Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Allah Sendiri yang Menghiasi Dunia: Mengapa Kita Diciptakan untuk Tertarik?

12
×

Allah Sendiri yang Menghiasi Dunia: Mengapa Kita Diciptakan untuk Tertarik?

Share this article

Kajian Syahida - Quran bil Quran| Editor : asyary

Jakarta|PPMIndonesia.com– Salah satu pertanyaan paling mendasar dalam kehidupan spiritual manusia adalah:

Mengapa hati manusia mudah tertarik kepada dunia?

Mengapa manusia mencintai keindahan, keluarga, harta, kemewahan, dan keberhasilan?

Sebagian orang mengira kecenderungan ini adalah kelemahan iman. Bahkan tidak sedikit tradisi religius memandang keinginan sebagai sesuatu yang harus dimatikan.

Namun Al-Qur’an memberikan jawaban yang mengejutkan.

Allah berfirman:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

“Dijadikan indah bagi manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini: perempuan, anak-anak, harta berupa emas dan perak yang bertumpuk, kuda pilihan, ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup dunia, dan di sisi Allah tempat kembali yang terbaik.”
(QS Ali Imran: 14)

Ayat ini tidak mengatakan manusia menciptakan godaan.

Al-Qur’an justru menyatakan:

➡️ Allah sendiri yang menghiasi kehidupan dunia.

Keinginan Bukan Kesalahan Manusia

Kata pertama ayat ini sangat penting:

زُيِّنَ (zuyyina)dijadikan indah.

Artinya, daya tarik dunia adalah bagian dari desain Ilahi.

Manusia tidak salah karena memiliki keinginan. Keinginan adalah bagian dari fitrah penciptaan.

Al-Qur’an menegaskan bahwa manusia memang diciptakan dengan kecenderungan mencintai sesuatu:

إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْأَرْضِ زِينَةً لَّهَا لِنَبْلُوَهُمْ

“Sesungguhnya Kami menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya agar Kami menguji mereka.”
(QS Al-Kahfi: 7)

Dunia dihiasi bukan untuk menyesatkan manusia, tetapi untuk menguji kesadaran manusia.

Ayat Ini untuk Seluruh Manusia

Al-Qur’an menggunakan kata:

لِلنَّاسِ — bagi seluruh manusia.

Bukan hanya laki-laki, bukan kelompok tertentu.

Makna universal ini ditegaskan kembali dalam Surah An-Nas:

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ • مَلِكِ النَّاسِ • إِلَٰهِ النَّاسِ

“Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan seluruh manusia, Raja seluruh manusia, Sembahan seluruh manusia.”
(QS An-Nas: 1–3)

Dengan demikian, kecintaan terhadap dunia adalah pengalaman universal umat manusia.

Syahwat: Energi Kehidupan

Kata الشهوات (asy-syahawāt) sering dipahami sebagai sesuatu yang buruk. Padahal Al-Qur’an tidak pernah menghapus syahwat.

Tanpa dorongan keinginan:

  • manusia tidak menikah,
  • tidak bekerja,
  • tidak membangun masyarakat,
  • tidak melahirkan generasi.

Allah bahkan bertanya:

قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ

“Katakanlah: Siapakah yang mengharamkan perhiasan Allah yang Dia keluarkan bagi hamba-hamba-Nya?”
(QS Al-A’raf: 32)

Islam bukan agama yang memusuhi kehidupan.

Islam adalah agama yang mengarahkan energi kehidupan.

Mengapa Dunia Dibuat Menarik?

Pendekatan Qur’an bil Qur’an menunjukkan bahwa keindahan dunia memiliki tujuan spiritual.

Allah berfirman:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

“Dialah yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kalian siapa yang terbaik amalnya.”
(QS Al-Mulk: 2)

Ujian manusia bukan hidup tanpa keinginan.

Ujian manusia justru terjadi di tengah keinginan.

Dunia menarik agar pilihan manusia memiliki makna.

Tanpa godaan, tidak ada kesadaran.
Tanpa pilihan, tidak ada kematangan iman.

Perempuan, Anak, dan Harta: Struktur Kehidupan Manusia

QS Ali Imran ayat 14 menyebut:

  • perempuan,
  • anak-anak,
  • harta,
  • kendaraan,
  • ternak,
  • ladang.

Ini bukan daftar dosa, tetapi struktur realitas manusia.

Al-Qur’an sedang menggambarkan:

  • cinta → keluarga,
  • keluarga → masyarakat,
  • ekonomi → peradaban.

Islam tidak menolak dunia. Islam menempatkan dunia pada posisi yang benar.

Bahaya Ketika Keindahan Menguasai Hati

Setelah menjelaskan seluruh daya tarik dunia, Allah langsung mengingatkan:

ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا

“Itulah kesenangan hidup dunia.”

Kata mata’ berarti sesuatu yang digunakan sementara.

Masalah bukan pada dunia.

Masalah muncul ketika manusia mengira dunia adalah tujuan akhir.

Al-Qur’an memperingatkan:

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”
(QS Ali Imran: 185)

Jalan Pulang Manusia

Ayat ini ditutup dengan kalimat yang menjadi inti spiritual Islam:

وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

“Di sisi Allah tempat kembali yang terbaik.”

Dunia bukan kesalahan.
Keindahan bukan dosa.
Keinginan bukan musuh.

Semua itu adalah jalan pendidikan jiwa manusia.

Manusia diciptakan untuk mencintai — agar akhirnya belajar kepada siapa cinta tertinggi harus diberikan.

Iman Bukan Pelarian dari Dunia

Kajian Syahida mengajak kita memahami kembali pesan Al-Qur’an:

Islam tidak meminta manusia meninggalkan dunia.

Islam mengajarkan manusia berjalan di dunia tanpa kehilangan arah pulang.

Dunia dihiasi agar manusia bergerak.
Hati diberi keinginan agar manusia memilih.
Dan iman hadir agar manusia tidak tersesat dalam pilihannya.

Karena pada akhirnya, seluruh perjalanan manusia bermuara pada satu tujuan:

kembali kepada Allah dengan hati yang sadar, (syahida)

Example 120x600