Islam yang Diwarisi, Bukan Dipahami?
Jakarta|PPMIndonesia.com– Di banyak keluarga Muslim, Islam hadir sejak lahir. Sejak kecil seseorang diajarkan salat, puasa, mengaji, mengenakan simbol-simbol keagamaan, hingga mengikuti berbagai tradisi keislaman. Semua itu penting dan berharga. Namun ada satu pertanyaan yang jarang diajukan: apakah Islam yang kita jalani lahir dari kesadaran, atau hanya sekadar kebiasaan yang diwariskan?
Pertanyaan ini penting, sebab sesuatu yang dilakukan terus-menerus dapat berubah menjadi rutinitas. Bahkan agama pun bisa kehilangan makna ketika praktiknya tetap berjalan tetapi kesadarannya memudar.
Dalam perspektif kajian Qur’an bil Qur’an Syahida, Al-Qur’an tidak hanya mengajarkan apa yang harus dilakukan, tetapi juga mengajarkan mengapa manusia melakukannya. Islam bukan sekadar aktivitas lahiriah, melainkan perjalanan kesadaran menuju Allah.
Ketika Tradisi Menggantikan Wahyu
Salah satu fenomena yang berulang dalam sejarah manusia adalah kecenderungan mengikuti tradisi tanpa memahami sumber kebenaran.
Allah berfirman:
وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ۗ أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ
“Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,’ mereka menjawab: ‘Tidak! Kami mengikuti apa yang kami dapati dari nenek moyang kami.’ Apakah mereka tetap mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka tidak mengetahui apa pun dan tidak mendapat petunjuk?”
(QS. Al-Baqarah: 170)
Ayat ini memperlihatkan satu penyakit lama yang terus muncul: agama diwarisi, tetapi tidak dipahami. Tradisi dipertahankan, namun wahyu tidak lagi menjadi pusat orientasi.
Banyak orang merasa telah cukup beragama karena menjalankan apa yang dilakukan generasi sebelumnya. Padahal Al-Qur’an mengajak manusia untuk sadar, berpikir, dan memahami.
Ritual Ada, Kesadaran Tidak Ada
Dalam realitas keberagamaan hari ini, tidak sedikit orang yang menjalankan ibadah sebagai rutinitas. Salat dilakukan karena sudah terbiasa. Puasa dilakukan karena lingkungan melakukannya. Bacaan Al-Qur’an dilantunkan, tetapi maknanya tidak pernah menyentuh hati.
Padahal Al-Qur’an memberi peringatan keras:
فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ
“Maka celakalah orang-orang yang salat, yaitu mereka yang lalai dari salatnya.”
(QS. Al-Ma’un: 4–5)
Ayat ini menarik. Allah tidak mengatakan “celaka orang yang tidak salat”, melainkan mengingatkan mereka yang salat tetapi kehilangan makna salatnya.
Dalam kajian Qur’an bil Qur’an, ayat ini sejalan dengan firman Allah:
إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ
“Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”
(QS. Al-Ankabut: 45)
Artinya, ukuran salat bukan hanya pelaksanaannya, tetapi dampaknya. Jika salat tidak membentuk karakter dan kesadaran, mungkin yang berjalan hanyalah gerakan fisik.
Al-Qur’an Diturunkan untuk Dipahami
Salah satu krisis terbesar umat adalah menjadikan Al-Qur’an sebatas bacaan ritual. Dibaca saat acara tertentu, dilantunkan dengan suara indah, tetapi jarang dipahami secara mendalam.
Padahal Allah menegaskan:
كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ
“Ini adalah Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.”
(QS. Shad: 29)
Dan Allah kembali bertanya:
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا
“Maka tidakkah mereka mentadabburi Al-Qur’an ataukah hati mereka telah terkunci?”
(QS. Muhammad: 24)
Al-Qur’an bukan sekadar untuk dibaca, tetapi untuk menghidupkan kesadaran.
Islam adalah Kesadaran Tauhid
Dalam perspektif Syahida, inti Islam bukan pertama-tama pada simbol, tetapi pada tauhid yang hidup dalam diri manusia. Dari kesadaran tauhid itulah lahir ibadah yang bermakna, akhlak yang baik, dan pengabdian yang tulus.
Ketika Islam hanya menjadi kebiasaan, agama kehilangan daya ubahnya. Ia dijalankan, tetapi tidak menghidupkan. Ia diwariskan, tetapi tidak menggerakkan hati.
Padahal Allah menegaskan:
لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ
“Daging dan darah kurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan dari kalian.”
(QS. Al-Hajj: 37)
Allah tidak menilai bentuk lahiriah semata, tetapi melihat kualitas kesadaran dan ketakwaan.
Refleksi: Agama yang Dijalani atau Dihidupi?
Barangkali masalah terbesar kita bukan kurang beragama, melainkan terlalu terbiasa beragama tanpa menghadirkan kesadaran.
Maka pertanyaan pentingnya bukan lagi:
“Sudahkah kita menjalankan Islam?”
Tetapi:
“Apakah Islam benar-benar hidup dalam diri kita?”
Sebab Islam tidak diturunkan untuk menjadi kebiasaan. Islam hadir untuk membangunkan manusia—dari rutinitas menuju kesadaran, dari tradisi menuju pemahaman, dan dari simbol menuju pengabdian sejati kepada Allah.
Catatan Redaksi:
Tulisan ini merupakan bagian dari serial Kajian Qur’an bil Qur’an Perspektif Syahida untuk PPMIndonesia.com, yang menempatkan Al-Qur’an sebagai penjelas bagi ayat-ayatnya sendiri, guna membangun kesadaran tauhid yang utuh dalam kehidupan umat.



























