Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Waylun lil-Mushollīn”: Membaca Al-Ma‘un Tanpa Kacamata Ritual

6
×

Waylun lil-Mushollīn”: Membaca Al-Ma‘un Tanpa Kacamata Ritual

Share this article

Kajian Syahida – Qur’an bil Qur’an| Editor: asyary

Jakarta|PPIndonesia.com– Surah Al-Ma‘un termasuk surah yang paling sering dibaca, namun ironisnya justru paling jarang direnungkan secara mendalam. Di dalamnya terdapat satu ungkapan yang mengguncang kesadaran beragama:

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ
“Maka celakalah orang-orang yang mushollīn.”
(QS. Al-Ma‘un [107]: 4)

Ayat ini sering dibaca sambil lalu, seakan-akan tidak mungkin ditujukan kepada mereka yang rajin beribadah. Bukankah mushollīn berarti orang yang sholat? Mengapa justru mereka yang diancam kecelakaan (wayl)?

Pertanyaan inilah yang menjadi pintu masuk kajian ini. Dengan pendekatan Qur’an bil Qur’an dan kajian syahida, tulisan ini berusaha membaca Al-Ma‘un tanpa kacamata ritual, agar pesan etis Al-Qur’an kembali berbicara secara jujur dan menggugah.

Metode Qur’an bil Qur’an dan Kajian Syahida

Metode Qur’an bil Qur’an menuntut satu sikap dasar: membiarkan Al-Qur’an menjelaskan dirinya sendiri. Istilah, konsep, dan penilaian tidak dipaksakan dari luar teks, tetapi ditelusuri dari ayat-ayat Al-Qur’an yang saling menjelaskan.

Sementara kajian syahida adalah kesaksian kritis terhadap teks wahyu—bersaksi apa adanya, meski hasilnya mengguncang kebiasaan beragama yang telah mapan.

Dengan dua pendekatan ini, Surah Al-Ma‘un tidak dibaca sebagai kritik terhadap “orang lain”, melainkan sebagai cermin bagi keberagamaan kita sendiri.

“Waylun”: Ancaman Serius, Bukan Teguran Ringan

Kata wayl dalam Al-Qur’an bukan sekadar teguran ringan. Ia adalah ancaman keras atas kerusakan moral yang serius.

Contoh penggunaannya:

وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِينَ
“Celakalah orang-orang yang curang.”
(QS. Al-Muthaffifin [83]: 1)

Ketika Al-Qur’an menggunakan kata wayl, itu menandakan adanya pengkhianatan terhadap nilai dasar kemanusiaan dan keadilan. Maka, ketika wayl diarahkan kepada mushollīn, pesan ini jelas tidak sederhana.

Mushollīn yang Lalai dari Sholā

Al-Qur’an langsung menjelaskan siapa yang dimaksud dengan mushollīn yang celaka itu:

الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ
“Yaitu mereka yang lalai dari sholā-nya.”
(QS. Al-Ma‘un [107]: 5)

Perhatikan: yang dikritik bukan orang yang tidak sholā, melainkan orang yang melakukan sholā tetapi lalai dari maknanya. Lalai di sini bukan soal lupa rakaat, melainkan kehilangan substansi.

Makna ini hanya bisa dipahami jika sholā tidak direduksi menjadi ritual fisik semata.

Sholā dalam Al-Qur’an: Lebih dari Gerakan

Dalam Al-Qur’an, sholā memiliki makna yang jauh lebih luas daripada ritual.

Allah dan malaikat pun disebut bersholā:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersholā atas Nabi.”
(QS. Al-Ahzab [33]: 56)

Mustahil memahami ayat ini dalam kerangka ritual. Sholā di sini bermakna dukungan, keberpihakan, dan penguatan.

Begitu pula sholā yang diberikan kepada manusia:

أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ
“Mereka itulah yang memperoleh sholā dari Tuhan mereka dan rahmat.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 157)

Maka, sholā adalah relasi komitmen, bukan sekadar aktivitas ibadah formal.

Al-Ma‘un: Ukuran Keaslian Sholā

Al-Qur’an kemudian menjelaskan bentuk kelalaian para mushollīn itu secara sangat konkret:

الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ
“Yang berbuat riya.”
(QS. Al-Ma‘un [107]: 6)

وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ
“Dan mereka enggan menolong dengan hal-hal yang berguna.”
(QS. Al-Ma‘un [107]: 7)

Sebelum itu, bahkan ditegaskan:

وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ
“Dan tidak mendorong pemberian makan kepada orang miskin.”
(QS. Al-Ma‘un [107]: 3)

Dengan kata lain, ukuran keaslian sholā adalah kepedulian sosial. Ketika ritual berjalan, tetapi empati mati, maka sholā telah kehilangan maknanya.

Sholā yang Tidak Mencegah Kerusakan

Pesan Al-Ma‘un sejalan dengan ayat lain:

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ
“Sesungguhnya sholā itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”
(QS. Al-‘Ankabut [29]: 45)

Jika seseorang rajin sholat tetapi tetap menindas, abai, dan egois, maka yang dijalankan hanyalah ritual tanpa sholā.

Membaca Al-Ma‘un Tanpa Kacamata Ritual

Dengan pendekatan Qur’an bil Qur’an, Surah Al-Ma‘un tampil sebagai kritik tajam terhadap keberagamaan simbolik. Al-Qur’an tidak sedang menyerang sholat, tetapi menyelamatkan sholā dari pengosongan makna.

Al-Ma‘un mengajarkan bahwa:

  • Sholā adalah komitmen moral dan sosial
  • Ritual tanpa kepedulian adalah kelalaian
  • Ibadah yang tidak membela yang lemah adalah kepalsuan spiritual

Kajian syahida menuntut keberanian untuk bersaksi jujur terhadap Al-Qur’an. Dalam kesaksian itu, Surah Al-Ma‘un berdiri sebagai peringatan keras: ibadah yang tidak membuahkan keadilan dan kasih sayang justru berpotensi mendatangkan kecelakaan moral.

Pertanyaannya bukan lagi sekadar “apakah kita sholat?”
Melainkan: “apakah sholā kita masih hidup dalam sikap, pilihan, dan keberpihakan?”

Example 120x600