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”
(QS. Al-‘Ankabut [29]: 45)
Jika sholā tidak berpengaruh pada perilaku, maka yang dijalankan barangkali hanyalah ritual tanpa sholā—gerak tubuh tanpa ikatan moral.
Mengapa Al-Qur’an Tidak Merinci Tata Cara Sholat?
Fakta penting lain yang jarang disorot adalah bahwa Al-Qur’an tidak merinci tata cara teknis sholat: tidak ada penjelasan jumlah rakaat, urutan gerakan, maupun bacaan detail.
Sebaliknya, Al-Qur’an menekankan penjagaan dan kontinuitas sholā:
الَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ دَائِمُونَ
“Mereka yang senantiasa konsisten menjaga sholā-nya.”
(QS. Al-Ma‘arij [70]: 23)
Kata dā’imūn menunjukkan keberlanjutan sikap hidup, bukan aktivitas yang selesai dalam beberapa menit.
Sholat atau Sholā?
Dari kajian Qur’an bil Qur’an ini, tampak jelas bahwa:
- Sholā dalam Al-Qur’an adalah ikatan komitmen antara manusia dan Allah
- Ia mencakup dimensi spiritual, moral, dan sosial
- Ritual sholat dapat menjadi salah satu ekspresi sholā, tetapi bukan keseluruhan maknanya
Ketika sholā direduksi menjadi ritual formal, ia kehilangan daya transformasinya. Sebaliknya, ketika sholā dipahami sebagai komitmen hidup, ia menjadi fondasi pembentukan pribadi dan masyarakat yang berkeadilan.
Penutup
Kajian syahida dengan metode Qur’an bil Qur’an mengajak umat Islam untuk bersaksi secara jujur terhadap Al-Qur’an, bukan sekadar mewarisi definisi yang telah dibakukan.
Pertanyaannya bukan lagi sekadar “apakah kita sholat?”
Melainkan: “apakah hidup kita masih bersholā—terikat, bertanggung jawab, dan berpihak pada nilai-nilai Ilahi?” (syahida)



























