Scroll untuk baca artikel
BeritaOpini

PPM di Persimpangan Zaman: Bertahan atau Melompat ke Masa Depan

10
×

PPM di Persimpangan Zaman: Bertahan atau Melompat ke Masa Depan

Share this article

Penulis: emha| Editor: asyary

Jakarta|PPMIndonesia.com – Ada masa ketika sebuah gerakan tidak sedang mengalami kemunduran, tetapi sedang diuji oleh zaman. Di titik itulah Pusat Peranserta Masyarakat (PPM) hari ini berdiri—di sebuah persimpangan sejarah: antara bertahan sebagai warisan masa lalu atau melompat menjadi kekuatan masa depan.

Pertanyaan mendasarnya bukan lagi apakah PPM masih ada, melainkan apakah PPM masih relevan.

Rumah Gerakan yang Pernah Ramai

Dalam perjalanan panjangnya, PPM lahir bukan sebagai organisasi administratif, melainkan sebagai rumah gerakan sosial. Ia tumbuh dari kegelisahan zaman: kemiskinan desa, ketimpangan pembangunan, serta kebutuhan menghadirkan masyarakat yang berdaya.

PPM menjadi sekolah kehidupan.
Di sanalah kader belajar mendengar rakyat, bukan sekadar berbicara tentang rakyat.

Gerakan ini tidak dibangun oleh gelar akademik, melainkan oleh pengalaman lapangan. Banyak aktivisnya ditempa oleh kerja pemberdayaan: mendampingi pedagang kecil, menguatkan desa, menghidupkan ekonomi rakyat, hingga merawat solidaritas sosial.

Namun sejarah memiliki hukum alamnya sendiri: gerakan yang tidak membaca perubahan zaman perlahan berubah menjadi nostalgia.

Zaman Telah Berubah

Hari ini dunia bergerak lebih cepat dibandingkan sebelumnya. Digitalisasi, ekonomi platform, perubahan struktur sosial, hingga pergeseran generasi telah mengubah wajah masyarakat.

Aktivis muda hidup dalam ekosistem berbeda:

  • Informasi serba instan
  • Jaringan sosial berbasis digital
  • Kepemimpinan yang cair
  • Gerakan yang horizontal, bukan hierarkis

Di sinilah tantangan besar PPM muncul. Banyak organisasi sosial gagal bukan karena kehilangan nilai, tetapi karena kehilangan bahasa zaman.

PPM memiliki pengalaman.
Generasi baru membawa energi.

Pertanyaannya: apakah keduanya bertemu?

Bertahan: Risiko yang Tidak Disadari

Bertahan sering dianggap sebagai pilihan aman. Tetapi dalam organisasi gerakan, bertahan tanpa transformasi justru menjadi risiko terbesar.

Tanda-tandanya mulai terlihat:

  • Rumah gerakan terasa sepi
  • Aktivitas lebih administratif daripada ideologis
  • Regenerasi berjalan lambat
  • Kader merasa jauh dari pusat gerakan

Jika kondisi ini dibiarkan, organisasi tidak mati secara formal—tetapi kehilangan denyut sejarahnya.

Gerakan sosial tidak pernah runtuh karena konflik besar. Ia perlahan melemah karena kehilangan makna bersama.

Melompat: Pilihan yang Berani

Melompat ke masa depan berarti melakukan tiga keberanian sekaligus.

  1. Pertama, keberanian regenerasi.
    PPM harus memberi ruang nyata bagi kepemimpinan baru, bukan sekadar simbolik. Pengalaman senior menjadi kompas, tetapi energi muda menjadi mesin gerakan.
  2. Kedua, keberanian transformasi metode.
    Dakwah pemberdayaan tidak lagi cukup dilakukan secara konvensional. Digitalisasi gerakan, kolaborasi lintas komunitas, dan ekonomi sosial harus menjadi agenda baru.
  3. Ketiga, keberanian kembali pada ruh awal.
    Ironisnya, masa depan PPM justru terletak pada kembali kepada identitas awalnya: dakwah bil hal—kerja nyata di tengah masyarakat.

Bukan sekadar rapat.
Bukan sekadar struktur.
Tetapi aksi sosial yang terasa manfaatnya.

Momentum Persimpangan

Setiap organisasi memiliki momen historis yang menentukan arah perjalanan berikutnya. Persimpangan bukan tanda krisis, melainkan kesempatan memilih jalan.

PPM hari ini memiliki modal besar: sejarah panjang gerakan rakyat, jaringan aktivis lintas daerah, pengalaman pemberdayaan yang autentik.

Yang dibutuhkan hanyalah satu keputusan kolektif: apakah PPM ingin dikenang atau ingin kembali memimpin perubahan?

Masa Depan Tidak Menunggu

Sejarah menunjukkan bahwa gerakan yang mampu bertahan puluhan tahun bukanlah yang paling kuat, tetapi yang paling adaptif.

PPM tidak kekurangan nilai.
PPM tidak kekurangan pengalaman.
Yang sedang diuji hanyalah keberanian melangkah.

Di persimpangan zaman ini, pilihan akhirnya sederhana namun menentukan:

bertahan sebagai organisasi masa lalu,
atau melompat menjadi gerakan masa depan.

Dan mungkin, pertanyaan sebenarnya bukan tentang PPM.

Tetapi tentang kita semua:

apakah kita masih siap menjadikan PPM sebagai rumah perjuangan bersama? (emha)

Example 120x600